Doa yang seharusnya

“Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan.” Matius 6: 7

Masih ingatkah kita akan doa yang kita ucapkan untuk pertama kalinya? Mungkin kita tidak ingat karena itu terjadi pada waktu dulu sekali, semasa kanak-kanak. Tetapi kita bisa bayangkan bahwa dalam doa kita mungkin hanya berisi permintaan kita kepada Tuhan, persis seperti apa yang biasanya dikatakan seorang anak kecil kepada orang tuanya.

Seorang bayi misalnya, hanya bisa menangis karena haus, lapar atau sakit. Tetapi, sejak bisa berbicara seorang anak mulai belajar merengek dan bahkan menuntut untuk diberi sesuatu yang dingini. Umumnya, dengan bertambahnya usia, seorang anak lebih bisa berkomunikasi dengan orang tuanya sehingga apa yang keluar dari mulutnya bukanlah hanya tuntutan dan permintaan saja. Walaupun demikian, ada banyak kasus menyedihkan dimana anak-anak yang sudah dewasa masih sering memaksa orang tua mereka untuk menuruti kehendak mereka.

Seringkali juga kita temui di zaman ini, orang-orang yang berdoa dengan keinginan yang secara menggebu-gebu, mengulang-ulang permohonan mereka dan bahkan memakai ayat-ayat Alkitab untuk mengingatkan Tuhan akan janjiNya. Doa yang semacam itu seringkali merupakan komunikasi satu arah yang hanya dimaksudkan untuk mencari berkat dari Tuhan dan bukannya untuk mengakui kebesaran Tuhan dan memuliakan namaNya.

Yesus dalam ayat diatas serasa mengatakan bahwa apa yang dilakukan banyak orang Kristen dalam doa-doa mereka seringkali mirip dengan apa yang dilakukan oleh anak kecil kepada orang tuanya. Isi doa dan cara berdoa mereka tidak banyak berubah dari doa orang yang belum beriman, yang berisi permohonan dan tuntutan saja. Yesus setelah itu mengajarkan cara berdoa yang baik, yaitu seperti yang kita kenal sebagai Doa Bapa Kami (Matius 6: 9-13).

Ada beberapa hal yang istimewa mengenai Doa Bapa Kami ini:

  1. Doa ini dibuka dengan pujian syukur kepada Tuhan dan pengakuan iman bahwa Tuhanlah yang berkuasa atas segala sesuatu. Jika pikiran kita tidak diisi dengan keyakinan akan kasih dan kuasa Bapa kita dan rasa syukur sewaktu mulai berdoa, doa kita bisa melenceng kearah yang salah. Mengucap syukur dalam segala hal adalah yang dikehendaki Allah (1 Tesalonika 5:18).
  2. Doa ini singkat dan tidak mengulang-ulang kata-kata atau permintaan. Doa ini adalah sebagai contoh doa yang mengandung prinsip-prinsip utama. Doa kita tentu saja bisa lebih panjang, sesuai dengan keadaan. Doa Bapa Kami bukannya doa singkat padat untuk menggantikan doa-doa pribadi kita. Bagi kita, kesempatan untuk menjumpai Tuhan dalam doa adalah sebuah kehormatan yang harus sering kita pakai (1 Tesalonika 5:17).
  3. Doa ini mengakui bahwa kehendak Tuhanlah yang harus terjadi, bukan kehendak manusia. Ini berarti kita harus selalu mau mencari kehendakNya dan menyesuaikan permohonan kita dengan apa yang Tuhan kehendaki.
  4. Permohonan dalam doa ini adalah untuk kecukupan, bukan untuk kekayaan atau kesuksesan. Jika kita selalu berpikir bahwa Tuhan adalah sumber kekayaan dan kesuksesan dan bukannya sumber keselamatan dan kebahagiaan, itu menandakan bahwa hidup kita sudah dikuasai oleh keinginan duniawi kita.
  5. Doa ini berisi pengakuan bahwa sebagai manusia yang lemah dan berdosa kita berjuang melawan dosa, tetapi menemui kegagalan setiap hari. Karena itu kita harus mau meminta ampun kepada Tuhan dan mengampuni orang lain pada setiap saat.
  6. Dalam doa ini kita sadar bahwa hidup orang Kristen di dunia tidak luput dari berbagai penderitaan. Tetapi kita memohon agar apapun yang terjadi dalam hidup kita jangan sampai hal-hal itu membuat kita jatuh dalam dosa dan kehancuran.

Marilah kita dalam hidup ini selalu menyadari bahwa berdoa adalah berkomunikasi dengan Tuhan, Allah, dan Bapa kita yang Maha Kuasa, Maha Suci dan Maha Pengasih. Karena itulah biarlah kita bertekun dalam doa dan dengan hormat senantiasa mengucap syukur atas segala karuniaNya.

“Bertekunlah dalam doa dan dalam pada itu berjaga-jagalah sambil mengucap syukur.” Kolose 4: 2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s