Dalam penderitaan, nama Yesus tetap dipuji

“Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia” Filipi 1: 29

Sebuah peribahasa yang berbunyi “Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak” mungkin cocok untuk keadaan saat ini. Baru saja kita memasuki tahun 2020, pandemi Covid-19 terjadi. Sejak saat itu suasana dunia menjadi kacau-balau. Sedih rasanya. Siapakah orang yang mau menderita? Tentunya tidak ada seorang pun yang mau. Memang, dalam merayakan Natal orang biasanya memilih untuk bergembira dan berpesta sekalipun kurang mengerti makna hari istimewa itu. Sekarang, semua ini tidak dapat dilakukan. Hari Natal tahun ini harus dirayakan dengan cara sederhana dan berhati-hati untuk menghindari penularan virus corona.

Hari Natal yang pertama sungguh berbeda dengan hari Natal yang diharapkan orang di zaman ini. Pada waktu Yesus dilahirkan, keadaan disekelilingnya sangat sederhana, untuk tidak dikatakan prihatin. Yesus dilahirkan di kandang hewan dan ditidurkan dalam sebuah palungan. Tidak di sebuah rumah sakit atau gedung mewah. Tetapi kelahiran yang terlihat hina di mata manusia itu memang direncanakan Allah, agar semuanya membawa kenangan yang tidak bisa terlupakan di segala zaman.

Kelahiran seorang Juruselamat yang merupakan kedatangan Tuhan untuk menebus dosa manusia, adalah sesuatu yang sulit dipercaya manusia. Berbeda dengan pesta-pesta Natal yang diadakan manusia di seluruh dunia, yang berita atau fotonya biasanya disebarkan dan dipantau dari seluruh dunia lewat berbagai media. Kelahiran Tuhan di dunia yang sederhana adalah tanda kebesaran kasih Tuhan kepada manusia di dunia. Sebaliknya, perayaan dan acara Natal yang dirindukan manusia seringkali adalah tanda kebesaran dan kepentingan manusia.

Kelahiran Yesus sebenarnya bisa terjadi dalam suasana yang nyaman dan bahkan mewah, sama dengan dan bahkan lebih mewah dari perayaan Natal apapun yang dilakukan manusia di zaman ini. Tetapi, kelahiran Yesus dalam suasana prihatin itu adalah permulaan dari pengurbanan dan penderitaan Anak Allah di dunia untuk menebus dosa manusia yang berdosa. Sekali pun hal ini adalah sulit untuk diterima oleh pikiran manusia, kepada orang-orang yang dipilihNya Tuhan sudah memberi pengertian akan hal itu.

Ayat di atas menjelaskan bahwa mereka yang sudah dikaruniai kepercayaan atau iman kepada Yesus, juga diberi karunia tambahan, yaitu untuk bisa menderita bagi Dia. Ini berarti bahwa seperti Yesus, kita yang sudah terpilih menjadi umatNya kemudian akan mampu menghadapi penderitaan dunia dalam menjalani hidup ini untuk membesarkan namaNya. Lebih dari itu, sebagai pengikut Kristus, kita tidak lagi tertarik untuk mencari kebahagiaan duniawi yang semu, tetapi kebahagiaan abadi didalam Dia.

Mengikut Kristus tidak berarti bahwa hidup kita di dunia ini akan dipenuhi kemewahan, kenyamanan, kesuksesan, kesehatan yang prima dan kemegahan. Sebaliknya, sebagai anak-anak Tuhan kita seringkali menghadapi berbagai tantangan, seperti kesedihan, kekurangan, kesepian, penyakit dan masalah. Sebagai pengikut Yesus kita juga bisa merasakan penderitaan orang-orang di sekitar kita.

Pagi ini, marilah kita meneliti hidup kita, terutama dalam menantikan datangnya hari Natal. Hanya karena kasih Tuhan, semua hal yang kurang nyaman sekarang ini justru akan bisa membawa kita lebih dekat kepadaNya. Kita bisa merasakan adanya karunia keselamatan karena iman kepada Yesus. Tetapi apakah kita juga merasakan adanya karunia untuk menderita bagi kemuliaanNya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s