Hak dan kewajiban orang percaya

“Tetapi sang bapa itu berkata kepada hamba-hambanya: “Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya.”” Lukas 15:22

Perumpamaan anak yang hilang adalah salah satu perumpamaan Yesus yang paling dikenal umat Kristen. Perumpamaan itu sering dipakai untuk menggambarkan kesetiaan Allah (yang sering digambarkan sebagai Bapa) yang tidak pernah berubah, sekalipun umatNya (digambarkan sebagai anak) sering menyakiti hati-Nya dan meninggalkan-Nya untuk pergi menikmati kesenangan duniawi (digambarkan sebagai negeri yang jauh). Secara kenyataan, di dalam berbagai kesempatan, Tuhan memang menyatakan di dalam Alkitab bahwa umat-Nya memang memiliki status dan kuasa sebagai anak-anakNya, bukan hanya perumpamaan saja.

Sekaipun pesan Yesus itu menyatakan kasih Allah Bapa yang mengembalikan status orang percaya sebagai anak-anak-Nya, sebagian orang Kristen tidak mau untuk memikirkan hak dan tanggung jawab sebagai anak Allah. Mereka terlalu menekankan kedaulatan Allah, sehingga kurang menghargai kasih-Nya. Tidak mengherankan bahwa banyak orang Kristen yang mengatakan “Aku tidak layak” atau “Aku tidak pantas atau bisa menerima apa pun” padahal Tuhan mengatakan sebaliknya. Jika anak yang hilang itu tidak diterima bapanya, akan ia mungkin menjadi hamba dan bukan anak bapanya. Tetapi bukan itu yang terjadi, sang bapa mengangkatnya kembali menjadi anak yang mempunyai hak daan kewajiban seperti kakaknya.

Perlu diingat bahwa ketika anak yang hilang itu menyadari keadaannya yang menyedihkan di perantauan, ia berkata kepada dirinya sendiri: “Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan. Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa”. Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia. Kata anak itu kepadanya: “Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa.” Tetapi sang bapa itu berkata kepada hamba-hambanya: “Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya.” Mengapa sang bapa sangat bergembira ketika anaknya pulang kembali ke rumah? Ia berkata: “Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali.” Cincin yang dikenakan kepada anak yang hilang itu mengembalikan statusnya sebagai anak sepenuhnya.

Sebagai seorang Kristen yang dilambangkan sebagai anak yang hilang yang bertobat dan kembali ke jalan yang benar, apakah kita benar-benar tidak menerima apa pun? Apakah kita tetap berada dalam status seorang pendosa yang menyedihkan dan yang tidak layak menerima apa pun? Dan sebagai pendosa apakah kita tidak bisa secara aktif berbuat baik untuk kemuliaan Tuhan? Bagi banyak orang Kristen, pertanyaan ini benar-benar nyata, terutama jika mereka ingin berusaha hidup baik dan berjuang memikul salib Kristus. Mereka sadar bahwa orang yang sudah dipilih adalah seorang anak yang diberi anugerah Tuhan yang berupa hak dan kewajiban yang istimewa.

Jika dikatakan bahwa orang Kristen tidak mampu untuk bekerja guna memuliakan Tuhan, itu tidak sesuai dengan apa yang Tuhan katakan tentang kita di dalam Alkitab. Jika kita baca pengakuan Westminster mengenai pengudusan jelas tertulis bahwa setiap orang percaya harus bertumbuh dalam kekudusan, yang berarti bahwa sekalipun mereka tetap orang berdosa, mereka akan tumbuh dalam iman dan makin lama hidup mereka akan makin menyerupai apa yang dikendaki Kristus. Itu adalah karunia Tuhan yang membuka kemungkinan bagi kita yang dulunya hidup dalam dosa, tetapi yang sekarang sudah menerima “cincin” yang memeteraikan status kita sebagai orang kudus, yaitu orang yang dikuduskan Allah.

“Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.” Matius 5:48

Dari kecil hingga dewasa, saya sering mendengar hal yang sama dari beberapa pemimpin Kristen: “Kita ini bukan apa-apa. Kita adalah orang-orang berdosa yang malang dan celaka, yang tidak berharga di hadapan kemuliaan Tuhan yang sempurna. Kita tidak boleh sombong dan merasa dapat berbuat apa yang baik untuk Tuhan. Jangan seperti orang Farisi.” Ini sepertinya bukan kebenaran yang murni dan utuh. Jangan salah paham, setidaknya ada satu atau dua butir kebenaran dalam pernyataan tersebut. Namun sekali lagi, Iblis berperang melawan Kristus di padang gurun dengan menggunakan sebagian kebenaran dari Alkitab.

Jika kita mencari kebenaran sepenuhnya, saya ingin bertanya kepada siapa pun yang punya jawabannya. Apakah “Saya bukan siapa-siapa” selaras dengan ayat-ayat berikut:

“Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” 2 Korintus 5:17

“Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, – dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!” 1 Korintus 6:19-20

Mengapa saya harus percaya bahwa saya tidak layak dan tidak akan pernah layak, ketika Allah memerintahkan saya untuk menjadi layak, melalui firman-Nyai, dan bahkan untuk menjadi sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna? Bukankah Ia sudah memberi kita kekuatan dan kemampuan untuk berjuang dalam menjalani hidup baru? Tidak ada orang yang bisa ke surga melalui perbuatan baiknya, tetapi tidak seorang pun yang masuk surga yang tidak mau berjuang untuk melakukan perbuatan baik di bumi. Dengan kata lain, kita harus mau menggunakan karunia Roh Kudus untuk membunuh dosa kita dan mengejar kekudusan seperti apa yang tertulis dalam ayat ini:

“Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan.” Ibrani 12:14

Singkatnya, ”tanpa kekudusan, tidak masuk surga.” Mengapa demikian? Karena mereka yang tetap mau hidup dalam dosa bukanlah orang yang benar-benar beriman: ”Iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati” (Yakobus 2:26). Ini adalah pengakuan iman: ”Iman, yang adalah menerima-dan-bersandar pada Kristus-dan-kebenaran-Nya, merupakan satu-satunya sarana pembenaran. Namun, iman orang yang dibenarkan itu tidak berdiri sendiri, tetapi selalu disertai semua anugerah lainnya. Pun iman itu tidak mati, tetapi bekerja oleh kasih” (Pengakuan Iman Westminster).

Orang Kristen memang harus berjalan di jalan yang sempit yang penuh dengan berbagai perbuatan baik, Allah sebelumnya telah mempersiapkan semuanya itu bagi mereka untuk menjalaninya. Jadi, di sini kita mengerti bahwa tidak seorang pun yang akan masuk surga yang tidak mau menurut perintah Allah dalam hidupnya, yang membawa ketaatan dalam iman.

“…tetapi yang sekarang telah dinyatakan dan yang menurut perintah Allah yang abadi, telah diberitakan oleh kitab-kitab para nabi kepada segala bangsa untuk membimbing mereka kepada ketaatan iman.” Roma 16:26

Satu kekeliruan dalam ajaran Kristen mengatakan tidak penting jika Anda berbuat, berusaha, atau berjuang untuk memuliakan Tuhan karena Tuhan memilih umat-Nya berdasarkan kedaulatan-Nya semata-mata. Kekeliruan yang lain mengatakan bahwa perbuatan, usaha, dan pertarungannya adalah yang memungkinkan Anda untuk sampai di hadapan Allah yang kudus. Yakobus menyebut kekeliruan yang pertama sebagai imannya para-setan (Yakobus 2:19). Paulus menyebut kekeliruan yang kedua sebagai imannya orang yang bodoh (Galatia 3:1).

Hari ini kita harus sadar bahwa Yesus Kristus memungkinkan kita untuk diterima oleh Allah Bapa sebagai anak-anak-Nya. Kita mau menurut perintah-Nya karena kita sudah dimeteraikan untuk memegang hak dan kewajiban kita sebagai orang-orang yang sudah diampuni Tuhan. Kita tidak mau mengabaikan hak dan kewajiban ini karena kita tidak mau kembali menjadi anak yang hilang yang tidak mempunyai masa depan.

Tinggalkan komentar