Apa rencanamu?

Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: “Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung”, sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. Yakobus 4: 13 – 14

Hari kemarin adalah hari berkabung. Seorang teman sejawat yang kantornya bersebelahan dengan kantor saya meninggal dunia. Sedih memang, karena kejadian itu tidak disangka. Minggu lalu beliau masih bekerja seperti biasa, hari Senin di awal minggu ini masuk ke rumah sakit untuk dioperasi; tetapi belum itu sempat dilakukan, beliau meninggal sewaktu tidur.

Buat banyak orang, meninggalnya seorang teman atau sanak adalah hal yang membawa kesedihan. Tetapi, untuk orang Kristen hal yang benar-benar menyedihkan adalah jika orang yang dikenalnya meninggalkan dunia ini tanpa mengenal Yesus sebagai Juruselamatnya. Mengapa begitu? Karena mereka tidak mungkin berjumpa lagi untuk selamanya. Perpisahan itu adalah perpisahan yang abadi.

Walaupun hal meninggalkan dunia ini adalah bagian dari kenyataan hidup, sebagian besar manusia tidak mau memikirkannya. Mungkin karena kematian adalah hal yang menakutkan, karena mereka tidak tahu apa yang akan terjadi sesudah itu.

Sebaliknya, bagi umat Kristen kematian seharusnya disambut dengan sukacita; karena dengan itu, kesempatan untuk bertemu dengan Tuhan akan menjadi kenyataan. Tetapi, tidak semua orang Kristen bisa berpikir seperti Paulus yang menerima hidup sebagai pengabdian untuk Kristus dan kematian sebagai keuntungan.

“Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.” Filipi 1: 21

Bagi kebanyakan orang, termasuk orang Kristen, hidup justru kesempatan untuk mencari untung. Untuk memperoleh kesuksesan, kekayaan, kepandaian, kenikmatan dan berbagai kenyamanan pribadi. Mumpung bisa, selagi masih hidup. Mereka lebih suka memikirkan hal-hal duniawi daripada memikirkan hal-hal surgawi. Padahal Yesus pernah berkata bahwa adalah lebih baik jika kita mengumpulkan harta di surga.

“Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.” Matius 6: 19 – 20

Memang sepandai-pandainya manusia, ia tidak berarti di hadapan Tuhan. Mereka yang merasa bijak dengan menggunakan waktu, tenaga dan pikirannya untuk mencari keuntungan duniawi, adalah orang-orang bodoh yang tidak mengerti bahwa Tuhanlah yang akhirnya menentukan apa yang akan terjadi pada hidup mereka. Ayat pembukaan diatas menggambarkan hidup manusia yang seperti uap, tiba-tiba bisa lenyap.

Pagi ini, firman Tuhan mengingatkan kita untuk jangan terlena dalam hidup ini. Jangan sampai pandangan hidup kita dipusatkan pada hal mencari keberhasilan di dunia, seperti yang diajarkan oleh banyak motivator dan ditunjukkan oleh beberapa pemuka agama kaliber dunia. Sungguh menyedihkan kalau itu terjadi dalam hidup orang Kristen.

Apa yang seharusnya kita lakukan? Bukankah sebagai orang beriman kita harus memberi teladan kepada masyarakat di sekeliling kita dengan hidup kita? Benar! Memang setiap orang Kristen harus mempunyai rencana yang baik dan bekerja keras dalam hidupnya, tetapi itu haruslah disesuaikan dengan kehendak Tuhan dan dipakai untuk kemuliaanNya.

“Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.” Yakobus 4: 15

Satu pemikiran pada “Apa rencanamu?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s