Hidup: Karunia Tuhan dan Pilihan Kita

“Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!” 1 Korintus‬ ‭6‬:‭20‬‬

Ada satu kalimat sederhana tetapi sangat dalam: “Hidup kita adalah karunia Tuhan, namun juga pilihan kita.” Kalimat ini merangkum dua aspek penting iman Kristen, khususnya dalam ajaran Reformed. Kita percaya bahwa hidup berasal dari Allah, diberikan sebagai anugerah, dan ditebus dengan darah Kristus. Tetapi pada saat yang sama, kita juga dipanggil untuk membuat pilihan-pilihan nyata setiap hari: bagaimana kita menggunakan hidup ini, bagaimana kita memuliakan Allah, dan bagaimana kita bertanggung jawab dengan tubuh, jiwa, dan roh kita.

Ayat di atas menegaskan dua hal:

  • hidup kita sudah ditebus dengan harga yang mahal, yaitu darah Kristus, dan
  • karena itu, kita tidak bisa lagi hidup sesuka hati, tetapi harus memuliakan Allah dengan seluruh keberadaan kita.

Pertama-tama, kita perlu menyadari bahwa hidup adalah karunia. Tidak ada seorang pun yang bisa memilih kapan ia lahir, dari orangtua siapa, di bangsa mana, dengan talenta apa. Semuanya adalah pemberian. Dalam teologi Reformed, ini disebut anugerah umum—Allah memberikan kehidupan, udara, hujan, dan berkat duniawi kepada semua manusia tanpa memandang latar belakang mereka.

Lebih daripada itu, keselamatan kita adalah anugerah khusus—bukan hasil usaha atau jasa kita, tetapi semata-mata karena kasih karunia Allah di dalam Kristus. Paulus berkata, “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah.” (Efesus 2:8). Hidup kita, baik secara jasmani maupun rohani, adalah hadiah dari Tuhan.

Kesadaran ini seharusnya membuat kita rendah hati dan bersyukur. Segala sesuatu yang kita miliki—kesehatan, pekerjaan, keluarga, kesempatan belajar, bahkan iman yang menyelamatkan—semua berasal dari tangan Allah. Tidak ada ruang untuk kesombongan atau sikap merasa berhak.

Namun, semua karunia Allah tidak membuat kita pasif. Justru karena hidup adalah karunia, kita dipanggil untuk merespons dengan pilihan-pilihan yang benar. Ajaran Reformed menekankan bahwa manusia memang sudah jatuh dalam dosa dan tidak mampu menyelamatkan diri, tetapi setelah ditebus, kita dipanggil untuk hidup dalam ketaatan.

Setiap hari adalah kesempatan untuk memilih.

  • Apakah kita akan menggunakan waktu saya untuk hal yang berguna atau membuangnya untuk hal yang sia-sia?
  • Apakah kita akan memakai tubuh dan hidup kita untuk kesenangan pribadi semata, atau untuk memuliakan Allah?
  • Apakah kita akan melaksanakan pekerjaan kita dengan integritas, atau dengan kompromi dosa?
  • Apakah kita akan merespons kesulitan dengan iman, atau dengan keluhan dan kepahitan?

Pilihan-pilihan ini bukan sekadar masalah moral, tetapi masalah penyembahan. Siapa yang kita sembah akan menentukan bagaimana kita hidup. Jika kita menyembah uang, maka seluruh pilihan kita akan diarahkan untuk mencari keuntungan. Jika kita menyembah diri sendiri, maka segala hal akan dipakai demi kesenangan pribadi. Ini termasuk tren masa kini: giat membaca berbagai posting dunia maya yang ada dalam sosial media. Tetapi jika kita sungguh menyembah Allah, maka setiap aspek hidup kita akan diarahkan dalam dunia nyata untuk memuliakan Dia.

Menarik bahwa Paulus menekankan: “Muliakanlah Allah dengan tubuhmu.” Dalam konteks 1 Korintus 6, Paulus berbicara mengenai bahaya percabulan. Jemaat Korintus hidup dalam budaya yang menganggap tubuh hanya sekadar wadah sementara, sehingga mereka merasa bebas melakukan apa saja. Tetapi Paulus menegaskan bahwa tubuh kita adalah bait Roh Kudus. Artinya, tubuh ini bukan milik kita, melainkan milik Allah.

Bagaimana kita memuliakan Allah dengan tubuh kita?

  • Menjaga kekudusan hidup. Seksualitas, keintiman, dan relasi harus dijalani sesuai dengan rancangan Allah.
  • Menggunakan tubuh untuk melayani. Kaki kita bisa dipakai untuk berjalan menuju orang yang membutuhkan, tangan kita bisa dipakai untuk menolong, mulut kita bisa dipakai untuk menguatkan sesama.
  • Memelihara kesehatan. Menyalahgunakan tubuh dengan kebiasaan buruk, makanan berlebihan, atau gaya hidup malas juga berarti tidak menghargai karunia Tuhan.
  • Bekerja dengan rajin dan jujur. Tubuh kita dipakai untuk bekerja, bukan hanya demi nafkah, tetapi juga untuk menjadi berkat bagi sesama.

Dengan demikian, tubuh bukanlah milik pribadi yang bisa dipakai sesuka hati, tetapi milik Kristus yang sudah membelinya dengan darah-Nya.

Sering kali kita jatuh ke dalam dua ekstrem. Ada orang yang berpikir bahwa karena hidup adalah karunia Tuhan, maka tidak ada yang perlu dilakukan—biarkan saja Tuhan yang mengatur segalanya. Ini membuat mereka merasa “damai” dalam nuansa pasif dan malas. Sebaliknya, ada orang yang berpikir bahwa hidup sepenuhnya bergantung pada pilihan pribadi, sehingga mereka tenggelam dalam banyak hal besar maupun kecil, dan sering panik karena mengandalkan kekuatan sendiri dan melupakan Allah.

Kebenaran Alkitab mengajarkan keseimbangan: hidup memang karunia, tetapi karunia itu menuntut respons. Hidup memang pilihan, tetapi pilihan itu tidak pernah dilepaskan dari anugerah. Seperti seorang anak yang diberi hadiah oleh orangtuanya: hadiah itu gratis, tetapi anak itu tetap harus memilih apakah ia akan merawat hadiah itu dengan baik atau merusaknya.

Demikian juga dengan hidup kita. Tuhan sudah memberikan karunia hidup, bahkan menebus kita dengan darah Anak-Nya. Pertanyaannya: bagaimana kita memilih untuk menjalani hidup ini? Apakah kita akan menghargai karunia itu, atau justru menyia-nyiakannya?

Hidup kita bukan kebetulan, melainkan karunia yang mahal. Tetapi hidup ini juga bukan otomatis berjalan benar, melainkan menuntut pilihan-pilihan yang sesuai dengan kehendak Allah. Inilah ajaran Kristen yang menekankan kedaulatan Allah sekaligus tanggung jawab manusia.

Marilah kita mengingat terus firman Paulus: “Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!” Hidup adalah anugerah yang harus disyukuri, dan pilihan yang harus dijalani dengan takut akan Tuhan.

Doa Penutup:

Ya Bapa di surga, terima kasih untuk hidup yang Engkau berikan sebagai karunia. Terima kasih karena Engkau sudah menebus kami dengan darah Kristus yang mahal. Tolonglah kami agar setiap hari kami membuat pilihan yang benar, pilihan yang memuliakan Engkau. Ajar kami untuk memakai tubuh, pikiran, dan hati kami sebagai bait Roh Kudus yang hidup. Dalam nama Yesus Kristus, kami berdoa. Amin.

Apakah Anda Mata Duitan?

Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: ”Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.” Ibrani 13:5

Tidak ada orang yang mau disebut “mata duitan.” Anda mungkin marah jika dituduh “mata duitan”. Tetapi, dalam kehidupan sehari-hari di Indonesia, orang sering memakai istilah ini untuk orang-orang yang mempunyai profesi tertentu seperti dokter, polisi, dan akhir-akhir ini, anggota DPR.

Sebenarnya, untuk menjadi “hamba uang” seperti yang dinyatakan dalam ayat di atas orang tidak perlu menjadi mata duitan atau menjadi orang yang loba akan uang; serakah akan uang; yang hanya mementingkan uang. Tetapi, tentunya semua orang yang bukan hamba Kristus adalah hamba uang, hamba karir, hamba berhala, dsb.

