Mengapa Lelah Hai Jiwaku?

“Cukuplah itu! Sekarang, ya Tuhan, ambillah nyawaku.”
(1 Raja-raja 19:4)

Ketika mendengar kata gangguan jiwa atau masalah mental, sebagian orang Kristen masih merasa tidak nyaman. Ada yang menganggap depresi, kecemasan, kemarahan atau kelelahan mental sebagai tanda kurang beriman. Ada pula yang berpikir bahwa jika seseorang sungguh-sungguh dekat dengan Tuhan, ia tidak mungkin mengalami pergumulan emosional yang berat.

Akibatnya, banyak orang Kristen lebih mudah mencari dokter ketika mengalami sakit kepala, tekanan darah tinggi, atau penyakit jantung daripada ketika mengalami depresi, kecemasan, kemurungan atau kelelahan mental yang berkepanjangan. Mereka takut dicap lemah secara rohani. Mereka khawatir dianggap kurang berdoa atau kurang percaya kepada Tuhan.

Namun Alkitab memberikan gambaran yang jauh lebih realistis tentang kondisi manusia.

Salah satu contohnya adalah nabi Elia. Ia adalah seorang hamba Tuhan yang luar biasa. Melalui pelayanannya, Tuhan menunjukkan kuasa-Nya di Gunung Karmel dan mempermalukan para nabi Baal. Secara rohani, Elia baru saja mengalami kemenangan besar. Namun tidak lama kemudian, setelah mendengar ancaman dari Izebel, ia melarikan diri ke padang gurun.

Di sana ia duduk di bawah sebuah pohon arar dan berkata, “Cukuplah itu! Sekarang, ya Tuhan, ambillah nyawaku.”

Kata-kata itu bukanlah ungkapan kemenangan iman. Itu adalah jeritan seseorang yang sangat lelah, takut, putus asa, dan kehilangan harapan. Jika kita membaca kisah itu dengan jujur, kita melihat seorang manusia yang sedang mengalami tekanan mental dan emosional yang sangat berat.

Menariknya, Tuhan tidak datang untuk memarahi Elia.

Tuhan tidak berkata, “Mengapa imanmu begitu kecil?” atau “Mengapa engkau tidak cukup berdoa?”

Sebaliknya, Tuhan terlebih dahulu memperhatikan kebutuhan fisiknya. Elia diberi kesempatan untuk tidur. Ia diberi makanan dan minuman. Ia dipulihkan secara bertahap sebelum akhirnya menerima penguatan rohani dari Tuhan.

Kisah ini mengingatkan kita bahwa manusia bukan hanya makhluk rohani. Kita juga memiliki tubuh, emosi, pikiran, dan keseimbangan kimia dan sistem saraf yang dapat mengalami gangguan. Ketika salah satu bagian terganggu, bagian yang lain sering ikut terpengaruh.

Banyak penelitian modern menunjukkan bahwa depresi, kecemasan, stres berkepanjangan, dan kelelahan mental dapat memengaruhi kesehatan jasmani. Tekanan darah dapat meningkat. Pola tidur terganggu. Nafsu makan berubah. Daya tahan tubuh melemah. Tubuh dan jiwa saling berkaitan.

Karena itu, tidak bijaksana jika setiap masalah kejiwaan langsung dikaitkan dengan dosa, hukuman Tuhan, atau kurangnya iman.

Memang ada kalanya dosa membawa beban batin yang berat. Namun tidak semua pergumulan mental berakar pada dosa pribadi. Elia bukan sedang dihukum Tuhan. Ia adalah seorang nabi yang setia. Namun ia tetap mengalami kelelahan yang mendalam.

Demikian pula Ayub. Ia adalah orang yang saleh, tetapi mengalami penderitaan emosional yang luar biasa. Bahkan pemazmur berkali-kali mengungkapkan pergumulan batin yang begitu dalam sehingga ia bertanya, “Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku?”

Karena itu, orang Kristen tidak perlu merasa malu untuk mencari pertolongan ketika mengalami gangguan mental atau emosional. Tuhan dapat bekerja melalui doa, pembacaan Firman, persekutuan gereja, sahabat yang peduli, konselor Kristen, psikolog, maupun psikiater. Menggunakan bantuan medis bukan berarti kurang percaya kepada Tuhan. Sama seperti kita bersyukur atas dokter yang mengobati penyakit jasmani, kita juga dapat bersyukur atas tenaga kesehatan yang membantu memulihkan kesehatan jiwa.

Iman Kristen tidak mengajarkan bahwa orang percaya harus menanggung semua beban sendirian. Justru Tuhan sering menolong kita melalui sarana-sarana yang telah Ia sediakan.

Jika hari ini jiwa kita terasa lelah, marilah datang kepada Tuhan dengan jujur. Kita tidak perlu berpura-pura kuat atau merasa bahwa tidak ada obat yang tersedia di dunia. Kita dapat mengakui kelemahan kita di hadapan-Nya dan menerima pertolongan yang Ia berikan, baik secara rohani maupun melalui bantuan yang tersedia.

Sebab Tuhan yang memelihara tubuh kita juga peduli terhadap jiwa kita.

Doa Penutup

Tuhan yang penuh kasih, Engkau mengenal setiap pergumulan dalam hati kami. Ketika jiwa kami lelah, kuatkanlah kami. Berikan hikmat untuk mencari pertolongan yang kami perlukan dan kerendahan hati untuk menerimanya. Pulihkan tubuh, pikiran, dan jiwa kami sehingga kami dapat kembali berharap kepada-Mu. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.

Tinggalkan komentar