Laki-laki dan perempuan adalah sederajat

“Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus. Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus. Galatia 3: 27 – 28

Pagi ini saya membaca bahwa di daerah tertentu di dunia ini masih banyak anak-anak perempuan yang mengalami mutilasi genitalia atau female genital mutilation (FGM) yang sering juga disebut “sunat perempuan”. Pemotongan sebagian alat kelamin wanita ini sudah dilarang di banyak negara, dan di Australia pelakunya bisa dikenakan hukuman penjara sampai 14 tahun. Pasalnya, mutilasi alat kelamin itu bisa menyebabkan berbagai masalah kesehatan baik badani maupun kejiwaan kepada wanita yang mengalaminya. Sebaliknya, sebagian orang yang berusaha mempertahankan kebiasaan itu menyatakan bahwa mutilasi itu perlu untuk menjaga kemurnian badani dan rohani kaum wanita, terutama untuk bisa meredam nafsu seksuil mereka. Mereka yang sudah disunat tidak akan bisa sepenuhnya merasakan kenikmatan seks dan dengan demikian akan mempunyai pikiran yang jernih, begitu salah satu alasan yang banyak dikemukakan para pendukung FGM yang sebagian mengaku Kristen.

Terlepas dari pro dan kontra mengenai adat-kebiasaan yang ada dalam masyarakat tertentu, bagi banyak kaum wanita dan dokter di dunia FGM adalah suatu tindakan pelecehan dan penyiksaan karena tidak saja kaum wanita dianggap sebagai benda milik kaum pria, mereka harus mengalami prosedur yang tidak ada manfaatnya secara medis dan malahan bisa menghilangkan/mengurangi fungsi tubuh mereka serta menyebabkan rasa sakit sepanjang hidup mereka. Memang akibat sunat pada kaum wanita sangat berlainan dengan akibat sunat pada kaum pria karena pada kaum wanita, ini merupakan pemotongan bagian tubuh yang penting dan bukannya sekedar kulit yang tidak berguna.

Secara fisik tubuh wanita tidaklah sama dengan tubuh pria, tetapi sebagai manusia mereka mempunyai kemerdekaan dan hak azasi yang sama dengan orang lain. Sayang sekali bahwa dalam sejarah, kaum wanita sering mengalami pelecehan dalam berbagai bentuk karena perbedaan fisik itu. Mereka sering dianggap sebagai obyek permainan kaum pria dan dibatasi dalam hal kemerdekaan dan hak azasi sehingga mereka sering dipaksa untuk menuruti apa yang dikehendaki orang lain. Kaum pria yang sebenarnya diharapkan untuk mengasihi dan melindungi kaum wanita, justru sering muncul sebagai penguasa dan pemilik lawan jenisnya.

Ayat di atas sangat sering dibaca oleh umat Kristen dan biasanya dikaitkan dengan keselamatan dari Kristus yang diberikan kepada semua orang percaya tanpa memandang status mereka. Dalam hubungan vertikal, kasih Yesus tercurah kepada siapa saja yang mau menerimanya. Walaupun demikian, ayat itu juga mengingatkan kita bahwa sebagai orang percaya, kita harus memperlakukan semua orang sebagai orang yang sederajat di hadapan Tuhan. Semua orang sudah berdosa dalam mata Tuhan, dan semua orang sudah diberi kesempatan yang sama untuk diselamatkan. Karena itu, dalam hubungan horisontal, kita harus memperlakukan setiap orang, laki-laki maupun wanita, sebagai manusia yang mungkin sangat berbeda dalam penampilan tetapi mempunyai kedudukan/derajat yang sama. Pria dan wanita diciptakan dengan bentuk dan fungsi yang berbeda, tetapi semuanya diciptakan sebagai gambar Tuhan dan untuk kemuliaan Tuhan.

Pagi ini, marilah kita memikirkan hal-hal yang membedakan pria dan wanita. Sebagai orang Kristen kita tidak boleh terseret ke arah pandangan yang menganggap pria dan wanita adalah sama dalam segala hal. Perbedaan yang diciptakan Tuhan justru bisa untuk saling melengkapi. Walaupun demikian, kita tidak boleh  mempunyai pandangan bahwa manusia mempunyai hak dan kemerdekaan yang berbeda. Mereka yang sudah diselamatkan akan sadar bahwa mereka tanpa pandang bulu, sudah dikaruniai Tuhan hak untuk menjadi anak-anak Allah dan dimerdekakan dari kuasa dosa. Sebagai orang Kristen kita harus mau untuk berjuang untuk menyadarkan orang lain akan kebenaran dari Tuhan: bahwa semua manusia adalah sederajat dan harus saling menghargai.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s