Lalu apa artinya istilah “hamba uang” dalam ayat ini, jika itu tidak identik dengan “mata duitan”? Jika diselidiki lebih dalam, hamba uang di sini adalah orang Kristen yang mencintai uang lebih daripada Kristus. Mereka rajin bekerja siang malam, tetapi lalai berdoa atau ke gereja. Mereka gigih mengejar karier, tetapi sering mengabaikan keluarga. Mereka tekun menabung, tetapi kikir memberi. Itu tanda-tanda seseorang sudah diperbudak oleh uang.

Dalam masyarakat modern, uang menempati posisi yang sangat penting. Hampir semua aspek kehidupan berkaitan dengan uang: makan, pendidikan, kesehatan, rekreasi, bahkan relasi sosial. Tidak heran jika banyak orang mengejar uang dengan sepenuh tenaga, bahkan rela mengorbankan waktu, kesehatan, keluarga, dan keutuhan spiritual mereka.

Obsesi yang tidak sehat terhadap uang berkaitan erat dengan dosa ketidakpuasan. Hal ini disiratkan Alkitab dengan kata-kata seperti “mengingini” (Keluaran 20:17; Yakobus 4:2) dan “cemburu” (Yakobus 3:16).

Alih-alih tidak bahagia atas apa yang tidak kita miliki, orang Kristen seharusnya bersyukur atas apa yang kita miliki dan berharap atas apa yang akan kita peroleh suatu hari nanti (Ibrani 11:14-16). Landasan dari perspektif yang percaya, puas, dan berwawasan ke depan ini adalah hubungan yang benar antara orang percaya dengan Kristus (Ibrani 12:2).

Rasul Paulus selain menulis tentang hamba uang dalam kitab Ibrani, juga menulis bahayanya:

Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka. 1 Timotius 6:10

Di sini, Paulus menyebutkan tema umum lain dari moralitas alkitabiah: bahaya keserakahan. Frasa “uang adalah akar segala kejahatan” sebenarnya tidak alkitabiah, karena kekayaan dapat digunakan dan dinikmati dengan benar tanpa dosa (Roma 14:14). Tetapi, Alkitab memang mengatakan, dalam 1 Timotius 6:10, bahwa “cinta uang adalah akar segala kejahatan.” Ayat itu mencatat bahwa keinginan yang tidak sehat akan kekayaan telah menyebabkan kehancuran banyak kehidupan.

Perlu dicatat bahwa ada perbedaan antara bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan dengan hidup sebagai hamba uang. Yang pertama adalah panggilan mulia—Tuhan sendiri memerintahkan kita untuk rajin bekerja, supaya bisa memberi nafkah kepada keluarga dan menolong sesama. Tetapi yang kedua adalah perbudakan rohani—ketika uang menjadi tuan atas hidup kita, dan Kristus tidak lagi yang utama.

Kedua ayat di atas (Ibrani 13:5 dan 1 Timotius 6:10) bukan sekadar nasihat moral, melainkan sebuah peringatan rohani: cinta uang bisa membuat seseorang batal menjadi hamba Kristus. Ibrani 13:5 menekankan bahwa cinta uang membuat orang tidak pernah puas. Sebaliknya, orang percaya dipanggil untuk hidup dalam kepuasan rohani karena janji Tuhan yang setia. 1 Timotius 6:10 mengingatkan bahwa cinta uang bukan hanya masalah pribadi, tetapi bisa menjadi akar kejahatan sosial: korupsi, penindasan, iri hati, pertikaian, bahkan kejatuhan iman. Dengan kata lain, cinta uang bukan sekadar kelemahan kecil, melainkan penyakit rohani yang mematikan hidup kita di dunia jika tidak ditangani.

Kerja keras yang sehat dilakukan sebagai panggilan Tuhan. Seorang ayah atau ibu bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga, mendidik anak, memberi nafkah dengan jujur. Dalam hal ini, uang hanyalah alat, bukan tujuan. Kerja keras sebagai hamba uang terjadi ketika uang menjadi tujuan utama. Orang bekerja bukan lagi untuk Tuhan atau keluarga, tetapi demi prestise, ambisi, atau demi menumpuk harta, baik untuk dirinya maupun untuk orang lain. Akhirnya, hidupnya dikuasai oleh rasa takut kehilangan dan ketidakpuasan yang tidak pernah berakhir..

Hidup sebagai hamba uang tidak pernah membawa kebahagiaan sejati. Justru sebaliknya, hidup sedemikian penuh dengan kekuatiran Semakin banyak harta yang dikumpulkan, semakin besar pula rasa takut kehilangannya. Orang tidak bisa tidur karena khawatir dengan bisnis, harga saham, atau persaingan. Hidup seperti itu tidak pernah puas. Pepatah yang cocok untuk sikap itu adalah: “Cukup itu selalu lebih dari apa yang kita miliki sekarang.”

Orang yang cinta uang selalu merasa kurang. Banyak keluarga hancur karena perebutan warisan. Banyak persahabatan retak karena uang. Hidup kehilangan arah rohani Yesus sendiri berkata: “Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon” (Matius 6:24). Siapa yang memilih Mamon, akan jauh dari Kristus.

Sebaliknya, orang percaya dipanggil untuk hidup sebagai hamba Kristus. Apa artinya? kita harus menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya sumber rasa aman. Bukan tabungan, bukan investasi, bukan asuransi, melainkan janji Allah: “Aku tidak akan meninggalkan engkau.” Menggunakan uang sebagai sarana, bukan tujuan. Uang dipakai untuk memenuhi kebutuhan seperlunya, membiayai pendidikan, dan terutama untuk menjadi berkat bagi sesama.

Uang juga dipakai untuk melatih hati melalui memberi. Paulus menulis bahwa orang kaya dalam iman harus kaya dalam kebajikan dan siap berbagi (1 Timotius 6:17–19). Dengan memberi, kita belajar melepaskan keterikatan pada harta. Memberi membuat uang tetap di tempatnya: sebagai alat, bukan tuan.

Masyarakat modern menjadikan uang sebagai berhala baru. Tetapi orang percaya dipanggil untuk hidup berbeda: bukan diperbudak uang, melainkan menggunakannya sebagai sarana untuk memuliakan Tuhan. Kekayaan sejati bukan terletak pada seberapa banyak harta kita, melainkan pada seberapa dalam relasi kita dengan Kristus dan seberapa besar kasih kita kepada sesama.

Pertanyaan Reflektif:

  • Apakah saya sedang bekerja demi Tuhan, atau demi uang semata?
  • Apakah saya merasa aman karena tabungan dan investasi saya, atau karena penyertaan Tuhan?
  • Apakah saya hidup dengan hati yang puas, atau terus dikuasai rasa iri hati dan ambisi?
  • Apakah saya rela melepaskan sebagian dari harta saya untuk menolong sesama, atau justru sulit sekali untuk memberi?

Doa Penutup:

Tuhan Yesus, ampunilah kami bila seringkali hati kami lebih melekat pada uang daripada pada-Mu. Tolonglah kami agar hidup bebas dari cinta uang, cukup dengan apa yang ada, dan percaya bahwa Engkau tidak akan meninggalkan kami. Ajarlah kami menjadi pengelola yang setia, memakai uang untuk kemuliaan-Mu, bukan sebagai tuan atas hidup kami. Dalam nama Yesus Kristus, kami berdoa. Amin.

Jangan melemparkan mutiara kepada babi

“Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu.” Matius‬ ‭7‬:‭6‬‬

Ungkapan di atas berasal dari Alkitab Matius 7:6, yang berarti jangan memberikan hal-hal berharga atau firman Tuhan kepada orang yang tidak menghargainya, karena mereka akan menginjak-injaknya dan bahkan bisa menyerang kita.

Ungkapan ini mengajarkan untuk bijaksana dalam memberi nasihat atau “Injil” kepada orang yang tidak menghargai nilai kebenaran, sehingga penginjilan harus dihentikan kepada orang-orang yang mengejek atau mencemoohkan firman Tuhan.

Mutiara dan barang kudus melambangkan hal-hal berharga, terutama firman Tuhan atau Injil.

Babi melambangkan orang-orang yang tidak menghargai Injil, bahkan menghinanya atau menjadikannya lelucon.

Menginjak-injak melambangkan tindakan meremehkan, menghina, atau bahkan menyakiti orang yang memberi nasihat atau peringatan.

Implikasi:

Kita harus berhati-hati dalam menegur atau menasihati orang yang tidak ada harapan untuk berubah.

Ada batas kesabaran dalam memberitakan Injil kepada orang yang terus-menerus mengejek atau menertawakannya.

