“Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan; tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya.” Matius 13:12

Ada pertanyaan yang sering muncul dalam hati banyak orang: mengapa ada orang yang begitu sulit mengikut Tuhan? Mereka mendengar Injil berkali-kali, melihat kesaksian hidup orang percaya, bahkan mungkin mengalami pertolongan Tuhan dalam hidupnya, tetapi tetap saja hati mereka tertutup. Mereka tidak dapat melihat kebesaran Tuhan dalam hidup mereka. Sebaliknya, ada orang yang baru mendengar firman sekali dua kali, namun hatinya segera tersentuh dan imannya bertumbuh. Mereka tahu dan percaya akan kasih dan kuasa Tuhan.
Ayat hari ini terdengar keras jika dibaca sepintas. Bagaimana mungkin yang punya akan diberi lebih banyak, sedangkan yang tidak punya malah diambil? Bukankah itu terdengar tidak adil? Namun Yesus sedang berbicara bukan tentang harta benda, melainkan tentang hati yang merespons kebenaran.
Yesus menyatakan bahwa lebih banyak akan diberikan kepada orang yang memiliki, tetapi dari orang yang tidak memiliki, bahkan lebih banyak lagi akan diambil. Dalam konteks ini, apa yang diberikan dan diambil adalah pengetahuan tentang kerajaan surga. Dengan perluasan, ini juga menyiratkan kemampuan untuk berpartisipasi dalam kerajaan. Dalam pengaturan Injil Matius, ini mengikuti pernyataan Kristus di bab sebelumnya tentang penghakiman yang akan datang untuk “generasi ini” orang Israel. Ini disebabkan oleh kurangnya pertobatan dan penolakan mereka terhadap Dia sebagai Mesias. Tetapi, hal yang serupa bisa juga terjadi dalam hidup kita.
“Siapa yang mempunyai” menunjuk kepada orang yang memiliki kerinduan, keterbukaan, dan kesediaan menerima firman Tuhan. Mungkin ia belum tahu banyak, tetapi ia mau mendengar. Ia belum sempurna, tetapi ia rindu belajar. Kepada orang seperti ini, Tuhan akan memberi lebih lagi: pengertian yang lebih dalam, iman yang makin kokoh, dan sukacita yang makin penuh.
Sebaliknya, “siapa yang tidak mempunyai” menunjuk kepada orang yang menutup diri terhadap terang Tuhan. Bukan karena ia kurang cerdas, bukan karena firman Tuhan kurang jelas, tetapi karena hatinya dingin dan menolak. Ia mungkin mendengar dengan telinga, tetapi tidak mau menerima dengan hati. Mungkin karena adanya kesibukan dan kemalasan. Lama-kelamaan, kepekaan rohaninya makin tumpul. Bahkan sedikit pengertian yang dulu pernah ia miliki pun bisa memudar. Ia merasa Tuhan itu “jauh di sana”.
Ada juga orang yang sudah lama menjadi Kristen, rajin beribadah, dan mengenal banyak ajaran, tetapi kemudian kehilangan semangat untuk maju dalam iman. Mereka merasa cukup sampai di titik tertentu. Ibadah menjadi rutinitas, doa menjadi formalitas, firman hanya pengetahuan lama yang diulang-ulang. Di sini, bahaya terbesar bukan selalu penolakan terang-terangan, melainkan rasa jemu rohani. Hati yang berhenti merasa haus akan firman Tuhan perlahan kehilangan sukacita pertumbuhan.
Jadi, mengapa ada orang yang bukannya maju malah mundur dalam iman? Kadang bukan karena kurang bukti, tetapi karena hati yang menjadi dingin. Ini bukan karena Tuhan jauh, tetapi karena manusia terus menjauh. Kadang bukan karena firman kurang jelas, tetapi karena dosa, kesombongan, luka batin, atau cinta dunia yang membuat hati enggan tunduk kepada Tuhan. Iman yang dipraktikkan akan bertumbuh; tetapi, iman yang diabaikan akan layu.
Kita bisa melihat bahwa hal serupa juga terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Otot yang dipakai akan semakin kuat. Otot yang tidak dipakai akan melemah. Pikiran yang terus dilatih akan tajam. Pikiran yang dibiarkan akan tumpul.
Renungan ini bukan untuk membuat kita menghakimi orang lain. Kita tidak tahu pergumulan batin seseorang. Ada orang yang tampak menolak hari ini, tetapi esok Tuhan menjamah hatinya. Saulus pernah menjadi penganiaya gereja, tetapi kemudian diubahkan menjadi Paulus. Tidak ada hati yang terlalu keras bagi Tuhan.
Renungan ini justru mengajak kita memeriksa diri sendiri. Bagaimana respons kita terhadap firman? Apakah kita masih mudah disentuh Tuhan saat membaca Alkitab? Apakah kita masih mau ditegur? Apakah kita masih haus akan kebenaran? Atau jangan-jangan hati kita mulai kebal karena terlalu sering mendengar tetapi jarang menaati?
Tuhan sering memberi terang sedikit demi sedikit. Jika kita setia pada terang yang kecil, Ia menambahkan terang yang lebih besar. Jika kita taat pada langkah kecil, Ia memimpin kepada langkah berikutnya. Tetapi bila kita terus mengabaikan suara-Nya, hati bisa menjadi dingin tanpa kita sadari.
Hari ini, bila Tuhan berbicara melalui firman-Nya, jangan keraskan hati. Datanglah dengan kerendahan hati. Mintalah hati yang lembut. Bahkan iman sebesar biji sesawi, bila diserahkan kepada Tuhan, dapat bertumbuh menjadi pohon yang kuat.
Doa Penutup
Tuhan yang penuh kasih, kami mengaku bahwa sering kali hati kami keras dan lambat percaya. Ampunilah kami jika kami lebih suka mengikuti keinginan sendiri daripada mendengar suara-Mu. Ampuni juga ketika kami sudah lama menjadi orang percaya tetapi kehilangan kerinduan untuk bertumbuh.
Bangkitkan kembali kasih mula-mula kami. Berikan kami hati yang lembut, peka terhadap firman-Mu, dan rindu untuk taat kepada-Mu. Tolong juga mereka yang hari ini masih sulit percaya. Jamahlah hati mereka dengan kasih dan anugerah-Mu.
Biarlah terang-Mu bersinar dan membuka mata rohani banyak orang. Tumbuhkan iman kami hari demi hari, sehingga hidup kami semakin berkelimpahan di dalam Engkau. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.