“Sebab penghakiman yang tak berbelas kasihan akan berlaku atas orang yang tidak berbelas kasihan. Tetapi belas kasihan akan menang atas penghakiman.” Yakobus 2:13

Ayat ini adalah salah satu pernyataan Yakobus yang tajam, bahkan terasa keras. Ia tidak berbicara dengan bahasa yang lunak atau kompromistis. Namun justru di dalam ketegasannya, Yakobus sedang membawa kita kembali kepada inti iman Kristen: bagaimana relasi kita dengan Allah yang penuh belas kasihan itu harus dinyatakan dalam cara kita memperlakukan sesama.
Yakobus tidak sedang mengajarkan bahwa keselamatan ditentukan oleh seberapa banyak belas kasihan yang kita lakukan. Ia juga tidak mengatakan bahwa seorang Kristen yang pernah gagal mengasihi orang lain akan kehilangan keselamatannya. Demikian pula, ia tidak sedang menyatakan bahwa orang yang tidak mengenal Kristus tetapi bersikap baik kepada sesamanya otomatis akan diselamatkan. Yakobus bukan sedang membandingkan perbuatan baik dengan iman, melainkan menunjukkan buah alami dari iman yang sejati.
Iman yang hidup kepada Allah yang berbelas kasihan akan melahirkan kehidupan yang ditandai oleh belas kasihan. Bukan kesempurnaan, tetapi arah hidup. Bukan tanpa dosa, tetapi dengan kepekaan hati.
Sampai nafas yang penghabisan, orang Kristen tetap orang berdosa. Selama hidup, kita masih bisa bersikap keras, cepat menghakimi, atau kurang empati. Namun perbedaannya terletak pada kebiasaan hidup dan kecenderungan hati. Orang yang ada di dalam Kristus, yang setiap hari hidup dari anugerah, lambat laun akan dibentuk oleh Roh Kudus untuk semakin menyerupai Kristus yang penuh belas kasihan kepada orang lemah, orang berdosa, dan mereka yang terpinggirkan.
Karena itu Yakobus berani berkata: orang yang tidak pernah atau hampir tidak pernah menunjukkan belas kasihan, terutama kepada mereka yang lebih lemah atau menderita, patut mempertanyakan imannya sendiri. Ia mungkin bukan orang Kristen sejati! Bukan karena ia gagal memenuhi standar moral tertentu, melainkan karena hidupnya tidak mencerminkan sifat Allah yang ia akui percaya.
Yesus sendiri mengajarkan hal yang serupa. Dalam perumpamaan tentang hamba yang tidak berbelas kasihan (Matius 18:23-35), Tuhan menegur orang yang telah menerima pengampunan besar tetapi menolak mengampuni sesamanya. Masalahnya bukan pada satu kesalahan, melainkan pada hati yang tidak pernah berubah setelah menerima anugerah. Orang yang sedemikian tidak sadar bahwa ia harus mengasihani orang lain setelah ia dikasihani oleh Tuhan. Karena itu, pantaslah ia kehilangan belas kasihan Tuhan.
‘Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.” Matius 18:35
Di sinilah kita diajak bercermin. Betapa mudahnya kita menghakimi—dengan kata-kata, sikap, atau bahkan dengan kediaman yang dingin. Kita sering merasa benar, rohani, atau lebih bermoral, sementara lupa bahwa kita sendiri hidup sepenuhnya oleh belas kasihan Allah. Kita lupa bahwa tanpa belas kasihan-Nya, tidak seorang pun dapat berdiri di hadapan-Nya.
Yakobus mengingatkan bahwa Allah memang adil, tetapi belas kasihan-Nya jauh lebih unggul dari penghakiman-Nya. Di dalam Kristus, penghakiman yang seharusnya kita terima telah ditanggung. Salib adalah bukti bahwa belas kasihan Allah tidak mengabaikan keadilan, tetapi menggenapinya melalui belas kasihan-Nya dalam pengorbanan Anak-Nya yang tunggal.
Karena itu, hidup dalam belas kasihan bukanlah beban tambahan bagi orang percaya, melainkan respons yang wajar dan sudah seharusnya. Kita mengasihi karena kita telah dikasihi. Kita mengasihani karena sudah dikasihani. Kita mengampuni karena kita telah diampuni. Kita menahan diri untuk tidak cepat menghakimi karena kita sadar betapa seringnya Tuhan bersabar kepada kita.
Di dunia yang keras dan mudah menghakimi, belas kasihan adalah kesaksian yang kuat. Ia menunjukkan bahwa kita hidup dari sumber yang berbeda. Bukan dari rasa benar diri, tetapi dari anugerah. Bukan dari superioritas rohani, tetapi dari kerendahan hati sebagai orang-orang yang telah diselamatkan.
Kita harus sadar bahwa orang yang hidup dalam belas kasihan kepada orang lain sebenarnya sedang hidup di dalam ruang belas kasihan Allah sendiri. Mengasihi sesama bukan hanya demi mereka, tetapi juga demi kesehatan rohani kita sendiri selama hidup di dunia.
Orang yang terus menghakimi biasanya hidup dalam ketegangan, rasa benar diri, dan ketakutan akan penghakiman orang lain. Sebaliknya, orang yang berbelas kasihan memilih untuk “mengasihani dirinya sendiri” karena ia memilih untuk berjalan seirama dengan cara Allah dalam menyatakan belas kasihan-Nya. Orang yang sedemikian akan bisa hidup dalam kedamaian.
“Siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi Tuhan, yang akan membalas perbuatannya itu. Amsal 19:17
Kiranya hidup kita dalam tahun yang baru ini — di keluarga, gereja, dan masyarakat—lebih dikenal karena belas kasihan daripada penghakiman. Sebab di sanalah iman yang sejati terlihat, dan di sanalah karakter Kristus dinyatakan.
Doa Penutup:
Tuhan yang penuh belas kasihan, kami mengaku bahwa sering kali kami lebih cepat menghakimi daripada mengasihi.
Ampunilah kami, dan lembutkan hati kami oleh anugerah-Mu.
Ajarlah kami hidup sebagai orang-orang yang telah menerima belas kasihan, supaya hidup kami pun memancarkan belas kasihan kepada sesama.
Bentuklah kami semakin serupa dengan Kristus, yang kasih-Nya menang atas segala penghakiman.
Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.