Lebih baik memberitakan Injil kepada orang-orang yang mau menerima dan menghargai kebenaran.

Jika kita memberikan nasihat yang berharga kepada orang yang merendahkan, itu justru bisa membuat mereka menghujat Tuhan.

“Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah.” 1 Korintus‬ ‭1‬:‭18‬‬

Mengenal Allah atau Menjadi Allah?

“Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap.” Roma 1:21

Di zaman modern, banyak orang tidak lagi menyebut diri mereka ateis. Sebaliknya, mereka mengaku “spiritual tapi bukan religius.” Mereka percaya ada “sesuatu” di luar sana, tetapi bukan Tuhan pribadi yang layak disembah. Mereka senang berbicara tentang energi kosmis, kesadaran universal, suara hati nurani, dan kekuatan semesta. Inilah salah satu ciri New Age Movement (NAM), sebuah arus spiritual global yang sudah meresap ke dalam musik, yoga, meditasi, psikologi populer, bahkan film-film Hollywood.

Pandangan seperti ini juga saya dengar dari seorang teman yang berkata: “Tuhan itu tanpa pamrih—tidak ingin dipuja. Kalau kita mau berterima kasih, baik. Kalau tidak, Tuhan juga tidak apa-apa. Semua hasil adalah usaha manusia sendiri.” Sepintas terdengar indah, tetapi di baliknya ada bahaya rohani yang besar.

Rasul Paulus sudah menyinggung hal ini dalam Roma 1:21. Walaupun manusia mengenal Allah melalui ciptaan-Nya, mereka menolak memuliakan Dia dan mengucap syukur. Akibatnya, pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka menjadi gelap. Mari kita renungkan firman ini dalam terang tantangan New Age Movement.

Dalam Roma 1:21 Paulus menulis kepada jemaat di Roma, pusat dunia filsafat, kebudayaan, dan kekaisaran. Orang Romawi dan Yunani kala itu mengagungkan hikmat manusia, namun sekaligus menyembah berhala. Mereka tahu ada kuasa ilahi dari ciptaan (Roma 1:20), tetapi menolak tunduk kepada Allah yang benar. Hasilnya? Dua hal:

  • Mereka tidak pernah memuliakan Tuhan.
  • Mereka tidak mau mengucap syukur kepada Tuhan.

Dari sini Paulus menunjukkan bahwa inti dosa adalah penolakan untuk memberi Allah tempat yang seharusnya. Bukan hanya perbuatan jahat, tetapi sikap hati yang menggantikan Tuhan dengan diri sendiri.

New Age Movement lahir dari perpaduan filsafat Timur (Hindu-Buddha), mistisisme, psikologi modern, dan sekularisme Barat. Dalam NAM, semua agama dianggap sama. Tidak ada satu jalan yang benar, semua relatif. Tidak ada dosa, hanya “kurang pencerahan.” Keselamatan adalah kesadaran diri. Dengan meditasi atau latihan batin, manusia dianggap bisa mencapai tingkat ilahi sepenuhnya. Tuhan adalah energi atau kesadaran universal. Bukan Pribadi yang berdaulat, melainkan semacam “kekuatan kosmis.” Manusia sebagai pusat. Kita semua adalah “ilahi kecil” yang hanya perlu dibangkitkan potensinya. Bagi pengikut NAM, menyembah Tuhan pribadi dianggap tidak perlu. Yang penting adalah “terhubung” dengan energi semesta atau menemukan “ilahi” di dalam diri.

Fenomena NAM sebenarnya bukan hal baru. Paulus sudah melihat gejalanya di dunia Yunani-Romawi. Filsuf Stoic misalnya, berbicara tentang logos, hukum kosmis, dan kebaikan universal, tetapi tanpa mengenal Allah pribadi. Filsuf Epicurean mencari kebahagiaan tanpa takut kepada Allah, hanya mengutamakan kesenangan. Masyarakat Romawi penuh dengan kuil dan patung, tetapi hatinya kosong dari penyembahan sejati. Sama seperti NAM, mereka mengaku bijaksana tetapi menjadi bodoh (Roma 1:22).

NAM tidak selalu muncul dalam bentuk agama formal. Ia sering menyusup dalam hal-hal yang tampak “biasa”. Misalnya, yoga atau meditasi yang diajarkan tanpa menyebut Tuhan, hanya untuk “membangkitkan energi.” Selain itu, mindfulness atau kesadaran pribadi versi sekuler yang mereka pakai, memisahkan diri dari doa kepada Allah. Banyak buku self-help yang berkata, “Percayalah pada dirimu sendiri, kamu adalah tuhan bagi dirimu. Semua ini membentuk cara berpikir yang sama: “Saya bisa hidup tanpa Tuhan.”

Tetapi Roma 1:21 mengingatkan: pikiran manusia tanpa Allah hanyalah sia-sia, hati manusia tanpa Allah hanyalah gelap. Manusia tidak bisa menyelamatkan diri. Kita mati dalam dosa (Efesus 2:1). Sebaliknya, keselamatan hanya anugerah. Bukan hasil usaha, meditasi, atau kesadaran diri (Efesus 2:8–9). Kristus adalah pusat, bukan manusia. Dialah yang mati dan bangkit untuk kita. Ucapan syukur dan penyembahan adalah respon alami orang yang sudah diselamatkan.

NAM berkata: “Carilah kekuatan dalam dirimu.”

Injil berkata: “Tanpa Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” (Yohanes 15:5).

Di tengah dunia yang penuh “spiritualitas” palsu, orang Kristen harus berwaspada terhadap filsafat kosong. Kolose 2:8 berkata: “Hati-hatilah, supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun manusia dan roh-roh dunia, tetapi tidak menurut Kristus.”

Pagi ini kita diingatkan untuk hidup dalam ucapan syukur. Setiap hari mengingat bahwa segala sesuatu dari Tuhan, bukan hasil usaha kita sendiri. Kiranya kita selalu memilih untuk memuliakan Allah dan mengucap syukur kepada-Nya setiap hari.

Pertanyaan Reflektif:

  • Apakah saya pernah merasa Tuhan tidak perlu, karena semua bisa saya lakukan dengan usaha sendiri?
  • Apakah saya sungguh hidup dalam ucapan syukur kepada Tuhan, atau hanya mengucap syukur atas keberuntungan saya?
  • Apakah saya sedang terjebak dalam tren “spiritualitas modern” yang tidak mengenal Kristus?

Doa Penutup:

“Tuhan, jangan biarkan aku tertipu oleh filsafat dunia yang menyingkirkan-Mu. Ajar aku mengucap syukur, memuliakan-Mu, dan mengakui bahwa hidupku hanya dari-Mu. Jauhkan aku dari kesombongan rohani, dan penuhi aku dengan kasih Kristus setiap hari. Amin.”

Berbeda pandangan dalam kesatuan

“Satu tubuh, dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan oleh semua dan di dalam semua.” Efesus 4:4–6

Ada kisah lama tentang sepuluh orang buta yang dibawa untuk meraba seekor gajah. Karena mereka belum pernah bertemu gajah sebelumnya, masing-masing mencoba meraba bagian tubuhnya. Satu orang meraba gading dan berkata, “Gajah itu seperti tombak!” Yang lain memegang telinga dan berseru, “Tidak, gajah itu seperti kipas.” Yang ketiga memegang kaki dan bersumpah, “Ini jelas tiang.” Yang keempat meraba ekor dan tertawa, “Gajah ini hanyalah seutas tali.” Ada satu gajah, tetapi penafsiran tiap orang berbeda.

Setiap orang buta berbicara dengan yakin. Masing-masing benar dalam sebagian kecil — tetapi juga salah, karena tidak seorang pun melihat gambaran keseluruhan.

Kisah ini sering dipakai untuk menjelaskan bagaimana manusia memahami kebenaran: terbatas, sebagian, dan dipengaruhi oleh sudut pandang. Ketika diterapkan pada perbedaan denominasi Kristen, kisah ini menjadi pengingat akan keterbatasan kita dan sekaligus akan kebesaran Allah.

Efesus 4:1–10 adalah deskripsi Paulus yang meyakinkan tentang kesatuan Kristen. Setiap orang percaya yang diselamatkan, terlepas dari bakat atau keterampilannya, Yahudi atau non-Yahudi, pria atau wanita, diselamatkan oleh iman yang sama kepada Allah yang sama. Oleh karena itu, setiap orang Kristen adalah bagian dari satu keluarga orang percaya universal di dalam Yesus Kristus. Pada saat yang sama, Allah memberikan karunia yang berbeda kepada orang yang berbeda, sehingga mereka dapat menjalankan berbagai peran yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan-Nya di bumi. Alih-alih mengkhawatirkan karunia apa yang mungkin kurang kita miliki, setiap orang Kristen dapat bersukacita dalam kesatuan kita, dan berfokus untuk melayani Allah sebaik mungkin.

