Hal menghindari dosa

“Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu. Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta.” Yohanes 8: 44

Kebanyakan orang Kristen membayangkan bahwa Yesus selama hidup di dunia adalah orang yang selalu lemah lembut dan menunjukkan kasih sayangNya kepada semua orang, terutama kepada mereka yang menderita. Itu ada benarnya, dan memang begitu banyak lukisan yang dibuat untuk menggambarkan Yesus yang penuh kasih itu: sebagai gembala domba, sebagai orang yang menuntun anak kecil, sebagai tamu yang mengetuk pintu hati kita dan sebagainya. Tetapi itu adalah gambaran dari sebuah sisi saja; karena pada sisi yang lain, Yesus bisa mengucapkan kata-kata yang tajam, yang menegur orang dengan pedas.

Ucapan Yesus diatas, yang ditujukan kepada pemimpin-pemimpin Yahudi pada masanya, adalah salah satu ucapanNya yang sangat pedas dan kasar, yang jika kita ucapkan pada zaman ini kepada seseorang mungkin akan bisa mendatangkan persoalan bagi kita. Mengapa begitu? Karena sebagai manusia kita bukanlah Yesus. Sebagai Tuhan, Yesus membenci dosa dan karena itu Ia sering mengeluarkan teguran, kritik dan kemarahan jika Ia melihat adanya dosa yang dilakukan manusia disekitarnya. Walaupun demikian, hal-hal itu bukan dengan maksud buruk; Yesus melakukannya justru karena kasihNya, yang ingin menyelamatkan manusia dari dosa.

Dalam ayat diatas, Yesus berkata kepada mereka yang membenciNya bahwa mereka adalah anak-anak iblis yang selalu ingin melakukan kehendak iblis dengan berdusta, dan dengan hidup dalam kegelapan. Bagi sebagian orang, ayat ini sepertinya menyatakan bahwa iblis adakah “dalang” dosa, seolah iblis adalah penyebab dosa manusia. Tetapi, bagaimanapun iblis berusaha menjatuhkan manusia kedalam dosa, keinginan manusia untuk menuruti keinginan iblis adalah penyebab dosa mereka. Setiap orang bertanggung jawab atas apa yang mereka perbuat.

Apapun yang diperbuat iblis selalu bertujuan untuk memutar-balikkan kenyataan, kebenaran, bahwa Tuhan adalah satu-satunya Oknum yang maha kuasa, maha tahu, maha ada dan maha kasih. Sebaliknya, iblis selalu berusaha meyakinkan manusia bahwa mereka adalah mahluk terunggul di dunia, yang bisa menentukan masa depan mereka sendiri. Iblis juga sering mengacaukan kepercayaan manusia tentang adanya Tuhan, dengan memberi keyakinan palsu bahwa mereka dapat mencapai surga dengan usaha sendiri. Iblis jugalah yang mengajarkan manusia untuk mencapai keinginannya dengan segala cara, dengan kebohongan, ketidakjujuran, kebencian, kejahatan, dan kekejaman. Iblis ingin agar manusia menjadi pengikutnya untuk melawan Tuhan.

Pagi ini, pertanyaan untuk kita adalah: apakah kita sadar bahwa dalam hidup ini kita sering menuruti apa yang diingini iblis? Mungkin kesadaran kita akan hal ini melemah karena hubungan kita yang kurang baik dengan Tuhan dan sesama. Barangkali pengalaman masa lalu membuat kita menjauhkan diri dari Tuhan dan membenci orang-orang yang percaya kepadaNya. Mungkin kita sudah merasa muak mendengar firman Tuhan dan nasihat saudara-saudara seiman. Dan barangkali keinginan jasmani sudah membuat kita buta akan kebenaran Tuhan. Firman Tuhan pagi ini berkata bahwa kita hanya mempunyai dua pilihan: menjadi anak Allah atau menjadi anak iblis. Dan itu adalah pilihan dan tanggung jawab kita sendiri.

“Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang, karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran, dan ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan.” Efesus 5: 8 – 10

Satu pemikiran pada “Hal menghindari dosa

  1. Sprti yg tertulis pd ayat2 Yakobus di atas, sy berpendapat bhwa setiap perbuatan dosa itu berasal dari “dirinya diri” (keinginan) yg melenceng dari kehendak Tuhan. Itu sebab dikatakan bhwa ketika berdosa, kita hrs bertanggung jawab atas dosa kita itu, krn bkn Iblis penyebabnya. Klau Iblis penyebabnya, mka tinggal slhkan sja iblisnya, beres. Tp tdk demikian. Kalau Iblis penyebabnya, mka siapa yg menyebabkan Iblis berdosa? Mustahil Tuhan biang keroknya.

    Slma hidup, kita mmang sdh semestinya utk trus menjadi anak2 Allah dan mnghindari dosa.

    Trmksh, Pak Andreas utk setiap renungan Anda yg sllu memberkati pembaca smua.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s