Tidak Ada Kasih tanpa Empati

“Dan TUHAN Allah membuat pakaian dari kulit binatang untuk manusia dan untuk isterinya itu, lalu mengenakannya kepada mereka.”
— Kejadian 3:21

Sering kali kita mendengar orang berkata tentang mereka yang sedang mengalami kesulitan, “Itu karena kesalahan mereka sendiri.” Barangkali dalam beberapa keadaan pernyataan itu mengandung unsur kebenaran. Itu mungkin sesuai dengan konsep tabur dan tuai. Namun, apakah cara orang Kristen yang terbaik untuk menanggapi seseorang yang sedang jatuh, gagal, atau menderita?

Alkitab memperlihatkan kepada kita sebuah teladan yang berbeda. Ketika Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa, Allah menghadapi mereka dengan kebenaran, tetapi juga dengan kasih dan empati.

Kejatuhan manusia di Taman Eden adalah pemberontakan yang serius terhadap Allah. Adam dan Hawa telah melanggar perintah yang jelas. Mereka tidak dapat menyalahkan siapa pun selain diri mereka sendiri. Namun, setelah mereka berdosa, Allah tidak meninggalkan mereka begitu saja.

Allah datang mencari mereka dan bertanya, “Di manakah engkau?” Pertanyaan itu bukan karena Allah tidak mengetahui lokasi mereka. Allah Mahatahu. Pertanyaan itu merupakan panggilan kasih agar mereka keluar dari persembunyian dan berhadapan dengan keadaan mereka yang sebenarnya.

Ketika Adam mengakui bahwa ia bersembunyi karena takut dan malu, Allah tidak langsung membinasakannya. Allah mendengarkan. Ia memahami bahwa dosa telah membawa ketakutan, rasa bersalah, dan kehancuran ke dalam hati manusia.

Di sinilah kita melihat sesuatu yang sangat indah tentang karakter Allah. Ia tidak hanya mengetahui kesalahan manusia; Ia juga memahami penderitaan yang ditimbulkan oleh kesalahan itu. Inilah yang kita sebut empati.

Empati bukan berarti membenarkan dosa. Empati adalah kesediaan untuk memahami pergumulan dan penderitaan orang lain, bahkan ketika mereka memang bertanggung jawab atas keadaan yang mereka alami. Empati adalah kesadaran bahwa orang lain perlu ditolong. Tanpa empati, kasih agape hanya semboyan tanpa pelaksanaan.

Kasih Allah terlihat dengan sangat jelas ketika Ia membuat pakaian dari kulit binatang untuk Adam dan Hawa yang telah jatuh dalam dosa. Sebelumnya mereka telah mencoba menutupi ketelanjangan mereka dengan daun ara. Usaha mereka tidak memadai. Karena itu Allah sendiri menyediakan penutup bagi mereka.

Tindakan sederhana ini mengandung makna yang sangat dalam. Allah tidak berkata, “Kalian sudah membuat masalah ini sendiri, sekarang selesaikan sendiri.” Sebaliknya, Ia datang untuk memenuhi kebutuhan mereka. Ia merawat mereka bahkan ketika mereka telah mengecewakan-Nya.

Namun kasih Allah tidak menghapus keadilan-Nya. Adam dan Hawa tetap harus menerima konsekuensi dari dosa mereka. Mereka diusir dari Taman Eden. Penderitaan, kerja keras, dan kematian menjadi bagian dari pengalaman manusia. Allah tidak mengabaikan kebenaran demi belas kasihan.

Di sinilah kita belajar bahwa kasih sejati dan empati sejati tidak pernah bertentangan dengan kebenaran. Allah menunjukkan ketiganya sekaligus: kekudusan, keadilan, dan belas kasihan.

Lebih dari itu, di tengah penghakiman Allah memberikan harapan. Dalam Kejadian 3:15, Allah menjanjikan bahwa keturunan perempuan akan meremukkan kepala ular. Janji itu menunjuk kepada Yesus Kristus yang kelak datang untuk menyelamatkan manusia dari kuasa dosa.

Di salib, kasih dan empati Allah mencapai puncaknya. Allah tidak hanya melihat penderitaan manusia dari jauh. Dalam diri Yesus Kristus, Ia masuk ke dalam dunia yang rusak ini. Ia mengalami penolakan, kesedihan, pencobaan, penderitaan, bahkan kematian. Ia memahami kelemahan kita bukan hanya secara teoritis, tetapi melalui pengalaman nyata.

Perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati (Lukas 10:25-37) juga mengajarkan bahwa kasih sejati selalu disertai empati. Ketika seorang pria dirampok, dipukuli, dan ditinggalkan hampir mati di tepi jalan, seorang imam dan seorang Lewi melihatnya, tetapi mereka memilih untuk lewat di seberang jalan. Mereka mungkin mengetahui penderitaan orang itu, tetapi pengetahuan saja tidak cukup untuk menghasilkan kasih. Sebaliknya, seorang Samaria yang dianggap rendah oleh masyarakat Yahudi justru berhenti, menghampiri korban itu, membalut luka-lukanya, menaikkannya ke atas keledainya, membawanya ke penginapan, dan membayar biaya perawatannya. Ia tidak hanya melihat penderitaan; ia merasakan belas kasihan dan bertindak.

Melalui perumpamaan ini, Tuhan Yesus menunjukkan bahwa sesama bukanlah orang yang pantas kita kasihi, melainkan orang yang membutuhkan kasih kita. Orang Samaria itu tidak bertanya siapa yang salah atau mengapa korban itu berada di jalan yang berbahaya. Ia tidak berkata, “Salahmu sendiri.” Ia memilih untuk menolong. Sikapnya mencerminkan hati Allah sendiri. Sebagaimana Allah mendatangi Adam dan Hawa dalam kegagalan mereka, demikian pula orang Samaria itu mendatangi orang yang terluka dalam penderitaannya. Kasih yang sejati tidak berdiri jauh sambil menghakimi, tetapi mendekat dengan empati dan mengulurkan pertolongan.

Karena itu, sebagai pengikut Kristus, kita dipanggil untuk meneladani sikap Allah. Ketika melihat orang lain jatuh, janganlah kita terburu-buru menghakimi. Ketika melihat orang lain menderita, janganlah kita segera berkata, “Itu akibat pilihanmu sendiri.”

Mungkin memang ada kesalahan yang telah dilakukan. Namun kasih yang sejati akan berusaha memahami sebelum menghakimi, mendengar sebelum menuduh, dan menolong sebelum menyalahkan.

Empati tanpa kasih mungkin hanya berhenti pada perasaan. Tetapi kasih tanpa empati tidak mungkin ada. Allah telah menunjukkan kepada kita kasih yang berempati. Kiranya kita pun belajar mengasihi sesama dengan cara yang sama.

Doa Penutup

Bapa yang penuh kasih, terima kasih karena Engkau tidak meninggalkan kami dalam dosa dan kegagalan kami. Ajarlah kami untuk memiliki hati yang penuh empati, sebagaimana Engkau telah menunjukkan kasih dan belas kasihan kepada kami. Tolong kami agar dapat mengasihi sesama dengan kebenaran, kelembutan, dan pengharapan yang berasal dari-Mu. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.

Tinggalkan komentar