Siapakah aku?

“Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah. Karena itu dunia tidak mengenal kita, sebab dunia tidak mengenal Dia.”
— 1 Yohanes 3:1

Salah satu pertanyaan paling mendasar dalam kehidupan manusia adalah: Siapakah aku? Pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya sangat dalam. Banyak orang menghabiskan sebagian besar hidup mereka untuk mencari jawabannya.

Sebagian orang mendefinisikan dirinya melalui pekerjaan. Mereka berkata, “Saya seorang dokter,” “Saya seorang guru,” atau “Saya seorang pengusaha.” Yang lain mendefinisikan dirinya melalui peran dalam keluarga: suami, istri, ayah, ibu, atau kakek dan nenek. Ada pula yang mengukur identitasnya melalui pencapaian, kekayaan, pendidikan, atau status sosial.

Namun masalahnya, semua hal itu dapat berubah. Pekerjaan dapat hilang. Kesehatan dapat menurun. Anak-anak dapat bertumbuh dan hidup mandiri. Masa pensiun tiba. Ketika semua penopang identitas itu bergeser, tidak sedikit orang yang mulai bertanya lagi, Siapakah aku sebenarnya?

Tidak mengherankan jika banyak orang juga merasa tidak dimengerti oleh orang lain. Mereka mengeluh bahwa pasangan hidup, keluarga, sahabat, atau rekan kerja tidak memahami mereka. Tetapi jika kita jujur, sering kali kita sendiri pun belum sepenuhnya memahami diri kita. Kita bertanya-tanya mengapa hidup berjalan seperti sekarang, mengapa pergumulan tertentu terus muncul, dan apa yang akan terjadi pada masa depan kita.

Di tengah kebingungan manusia itu, rasul Yohanes memberikan jawaban yang sederhana sekaligus luar biasa. Ia tidak memulai dengan membahas bakat, prestasi, atau latar belakang seseorang. Ia langsung menunjuk kepada kasih Allah.

“Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita.”

Kata “lihatlah” di sini mengandung nada kekaguman. Yohanes seolah berkata, “Perhatikan baik-baik! Jangan lewatkan keajaiban ini!” Apa keajaiban itu? Bahwa Allah yang kudus dan sempurna mengasihi orang berdosa sedemikian rupa sehingga mereka diangkat menjadi anak-anak-Nya.

Lebih menakjubkan lagi, Yohanes menambahkan, “dan memang kita adalah anak-anak Allah.” Kita bukan sekadar diberi gelar kehormatan. Kita bukan hanya disebut anak-anak Allah sebagai kiasan atau simbol. Melalui iman kepada Yesus Kristus, kita benar-benar menjadi anggota keluarga Allah.

Inilah identitas yang paling mendasar bagi orang percaya. Sebelum kita menjadi apa pun di dunia ini, kita adalah anak-anak Allah. Sebelum kita dikenal oleh masyarakat, kita telah dikenal oleh Bapa surgawi. Sebelum kita mencapai sesuatu, kita telah dikasihi oleh-Nya.

Kesadaran ini membawa ketenangan yang besar. Dunia sering menilai manusia berdasarkan keberhasilan, penampilan, atau pencapaiannya. Ketika semua itu hilang, dunia menganggap seseorang kehilangan nilainya. Tetapi Allah tidak mengasihi kita karena prestasi kita. Ia mengasihi kita karena anugerah-Nya.

Yohanes juga menjelaskan mengapa orang percaya kadang merasa tidak sepenuhnya dimengerti oleh dunia. “Dunia tidak mengenal kita, sebab dunia tidak mengenal Dia.” Dunia yang tidak mengenal Kristus tidak akan sepenuhnya memahami cara berpikir, pengharapan, dan nilai-nilai yang dimiliki oleh pengikut Kristus.

Namun itu tidak perlu membuat kita gelisah. Yang terpenting bukanlah apakah dunia mengenal kita, melainkan apakah kita mengenal Kristus dan dikenal oleh-Nya.

Dalam ayat-ayat berikutnya, Yohanes mengingatkan bahwa perjalanan kita belum selesai. Saat ini kita adalah anak-anak Allah, tetapi kemuliaan penuh dari status itu belum terlihat. Suatu hari nanti, ketika Kristus datang kembali, kita akan melihat Dia muka dengan muka dan menjadi serupa dengan-Nya. Masa depan orang percaya bukanlah ketidakpastian, melainkan pengharapan yang pasti.

Karena itu, ketika pertanyaan “Siapakah aku?” muncul dalam hati kita, jawabannya tidak perlu dicari di dalam dunia yang terus berubah. Jawabannya ditemukan di dalam kasih Allah yang tidak berubah.

Mungkin salah satu kalimat yang dapat menjadi inti renungan ini adalah:

“Pertanyaan terpenting bukanlah apakah dunia mengenal saya, melainkan apakah saya mengenal Kristus dan menjadi anak Allah melalui iman kepada-Nya.”

Ketika seseorang memahami kebenaran ini, banyak kegelisahan tentang harga diri, penerimaan, dan masa depan mulai menemukan jawabannya. Kita mungkin tidak mengetahui seluruh rencana Tuhan bagi hidup kita, tetapi kita mengetahui siapa kita di hadapan-Nya: anak-anak yang dikasihi oleh Bapa.

Kita adalah orang-orang yang telah ditebus oleh Kristus. Kita adalah anak-anak Allah. Kita dikenal oleh Bapa. Kita dikasihi oleh-Nya. Dan kita sedang berjalan menuju hari ketika kita akan melihat Juruselamat kita muka dengan muka.

Itulah identitas yang tidak dapat dicabut oleh siapa pun.

Doa Penutup

Bapa di surga, terima kasih atas kasih-Mu yang begitu besar sehingga kami boleh disebut dan sungguh-sungguh menjadi anak-anak-Mu. Tolong kami untuk menemukan identitas kami di dalam Kristus, bukan pada keberhasilan atau penilaian dunia. Teguhkan hati kami untuk hidup sebagai anak-anak-Mu sampai hari kami melihat Engkau muka dengan muka. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.

Tinggalkan komentar