Memahami anugerah keselamatan dengan sungguh-sungguh, seperti yang dijelaskan Paulus dalam bab-bab sebelumnya, adalah motivasi pertama orang Kristen untuk menjalani kehidupan yang saleh. Di sini, Paulus mendorong orang percaya untuk hidup dengan cara yang menghormati karunia tersebut. Semua orang Kristen yang diselamatkan adalah bagian dari satu keluarga yang bersatu, bagian dari “tubuh” Kristus. Pada saat yang sama, setiap orang percaya diberi talenta yang berbeda. Beberapa dipanggil untuk menduduki posisi kepemimpinan dan otoritas. Semua orang Kristen harus meninggalkan “manusia lama” yang kita miliki sebelum diselamatkan. Penjelasan Paulus tentang “manusia baru” mencakup beberapa langkah dasar dan praktis.

Efesus 4:4 mengawali pengulangan klasik kata “satu”, yang membentuk sebuah bagian terkenal dari Perjanjian Baru, yang berlanjut hingga ayat 6. Dengan mengulang konsep “kesatuan”, “seiman”, dan seterusnya, bagian ini menekankan kedekatan dan keharmonisan yang seharusnya kita tunjukkan sebagai orang percaya. Pertama, kesatuan yang Paulus maksudkan di ayat 3 menuntut fokus bersama sebagai satu tubuh yang bersatu. Dengan kata lain, sebenarnya tidak ada gereja-gereja yang berbeda, melainkan satu gereja Kristus yang sejati dan universal.

Setiap orang percaya yang diselamatkan di dalam Kristus adalah anggota dari satu tubuh ini, meskipun mereka menganggap diri mereka bagian dari denominasi tertentu. Kedua, Roh Kudus adalah satu-satunya kekuatan rohani yang mempersatukan semua orang percaya di dalam Kristus. Ketiga, semua orang percaya dipanggil kepada pengharapan yang sama akan kekekalan di masa depan bersama Kristus (1 Petrus 1:3; 3:15). Paulus membahas panggilan ini dalam Efesus 1:4, 18 serta di awal pasal ini.

Menariknya, ketiga bagian Tritunggal kembali dibahas. Ayat ini menyebutkan Roh Kudus. Ayat 5 menyebutkan Tuhan Yesus. Ayat 6 mencakup Bapa. Penekanan Paulus pada ketiga pribadi Allah Tritunggal sebagai sama-sama ilahi telah dijelaskan beberapa kali dalam surat ini.

Sekalipun satu iman, sejak zaman para rasul, gereja sudah menghadapi perbedaan. Paulus dan Barnabas berselisih soal Yohanes Markus (Kisah Para Rasul 15:36–41). Paulus bahkan menegur Petrus karena bersikap munafik di Antiokhia (Galatia 2:11–14). Jemaat di Korintus pun sudah terpecah dalam kelompok: “Aku dari golongan Paulus,” “Aku dari Apolos,” “Aku dari Kefas” (1 Korintus 1:12).

Denominasi saat ini muncul karena penekanan yang berbeda-beda. Katolik dan Ortodoks menekankan tradisi, sakramen, dan kesinambungan dengan gereja mula-mula. Reformed dan Presbyterian menekankan kedaulatan Allah, anugerah, dan otoritas Alkitab. Baptis menekankan baptisan orang percaya dan kemandirian jemaat lokal. Pentakosta dan Karismatik menekankan karya Roh Kudus yang nyata. Metodis dan Wesleyan menekankan kekudusan hidup, pemuridan, dan kasih yang nyata.

Semua penekanan ini memiliki dasar Alkitab. Semua telah berbuah sepanjang sejarah. Tetapi tidak ada satu pun yang sepenuhnya mencakup keseluruhan kebenaran Allah. Seperti kata Paulus: “Karena pengetahuan kita tidak lengkap dan nubuat kita tidak sempurna. Tetapi apabila yang sempurna tiba, maka yang tidak sempurna itu akan lenyap” (1 Korintus 13:9–10).

Masalahnya bukan karena kita melihat sebagian — itu wajar, karena kita terbatas. Masalah muncul ketika kita menganggap bahwa bagian kecil kita adalah keseluruhan kebenaran. Orang buta yang meraba gading tidak salah ketika berkata gajah seperti tombak. Tetapi ia salah ketika bersikeras bahwa semua orang lain keliru. Demikian juga, Baptis tidak salah menekankan baptisan, dan Pentakosta tidak salah menekankan karunia Roh. Tetapi bila ada yang berkata, “Kami satu-satunya yang benar, yang lain tersesat,” maka kesombongan mengubah kebenaran sebagian menjadi sumber perpecahan.

Paulus mengingatkan bahwa pengetahuan yang membanggakan tidak berguna, tetapi kasih membangun. Jika ada orang menyangka bahwa ia mempunyai sesuatu pengetahuan, maka ia belum juga mencapai pengetahuan sebagaimana yang harus dicapainya (1 Korintus 8:1–2).

Daripada melihat perbedaan denominasi sebagai ancaman, kita dapat melihatnya sebagai kesempatan. Sama seperti orang buta itu akan belajar lebih banyak jika mereka mau mendengar satu sama lain, kita pun dapat melihat Kristus dengan lebih lengkap bila rendah hati belajar dari tradisi lain. Keberagaman dalam tubuh Kristus bisa menjadi berkat, bila kita hadapi dengan kerendahan hati. Itu mengingatkan kita bahwa kebenaran Allah lebih besar daripada sudut pandang kita.

Dari saudara Katolik dan Ortodoks, kita belajar sikap hormat, akar sejarah, dan keindahan liturgi. Dari Pentakosta, kita diingatkan bahwa iman bukan sekadar intelektual, tetapi juga pengalaman bersama Roh yang hidup. Dari tradisi Reformed, kita belajar kagum pada kedaulatan dan anugerah Allah. Dari Metodis, kita ditantang untuk menghidupi kekudusan dalam keseharian. Bila diterima dengan rendah hati, semua ini tidak melemahkan iman kita, melainkan memperkaya.

Di pusat semua denominasi bukanlah doktrin, sakramen, atau pengkhotbah, melainkan Yesus Kristus sendiri. Dialah “gajah” itu, kebenaran yang penuh, kepenuhan Allah yang dinyatakan. Kita semua hanya melihat sebagian saat ini, tetapi kelak di surga kita akan melihat Dia dengan jelas.

Dalam Yohanes 17, Yesus berdoa agar murid-murid-Nya bersatu: “supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku” (Yohanes 17:21).

Kesatuan kita bukan pada keseragaman organisasi atau teologi melainkan pada iman yang sama di dalam Kristus.

Pertanyaan Reflektif:

  • Bagian mana dari kebenaran Kristus yang paling ditekankan dalam denominasi saya?
  • Pernahkah saya merendahkan atau meremehkan orang Kristen dari tradisi lain?
  • Bagaimana saya bisa belajar dari orang Kristen lain tanpa kehilangan keyakinan saya sendiri?
  • Bagaimana perbedaan denominasi mencerminkan keterbatasan manusia sekaligus kebesaran kebenaran Allah?

Doa Penutup:

Tuhan Yesus, Engkaulah kebenaran yang penuh, tetapi kami hanya melihat sebagian. Ampunilah kami bila kami membanggakan bagian kecil kami seakan-akan itulah seluruhnya. Ampunilah kami bila perbedaan denominasi membuat kami terpecah, bukan saling membangun. Ajarlah kami rendah hati untuk belajar dari sesama, kasih untuk merangkul saudara-saudari, dan iman untuk berpegang pada-Mu di atas segalanya. Satukanlah kami, sebagaimana Engkau dan Bapa adalah satu, supaya dunia percaya kepada-Mu. Amin.

Mengapa Orang Menolak Kristus?

“Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah.” 1 Korintus 1:18

Pertanyaan terbesar dalam hidup manusia bukanlah soal ekonomi, politik, atau kesehatan, melainkan soal hubungan kita dengan Tuhan. Alkitab jelas menyatakan bahwa Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya (Kejadian 1:27). Namun, realitas di sekitar kita memperlihatkan bahwa banyak orang justru menolak keberadaan-Nya, menutup telinga terhadap suara-Nya, bahkan mengeraskan hati terhadap kasih-Nya yang sudah dinyatakan dalam Yesus Kristus.

