“Kita, yang kuat, wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat dan jangan kita mencari kesenangan kita sendiri.”
— Roma 15:1

Dalam perjalanan hidup, kita sering menyaksikan kenyataan yang menyedihkan: yang kuat menindas yang lemah. Dalam keluarga, tempat kerja, masyarakat, bahkan dalam hubungan antarbangsa, kekuatan sering disalahgunakan untuk keuntungan diri sendiri. Sejarah manusia penuh dengan kisah seperti ini.
Alkitab pun mencatat berbagai contoh yang serupa. Kain membunuh Habel karena iri hati. Saudara-saudara Yusuf menjualnya sebagai budak karena dengki. Bangsa-bangsa yang kuat menaklukkan bangsa yang lemah. Bahkan dalam sejarah gereja, tidak sedikit orang yang mengaku percaya kepada Kristus tetapi memperlakukan sesama dengan kasar. Mengapa hal ini terus terjadi?
Jawabannya terletak pada kenyataan bahwa hati manusia telah dirusak oleh dosa. Setelah kejatuhan manusia ke dalam dosa, kecenderungan manusia bukan lagi mengasihi sesama, melainkan mengutamakan diri sendiri. Ketika seseorang memiliki kekuatan—baik berupa kekayaan, jabatan, kecerdasan, pengetahuan, atau pengaruh—ia mudah tergoda untuk menggunakan semua itu demi kepentingannya sendiri.
Firman Tuhan tidak mengatakan bahwa menjadi kuat adalah sesuatu yang salah. Kekuatan adalah anugerah Allah. Ada orang yang lebih kuat secara fisik, lebih berhasil secara ekonomi, lebih matang dalam iman, lebih tinggi dalam posisi, atau lebih berpengalaman dalam kehidupan. Semua itu adalah pemberian Tuhan yang harus dipertanggungjawabkan.
Masalahnya bukan terletak pada kekuatan itu sendiri, melainkan pada bagaimana kekuatan itu digunakan.
Karena itu Paulus menulis, “Kita, yang kuat, wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat.” Perhatikan kata “wajib.” Ini bukan sekadar anjuran yang boleh dilakukan atau tidak. Ini adalah keharusan bagi setiap orang percaya. Mereka yang kuat dipanggil untuk menolong yang lemah, bukan memanfaatkan kelemahan mereka. Prinsip hukum kasih ini bertolak belakang dengan cara dunia berpikir.
Dunia mengajarkan bahwa orang kuat berhak mendapatkan lebih banyak, lebih dihormati, dan lebih dilayani. Tetapi Kerajaan Allah mengajarkan bahwa semakin besar kekuatan yang kita miliki, semakin besar pula tanggung jawab kita untuk melayani.
Yesus sendiri adalah teladan yang sempurna. Tidak ada pribadi yang lebih berkuasa daripada Dia. Ia adalah Anak Allah yang berkuasa atas alam semesta. Namun selama hidup-Nya di dunia, Ia tidak menggunakan kuasa-Nya untuk meninggikan diri. Ia menyentuh orang kusta yang dijauhi masyarakat. Ia menerima orang berdosa yang ditolak banyak orang. Ia menghibur mereka yang terluka dan memberi pengharapan kepada yang sakit dan putus asa.
Puncaknya terjadi di kayu salib. Di sana Kristus menunjukkan bahwa kekuatan sejati bukanlah kemampuan untuk mengalahkan, melainkan kerelaan untuk berkorban demi menyelamatkan orang lain. Ia yang paling kuat justru rela menderita bagi mereka yang lebih lemah.
Karena itu, sebagai pengikut Kristus, kita perlu bertanya kepada diri sendiri: kekuatan dan posisi apa yang Tuhan percayakan kepada saya? Mungkin kita memiliki kesehatan yang baik sementara orang lain sedang sakit. Mungkin kita memiliki pengetahuan yang dapat membantu orang lain. Mungkin kita memiliki waktu, pengalaman, sumber daya, atau kedewasaan rohani yang lebih daripada sebagian orang di sekitar kita.
Semua itu bukanlah alasan untuk merasa lebih unggul. Sebaliknya, itu adalah kesempatan untuk melayani.
Seorang suami yang kuat dipanggil untuk mengasihi dan melindungi keluarganya. Orang tua dipanggil untuk membimbing anak-anaknya dengan kasih. Pemimpin gereja dipanggil untuk melayani, bukan dilayani. Orang yang dewasa dalam iman dipanggil untuk menolong mereka yang masih bertumbuh. Orang Kristen yang diberkati secara materi dipanggil untuk menjadi berkat bagi sesamanya.
Ketika orang percaya menggunakan kekuatan mereka untuk mengangkat yang lemah, dunia dapat melihat gambaran kasih Kristus. Tetapi ketika kekuatan dipakai untuk menindas atau mencari keuntungan pribadi, kesaksian Injil menjadi kabur.
Kiranya setiap kita diingatkan bahwa dalam Kerajaan Allah, kekuatan bukanlah hak istimewa untuk menguasai orang lain, melainkan kesempatan untuk melayani mereka. Semakin besar anugerah yang Tuhan percayakan kepada kita, semakin besar pula panggilan kita untuk menjadi saluran kasih-Nya bagi sesama.
Roma 15:1 mengingatkan kita bahwa ukuran kekuatan dalam pandangan Allah berbeda dengan ukuran dunia. Dunia mengagumi mereka yang mampu mengalahkan orang lain, tetapi Kristus menunjukkan bahwa kekuatan yang sejati terlihat dalam kerelaan menanggung beban orang lain.
Kiranya setiap berkat, kemampuan, pengalaman, posisi, dan kedewasaan yang Tuhan percayakan kepada kita tidak membuat kita merasa lebih tinggi dari sesama, melainkan semakin mendorong kita untuk melayani mereka dengan kasih dan kerendahan hati.
“Sebab Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” — Markus 10:45
Doa Penutup
Bapa di surga, terima kasih atas setiap kekuatan dan berkat yang Engkau percayakan kepada kami. Ampunilah kami jika sering menggunakan semuanya untuk kepentingan diri sendiri. Ajarlah kami meneladani Kristus yang memakai kuasa-Nya untuk melayani dan menyelamatkan. Pakailah hidup kami untuk menguatkan yang lemah, menghibur yang terluka, dan menjadi berkat bagi sesama. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.