Jika bahaya mendatangi

“Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti. Sebab itu kita tidak akan takut, sekalipun bumi berubah, sekalipun gunung-gunung goncang di dalam laut; sekalipun ribut dan berbuih airnya, sekalipun gunung-gunung goyang oleh geloranya.” Mazmur 46: 1-3

Tuhan penolongku

Barangkali setiap orang pernah menghadapi bahaya dalam hidupnya dan bahkan mungkin sedang mengalami bahaya di saat ini. Saya masih ingat akan sebuah film Australia yang pernah dibuat di Filipina, yang mengisahkan kehidupan rakyat Indonesia pada tahun 1965an. The Year of Living Dangerously adalah film drama Australia dari tahun 1982 yang dibintangi oleh Mel Gibson dan Sigourney Weaver dan diadaptasi dari sebuah novel dari tahun 1978 dengan judul yang sama. Memang pada saat itu negara Indonesia dan rakyatnya hidup dalam penderitaan dan bahaya. Ini tentunya adalah sebuah pengalaman yang tidak menyenangkan dan tidak mudah dilupakan.

Bagi setiap orang, menghadapi ancaman yang besar bisa membuat hati miris. Saat ini semua negara di dunia sedang menghadapi bahaya pandemi yang sudah menewaskan lebih dari setengah juta orang. Dengan demikian, kebanyakan orang saat ini merasa takut akan kemungkinan dirinya tertular. Walaupun demikian, dalam keadaan ini ada saja orang yang tidak merasa takut. Beberapa minggu yang lalu seorang pemuda datang ke pesta Covid-19 yang diadakan oleh seorang yang teridentifikasi positif untuk membuktikan bahwa virus ini tidak ada. Pesta tanpa pembatasan jarak itu ternyata mengakibatkan beberapa orang tertular virus corona, termasuk pemuda itu yang kemudian meninggal.

Bahaya yang tidak disadari orang memang bisa menjadi bahaya yang membawa celaka. Pada pihak yang lain, banyak orang yang seakan lumpuh hanya karena melihat adanya kemungkinan datangnya bahaya. Selain itu, orang juga seringkali ketakutan karena adanya sebuah ancaman atau tantangan yang terasa lebih besar dari apa yang bisa ditanggungnya. Dengan demikian, apa yang dianggap sebagai bahaya seringkali bergantung pada persepsi seseorang. Sayang sekali, persepsi manusia seringkali tidak bisa dipercaya. Karena itu, apa yang dilihat mata manusia seringkali tidak dapat membawa ketenteraman hidup.

Manusia memerlukan kemampuan untuk melihat apa yang berbahaya, mengerti apakah bahaya memang mendatangi dan keyakinan bahwa ia sanggup untuk menghadapi bahaya. Sayang sekali, dalam keterbatasannya manusia tidak dapat memiliki ketiga hal itu. Hanya Tuhan yang bisa mengetahui apa yang akan terjadi dan bisa mengatasi segalanya. Tuhan adalah mahatahu, mahabijaksana dan mahakuasa. Daud dalam ayat di atas jelas memahami hal ini karena ia bisa meyakini dengan iman bahwa Tuhan adalah tempat perlindungan dan kekuatan baginya, dan ia sudah membuktikan sendiri bahwa Tuhan adalah penolongnya. Sebab itu ia tidak akan takut, sekalipun bumi berubah, sekalipun gunung-gunung bergoncang di dalam laut; sekalipun ribut dan berbuih airnya, sekalipun gunung-gunung bergoyang oleh geloranya.

Hari ini, apakah perasaan anda gundah karena adanya sesuatu yang tidak anda mengerti, suatu bahaya yang mungkin datang dan sebuah masalah yang bisa lebih besar dari apa yang bisa anda tanggung? Seperti pemazmur kita harus bisa meyakini bahwa Tuhan tahu apa yang sedang terjadi, mengerti apa yang akan terjadi dan bisa mengatasi apapun yang terjadi, di dunia dan di alam semesta. Mengapa pula kita harus berharap kepada kemampuan diri kita sendiri? Tuhan adalah yang memegang kemudi di tengah gelombang kehidupan!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s