Mengapa demikian? Apakah Allah yang salah karena tidak hadir? Ataukah manusia yang salah menafsirkan keberadaan-Nya?

1 Korintus 1:18–31 menggambarkan kebodohan Injil di mata dunia. Baik orang Yahudi maupun orang Yunani menolak gagasan tentang Kristus yang disalibkan. Dewa mana pun yang mati di kayu salib Romawi, terutama sebagai pengorbanan untuk dosa manusia, akan dipandang oleh mata duniawi sebagai dewa yang lemah dan bodoh. Namun, Allah akan mempermalukan orang bijak dan kuat dengan memberikan kemampuan untuk percaya kepada salib Kristus, terutama kepada orang yang lemah dan bodoh di dunia, dalam istilah manusia. Pada akhirnya, tak seorang pun akan bisa menyombongkan diri di hadapan-Nya tentang kekuatan dan kebijaksanaan mereka sendiri.

Dalam 1 Korintus 1:18 Paulus membagi dunia menjadi dua kelompok orang: mereka yang akan binasa dan mereka yang diselamatkan. Mereka yang akan binasa ditakdirkan untuk selamanya terpisah dari Allah, sementara mereka yang diselamatkan ditakdirkan untuk selamanya tinggal dalam kemuliaan Allah.

Bagi kelompok pertama—mereka yang akan binasa—salib Kristus adalah “kebodohan.” Istilah Yunani asli yang digunakan di sini adalah mōria, dari akar kata yang sama yang membentuk kata-kata bahasa Inggris seperti moron. Secara gamblang, Paulus mengatakan bahwa bagi dunia yang belum diselamatkan, mereka yang memberitakan Injil tampak seperti orang bodoh.

Pada zaman Paulus, salib masih digunakan secara luas oleh orang Romawi sebagai alat eksekusi publik. Itu adalah simbol kejahatan yang memalukan dan ketidakberdayaan di hadapan Kekaisaran Romawi yang berkuasa waktu itu. Salib Kristus adalah sesuatu yang bodoh dalam budaya Yunani dan Romawi bukan karena mereka ateis. Mereka percaya pada semua jenis dewa dan mengurutkannya berdasarkan kuasa yang mereka miliki atas alam dan manusia. Tetapi, salib Kristus adalah sesuatu yang bodoh bagi budaya pagan karena Yesus Kristus ditolak oleh umat-Nya sendiri dan disalibkan seperti penjahat biasa lainnya oleh penguasa Romawi. Dari perspektif Yunani dan Romawi, dan juga sampai zaman ini, itu bukanlah Tuhan yang layak disembah.

Dalam Kekristenan, orang fasik adalah orang yang menolak Tuhan, hidup dalam dosa, dan bertindak bertentangan dengan kehendak Allah. Mereka cenderung mengabaikan Firman Tuhan, mengikuti cara hidup duniawi, dan tidak memiliki rasa takut kepada Allah dan hukum-Nya. Lebih dari itu, secara umum, orang-orang fasik menganggap orang percaya, dan iman mereka kepada Yesus Kristus adalah kebodohan. Dengan demikian, orang-orang fasik (mungkin orang ateis, agnostik atau orang yang tidak percaya kepda Yesus) sering kali mengejek orang Kristen dan bahkan mengolok-olok Tuhan Yesus yang dipercayai umat-Nya sebagai Juruselamat.

Bagi mereka yang diselamatkan, karena iman mereka kepada Kristus, salib dipahami sebagai tindakan Allah yang paling berkuasa. Putra Allah tidak kalah dalam pertempuran melawan para pemimpin Yahudi atau pemerintah Romawi. Dia tidak dapat dikalahkan atau ditundukkan (Yohanes 10:17-18; 18:6; Matius 26:53). Tetapi, Allah Bapa mengorbankan Putra-Nya, Yesus, untuk dosa manusia. Yesus, meskipun memiliki kuasa dan otoritas Ilahi yang tak terbatas, menyerahkan nyawa-Nya untuk menutupi dosa-dosa mereka yang sedang binasa. Mereka yang percaya kepada Kristus memahami bahwa tanpa tindakan penuh kuasa itu, manusia akan tersesat dan tanpa harapan.

Dari pengalaman hidup dan kesaksian Alkitab, ada tiga alasan utama mengapa manusia dalam kebodohannya menolak Tuhan: (1) merasa tidak dikasihi-Nya, (2) merasa tidak memerlukan Dia, dan (3) merasa Dia tidak ada. Mari kita renungkan satu per satu.

1. Merasa Tidak Dikasihi-Nya

Banyak orang berpaling dari Tuhan karena luka batin yang mereka alami. Ada yang berdoa bertahun-tahun untuk kesembuhan, tetapi penyakitnya tidak juga hilang. Ada yang memohon agar keluarganya dipersatukan kembali, namun perceraian tetap terjadi. Ada pula yang kehilangan orang yang sangat dikasihi, lalu merasa Tuhan tidak peduli.

Seperti Ayub yang pernah berseru:

“Aku berteriak kepada-Mu, tetapi Engkau tidak menjawab; aku berdiri, tetapi Engkau hanya memperhatikan aku saja.” Ayub 30:20

Rasa ditinggalkan ini membuat manusia bertanya: “Kalau Tuhan kasih, mengapa semua ini terjadi padaku?”

Padahal, kasih Allah terbesar sudah nyata dalam salib Kristus. Rasul Paulus berkata:

“Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” Roma 5:8

Seringkali, manusia menafsirkan kasih Allah hanya sebatas pada kenyamanan hidup. Ketika doa tidak dikabulkan, mereka merasa Tuhan tidak mengasihi. Namun kasih sejati bukan berarti hidup tanpa penderitaan, melainkan hadirnya pengharapan di tengah penderitaan. Justru melalui salib, kita melihat bahwa Allah sanggup memakai penderitaan sebagai jalan menuju kemuliaan.

2. Merasa Tidak Memerlukan Dia

Alasan kedua datang dari mereka yang hidup berkecukupan. Dengan harta, ilmu, dan jabatan, manusia merasa bisa mengendalikan hidupnya. Tuhan dianggap tidak relevan.

Yesus pernah berkata kepada jemaat di Laodikia:

“Karena engkau berkata: Aku kaya, dan aku telah memperkayakan diriku, dan aku tidak kekurangan apa-apa, dan karena engkau tidak tahu, bahwa engkau melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang.” Wahyu 3:17

Kemandirian yang berlebihan membuat manusia menolak Tuhan. Mereka berpikir: “Mengapa saya perlu Tuhan, jika saya bisa meraih semua ini dengan usaha sendiri?”

Namun, kesombongan ini ibarat rumah megah tanpa fondasi. Saat badai datang—penyakit, kematian, atau krisis yang tak terkendali—baru disadari bahwa semua yang dibanggakan rapuh dan fana.

Seorang filsuf pernah berkata: “Manusia adalah makhluk yang baru menyadari kebutuhan akan Tuhan ketika ia berhadapan dengan kuburan.” Pada saat menghadapi kematian, semua prestasi dan kekayaan tidak bisa menolong, hanya Tuhan yang kekal yang sanggup memberi pengharapan.

3. Merasa Dia Tidak Ada

Ada juga orang yang menolak Tuhan karena mereka meyakini Dia tidak ada. Kaum ateis dan agnostik berkata bahwa Tuhan hanyalah ilusi, hasil ciptaan pikiran manusia. Mereka berpegang pada ilmu pengetahuan atau logika manusia, dan menolak segala sesuatu yang bersifat rohani.

Namun, Alkitab sudah menegaskan:

“Orang bebal berkata dalam hatinya: Tidak ada Allah.” Mazmur 14:1

Alasan ini seringkali bukan sekadar karena akal budi, tetapi karena keinginan untuk hidup tanpa firman Tuhan. Jika Tuhan tidak ada, maka tidak ada standar kebenaran yang absolut. Manusia bisa merasa bebas melakukan apa saja menurut hati nurani mereka tanpa kekuatiran untuk berbuat dosa.

Tetapi, meski menolak, hati manusia tetap merindukan makna. Seperti kata C.S. Lewis: “Jika saya menemukan dalam diri saya kerinduan yang tidak dapat dipuaskan oleh apa pun di dunia ini, penjelasan yang paling mungkin adalah bahwa saya diciptakan untuk dunia lain.” Kerinduan akan sesuatu yang lebih besar dari dunia ini adalah tanda bahwa Allah itu ada.

