Pernahkah anda menodong Tuhan?

“Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.” Yohanes 15: 7

Jika seseorang bertanya apakah kita pernah menodong Tuhan, kita mungkin jadi tersinggung atau marah, atau setidaknya heran. Pertanyaan macam apa pula itu? Mana mungkin manusia melakukan tindak kekerasan dan kurangajar kepada Tuhan yang Maha Kuasa? Tetapi, sebelum kita bereaksi, marilah kita melihat arti kata “todong” dalam kamus besar bahasa Indonesia.

to·dongv,me·no·dong v1 mengarahkan senjata (pistol dan sebagainya) sebagai ancaman untuk merampok, merampas, dan sebagainya: dua orang bersenjata masuk, lalu ~ tuan rumah; 2ki menyuruh dengan serta-merta (tanpa persetujuan sebelumnya): masyarakat desa itu ~ gubernur DKI untuk ikut berjoget di panggung

Mengenai arti kata yang pertama, sudah barang tentu kita tidak pernah mengarahkan senjata sebagai alat untuk merampok Tuhan. Tetapi, arti kata yang kedua adalah “menyuruh tanpa persetujuan sebelumnya”. Pernahkah anda meminta Tuhan untuk melakukan sesuatu tanpa lebih dulu mendapat persetujuanNya? Itulah menodong!

Menodong bisa dilakukan secara halus, sopan, atau secara kasar, tidak sopan. Kebanyakan orang Kristen menodong Tuhan dengan cara halus seperti berdoa dengan tidak ada hentinya, berdoa dengan berulang kali, berpuasa, berjanji untuk melakukan sesuatu jika dituruti, memberi kolekte lebih besar dari biasanya, pantang makan sesuatu dll. Semua itu mungkin tidak ada salahnya jika apa yang didoakan sudah sesuai dengan persetujuan Tuhan. Jika tidak, tindakan itu adalah sama dengan menodong Tuhan. Mengapa manusia berani menodong Tuhannya? Pasti ada alasannya!

Ayat dalam Yohanes 15 diatas memang sering dipakai sebagian orang Kristen untuk saling menguatkan dalam menghadapi kebutuhan atau masalah besar. Karena kita adalah anak-anak Tuhan, pastilah Tuhan menuruti permintaan apa saja yang kita sampaikan kepadaNya. Dengan kata lain, kita seakan boleh meminta apa saja yang kita mau, tanpa persetujuanNya. Sebagai anak kita agaknya berhak menodong Bapa di surga dengan cara halus untuk memperoleh apa yang baik menurut ukuran dan pendapat kita.

Kita tahu bahwa ada orang-orang yang pandai menodong orang lain. Dengan kata-kata manis, rengekan, bujuk-rayu, mungkin agak sulit bagi kita untuk menolak permintaan si penodong. Apalagi jika si penodong memakai kata-kata yang memuji kita, rasanya sungkan untuk menolak permintaannya. Setelah diminta berulang kali, mungkin kita menyerah atas permintaan mereka, daripada harus mendengar kata-kata yang sama terus menerus. Itulah juga yang mungkin ada dalam pikiran umat Kristen yang menodong Tuhan dengan doa dan pujian mereka. Selain itu, memang di zaman ini ada banyak pendeta yang sering mengajarkan teknik menodong Tuhan.

Apa reaksi Tuhan atas todongan umatnya seringkali bukanlah kata-kata kemarahan tetapi keheningan dalam kesedihan atas kebodohan mereka:

“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.” Yesaya 55: 8-9

Apa yang terjadi setelah kita menodong Tuhan bisa dibayangkan: kehampaan. Manusia yang sudah memohon dengan sungguh-sunguh, tidak mendapat jawaban apapun dari Tuhan.

Pagi ini biarlah kita diingatkan bahwa satu hal yang sangat penting dalam mengajukan permohonan kita kepada Tuhan ialah mencari kehendakNya, mendapatkan persetujuanNya. Doa yang hanya menyampaikan keinginan kita adalah usaha penodongan yang tidak akan membawa hasil yang baik dalam hidup kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s