“Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.” Kisah Para Rasul 2: 46-47

Untuk mereka yang mengerti bahasa Jawa “mangan ora mangan asal kumpul” yang arti literalnya “makan atau tidak makan asalkan hidup bersama” adalah ungkapan yang sering didengar. Banyak orang mengartikan ungkapan ini sebagai anjuran agar suami istri hidup bersama secara harmonis dalam keadaan ekonomi yang bagaimanapun. Tidaklah menjadi persoalan jika uang pas-pasan, asal saja keduanya saling mencintai.
Ada pula orang yang mengartikan ungkapan ini sebagai anjuran untuk bersatu dan bekerja sama, sekalipun tidak ada upah atau hadiah yang tersedia. Biarpun tidak ada penghargaan yang memadai, orang dianjurkan untuk bekerja sama tanpa pamrih untuk kebaikan bersama.
Membayangkan keadaan gereja pada awalnya seperti yang tertulis dalam ayat diatas, kita mungkin bisa melihat bahwa umat Kristen pada waktu itu hidup sangat sederhana, tetapi bersatu dalam kasih Yesus. Mereka bertekun dan berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah dan makan roti di rumah masing-masing secara bergilir dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Tuhan. Betul-betul mereka menerapkan prinsip “mangan ora mangan asal kumpul”, dan karena itu Tuhan memberkati dan menumbuhkan jumlah mereka.
Adakah gereja dan umat Kristen di zaman ini yang mau berkumpul berbakti sekalipun dalam keadaan yang kurang memuaskan dan kurang nyaman? Ada! Masih banyak gereja yang tumbuh pesat sekalipun mereka tidak mempunyai gedung yang mewah atau dana untuk memiliki sound system dan pemusik yang tangguh. Mereka bisa hidup dalam kesederhanaan karena mau mementingkan persekutuan, kumpul-kumpul dengan Tuhan dan sesama orang seiman.
Pada pihak yang lain, ada banyak orang Kristen dan gereja yang hanya mau berkumpul dalam keadaan yang mewah berlebihan. Mereka berlomba mengumpulkan dana untuk membuat gedung gereja yang super besar dengan peralatan canggih untuk kenyamanan dan kebanggaan bersama. Bagi mereka istilah “ora mangan” tidak lagi dikenal karena sudah diganti dengan keinginan untuk berkumpul dalam kemewahan dan kesuksesan. Sayang sekali bahwa dalam suasana sedemikian, pandangan hidup anggota gereja pun berubah. Menjadi orang Kristen yang kekurangan agaknya sesuatu yang memalukan. Anak Tuhan harus selalu bisa makan dan hidup berkelimpahan!
Pagi ini kita harus insaf bahwa gereja yang mula-mula dan gereja yang benar adalah perhimpunan orang yang sehati dan saling mengasihi dalam keadaan apapun. Mangan ora mangan asal kumpul. Gereja yang dipenuhi oleh orang-orang yang rendah hati, tulus dan mau bekerja sama dan saling tolong menolong untuk kemuliaan nama Tuhan. Bukan gereja yang berisi orang-orang yang sombong dan tidak mau ikut campur dalam pelayanan dan hanya ingin suasana syahdu dan nyaman. Bukan juga perkumpulan orang yang ingin mencari sanjungan dan nama besar. Apalagi bukan tempat memperoleh penghasilan dan dana. Gereja adalah tempat berkumpulnya orang yang sehati didalam keadaan apapun.
“Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!” Roma 12: 15