“Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.” Matius 5: 5

Suatu hal yang dapat kita lihat dari pertumbuhan jasmani seorang bayi ialah adanya perubahan yang terjadi pada kekuatan tubuhnya. Pada saat baru dilahirkan, seorang bayi kebanyakan hanya bisa tidur dan kalau merasa lapar, ia akan bangun dan menangis. Tetapi, setelah beberapa bulan, ia mulai bisa tetap bangun untuk beberapa jam dan malahan ingin bermain setelah diberi minum.
Seorang manusia akan bertumbuh makin kuat secara badani hinga mencapai umur sekitar 25-30 tahun, dan kemudian menurun kemampuannya. Jika otak Anda mencapai kemampuan maksimum sekitar umur 20 tahun, otot Anda paling kuat ketika Anda berusia 25 tahun. Meskipun demikian, untuk 10 atau 15 tahun ke depan Anda akan bisa mempertahankan kekuatan fisik jika Anda mau melatih tubuh Anda dengan berolahraga. Setiap manusia pada umumnya mulai menurun kekuatan fisiknya setelah melewati umur 40 tahun, tetapi mungkin ia bisa lebih kuat dalam hal kemampuan mentalnya, karena berbagai pengalaman yang diperolehnya.
Ayat Matius 5: 5 diatas nampaknya sederhana, tetapi seringkali menjadi pertanyaan orang percaya. Didalam dunia yang penuh persaingan ini, nampaknya sulit dimengerti bagaimana orang yang lemah lembut bisa menmperoleh keberhasilan dan kemenangan atas mereka yang vokal dan agresif. Apalagi dikatakan bahwa orang yang lemah lembut akan memiliki bumi tempat dimana mereka berada.
Bertentangan dengan ayat diatas, beberapa filsuf pernah mengatakan bahwa kelemahlembutan tidak mungkin bisa mencapai kesuksesan di dunia ini. Menurut mereka, hanya yang kuat dan yang bisa menekan orang lain akan menang. Orang yang tidak menunjukkan kekuatannya tidak mungkin bisa menundukkan orang lain. Mana yang benar?
Dalam kenyataan hidup kita, penampilan yang lemah lembut itu belum tentu menunjuk kepada orang yang lemah. Seperti peribahasa “Air tenang menghanyutkan” kita bisa mengerti bahwa seorang yang pendiam belum tentu kurang bisa, justru orang pendiam sering mampu melakukan pekerjaan yang hebat. Peribahasa senada dalam bahasa Inggris, “Still waters run deep” yaitu “Air yang tenang menunjukkan kedalaman”, dapat diartikan sebagai “Orang yang pendiam dan halus tampak luarnya, sering mempunyai karakter yang baik dan kemampuan yang hebat”.
Adalah kenyataan hidup bahwa tiap -tiap orang mempunyai karakternya sendiri sejak dilahirkan. Karakter manusia memang bermacam-macam dan tidak selalu bisa dilihat dari penampilan luarnya. Tetapi orang Kristen yang benar akan mempunyai karakter baru yang bisa terlihat dari luar karena pekerjaan Roh Kudus dalam hidupnya. Karakter baru, luar dan dalam.
“Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” 2 Korintus 5: 17
Setelah seseorang menerima Yesus sebagai juruselamatnya, perubahan hidup harus terjadi dan sifat-sifat dan cara hidup yang lama akan perlahan-lahan diisi dengan hal-hal yang baik seperti kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri (Galatia 5:22). Jadi, dari apa yang kelihatan dari hidup seseorang, kita akan dapat mengenali apakah orang itu sudah menjadi “air tenang yang dalam”. Orang yang bukan hanya terlihat sabar dan lemah lembut, tetapi juga mempunyai banyak sifat-sifat lain yang baik, yang tumbuh karena mereka berlatih setiap hari.
“Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi. Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul. Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.” 1 Korintus 9: 25-27
Memang agaknya dunia sering lebih memihak kepada mereka yang bisa memaksa dan menindas orang lain secara fisik maupun mental. Tetapi, kita tahu bahwa orang yang demikian hidupnya seringkali tidak tenang atau damai. Sejarah membuktikan bahwa kekacauan di berbagai gereja dan negara, dan bahkan peperangan di dunia sering disebabkan oleh ulah dan ambisi para pemimpin. Sebaliknya, masyarakat yang hidup damai dan bersatu pada umumnya disebabkan oleh adanya pemimpin yang baik yang bisa mengayomi anak buahnya. Bukan seorang diktator.
Seorang pemimpin yang baik adalah orang yang bisa mengendalikan hidupnya sendiri dan hidup dalam kedamaian sehingga tidak ada keraguan diantara mereka yang disekelilingnya. Seorang pemimpin dihormati bawahannya karena ia seperti “air tenang yang menghanyutkan”. Apapun kedudukan dan tugas kita, adalah panggilan bagi kita untuk menjadi orang yang lemah lembut. Kelemahlembutan tidak sama dengan kelemahan. Yesus adalah contoh pemimpin yang baik, karena Ia mempunyai kesabaran dan kelemahlembutan yang membungkus kekuasaan Ilahi-Nya. Kita harus belajar dari Dia.
“Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.” Matius 11: 29
Dalam hidup berkeluarga, dalam bekerja, dalam bermasyarakat, juga dalam bergereja dan bernegara, mereka yang mau memperoleh lingkungan yang mendukung mereka, haruslah bisa menjadi orang yang lemah lembut. Sesuai dengan Matius 5: 5, kelemahlembutan yang didasari kasih akan membawa keberhasilan di “bumi” mana pun, dimana pun kita berada. Semoga hidup baru kita bisa terlihat oleh orang disekitar kita yang bisa menyadari bahwa sekalipun kita nampak sebagai air yang tenang, kuasa Tuhan yang besar ada bersama kita!