“Sebab pada awal dunia, Allah menjadikan mereka laki-laki dan perempuan, sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu.”
— Markus 10:6–8

Di zaman sekarang, banyak orang memandang pernikahan sebagai sebuah hubungan yang dibangun di atas perasaan. Selama cinta masih terasa, hubungan dipertahankan. Ketika perasaan itu memudar, komitmen pun mulai dipertanyakan. Tidak sedikit pula pasangan yang, setelah memiliki anak, tanpa sadar menjadikan seluruh hidup mereka berpusat pada anak-anak. Ada juga yang setelah menikah masih sulit melepaskan ketergantungan emosional kepada orang tua, sehingga keputusan-keputusan penting dalam rumah tangga lebih dipengaruhi keluarga besar daripada pasangan sendiri.
Namun, ketika Yesus berbicara tentang pernikahan, Ia tidak memulai dari perasaan, melainkan dari rancangan Allah sejak penciptaan. “Seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya.” Kata “meninggalkan” bukan berarti memutus hubungan dengan orang tua atau berhenti menghormati mereka. Sebaliknya, Alkitab tetap memerintahkan kita menghormati ayah dan ibu. Yang berubah adalah prioritas. Setelah menikah, suami dan istri membentuk keluarga baru dengan kesetiaan utama kepada satu sama lain di bawah otoritas Tuhan.
Banyak pernikahan yang terasa hambar ketika anak-anak sudah meninggalkan rumah. Rumah terasa sepi, seperti sarang burung kosong yang hanya dihuni oleh dua makhluk. Tetapi, pernikahan yang sehat bukanlah ketika anak-anak menjadi pusat keluarga, melainkan ketika Kristus menjadi pusatnya, suami dan istri hidup sebagai satu daging, dan dari kesatuan itulah mengalir kasih yang memberkati anak-anak, cucu-cucu, dan generasi berikutnya.
Inilah makna yang sering terlupakan. Pernikahan bukan sekadar tinggal serumah atau membesarkan anak bersama. Pernikahan adalah perjanjian di mana dua orang menjadi “satu daging”. Mereka belajar berpikir sebagai satu tim, memikul beban bersama, mengambil keputusan bersama, saling mengampuni, dan bertumbuh bersama dalam iman. Allah memanggil mereka untuk berjalan searah, bukan saling menarik ke arah yang berbeda.
Anak-anak adalah anugerah Tuhan yang sangat berharga. Mereka patut dikasihi, dididik, dan dipelihara dengan penuh pengorbanan. Namun Alkitab tidak pernah mengajarkan bahwa anak menjadi pusat keluarga. Suatu hari mereka akan bertumbuh, membangun rumah tangga mereka sendiri, dan “meninggalkan ayahnya dan ibunya”, sebagaimana firman Tuhan. Jika selama puluhan tahun suami dan istri hanya hidup untuk anak-anak, mereka mungkin akan merasa kehilangan arah ketika rumah kembali sepi.
Sebaliknya, ketika hubungan suami dan istri tetap dipelihara dengan baik, anak-anak justru menikmati berkatnya. Mereka melihat teladan kasih, kesetiaan, kerendahan hati, dan pengampunan setiap hari. Salah satu hadiah terbesar yang dapat diberikan orang tua kepada anak-anak mereka adalah memperlihatkan bahwa mereka tetap saling mengasihi dan saling menghormati.
Pernikahan juga merupakan tempat di mana karakter dibentuk. Tidak ada hubungan lain yang begitu dekat sehingga mampu memperlihatkan kelemahan, keegoisan, dan dosa kita seperti hubungan suami istri. Justru di sanalah Tuhan bekerja. Ia memakai pasangan kita untuk mengajar kita tentang kesabaran, kerendahan hati, pengampunan, dan kasih yang rela berkorban. Dengan demikian, tujuan pernikahan bukan hanya agar kita bahagia, tetapi juga agar kita semakin serupa dengan Kristus.
Di atas semuanya, Kristus harus tetap menjadi pusat pernikahan. Ketika suami dan istri sama-sama mengarahkan hidup kepada Tuhan, mereka akan semakin dekat satu sama lain. Sebaliknya, jika masing-masing berjalan menjauh dari Tuhan, mereka juga akan semakin menjauh satu sama lain. Pernikahan yang kokoh tidak dibangun terutama oleh kecocokan watak atau romantisme, melainkan oleh dua orang yang sama-sama belajar taat kepada Kristus setiap hari.
Karena itu, marilah kita memandang pernikahan sebagaimana Allah memandangnya: sebuah perjanjian kudus yang mengutamakan Tuhan, memelihara kesatuan suami istri, dan menjadi tempat bertumbuhnya kasih yang memuliakan-Nya. Di dalam rancangan seperti inilah keluarga menemukan sukacita yang sejati dan menjadi berkat bagi generasi berikutnya.
Doa Penutup
Bapa di surga, terima kasih atas anugerah pernikahan yang Engkau rancangkan dengan begitu indah. Tolong setiap suami dan istri untuk menempatkan Engkau sebagai pusat hidup mereka dan saling mengasihi dengan kasih yang berasal dari-Mu. Ajarlah kami memelihara kesatuan, mengampuni dengan tulus, dan menghormati pasangan kami sebagai teman seperjalanan yang Engkau berikan. Kiranya rumah tangga kami menjadi tempat bertumbuhnya iman, damai sejahtera, dan kasih yang memuliakan nama-Mu. Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.