Pakailah Efodmu

Lalu Daud memberi perintah kepada imam Abyatar bin Ahimelekh: “Bawalah efod itu kepadaku.” Maka Abyatar membawa efod itu kepada Daud. Kemudian bertanyalah Daud kepada TUHAN, katanya: “Haruskah aku mengejar gerombolan itu? Akan dapatkah mereka kususul?” Dan Ia berfirman kepadanya: “Kejarlah, sebab sesungguhnya, engkau akan dapat menyusul mereka dan melepaskan para tawanan.” 1 Samuel 30: 7 – 8

Saat ini hampir semua orang merasakan adanya tekanan hidup yang besar. Bagi sebagian, suasana pandemi saat ini sudah membuat kehidupan sehari-hari seperti kegelapan malam yang panjang. Mereka menantikan terbitnya matahari, tetapi matahari tidak kunjung muncul.

Kisah perjalanan hidup Daud yang bisa kita baca dari 1 Samuel 30 mungkin adalah salah satu lembah yang tergelap dalam kehidupan Daud. Pada waktu itu, ia dikejar oleh Raja Saul. Bagi Daud, tempat teraman untuk menjauh dari Saul adalah tinggal di antara orang Filistin, musuh yang ditakuti Saul. Karena itu, Daud dan 600 orangnya pergi ke Akhis, raja Gat dan meminta izin untuk membiarkan mereka menetap di Ziklag, salah satu kota Filistin (1 Samuel 27).

Selama enam belas bulan, Daud dan anak buahnya menghabiskan waktu mereka untuk menyerang orang Geshur, Girz, dan Amalek. Mereka menjarah domba, lembu, keledai, unta dan pakaian setelah membunuh setiap orang di desa yang mereka serang. Kepada Akhis Daud berbohong bahwa ia menyerang orang Israel. Akhish mempercayai penjelasan Daud dan berpikir bahwa orang Israel pasti sangat membenci Daud, dan yakin bahwa Daud akan tinggal di Gat dan mengabdi kepada dia untuk selamanya.

Pada suatu saat, orang Filistin mengumpulkan pasukan mereka untuk berperang lagi dengan Israel. Akhish meminta Daud dan anak buahnya untuk pergi dan membantu mereka guna melawan Israel. Sebelum pertempuran dimulai, para komandan Filistin menolak Daud dan anak buahnya. Mereka menjelaskan kepada Akhish bahwa Daud mungkin berbalik melawan mereka dan berperang untuk Israel. Atas saran itu, Daud diminta kembali ke Ziklag.

Daud dan anak buahnya tiba di Ziklag dua hari kemudian. Dengan rasa ngeri mereka melihat bahwa orang Amalek telah menyerang dan membakar kota mereka. Semua wanita dan anak-anak mereka ditawan orang Amalek. Daud dan anak buahnya mulai menangis dengan sedihnya. Anak buah Daud kemudian mengalihkan amarah mereka terhadap Daud dan berencana untuk melempari dia dengan batu. Tetapi Daud menyerahkan dirinya kepada Tuhan. Daud meminta imam Abyatar untuk membawakannya efod (1 Samuel 29 – 30).

Efod adalah rompi yang dikenakan oleh imam besar ketika dia melayani di altar (Keluaran 28: 4-14; 39: 2-7). Dipakai di atas jubah biru (Keluaran 28: 31-35), efod terbuat dari linen halus yang dijalin dengan benang emas murni, biru, ungu dan merah tua. Efod diikat dengan ikat pinggang anyaman yang indah (Keluaran 28: 27-28), dan pada tali bahunya terpasang dua batu yang di atasnya terukir nama kedua belas suku. Di atas dada imam besar ada penutup dada, berisi dua belas batu yang diukir dengan nama suku Israel.

Memakai efod pada waktu itu berarti mengenakan pakaian puji-pujian untuk menyembah Tuhan. Ini adalah waktu untuk menghadap Tuhan secara langsung. Mendongak ke atas, dan tidak ke tempat lain. Melalui tindakan Daud ini, setiap orang dan segala sesuatu yang hilang dipulihkan (1 Samuel 30: 18). Lebih dari itu, Daud dijadikan raja Yehuda setelah kematian Raja Saul. Tujuh setengah tahun kemudian, dia menjadi raja di Yerusalem atas seluruh Israel dan Yehuda.

Di zaman sekarang, kita tidak memerlukan efod atau alat-alat tertentu untuk bisa menjumpai Tuhan. Yesus Kristus adalah Imam Besar kita yang agung dan efod adalah simbol dari Dia. Jika imam Israel memakai efod mereka untuk menemui Tuhan, melalui Kristus kita bisa berkomunikasi dengan Allah Bapa. Yesus memungkinkan adanya jalan kepada Bapa bagi semua orang. Karena itu kita dapat datang dengan berani ke tahta kasih karunia, untuk memperoleh belas kasihan dan menemukan kasih karunia pada saat dibutuhkan.

Ketika masa sekarang menjadi sulit dan berat, kita perlu memakai baju efod kita, menghadap Tuhan yang mahakudus dan menyembah Dia. Dengan berdiri diam kita akan melihat kuasa dan kasih Tuhan!

“Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.” Ibrani 4: 16

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s