Sepanjang jalan kenangan

“Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus.” 2 Timotius 3: 15

Hari ini adalah hari terakhir saya di Canada, dan tepat pada tengah malam saya akan terbang kembali ke Australia. Masa berlibur sudah habis dan masa bekerja akan dimulai lagi. Membayangkan hari-hari yang baru lalu, saya merasa bersyukur atas berkat dan perlindungan Tuhan. Semua akan menjadi kenangan yang mungkin muncul lagi sebagai nostalgia di masa mendatang.

Nostalgia dapat diartikan sebagai kerinduan (yang kadang-kadang berlebihan) pada sesuatu yang sangat jauh letaknya atau yang sudah tidak ada sekarang; atau kenangan manis pada masa yang telah lama silam. Semua orang umumnya mempunyai nostalgia, entah itu sehubungan dengan masa kecil, masa remaja, masa bersekolah, masa bekerja ataupun saat bertamasya dan sebagainya.

Nostalgia sebenarnya tidak muncul dengan cara otomatis tanpa kesadaran. Pada umumnya orang mempunyai rasa subyektif, menyenangi dan memilih kenangan tertentu, tetapi berusaha melupakan hal-hal yang kurang disenangi. Untuk kenangan yang indah, orang senang bernostalgia, membayangkan dan bahkan mencoba untuk mengulangi pengalaman itu di sepanjang jalan kenangan.

Nostalgia yang berlarut-larut tidaklah baik karena itu membuat orang hidup dalam impian. Nostalgia juga bisa membuat orang kecewa dengan keadaan hidupnya yang sekarang. Sebagai orang Kristen, seharusnya kita tidak tenggelam dalam nostalgia; tetapi seperti Timotius, kita harus selalu ingat bahwa pada suatu saat yang telah silam melalui Alkitab kita sudah diperkenalkan bahwa Tuhan itu ada, dan bahwa Yesus itu Juru Selamat kita. Kita harus sadar bahwa Alkitab yang diilhamkan Allah itu bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran (2 Timotius 3: 16).

Apa yang sudah terjadi dalam hidup kita setelah diperkenalkan kepada firman Tuhan seharusnya juga tidak bisa dilupakan, karena makin hari kesadaran kita akan pentingnya hidup dalam kebenaran seharusnya bertambah besar. Tetapi bagi banyak orang Kristen, perubahan hidup sedemikian mungkin tidak terjadi karena mereka terlalu sibuk dengan segala kegiatan sehari-hari. Membaca dan mempelajari Alkitab mungkin sudah lama terlupakan. Hal menerima Yesus sebagai Juru Selamat hanyalah sebuah nostalgia. Masa lalu yang penuh semangat untuk mengikut Kristus sudah menjadi kenangan manis saja. Itulah sebabnya Paulus menasihati Timotius untuk selalu ingat akan masa lalunya dan didikan ibunya, dimana firman Tuhan sudah memberi hikmat dan menuntun dia dari kecil menuju keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus.

Pagi ini jika kita bangun tidur dan bersiap untuk menghadapi tugas kehidupan kita, sempatkah kita memikirkan saat dimana kita mulai mengenal Yesus sebagai Juru Selamat kita? Apakah rasa sukacita dan keinginan untuk mengikut Dia masih ada sekarang ini, seperti apa yang kita rasakan dulu? Ataukah hubungan kita dengan Tuhan sekarang sudah menjadi hambar, dan kita tidak lagi tertarik untuk memahami firman Tuhan yang telah menuntun kita kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus? Semoga kita tetap mau mengingat saat yang indah dimana Tuhan membuka mata rohani kita, bukan untuk bernostalgia, tetapi untuk bisa makin hari makin giat dalam mempelajari firmanNya, untuk menjadi makin baik dalam kehidupan iman kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s