Dari ketiga alasan ini, kita melihat bahwa penolakan manusia terhadap Tuhan berakar pada dosa dan kerapuhan hati. Dosa membuat manusia buta terhadap kasih Allah, sombong dalam apa yang dimilikinya, dan keras hati untuk mengakui keberadaan-Nya.

Perlu diingat, sebagian orang Kristen bisa juga mempunyai kebodohan yang serupa jika mereka membatasi kedaulatan Tuhan atas hidup mereka. Mereka menolak untuk tunduk kepada firman-Nya jika itu bertentangan dengan kemauan sendiri. Mereka ingin menjadi orang Kristen “biasa”, pergi ke gereja tapi di luar gereja hidup seakan Tuhan itu tidak ada.

Namun, kabar baiknya adalah: Allah tidak berhenti mengetuk pintu hati manusia. Yesus berkata:

“Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya.” Wahyu 3:20

Allah tidak memaksa, tetapi dengan kasih-Nya yang lembut Ia mengundang setiap orang untuk kembali. Bahkan ketika manusia menolak, Ia tetap setia menunggu.

Manusia bisa merasa tidak dikasihi, merasa tidak memerlukan, atau bahkan menyangkal keberadaan Tuhan. Namun, Allah tetap Allah yang penuh kasih. Ia tetap hadir, meskipun kita sering tidak menyadarinya. Yesus Kristus datang bukan untuk orang benar, melainkan untuk orang berdosa. Ia datang justru untuk mereka yang menolak, supaya mereka berbalik dan diselamatkan.

Hari ini, mari kita renungkan: apakah dalam hati kita masih ada area tertentu yang menolak Tuhan? Apakah kita pernah merasa ditinggalkan-Nya, atau merasa cukup tanpa Dia, atau meragukan keberadaan-Nya? Mari kita membuka hati, karena kasih-Nya selalu lebih besar daripada penolakan kita.

Doa Penutup

Tuhan yang penuh kasih, kami mengaku bahwa seringkali hati kami keras dan menolak Engkau. Kami merasa tidak dikasihi, padahal kasih-Mu tidak pernah berkurang. Kami merasa tidak memerlukan Engkau, padahal setiap nafas kami adalah anugerah-Mu. Kadang kami meragukan keberadaan-Mu, padahal seluruh ciptaan bersaksi tentang kuasa-Mu. Ampunilah kami, ya Tuhan. Lembutkan hati kami agar senantiasa terbuka kepada-Mu. Tolong kami untuk tetap percaya, sekalipun kami tidak mengerti jalan-Mu. Dalam nama Yesus Kristus, kami berdoa. Amin.

Sadarlah dan Berjaga-jagalah!

“Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.” 1 Petrus 5:8

1 Petrus 5:1–11 memberikan instruksi khusus kepada para penatua tentang cara memimpin kawanan domba Allah dengan rela, penuh semangat, dan melalui teladan mereka sendiri. Seperti mereka, kita semua harus hidup dalam kerendahan hati terhadap satu sama lain dan terhadap Allah yang menentang orang yang sombong. Dalam kerendahan hati, kita menyerahkan kekhawatiran kita kepada Bapa yang memelihara kita. Dalam kesiapan, kita harus tetap berpikiran jernih, waspada terhadap musuh kita, si iblis, yang berusaha menghancurkan kita. Kita tidak boleh berdiam diri, tetapi harus berani melawannya dengan berfokus untuk tetap teguh dalam iman kita dan percaya bahwa Allah akan menepati janji-janji-Nya.

Dalam kenyataanya, bagaimana seharusnya orang percaya hidup, percaya tentang adanya iblis yang nyata: musuh rohani kita yang punya agenda untuk mencelakai mereka? Jawaban Petrus atas pertanyaan itu dimulai dengan ayat ini: Sadarlah. Berjaga-jagalah. Ini adalah ketiga kalinya dalam surat ini Petrus mendesak para pembacanya untuk berpikiran jernih (1 Petrus 1:13; 1 Petrus 4:7). Seperti itulah, penting bagi kita untuk memperhatikan, dengan pikiran yang serius, apa yang terjadi dalam hidup kita dan di dunia di sekitar kita.

Petrus menulis bahwa ada bahaya di balik penganiayaan yang dihadapi beberapa pembacanya. Ada agenda yang mendalam, jauh melampaui agenda orang-orang yang mungkin melakukan penganiayaan itu. Iblis, bukan manusia yang mungkin mencelakai kita, adalah musuh sejati orang percaya Kristen. Iblislah yang sering memakai pria dan wanita, yang kita kenal sebagai musuh atau teman kita, untuk mencelakai kita secara jasmani maupun rohani di zaman ini, melalui berbagai cara, baik di dunia nyata maupun maya.

Kehidupan iman orang percaya memang bukanlah jalan yang selalu mulus. Ada saat-saat kita merasakan sukacita yang besar, karena kasih Tuhan begitu nyata. Namun ada pula waktu di mana kita merasa lelah, lalai, tidak peduli, tergoda, bahkan jatuh dalam dosa. Rasul Petrus menuliskan peringatan yang sangat serius kepada jemaat: ada musuh besar yang selalu mengintai, yaitu Iblis. Ia tidak mungkin nampak seperti sahabat, terapi ia adalah singa lapar yang mengaum dan mencari mangsa.

Musuh kita, iblis, ingin melahap kita, untuk menyebabkan kerusakan yang nyata. Kata Yunani di sini adalah katapiein, yang secara harfiah berarti “menelan,” atau “menenggelamkan.” Petrus telah menjelaskan bahwa tempat kita dalam kekekalan bersama Bapa kita aman. Iblis tidak dapat mengambilnya dari kita, tetapi ia berusaha merusak iman kita sementara kita hidup di dunia. Ia ingin rasa takut menggoyahkan ketundukan kita kepada Bapa, dan berdusta untuk mendistorsi pemahaman kita tentang kebaikan dan kebenaran Allah. Karena ia tidak dapat menyentuh jiwa orang percaya, iblis berusaha membuat kita menjadi orang Kristen yang lemah dan tidak efektif.

Seruan ini bukan sekadar teori. Petrus sendiri pernah mengalami kejatuhan: ia menyangkal Yesus tiga kali pada malam penangkapan. Ia tahu betul bagaimana Iblis bekerja—memanfaatkan kelengahan, ketakutan, dan kelemahan manusia. Maka, peringatan ini datang dari pengalaman pribadi, sekaligus dorongan kasih seorang gembala kepada domba-domba Kristus.

Alkitab tidak pernah menggambarkan Iblis sebagai sekadar simbol kejahatan, melainkan pribadi yang nyata. Ia adalah musuh Tuhan dan umat-Nya. Cara kerjanya sering halus, cerdik dan penuh tipu daya, dan selalu berusaha menjauhkan manusia dari Allah. Dalam pikiran, iblis menabur keraguan, ketakutan, iri hati, atau kebencian. Pikiran negatif yang dibiarkan tumbuh bisa menjadi akar dosa. Dalam perkataan, iblis bisa mendorong lidah manusia untuk menyakiti, memfitnah, atau menyebar gosip dan hoax. Dalam kesempatan lain, iblis membuat manusia menjadi takut, khawatir dan apatis, sehingga lidah manusiamenjadi kelu dan tidak dapat membantah kepalsuan dan fitnah. Padahal Amsal 18:21 berkata, “Hidup dan mati dikuasai oleh lidah, dan siapa yang suka menggemakannya akan memakan buahnya”.

Dalam perbuatan, godaan bisa datang lewat kesenangan sesaat, kompromi kecil, atau dorongan untuk mengikuti arus dunia. Ironisnya, tidak hanya dengan melakukan yang jahat kita jatuh dalam dosa, tetapi juga dengan tidak melakukan yang baik: dan ini termasuk melakukan apa yang tidak baik untuk mendapat hasil yang terlihat baik. Yakobus 4:17 menegaskan, “Jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.” Selain itu, dalam hidup sehari-hari, bersikap diam, pasif, atau acuh ketika kita seharusnya menolong, bersaksi, atau menyatakan kebenaran—semua itu pun membuka celah bagi dosa.

