Tanggung jawab pribadi

“Demikianlah setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah.” Roma 14: 12

Apa yang sudah aku capai dalam hidupku? Apakah aku sudah memperoleh apa yang aku inginkan? Mungkin begitu pertanyaan seseorang kepada diri sendiri, jika ia mau meneliti hidupnya. Tetapi ada banyak orang yang memilih untuk tidak memikirkan hal-hal itu, terutama jika apa yang diharapkan tidak tercapai. Apalagi mereka yang sering mengalami badai kehidupan, mereka mungkin hanya ingin melupakan semua itu. Selain itu, ada orang yang kurang berminat untuk menganalisa hidupnya karena keyakinan bahwa semua itu sudah ditentukan Tuhan dari awalnya.

Bagi mereka yang beriman, sebenarnya hal di atas memang kurang penting. Bagi mereka, mencapai kesuksesan hidup duniawi bukanlah sesuatu yang didambakan. Sebaliknya, orang Kristen lebih mementingkan ketaatan kepada Kristus. Oleh sebab itu, jika ada kesempatan bagi orang percaya untuk meneliti apa yang sudah dilakukan selama hidup di dunia, itu sehubungan dengan apa yang diperintahkan Tuhan. Apakah kita sudah hidup, bertumbuh dan berbuah sesuai dengan apa yang dikehendaki-Nya?

Ada banyak orang Kristen yang tidak pernah bertumbuh secara rohani. Tahun demi tahun lewat, tetapi mereka tetap hidup seperti orang yang belum dewasa secara iman. Mereka mengaku Kristen karena ke gereja atau sesekali membaca Alkitab, tetapi tidak hidup menurut firman-Nya. Baik dalam kelakuan, perkataan, pikiran , dan perbuatan, mereka hampir tidak dapat dibedakan dengan mereka yang tidak mengenal Kristus.

Ada banyak orang Kristen yang masih mementingkan kesuksesan duniawi dan kecewa atau kuatir jika hidup tidak berjalan seperti yang dikehendaki. Ada juga yang selalu mengejar keuntungan dan kenikmatan dengan menghalalkan segala cara. Dan bahkan ada juga orang yang menggunakan firman Tuhan untuk mencari keuntungan pribadi. Semua itu menunjukkan hidup yang belum sepenuhnya dipakai untuk memuliakan Tuhan.

Dalam perumpamaan tentang talenta (Matius 25: 14 – 30), tiga hamba yang sudah diberikan modal bekerja yang berlainan oleh tuan mereka, pada akhirnya harus menunjukkan laba yang sudah mereka peroleh. Kita bisa membaca bahwa mereka yang dibekali dengan lima dan dua talenta, kemudian mendapatkan penghargaan yang sesuai dengan hasil yang mereka peroleh.

“Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.” Matius 25: 23

Hamba yang ketiga hanyalah menerima satu talenta. Ia merasa kecewa dan tidak yakin akan kegunaannya. Karena itu ia tidak mengolah talenta yang sudah dipercayakan kepadanya dan hanya menyimpannya di dalam tanah. Bagi hamba ini, bukannya upah yang diterimanya, tetapi hukuman atas kemalasannya.

Sangat menarik perhatian, bahwa dalam perumpamaan itu ketiga hamba itu hanya diperintahkan untuk mengolah harta majikannya. Mereka dipercayai untuk memegang sejumlah uang sesuai dengan kesanggupan mereka untuk mengolahnya. Sebagai hamba mereka tidak dijanjikan hadiah jika mereka mencapai hasil tertentu. Tetapi, tentunya setiap hamba tahu bahwa mereka harus berusaha sebaik mungkin untuk menghasilkan apa yang terbaik untuk sang majikan. Dengan demikian, sekalipun kita tahu bahwa Tuhan menghargai kesetiaan kita, “upah” dari Tuhan tidak seharusnya menjadi motivasi kita untuk bekerja bagi Tuhan karena segala sesuatu berasal dari Tuhan.

“Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” Kolose 3: 23

Sebagai orang percaya, kita tahu bahwa Tuhanlah yang sudah memberikan kita talenta, kemampuan untuk bekerja baik dalam bidang jasmani maupun rohani. Sebagai hamba Tuhan, kita hanya menjalankan perintah-Nya untuk mengembangkan apa yang sudah dititipkan-Nya kepada kita. Banyak orang yang merasa bahwa keberhasilan hanya terlihat dari benda-benda yang dapat diperolehnya. Mereka tahu bagaimana bisa mengkalim hadiah dari jerih payahnya, yaitu segala sesuatu yang bersifat jasmani dan materi. Tetapi, firman Tuhan berkata bahwa segala sesuatu, baik kemampuan jasmani ataupun rohani, adalah dari Tuhan, dan oleh Tuhan, dan kepada Tuhan. Karena itu bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya. Apakah kita sudah memakai hidup kita sebagaimana mestinya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s