Jangan kehilangan kepekaan akan kejahatan

“Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik. Jauhkanlah dirimu dari segala jenis kejahatan.” 1 Tesalonika 5: 21 – 22

Dua hari terakhir ini di beberapa tempat di Australia terjadi kebakaran hutan yang menghanguskan banyak rumah penduduk. Memang udara yang panas dan daun-daunan yang kering membuat kebakaran mudah terjadi. Terkadang kebakaran besar seperti ini terjadi karena kilat yang menyambar rumput kering, tetapi sekarang ini lebih sering terjadi karena tangan-tangan usil  anak remaja yang membakar rumput sekedar untuk mendapat sensasi yang menggetarkan hati. Mereka yang melakukan itu seolah merasa puas jika kebakaran yang terjadi bisa membuat bingung banyak orang termasuk aparat kepolisian. Mereka mungkin merasa puas jika polisi tidak dapat menemukan siapa yang bersalah.

Mereka yang membakar rumput itu mungkin tidak mengharapkan adanya korban jiwa. Walaupun demikian, terkadang ada juga orang yang tewas atau luka-luka karena terbakar api. Saya tidak habis memikirkan bagaimana perasaan mereka yang karena iseng membakar hutan, dan kemudian menyadari adanya korban manusia akibat ulah mereka. Sedihkah mereka? Menyesalkah mereka? Mungkin saja, walaupun mungkin hanya untuk sejenak. Mereka yang mempunyai “hobi” membakar hutan biasanya sudah terbiasa melakukan hal-hal yang tidak baik dalam hidup sehari-hari. Menurut laporan penyelidikan, anak-anak remaja seperti ini memang senang bermain dengan korek api.  Memang karena kebiasaan jelek, siapa pun bisa menjadi kebal akan akibatnya dan justru makin senang melakukan hal-hal yang menyusahkan orang lain. Mereka malahan mungkin bisa tertawa melihat kebingungan dan kesengsaraan orang lain.

Mungkin mudah bagi kita untuk melihat kejahatan yang dilakukan orang lain. Mereka yang membakar hutan dan menyebabkan kerugian orang lain tentunya patut dijatuhi hukuman. Lebih dari itu, karena kenakalan remaja yang luar biasa ini, ada orang yang berpendapat bahwa orangtua mereka ikut bertanggung jawab dan seharusnya mengganti kerugian. Pada pihak yang lain, kejahatan manusia di bumi ini sangat beragam bentuknya dan tidak semuanya mendapatkan perhatian yang serius dari masyarakat. Baik tua maupun muda bisa melakukan kejahatan yang bermula dari ukuran kecil. Kebiasaan mengambil barang orang lain mungkin saja dianggap lucu jika kerugian yang ditimbulkan tidaklah besar. Mereka yang mencuri sering menyalahkan pemiliknya yang pelit atau kurang mampu menyimpan barangnya pada tempat yang semestinya. Kemampuan untuk melakukan kejahatan kecil, kemudian bisa membuat orang untuk mampu melakukan yang besar tanpa mengedipkan mata. Semua dosa akan tidak terasa jika sudah biasa.

Paulus dalam ayat di atas mengingatkan umat di Tesalonika untuk menjauhkan diri dari segala jenis kejahatan, baik itu yang nampaknya kecil ataupun yang besar. Peringatan ini bukan ditujukan kepada orang yang belum mengenal Kristus, tetapi kepada jemaat. Tidak seorang pun yang kebal dari kejahatan dan orang Kristen yang tidak berhati-hati juga bisa terjebak dalam kenikmatan dosa. Bahkan ada orang Kristen yang karena menyadari bahwa ia bisa diselamatkan karena kasih karunia Tuhan, menganggap bahwa berbuat dosa adalah sesuatu yang lumrah karena itu adalah ciri manusia. Mereka tidak merasa perlu untuk menguji segala sesuatu dan memilih apa yang baik. Bagi mereka pengampunan Tuhan ada tersedia bagi mereka setiap kali mereka melakukan dosa. Tidaklah mengherankan bahwa banyak orang yang ingin mengikut Kristus kemudian menjadi kecewa melihat kelakuan mereka yang mengaku Kristen.

Pagi ini firman Tuhan berkata bahwa menjadi orang yang diampuni dan diselamatkan oleh Tuhan bukanlah berarti bahwa kita bisa hidup “semau gue”. Kesadaran akan hukum, etika, sopan-santun dan kepentingan orang lain haruslah dipupuk sehingga kita bisa membedakan apa yang baik dan apa yang buruk. Lebih dari itu, kita harus sadar bahwa Tuhan yang mahasuci tidaklah boleh dipermainkan. Jika kita memang mau mengikut Yesus, itu berarti bahwa kita harus meninggalkan apa yang jelek dan memilih untuk selalu berjalan dalam kebenaran.

“Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus.” Galatia 1: 10

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s