Karena Iblis tidak pernah berhenti bekerja Iblis selalu “berjalan keliling.” Artinya, ia tidak pernah lelah. Ia terus mencari celah sekecil apa pun dalam hidup kita. Jika kita lengah, ia siap menerkam. Karena kita masih lemah Kita bukan manusia sempurna. Ada saat ketika hati kita panas, pikiran kacau, kuatir atau tubuh lemah. Justru di saat-saat itu, pencobaan terasa paling kuat.

Karena waktu kita singkat, setiap hari sebenarnya adalah kesempatan untuk hidup benar. Tetapi, dalam pergaulan masyarakat, ada banyak orang yang berusaha menyerang iman kita. Mereka mengkritik iman kita, menmbuat kita terlihat bodoh di hadapan orang lain karena kepercayaan kita, memfintah atau menyerang kita dengan apa yang tidak senonoh. Jika kita berdiam diri dan menyia-nyiakan waktu dengan tidur rohani, kita makin lama akan makin khawatir dan lemah sehingga kita kehilangan kesempatan untuk memuliakan Tuhan.

Seruan Paulus agar kita sadar (be sober-minded) berarti menjaga pikiran tetap jernih. Jangan biarkan diri dikuasai oleh hawa nafsu, dendam, ambisi atau rasa takut dan kekhawatiran. Kesadaran rohani membuat kita mampu melihat bahaya sejak awal. Paulus juga menyuruh kita untuk berjaga-jaga (be watchful), agar kita, sama seperti prajurit yang berjaga di malam hari, bisa berwaspada terus-menerus. Setiap keputusan kecil bisa membuka jalan menuju dosa atau ketaatan.

Berpegang pada firman Mazmur 119:11 berkata, “Dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu, supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau.” Firman Tuhan adalah pelita yang menuntun langkah kita di tengah kegelapan dunia. Hidup dalam doa, Yesus sendiri mengajarkan, “Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan” (Matius 26:41). Doa bukan sekadar rutinitas, melainkan saluran kuasa Allah yang meneguhkan kita. Bersandarlah pada Roh Kudus, karena kita tidak mampu melawan dengan kekuatan sendiri. Roh Kudus memberi kuasa untuk berkata “tidak” pada dosa dalam bentuk apa pun (Roma 8:13). Hiduplah dalam persekutuan (Ibrani 10:25) supaya kita bisa saling menguatkan, menegur, dan menopang dalam iman jika kita dihadapkan pada serangan jasmani maupun rohani dari mereka yang membenci umat Tuhan.

Banyak orang Kristen (termasuk saya sendiri) menyadari bahwa tidak jarang jatuh dalam perangkap Iblis. Kadang bukan karena ingin berbuat jahat, melainkan karena lalai. Saat diserang orang lain, mudah sekali marah. Saat pikiran kosong, mudah sekali melakukan kekeliruan. Saat takut dikritik atau takut kehilangan teman, memilih untuk diam padahal seharusnya bersuara.

Kesadaran ini bukan untuk membuat kita putus asa, melainkan untuk mendorong kita kembali kepada Tuhan. Sebab firman-Nya berkata, “Tetapi Allah setia dan Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu” (1 Korintus 10:13).

Hidup orang Kristen adalah perjalanan penuh perjuangan. Iblis memang nyata, tetapi kemenangan kita pun nyata dalam Kristus. Kuncinya adalah sadar, berjaga-jaga, dan selalu melekat pada Tuhan. Jangan memberi kesempatan kepada si jahat, sekecil apa pun.

Pertanyaan Reflektif:

  • Apakah kita sedang lengah terhadap tipu daya duniawi?
  • Apakah ada area hidup kita yang sengaja kita biarkan bebas tanpa pengawasan rohani?
  • Apakah kita memilih diam, padahal seharusnya bertindak dalam kasih dan kebenaran?

Doa Penutup:

Tuhan Yesus, terima kasih atas firman-Mu hari ini. Engkau mengingatkan kami bahwa musuh kami, si Iblis, terus mengintai seperti singa yang lapar. Ampunilah kami bila sering lengah, bila kami jatuh dalam dosa karena pikiran, perkataan, atau perbuatan kami. Bahkan ketika kami memilih diam, kami sadar itu pun bisa menjadi dosa.

Tolonglah kami, ya Roh Kudus, untuk selalu sadar dan berjaga-jaga. Ajari kami hidup dalam firman, dalam doa, dan dalam persekutuan dengan sesama. Tuntunlah langkah kami supaya kami tidak jatuh ke dalam pencobaan. Kami percaya, bersama-Mu, kami lebih dari pemenang.

Dalam nama Yesus Kristus, Sang Pemenang, kami berdoa. Amin.

Ukuran Kesuksesan Anak dalam Terang Firman Tuhan

“Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah” Matius 4:4

Di dunia modern ini, ukuran kesuksesan sering kali ditentukan oleh pencapaian yang dapat dilihat dengan mata: nilai rapor yang tinggi, gelar pendidikan, jabatan penting, gaji besar, atau harta berlimpah. Banyak orang tua merasa bangga bila anaknya mencapai hal-hal tersebut. Namun, Alkitab mengingatkan kita bahwa standar Allah berbeda dari standar manusia.

Sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk melihat kesuksesan anak bukan dari apa yang mereka miliki, tetapi dari bagaimana mereka hidup sesuai dengan kehendak Tuhan. Inilah ukuran kesuksesan sejati yang tidak lekang oleh waktu.

Alkitab menegaskan bahwa segala sesuatu di dunia ini akan berlalu. Amsal 23:4–5 berkata: “Jangan bersusah payah untuk menjadi kaya, tinggalkanlah niatmu ini. Apabila engkau mengamat-amatinya, lenyaplah ia, karena tiba-tiba ia membuat sayap bagi dirinya, seperti rajawali yang terbang ke angkasa.” Artinya, harta, gelar, dan jabatan bukanlah dasar yang kokoh untuk mengukur kesuksesan. Dunia bisa memberi penghargaan sementara, tetapi hanya Tuhan yang dapat memberikan mahkota kehidupan yang kekal.

Kesuksesan sejati adalah ketika hidup anak-anak kita berakar dalam firman Tuhan, menghasilkan buah yang baik, dan menjadi berkat bagi sesama.

Yesus mengutip Ulangan 8:3 ketika berkata bahwa manusia hidup dari firman Tuhan. Roti memang penting untuk tubuh, tetapi firman Tuhan lebih penting untuk jiwa. Anak-anak yang dibekali dengan firman sejak kecil akan memiliki dasar yang kuat menghadapi tantangan hidup. Paulus mengingatkan Timotius: “Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus” (2 Timotius 3:15).

Kesuksesan anak tidak lepas dari peran orang tua. Firman Tuhan di Ulangan 6:6–7 menegaskan bahwa firman harus diajarkan kepada anak-anak, dibicarakan di rumah, di jalan, waktu berbaring, dan bangun. Itu berarti, orang tua bukan hanya pengajar, tetapi juga teladan dalam hidup sehari-hari. Anak-anak belajar lebih banyak dari apa yang mereka lihat pada orang tuanya ketimbang dari apa yang mereka dengar. Amsal 22:6 berkata: “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.” Kesuksesan rohani adalah investasi yang nilainya jauh lebih besar daripada warisan materi. Anak yang belajar dari orang tuanya dalam hidup takut akan Tuhan, sekalipun sederhana, tetap lebih mulia di mata Allah daripada anak yang kaya raya tetapi hidup menjauh dari-Nya.

Kesuksesan yang sejati bukanlah soal “apa yang mereka miliki,” tetapi “siapa yang mereka ikuti.” Jika mereka mengikuti Kristus, hidup mereka sudah mencapai ukuran keberhasilan sejati.

Kesuksesan sejati anak-anak kita adalah bila mereka bisa dan mau hidup sesuai dengan kehendak Tuhan. Dunia mungkin menilai mereka rendah bila tidak memiliki kekayaan atau jabatan tinggi. Namun, di mata Allah, seorang anak yang hidup dalam ketaatan adalah berharga dan mulia.

“Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” Matius 6:33

Pertanyaan Reflektif:

  • Ketika melihat anak-anak kita, apa yang membuat kita merasa bangga? Apakah karena mereka berhasil dalam karier, atau karena mereka setia dalam iman?
  • Apakah anak-anak kita sudah mengenal Tuhan Yesus sebagai Juruselamat pribadi? Apakah mereka hidup sesuai dengan firman Tuhan? Apakah mereka mau menjadi berkat di manapun Tuhan tempatkan?

