Harapan sesudah kematian

“Atau tidak tahukah kamu, bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya? Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.” Roma 6: 3 – 4

Ketika itu Yesus dan murid-murid-Nya sedang dalam perjalanan ke Yerusalem dan Yesus berjalan di depan. Murid-murid merasa cemas dan juga orang-orang yang mengikuti Dia dari belakang merasa takut. Mengapa demikian? Mereka kuatir bahwa sesuatu yang sangat buruk akan terjadi pada diri mereka dan juga pada diri Yesus. Mereka tahu bahwa ada banyak orang Yahudi yang membenci-Nya. Apa yang akan terjadi tidaklah bisa diterka, tetapi pastilah sesuatu yang buruk. Lebih payah lagi, mereka bisa melihat bahwa Yesus bukanlah seorang panglima perang yang mempunyai ribuan serdadu. Yesus ternyata adalah seorang guru yang mengajarkan kesabaran, pengampunan dan kasih. Dan ini diajarkannya sekalipun banyak orang yang memusuhi-Nya!

Dengan berlalunya waktu, murid-murid Yesus dan pengikut-Nya menjadi takut karena suasana yang makin memanas. Yesus Anak Allah nyata-nyata tidak mempunyai malaikat pengawal. Malahan, Yesus berkata bahwa Ia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan memberi-Nya hukuman mati. Ia akan diolok-olok, diludahi, disesah dan dibunuh. Tidak dapat kita bayangkan bagaimana perasaan sedih dan takut yang dialami murid-murid-Nya. Walaupun demikian, mereka belum sadar bahwa esok hari adalah hari yang kelabu.

Jumat Agung adalah hari yang diperingati orang Kristen sebagai hari kematian Yesus. Hari ini biasanya diperingati secara khusyuk, terutama jika kita mengingat bagaimana Yesus pada waktu itu diejek, dipermalukan, disiksa dan kemudian mati digantung di kayu salib. Segala yang terjadi pada Yesus adalah bukti kejahatan manusia yang tidak bisa menerima apa yang datang dari Allah. Manusia yang lebih mementingkan kepuasan diri sendiri daripada menurut perintah Allah. Manusia yang menolak Anak Allah karena mereka ingin hidup seperti  yang dikehendakinya. Mereka tidak sadar bahwa bukannya merdeka, mereka justru hidup dalam belenggu dosa yang membawa kematian. Manusia tidak mengerti bahwa Yesus datang untuk memerdekakan mereka.

Memang banyak manusia di dunia ini yang merasa bahwa hidup hanya sekali dan karena itu harus dinikmati. Kesempatan yang ada harus dipergunakan untuk mencari kebahagiaan, kesuksesan, kekayaan dan segala kenyamanan hidup lainnya. Hal hidup sesudah mati adalah sesuatu yang tidak dapat dilihat mata dan karena itu tidak perlu dipikirkan dalam-dalam. Lain halnya dengan orang Kristen; hidup di dunia adalah hidup untuk  sementara, sedangkan hidup di surga adalah kekal. Dengan demikian, hidup di dunia ini adalah jauh lebih singkat dari hidup sesudahnya. Hidup yang ada sesudah mati adalah hidup yang jauh lebih penting dan lebih berharga dari hidup yang sekarang.

Jelas bahwa apa yang sangat berharga tidaklah mudah untuk diperoleh.  Apa yang sangat berharga tentunya harus dibayar dengan harga sangat tinggi. Tidak ada seorang pun yang bisa ke surga dengan usaha sendiri. Dengan kemampuan kita tidaklah mungkin kita bisa membayar harga keselamatan kita. Hanya melalui darah Yesus yang disalibkan di bukit Golgota, Allah mau menerima kita sebagai anak-anak-Nya.

Ayat di atas menulis bahwa Yesus sudah mati disalibkan dan kita yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya. Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya kita mati dari hidup lama kita dan memperoleh hidup yang baru melalui kebangkitan-Nya. Sama seperti Kristus kemudian dibangkitkan dari antara orang mati oleh Allah Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru sebagai anak-anak Allah.

Hari Jumat Agung dengan demikian bukanlah semata-mata peringatan akan hal yang sedih. Sebaliknya, itu adalah suatu perayaan di mana kita mengingat bahwa Yesus sudah taat kepada Allah Bapa dan menggenapi rencana-Nya. Sebagai Anak-Nya yang tunggal, Yesus sudah taat sampai akhir dan karena itu Ia menerima kemuliaan dari Allah Bapa. Seperti itu jugalah, jika kita mau menguburkan hidup lama kita, kita akan menerima kemuliaan dari Allah Bapa dalam hidup yang baru di sorga.

Saat ini, barangkali kita sedang mengalami berbagai persoalan berat dalam hidup kita sehari-hari. Masalah yang besar, ancaman bahaya dan tantangan kehidupan datang silih berganti. Walaupun demikian, kita tahu bahwa kematian Yesus berarti kematian bagi pengaruh hidup duniawi. Dengan demikian, hari Jumat Agung adalah satu hari yang perlu dirayakan dengan rasa sukacita, karena kita tahu bahwa anugerah keselamatan surgawi sudah kita terima melalui kematian dan kebangkitan Yesus. Kematian Yesus memberi kita harapan baru untuk masa depan baik di dunia maupun di surga, karena Ia yang sudah datang ke dunia sekarang sudah bertahta di surga sebagai Tuhan yang mahakuasa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s