Memilih apa yang terbaik untuk masa datang

“Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.” Matius 7: 13-14

Apa yang akan anda kerjakan hari ini? Apakah anda mempunyai rencana untuk melakukan sesuatu yang signifikan dalam hari-hari mendatang? Kebanyakan orang selalu membuat rencana untuk hari depan selama masih bisa. Mereka yang sudah sangat lanjut usia mungkin kurang bisa untuk itu; karena itu rencana dan keputusan mungkin diserahkan kepada orang lain. Memang selama pikiran masih sehat, keputusan dan tanggung jawab ada di tangan kita. Cara yang mudah untuk menghindari tanggung jawab adalah mengingkari adanya kesempatan atau kemampuan untuk mengambil keputusan.

Keputusan yang kita ambil mungkin bisa membawa hasil yang baik, tetapi mungkin juga menghasilkan sesuatu yang kurang kita sukai. Dalam hal ini kita sering tidak bisa menduga apa hasilnya. “Life is like a box of chocolates”, begitu kata Forest Gump dalam filmnya. Hidup adalah seperti sekotak coklat, itulah bunyi ungkapan itu. Kita tidak tahu coklat rasa apa yang akan kita dapat. Tetapi coklat apa pun yang kita peroleh, kita sendiri yang telah memilihnya dan terserah kepada kita untuk merasakannya. Hidup manusia adalah penuh dengan pilihan dan tanggung jawab. Ini adalah masalah yang sering diperdebatkan manusia, termasuk umat Kristen.

Ada orang yang percaya bahwa Tuhan memberi kita sekotak coklat dengan berbagai rasa untuk bisa kita pilih. Dalam hal ini, masalahnya adalah coklat mana yang kita pilih. Tetapi, sebagian orang mungkin berpendapat bahwa dalam  kotak yang kita terima ada beberapa coklat dengan berbagai ragam bungkus yang harus kita pilih, tetapi semuanya sama rasanya dan itu sudah ditentukan oleh Tuhan. Walaupun manusia nampaknya bebas memilih, mereka sebenarnya tidak dapat menentukan pilihannya. Karena itu, ada banyak orang yang merasa kecewa dengan masa lalu mereka, kemudian merasa marah kepada Tuhan. Itu karena merasa bahwa Tuhan sudah berlaku tidak adil.

“Kebodohan menyesatkan jalan orang, lalu gusarlah hatinya terhadap TUHAN.” Amsal 19:3

Karena masa lalunya, ada juga orang yang merasa apatis dengan hidupnya, dan selalu merasa bahwa segala sesuatu sudah ditentukan dan akan terjadi: que sera sera. Hidup yang sedemikian mungkin kelihatannya baik, tetapi mungkin serupa dengan pandangan fatalisme.

Hari ini kita dihadapkan dengan kenyataan hidup: bahwa hidup kita adalah suatu proses di mana kita selalu dihadapkan dengan pilihan dan tanggung jawab pribadi. Jika kita sekarang mengalami suatu keadaan, kita sendiri yang bisa menentukan reaksi kita dan kita sendiri yang bisa memutuskan apa yang akan kita akan perbuat. Sering kali dalam hidup ini kita menjumpai tantangan besar dan untuk mengatasinya mungkin ada jalan pintas yang tampaknya sangat mudah dan memikat. Alkitab menyatakan bahwa adalah keputusan kita sendiri jika kita memilih jalan itu sekalipun bertentangan dengan firman Tuhan. Adalah keputusan kita juga jika memilih jalan yang lain yang nampaknya lebih sempit tetapi tidak melanggar perintah-Nya.

Kita tidak akan mudah merasa ragu untuk mengambil keputusan jika kita hidup dekat dengan firman-Nya. Tuhan sudah memberi kita Roh Kudus untuk menerangi hati dan pikiran kita dalam mengambil keputusan. Karena itu, jika kita mendapatkan hasil yang baik, janganlah lupa untuk bersyukur kepada-Nya. Sebaliknya, jika kita mengalami kegagalan, itu mungkin karena kesalahan kita. Dalam hal ini, kita tetap percaya bahwa Tuhan yang mahakuasa bisa mengubah apa yang nampaknya buruk untuk menjadi apa yang baik untuk anak-anak-Nya.

Hidup iman kita mungkin juga sudah mencapai saat di mana kita merasakan bahwa tidak ada yang perlu kita pikirkan lagi karena kita mungkin sudah merasa bahwa Tuhan sudah memutuskan apa yang terjadi dalam hidup kita, baik itu kesuksesan maupun kegagalan. Sikap yang semacam itu memang seolah membuat hidup kita nampaknya lebih enteng, karena kita memilih apa yang lebih mudah dilewati: jalan yang lebar, yang bisa dilewati tanpa memerlukan pergumulan terus-terusan. Jalan yang sempit, yang menuntut perjuangan untuk mempertahankan kesetiaan yang penuh kepada Tuhan yang mahakuasa, yang benar-benar penuh dengan rasa syukur dan hormat kepada Tuhan dalam setiap saat dan keadaan, tidaklah mudah dijalani. Tetapi itulah yang jalan yang benar yang diajarkan Yesus kepada murid-murid-Nya.

Untuk sebagian umat Kristen, keyakinan akan keselamatan itu datang melalui tradisi, kebiasaan dan pengalaman mereka. Jalan yang lebar dan mudah dilalui, tetapi sering kali hanya ilusi. Untuk yang lain, iman datang dari Tuhan melewati pergumulan hidup, pilihan pribadi, pelajaran hidup, kesadaran akan ketergantungan kepada Yesus Kristus hari demi hari. Ini jalan yang sempit dan sulit dilalui. Tanpa keberanian untuk memilih dan kemauan untuk bertanggung jawab, manusia tidak akan bisa berkata:

Tuhan, aku sudah mengambil berbagai keputusan di masa lalu,

Aku sadar bahwa aku sering melakukan hal yang bodoh.

Saat ini aku mengaku bahwa aku bertanggung jawab atas hidupku.

Aku sekarang mau memilih jalan yang sempit untuk mengenal Engkau.

Bimbinglah aku agar sampai ke tempat tujuan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s