Berdamai dalam kekudusan

“Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan.” Ibrani 12: 14

Photo by Julian Jagtenberg on Pexels.com

Membaca media internasional pada minggu yang baru lalu saya terpaksa menghela nafas. Bagaimana tidak? Dimana-mana ada berita tentang kekerasan yang dilakukan oleh manusia terhadap sesamanya. Terlebih lagi, kekerasan dalam rumah tangga sekarang ini makin menjadi-jadi.

Mereka yang berusaha berlindung dibalik hukum, sekarang ini harus mempunyai modal uang yang cukup. Tanpa uang, perlindungan hukum mungkin tidak dapat diperoleh melalui pengadilan. Dengan demikian, mereka yang lemah dan miskin menjadi bulan-bulanan mereka yang lebih kuat dan lebih kaya. Dunia ini agaknya makin kacau saja.

Pada hakikatnya semua manusia tentunya mengerti bahwa kekacauan adalah sesuatu yang tidak dapat dinikmati. Kekerasan, perkelahian, permusuhan dan percekcokan memang sebaiknya dihindari.Walaupun demikian, bagi mereka yang mau berusaha untuk hidup damai selalu ada saja hal-hal yang tidak diharapkan, yang membuat kacau kehidupan.

Kejadian tragis dimana nyawa seseorang hilang karena persoalan yang sepele, bukanlah sesuatu yang mengherankan. Orang juga bisa didenda atau masuk penjara karena tuntutan hukum yang dilakukan orang lain. Manusia memang bisa menemukan alasan apa saja untuk membenci orang lain, entah itu karena perbedaan suku, agama, ras, golongan, seks, adat-istiadat, kebiasaan atau karena hal-hal lainnya.

Bagaimana ajaran Alkitab tentang hidup damai dalam masyarakat yang serba berbeda ini? Ayat di atas mengajarkan bahwa umat Kristen harus berusaha untuk hidup damai dengan semua orang. Permusuhan, rasa dendam, marah dan kebencian adalah bertentangan dengan ajaran kasih. Setiap orang Kristen dituntut untuk bisa mengasihi dan menghormati sesamanya, dan istilah “sesama” dalam hal ini bukanlah hanya orang-orang yang seiman, tetapi sesama ciptaan Tuhan.

Sebagai orang Kristen kita juga harus bisa mengasihi mereka yang berbeda paham atau yang memusuhi kita. Sedapat mungkin kita harus berusaha untuk menghindari permusuhan dengan siapapun, dimanapun dan kapanpun. Kita harus berusaha untuk memancarkan kasih Tuhan agar makin banyak orang yang mengenal Dia.

Pada pihak yang lain, ayat di atas mengatakan bahwa kita harus hidup dalam kekudusan. Tanpa kekudusan, kita tidak bisa berjumpa dengan Tuhan. Ini tentunya tidak berarti bahwa kita harus menjadi sama dengan Tuhan yang mahakudus. Tuhan menghendaki kita untuk kudus dalam darah Kristus.

Manusia tidak dapat dibenarkan tanpa darah Kristus yang menebus dosa mereka. Hanya karena penebusan Kristus, terbuka jalan bagi kita untuk bertumbuh terus dalam kekudusan. Dengan demikian, hidup berdamai dengan semua orang bukanlah berarti hidup dengan mengorbankan iman kepercayaan kita.

Jika kita berusaha mencapai perdamaian dengan cara duniawi, seringkali itu berarti bahwa kita harus membayarnya dengan kekudusan yang sudah kita terima dari Tuhan dan yang sudah tumbuh karena anugrahNya. Tetapi, jika kita berusaha mencari perdamaian dalam hidup melalui pendekatan kepada Kristus, sukacita yang penuh akan mengisi hati dan pikiran kita, sehingga kita tidak mudah terpancing kedalam kebencian.

“Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus.” Galatia 1: 10

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s