Belas kasihan datang dari Tuhan

“Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala.” Matius 9: 36

Sejak umur berapa seseorang bisa merasakan penderitaan orang lain? Pertanyaan ini sulit dijawab, karena tiap orang mempunyai perkembangan pikiran, emosi dan spiritual yang berbeda. Selain itu, tiap orang juga mempunyai pengalaman yang berlainan. Kita mungkin melihat bahwa seorang anak bisa memiliki rasa sayang terhadap hewan peliharaan keluarga seperti anjing, kucing dan ayam sejak umur 3 tahun dan bahkan lebih awal dari itu. Walaupun demikian, seorang anak yang berumur 5 tahun belum tentu memiliki rasa belas kasihan atau compassion kepada orang lain.

Belas kasihan mengandung arti bahwa kita peduli akan orang lain, menanggapi keadaan orang lain dengan kelemahlembutan, dan merasakan dorongan yang kuat untuk menolong mereka. Belas kasihan yang benar adalah perasaan empati yang bekerja. Ini berbeda dengan perasan simpati yang hanya merasa kasihan karena melihat orang lain menderita tetapi tidak bisa  ikut merasakan apa yang diderita mereka. Untuk seorang anak yang berumur lima tahun, rasa belas kasihan bisa dilihat ketika ia merangkul orang lain, membuat kartu simpati, atau mengatakan sesuatu yang manis untuk menghibur teman atau anggota keluarga yang sedang mengalami kesulitan atau penderitaan.

Rasa belas kasihan muncul karena adanya penderitaan orang lain. Bagaimana itu bisa muncul dalam hati manusia? Jika kita bayangkan, seandainya manusia tidak jatuh kedalam dosa, manusia akan hidup bahagia selamanya. Rasa belas kasihan mungkin tidak dibutuhkan. Tetapi, justru dengan jatuhnya manusia kedalam dosa, hidup menjadi berat dan rasa belas kasihan bisa muncul dalam hati manusia yang berdosa. Dari mana datangnya?

Ketika Allah menghukum Adam dan Hawa dan mengusir mereka dari taman Firdaus, Ia bisa melihat apa yang akan terjadi. Ia berkata bahwa bumi menjadi tempat yang tidak menyenangkan dan manusia harus bergumul untuk bisa hidup di dunia, untuk kemudian kembali menjadi debu. Bagaimana Allah yang mahakasih bisa membiarkan ciptaanNya menderita seperti itu? Sudah tentu semua itu terjadi karena dosa manusia dan hukuman Allah sudahlah sepantasnya. Tetapi, bukankah Allah adalah Tuhan yang mahakasih?

Allah memang mahakasih. Karena kasihNya, dengan kejatuhan manusia Ia memulai sebuah proyek besar untuk menyelamatkan umat manusia. Sekalipun manusia akan mati secara fisik, Allah mengirimkan AnakNya yang tunggal, Yesus Kristus, untuk menebus dosa manusia sehingga mereka yang percaya kepada Yesus dapat bersatu kembali denganNya di surga. Ini adalah rasa belas kasihan Allah yang sangat besar, karena Ia mau mengurbankan diriNya sendiri demi manusia. Ia yang melihat bahwa manusia akan hidup menderita di dunia, mau memberikan kebahagiaan yang abadi kepada mereka yang tahan uji. Allah mempunyai compassion karena Ia peduli akan hidup manusia, menanggapi keadaan manusia dengan kelemahlembutan, dan merasakan dorongan yang kuat untuk menolong mereka.

Yesus sudah pernah menjadi manusia dan merasakan hidup yang berat seperti manusia yang lain. Dalam ayat pembukaan diatas, jelas terlihat bahwa Yesus mempunyai belas kasihan kepada manusia disekelilingNya, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. Sebagai manusia, Ia bisa mengerti penderitaan kita baik jasmani maupun rohani.  Yesus yang adalah Anak Allah, adalah hadiah dari Allah untuk meringankan hidup manusia di dunia. Manusia yang dulunya tidak mempunyai harapan, sekarang bisa berharap akan bersatu dengan Tuhan di surga. Sekalipun keadaan dunia seringkali tidak tertahankan, dengan iman mereka yang percaya kepada Yesus akan dapat merasakan penyertaanNya.

“Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.” Ibrani 4: 15

Kita bisa melihat bahwa Yesus juga mempunyai rasa belas kasihan.  Rasa belas kasihan yang berdasarkan kasih, dengan demikian adalah salah satu sifat pribadi Tuhan sendiri. Manusia yang sudah jatuh kedalam dosa seringkali tidak lagi mempunyai rasa belas kasihan yang berdasarkan kasih. Tetapi, karena apa yang dilakukan Yesus di dunia, karena cara hidupNya, dan terutama karena pengurbananNya di kayu salib, orang Kristen memperoleh gambaran bagaimana seharusnya mereka memperlakukan orang lain. Sebagaimana kita sudah dikasihi Tuhan dan menerima belas kasihanNya, begitu juga kita harus mempunyai kepekaan atas penderitaan orang lain. Seperti Tuhan sudah bermurah hati kepada kita, kita pun harus bisa hidup sejalan dengan firmanNya.

“Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran.” Kolose 3: 12

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s