“Sebab itu janganlah kamu khawatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.”
— Matius 6:34

Setiap manusia mengenal rasa khawatir. Sejak manusia jatuh ke dalam dosa, hati manusia tidak lagi hidup dalam ketenangan sempurna di hadapan Allah. Ketika Adam dan Hawa menyadari dosa mereka, untuk pertama kalinya mereka bersembunyi karena takut. Sejak saat itu, kekhawatiran menjadi bagian dari pengalaman manusia: takut kehilangan, takut gagal, takut sakit, takut miskin, takut ditolak, bahkan takut menghadapi masa depan yang belum terjadi.
Namun Alkitab mengajarkan bahwa ada perbedaan besar antara hidup waspada dan hidup dalam kekhawatiran. Waspada adalah sikap bijaksana yang melihat kenyataan dunia yang telah rusak oleh dosa. Sedangkan kekhawatiran adalah ketakutan yang terus menguasai hati sehingga perlahan-lahan mengikis iman kepada Allah.
Orang yang waspada akan mengunci pintu rumah sebelum tidur. Ia menjaga kesehatan, bekerja dengan rajin, menyiapkan kebutuhan keluarga, dan berhati-hati dalam mengambil keputusan. Semua itu bukan dosa. Bahkan sering kali itu adalah bentuk tanggung jawab. Tetapi orang yang hidup dalam kekhawatiran tidak pernah benar-benar tenang. Pikirannya terus dipenuhi bayangan buruk tentang hari esok. Ia mencoba mengendalikan sesuatu yang sebenarnya berada di luar kuasanya. Bahkan, jika ia orang Kristen, mungkin ia makin khawatir karena tahu bahwa rasa khawatir adalah bertentangan dengan iman!
Kekhawatiran memang dapat membunuh manusia secara perlahan-lahan. Tubuh yang terus hidup dalam ketegangan dapat menjadi lelah dan sakit. Tidur terganggu, pikiran kacau, emosi mudah goyah. Tetapi lebih dalam dari itu, kekhawatiran juga dapat membunuh kehidupan rohani. Hati yang dipenuhi kecemasan perlahan kehilangan kemampuan untuk bersandar kepada Tuhan. Doa menjadi hambar. Sukacita memudar. Iman berubah menjadi kegelisahan yang tidak berujung.
Itulah sebabnya Tuhan Yesus berkata:
“Siapakah di antara kamu yang karena kekhawatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?”
— Matius 6:27
Pertanyaan Yesus sangat sederhana tetapi menusuk hati. Kekhawatiran tidak memberi tambahan apa pun kepada hidup kita. Ia tidak memperpanjang umur, tidak memberi damai, dan tidak mengubah masa depan. Sebaliknya, kekhawatiran sering merampas kekuatan untuk menjalani hari ini.
Menariknya, Yesus tidak berkata bahwa hidup akan bebas dari kesusahan. Ia justru berkata bahwa setiap hari mempunyai kesusahannya sendiri. Dunia ini memang penuh pergumulan. Orang percaya pun tetap menghadapi sakit penyakit, tekanan ekonomi, konflik keluarga, dan berbagai ketidakpastian hidup. Tetapi Yesus melarang kita memikul beban hari esok sebelum waktunya tiba.
Kekhawatiran selalu membuat kita hidup di masa depan yang belum tentu terjadi. Kita menderita dua kali: pertama dalam pikiran hari ini, dan mungkin nanti dalam kenyataan. Bahkan sering kali hal yang ditakutkan tidak pernah benar-benar terjadi.
Sebaliknya, iman mengajar kita untuk hidup hari demi hari bersama Tuhan. Orang percaya tetap boleh berhati-hati, tetapi tidak hidup dalam kepanikan. Ia menyadari bahwa dirinya terbatas, tetapi Allah tidak terbatas. Ia tahu bahwa masa depan tidak berada di tangannya, tetapi berada di tangan Bapa yang setia.
Burung-burung di udara tidak menanam dan tidak menuai, tetapi tetap dipelihara Allah. Bunga bakung di ladang tidak bekerja keras untuk mempercantik dirinya, tetapi Tuhan mendandani mereka dengan keindahan. Apalagi anak-anak-Nya yang telah ditebus dengan darah Kristus.
Di tengah dunia yang penuh ketidakpastian, damai sejahtera sejati bukan datang karena semua masalah hilang, melainkan karena kita tahu siapa yang memegang hidup kita. Waspada membuat kita berjalan bijaksana. Tetapi iman menjaga agar hati kita tidak diperbudak oleh kekhawatiran.
Kekhawatiran menjauhkan kita dari Tuhan, tetapi kewaspadaan membuat kita semakin bergantung kepada Tuhan.
Hari esok memang belum kita ketahui. Tetapi Tuhan yang memegang hari esok sudah kita kenal.
Doa Penutup
Tuhan, kami mengaku bahwa hati kami sering dipenuhi kekhawatiran. Kami takut akan masa depan, takut kehilangan, dan takut menghadapi hal-hal yang belum terjadi. Ampunilah kami ketika kekhawatiran lebih besar daripada iman kami kepada-Mu.
Ajarlah kami untuk hidup dengan bijaksana dan waspada, tetapi tidak diperbudak oleh kecemasan. Ingatkan kami bahwa Engkau adalah Bapa yang memelihara hidup kami hari demi hari. Ketika hati kami gelisah, mampukan kami untuk kembali percaya bahwa tangan-Mu tidak pernah melepaskan kami.
Berikan damai sejahtera-Mu yang melampaui segala akal, supaya kami dapat menjalani hari ini dengan tenang bersama-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.