Doa Penutup:

Bapa di surga, kami bersyukur untuk anak-anak dan cucu yang Engkau percayakan kepada kami. Ampuni bila selama ini kami sering menilai kesuksesan mereka berdasarkan ukuran dunia. Ajarlah kami untuk menanamkan firman-Mu dalam hati mereka sejak kecil, dan jadikanlah kami teladan yang hidup bagi mereka. Kiranya mereka tumbuh menjadi pribadi yang takut akan Tuhan, hidup sesuai kehendak-Mu, dan menjadi berkat bagi banyak orang. Kami percaya, inilah ukuran kesuksesan sejati di mata-Mu. Dalam nama Yesus Kristus kami berdoa, Amin.

Mengenal Tuhan, Melihat Alam,dan Hidup dalam Syukur

“Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya.” Mazmur 19:2

Saya teringat bahwa pada waktu saya masih kecil, saya bertanya kepada ayah saya bagaimana beliau bisa yakin bahwa dunia ini diciptakan oleh Tuhan. Beliau menjawab bahwa karena segala benda yang kita gunakan sehari-hari pasti ada penciptanya, begitu pula alam semesta yang indah ini pasti ada Penciptanya. Jawaban ayah saya ini terdengar cukup masuk akal pada saat itu, tetapi sesudah saya dewasa terasa kurang memuaskan. Mengapa? Karena saya melihat bahwa ada banyak orang yang kagum atas keindahan alam dan sadar betapa besarnya alam semesta ini, tetapi mereka tidak percaya bahwa semua itu diciptakan oleh Tuhan. Bahkan ada agama tertentu yang mengajarkan adanya Tuhan, tetapi menyatakan bahwa alam semesta ini ada begitu saja dari awal sampai akhirnya.

Alkitab menunjukkan bahwa sekadar melihat keindahan alam tidak serta merta menuntun setiap orang kepada Tuhan. Sebaliknya, banyak orang berhenti pada kekaguman kepada alam itu sendiri, tanpa pernah mengenal Pencipta yang sejati. Bahkan, ada yang menjadikan alam sebagai objek penyembahan. Inilah yang Paulus tegaskan dalam Roma 1:25: “Mereka menggantikan kebenaran Allah dengan dusta dan memuja serta menyembah makhluk dengan melupakan Sang Pencipta yang harus dipuji selama-lamanya.”

Oleh karena itu, lebih tepat bila kita berkata: “Jika kita percaya kepada Tuhan, kita akan selalu bersyukur atas keindahan ciptaan-Nya.” Iman mendahului syukur. Tanpa iman, keindahan alam bisa membuat orang terpesona tetapi tetap kosong secara rohani. Dengan iman, kita melihat keindahan itu sebagai bukti kasih setia Allah, dan hati kita terdorong untuk bersyukur. Jadi yang paling penting adalah pernyataan Alkitab: Iman datang dari Tuhan.

“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.” Efesus 2:8-9

Mazmur 19:2 di atas berkata: “Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya.” Pemazmur yang percaya kepada Allah melihat langit sebagai saksi bisu yang berkhotbah tanpa suara, namun menyampaikan pesan yang sangat kuat tentang kebesaran Allah.

Keindahan alam memang seperti sebuah “kitab terbuka” yang dapat dibaca siapa saja. Daun yang berfotosintesis, burung yang bernyanyi di pagi hari, atau pelangi yang muncul setelah hujan—semuanya adalah tanda kebesaran Pencipta. Bahkan Yesus sendiri mengajak murid-murid-Nya untuk belajar dari alam: “Perhatikanlah bunga bakung di ladang, … perhatikanlah burung di udara” (Matius 6:26–28). Namun, masalahnya bukan pada “kitab alam”, melainkan pada “pembacanya”. Tanpa iman, manusia bisa salah membaca. Alam yang seharusnya menunjuk kepada Tuhan, malah dipandang sebagai sesuatu yang berdiri sendiri. Inilah yang terjadi dalam penyembahan berhala di sepanjang sejarah manusia. Alam dipuja, tetapi Sang Pencipta dilupakan.

Banyak orang modern yang kagum akan alam, tetapi tidak mengenal Tuhan. Mereka bisa mengagumi matahari terbenam di Bali, pegunungan Alpen yang megah, atau terumbu karang di Raja Ampat. Mereka bahkan bisa menulis puisi dan melukis karya seni dari kekaguman itu. Namun, kekaguman semacam ini belum tentu membawa mereka kepada Allah.

Seorang ilmuwan astronomi bisa mempelajari jutaan galaksi dan mengagumi keteraturannya, tetapi tetap berkata, “Semua ini terjadi karena kebetulan kosmik.” Seorang naturalis bisa menulis tentang keindahan hutan tropis, tetapi tetap percaya bahwa kehidupan hanyalah hasil evolusi buta. Tanpa iman, keindahan alam memang bisa disalahartikan. Alam dilihat hanya sebagai objek eksploitasi, atau malah dipuja sebagai “ibu bumi”. Akibatnya, manusia berhenti pada ciptaan dan peran manusia, bukan Sang Pencipta.

Sebaliknya, orang yang percaya kepada Tuhan memandang alam dengan kacamata yang berbeda. Ia tidak hanya melihat pohon, laut, atau gunung sebagai fenomena alamiah, melainkan sebagai karya kasih Allah. Keindahan alam bukan tujuan akhir, tetapi jendela yang menyingkapkan wajah Sang Pencipta. Ketika seorang percaya melihat matahari terbit, ia berkata dalam hatinya: “Inilah karya Allah yang setia, yang membuat matahari terbit bagi orang baik maupun orang jahat.” (Matius 5:45). Ketika ia mendengar kicau burung, ia teringat akan janji Allah: “Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekor pun tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu.” (Matius 10:29).

Iman menuntun kita untuk menghubungkan setiap keindahan dengan Allah. Dari sinilah lahir syukur yang sejati. Syukur bukan hanya karena “indahnya pemandangan”, tetapi karena “Allah yang setia” yang mengizinkan kita menikmatinya. Rasa syukur bukan sekadar ucapan spontan ketika kita melihat sesuatu yang indah. Syukur adalah sikap hidup yang terus-menerus. Paulus berkata: “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” (1 Tesalonika 5:18). Artinya, syukur tidak hanya muncul ketika langit cerah atau bunga bermekaran, tetapi juga ketika hidup menghadapi badai. Orang percaya tetap dapat bersyukur, sebab ia tahu bahwa di balik segala sesuatu, ada Allah yang berdaulat. Orang yang percaya kepada Tuhan dapat tetap bersyukur, karena ia yakin Allah hadir di tengah kekacauan itu. Syukur tidak bergantung pada situasi, tetapi pada iman akan kasih Allah.

Bagaimana kita bisa melatih diri untuk melihat alam dengan iman? Kita harus merenungkan Firman ketika melihat alam. Misalnya, saat melihat langit malam, bacalah Mazmur 8:4: “Jika aku melihat langit-Mu, … apakah manusia sehingga Engkau mengingatnya?” Kita juga bisa berdoa singkat di tengah kekaguman. Saat melihat pelangi, ucapkan doa singkat: “Terima kasih Tuhan, Engkau setia pada janji-Mu.” Kita juga harus tetap mengajarkan Firman kepada anak-cucu. Ketika bersama cucu di taman, ajak mereka berkata: “Tuhan yang menciptakan bunga ini begitu indah.” Dengan demikian, generasi berikutnya belajar menghubungkan alam dengan Tuhan.

Keindahan alam memang mempesona, tetapi tidak otomatis membawa orang kepada Tuhan. Tanpa iman, kekaguman kepada alam bisa berhenti pada ciptaan, atau bahkan berubah menjadi penyembahan berhala atau kesombongan atas kemampuan manusia. Karena itu, mari kita terus melatih diri melihat alam dengan mata iman. Mari kita bersyukur bukan hanya karena alam itu indah, tetapi karena Allah yang penuh kasih hadir melalui ciptaan-Nya. Sehingga setiap kali kita melihat langit biru, bunga mekar, atau matahari terbit, hati kita berkata: “Terima kasih Tuhan, Engkau baik, dan kasih setia-Mu nyata dalam segala ciptaan.”

Doa Penutup:

Tuhan, ajarilah kami untuk melihat alam dengan mata iman. Jangan biarkan kami berhenti hanya pada kekaguman, tetapi tuntunlah kami kepada syukur dan pujian bagi-Mu. Terima kasih atas keindahan ciptaan-Mu yang mengingatkan kami pada kasih setia-Mu. Dalam nama Yesus, kami berdoa. Amin.