Sehati sepikir dalam kesederhanaan

“Hendaklah kamu sehati sepikir dalam hidupmu bersama; janganlah kamu memikirkan perkara-perkara yang tinggi, tetapi arahkanlah dirimu kepada perkara-perkara yang sederhana. Janganlah menganggap dirimu pandai!” Roma 12: 16

Teringat saya akan masa lalu, sewaktu masih kecil dan tinggal di Surabaya. Pada waktu itu teknologi elektronik belumlah maju dan komputer pun belum ada. TV hitam putih dan radio transistor baru saja muncul di toko; dan dengan harga yang cukup mahal, benda-benda semacam itu hanya bisa dimiliki oleh orang berada. Tetapi saya melewati masa kecil saya dengan cukup bahagia, karena saya dapat menikmati kesempatan yang ada pada waktu itu, seperti bermain sepakbola tanpa memakai sepatu, membuat mobil-mobilan dari karton bekas bungkus barang dan sebagainya. Hidup saya memang sederhana untuk tidak dikatakan miskin, tetapi saya tidak merasa malu karena kebanyakan teman saya juga mengalami hal yang sama.

Di zaman ini teknologi begitu maju, sehingga hidup manusia menjadi sangat bergantung pada apa yang canggih dan yang mahal. Setiap manusia seakan berlomba untuk bisa membeli barang yang paling modern dan yang paling bagus. Seiring dengan kemajuan teknologi, konsumerisme bertambah tinggi; dan orang menjadi makin ingin untuk memperoleh apa saja yang mempunyai “wow factor“, yaitu apa yang terlihat hebat. Itu mencakup segala segi kehidupan, bukan saja segi jasmani, tetapi juga segi rohani. Banyak orang Kristen sekarang ini merasa bahwa orang tidak cukup untuk mempunyai iman yang kuat, tetapi harus juga memiliki pengetahuan teologis yang mendalam. Bagi mereka yang sederhana dan  kurang bisa menyesuaikan diri dengan tuntutan ini, perasaan kurang mampu mungkin muncul.

Ayat diatas ditulis oleh Paulus kepada jemaat di Roma agar mereka menjadi orang-orang yang saling mengasihi dan dapat hidup dalam kesederhanaan dan kerendahan hati. Dalam terjemahan bahasa asing, ayat itu berbunyi: “Hendaklah kamu hidup harmonis dengan orang lain, jangan sombong, tetapi mau bergaul dengan orang yang sederhana, yang kurang mampu. Janganlah menganggap dirimu lebih unggul”. Ini agaknya mengherankan karena Paulus sendiri adalah orang yang berpendidikan tinggi untuk zamannya. Mengapa hidup sebagai orang yang sederhana itu dianjurkannya? Apakah itu sesuai dengan keadaan masa kini?

Tidak dapat disangkal bahwa dengan perubahan yang terjadi dalam kehidupan manusia modern, umat Kristen tidak dapat berdiam diri. Orang Kristen harus bisa menghadapi serangan iblis yang menggunakan berbagai tipu muslihat untuk mempengaruhi orang Kristen. Karena itulah kita harus selalu mau belajar mendalami firman Tuhan dan aplikasinya agar kita bisa mempertahankan iman kita. Walaupun begitu, ada banyak orang Kristen yang tidak memiliki pengetahuan yang mendalam tetapi selalu hidup dalam iman yang besar, yang sudah diberikan Tuhan.

Paulus menulis bahwa sekalipun setiap umat Tuhan mempunyai karunia yang berbeda, kita bisa hidup bersama dan saling menguatkan jika kita mau hidup dalam kerendahan hati dan mau sehati sepikir dengan mereka yang lebih lemah. Kita harus bisa menolong mereka yang lemah dan memberikan keyakinan bahwa setiap manusia adalah sama dihadapan Tuhan. Kita tahu bahwa memperdalam pengetahuan tentang Tuhan haruslah dengan pertolongan Roh Kudus, yang mengerti keadaan dan kemampuan setiap orang dengan sepenuhnya. Jika manusia merasa tidak sanggup, Rohlah yang bisa yang memberi kekuatan; jika manusia tidak mengerti, Rohlah yang menjelaskan. Itulah yang bisa kita doakan untuk mereka yang lebih lemah.

Pagi ini, kita harus sadar bahwa kemajuan yang kita lihat di dunia  bisa membuat manusia mempunyai keinginan untuk mencari pengetahuan yang lebih dalam dalam segala bidang. Keadaan ini juga membuat kita seakan ingin mengenal Tuhan yang mahabesar melalui pikiran kita.  Kita mungkin ingin agar setiap orang percaya bisa dan mau mempelajari firman Tuhan dengan akal budi mereka. Tetapi firman Tuhan berkata bahwa kasih kepada sesama adalah yang paling penting dalam hidup orang Kristen. Kita tidak perlu memikirkan hal-hal yang tinggi, tetapi mau memikirkan hal-hal dan orang-orang yang sederhana. Tuhan justru lebih bisa kita rasakan kehadiranNya jika kita hidup dalam kesederhanaan di hadapan hadiratNya.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s