Tuhan membenci kesombongan

“Rendahkanlah dirimu di hadapan Tuhan, dan Ia akan meninggikan kamu.” Yakobus 4: 10

Kemarin malam saya menonton TV sampai tengah malam, sesuatu yang jarang saya lakukan di usia ini. Biasanya saya pergi tidur sekitar jam 10 malam karena kelopak mata yang sudah terasa berat. Tetapi kemarin adalah hari yang istimewa karena semua warga Australia merayakan pesta demokrasi dalam bentuk pemilihan umum. Sesudah seharian pemilu berlangsung, penghitungan suara dimulai sekitar jam 6 sore. Dan hampir tengah malam, hasilnya diumumkan.

Kemenangan perdana menteri yang sekarang dalam pemilu ini memberi dia kekuasaan untuk memerintah selama 3 tahun lagi. Sebelum ia muncul di TV, lawan politiknya tampil untuk mengaku kalah dan bahkan meletakkan jabatannya sebagai pimpinan partai oposisi. Sebagaimana biasa, dalam pemilu rasa kecewa dan sedih bisa diterka dari wajah dan dari kata-kata orang yang tidak terpilih, tetapi rasa gembira dan bersyukur bisa dirasakan dalam pidato kemenangan orang yang terpilih. Walaupun demikian, orang yang menang biasanya mengucapkan kata-kata yang baik untuk menghibur lawan politiknya dan berusaha meredam rasa bangga yang ada.

Rasa bangga dan rasa syukur memang tidak ada salahnya jika muncul di saat yang tepat. Tetapi perbedaan antara rasa bangga dan rasa sombong tidaklah banyak. Seringkali mereka yang merasa beruntung menyatakan rasa gembiranya sedemikan rupa sehingga orang lain bisa merasakan adanya kesombongan. Jika umat Kristen merasa bersyukur karena keselamatan yang mereka peroleh, mereka juga bisa terjebak dalam hal menyombongkan diri sebagai orang-orang yang lebih baik dari orang lain.

Kesombongan manusia pada hakikatnya adalah dosa. Sebagian orang Kristen menganggap kesombongan (pride) sebagai salah satu dari tujuh dosa yang mematikan (seven deadly sins). Mengapa demikian? John Calvin, seorang tokoh besar reformasi, menulis dalam uraian kitab Mazmur:

“God cannot bear with seeing his glory appropriated by the creature in even the smallest degree, so intolerable to him is the sacrilegious arrogance of those who, by praising themselves, obscure his glory as far as they can.”

Tuhan tidak dapat menerima kemuliaanNya untuk diambil oleh ciptaanNya secuilpun. Ia tidak bisa mentolerir manusia yang dengan kesombongannya menghujat Tuhan dan membuat kabur kemuliaanNya.

Pagi hari ini, kita mungkin pergi ke gereja untuk bersekutu dengan saudara-saudara seiman. Kita harus merasa bersyukur karena Tuhan yang mahasuci dan mahakuasa mau menerima kita manusia yang berdosa ini untuk menjadi anak-anakNya. Mengapa Ia demikian kasih sehingga menurunkan AnakNya yang tunggal untuk menebus dosa kita? Kita tidaklah lebih baik dari orang yang lain! Tidak ada apapun yang bisa kita banggakan dalam hidup ini. Oleh karena itu biarlah kita mau hidup dengan rendah hati dan selalu menghargai sesama kita serta mau memuji Tuhan dengan kebesaran dan kasihNya. Tuhan mengasihi mereka yang sederhana dan lemah tetapi membenci mereka yang sombong.

“TUHAN memelihara orang-orang sederhana; aku sudah lemah, tetapi diselamatkan-Nya aku.” Mazmur 116: 6

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s