Allah adalah Bapa kita

Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah. Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: “ya Abba, ya Bapa!” Roma 8: 14 – 15

Baru-baru ini saya mengikuti sebuah diskusi mengenai nama panggilan untuk Tuhan kita. Topiknya adalah nama apa yang harus kita pakai untuk tidak mengabaikan keinginan Tuhan. Nama apa yang diinginkanNya? Apakah Tuhan mengharuskan kita memanggil Dia dengan nama tertentu? Diskusi yang menarik ini sebenarnya bukan baru, karena banyak orang Kristen yang percaya bahwa Tuhan menghendaki kita memanggil Dia dengan nama YHVH (Yahweh).

Yahweh adalah pengucapan dari nama perjanjian Tuhan, YHVH (Yehovah adalah pengucapan lainnya). Tuhan pertama kali menggunakan nama ini ketika Dia berbicara dengan Abram (Abraham) dalam Kejadian 15: 7. Nama YHVH juga diturunkan kepada Musa di Gunung Sinai ketika Tuhan menampakkan diri kepada Musa di semak yang terbakar. Musa menanyakan namaNya dan Tuhan menjawab “Aku adalah Aku”(Keluaran 3:14). Dalam Keluaran 3:15 Tuhan berfirman lebih lanjut kepada Musa: “Beginilah kaukatakan kepada orang Israel: Tihan, Allah nenek moyangmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub, telah mengutus aku kepadamu: itulah namaKu untuk selama-lamanya dan itulah sebutanKu turun-temurun.”

Haruskah kita memanggil Tuhan dengan nama Yahweh? Kita harus ingat bahwa Alkitab adalah buku wahyu progresif. Di zaman Perjanjian Lama, Tuhan berbicara melalui para nabiNya dan bernubuat tentang Mesias yang akan datang. Selama pelayananNya di bumi, Yesus memberikan penjelasan lebih lanjut tentang tujuan dan rencana Allah dalam menebus manusia dan memulihkan segala sesuatu. Kemudian, setelah kenaikan Yesus ke Surga, Tuhan mengirimkan Roh Kudus untuk menginspirasi penulisan firman Tuhan yang kita miliki dalam Perjanjian Baru, dengan demikian memberikan wahyu lebih lanjut dan melengkapi Alkitab.

Dengan wahyu yang penuh, kita memahami bahwa AKU YANG ESA yang berbicara kepada Musa adalah Allah Tritunggal – satu Allah dalam tiga Pribadi yang berbeda: Allah Bapa, Allah Putra dan Allah Roh Kudus. Ketiga Pribadi itu kekal, sederajat, dan hidup berdampingan dalam satu Ketuhanan. Oleh karena itu, ketika Tuhan mengungkapkan namaNya sebagai Yahweh kepada Musa, itu adalah wahyu dari nama Tuhan Tritunggal kita. Kita memahami sifat tritunggal Tuhan; tetapi sebelum inkarnasi Yesus, orang Israel tidak mungkin memahami ini.

Yahweh adalah nama yang Tuhan nyatakan kepada Musa, dan persis apa yang Dia ingin agar dipahami oleh umatNya, Israel, pada saat itu. Tuhan sedang mempersiapkan umatNya untuk mengenali Mesias yang akan datang, “benih” yang dijanjikan di taman Firdaus. Dia yang akan datang dan menyelamatkan manusia yang jatuh (Kejadian 3:15). Dari awal di taman, dan berlanjut sepanjang Perjanjian Lama, kita membaca tentang Tuhan yang mengungkapkan lebih dan lebih banyak lagi dari tujuan dan rencana penebusanNya dan lebih banyak lagi tentang siapa Dia, termasuk namaNya.

Setelah Yesus datang ke dunia dan mati di kayu salib, mereka yang percaya kepadaNya akan menerima keselamatan. Mereka diangkat menjadi anak-anak Allah. Ayat pembukaan kita berkata bahwa semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah. Sebab itu, kita tidak memiliki roh yang membuat kita takut lagi; tetapi karena Yesus sudah memperdamaikan kita dengan Tuhan, kita telah menerima Roh yang menjadikan kita anak Allah. Oleh Roh itu kita memanggil: “ya Abba, ya Bapa!”

Saya tahu nama ayah saya. Tapi entah saya tahu namanya atau tidak, itu bukanlah nama yang saya gunakan. Saya memanggilnya sebagai ayah atau bapa. Saya bahkan tidak menggunakannya saat berbicara dengan orang lain yang mengenalnya. Saya berkata, “ayah saya,” atau “bapa saya.” Dan orang lain juga menyebutnya sebagai “ayahmu.” Dengan demikian, untuk saya lebih akrab jika saya memanggil ayah dengan nama relasional daripada dengan nama resminya. Itu adalah hal yang sama dengan Bapa kita di surga. Sekarang, kita tdak perlu memanggil Dia dengan namaNya, bahkan jika kita tahu persis bagaimana mengatakannya karena semua itu bisa membuat kita lupa bahwa Bapa, Anak dan Roh Kudus adalah satu dari awalnya, dan sudah merencanakan penyelamatan umat manusia sejak mulanya. Pujilah Tuhan yang Maha Kuasa dan Maha Kasih!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s