“Jadi, kalau untuk menunjukkan murka-Nya dan menyatakan kuasa-Nya, Allah menaruh kesabaran yang besar terhadap benda-benda kemurkaan-Nya, yang telah disiapkan untuk kebinasaan – justru untuk menyatakan kekayaan kemuliaan-Nya atas benda-benda belas kasihan-Nya yang telah dipersiapkan-Nya untuk kemuliaan, yaitu kita, yang telah dipanggil-Nya bukan hanya dari antara orang Yahudi, tetapi juga dari antara bangsa-bangsa lain.”
Roma 9:22–24

Salah satu pertanyaan yang paling sering muncul dalam hati orang percaya adalah, “Mengapa Tuhan membiarkan orang jahat?” Kita melihat orang yang menipu justru semakin kaya, penguasa yang korup tetap berkuasa, pelaku kejahatan tampaknya lolos dari hukuman, sementara orang yang hidup jujur sering mengalami penderitaan. Bukankah Allah Mahakuasa? Mengapa Ia tidak segera bertindak?
Pergumulan seperti ini bukanlah hal baru. Asaf pernah hampir kehilangan imannya ketika melihat kemakmuran orang fasik (Mazmur 73). Nabi Habakuk juga bertanya mengapa Allah seolah-olah membiarkan kejahatan merajalela. Melalui Roma 9, Rasul Paulus mengajak kita melihat persoalan ini dari sudut pandang yang jauh lebih tinggi, yaitu dari perspektif kedaulatan Allah.
Paulus berkata bahwa Allah “menaruh kesabaran yang besar terhadap benda-benda kemurkaan-Nya.” Kesabaran Allah bukanlah tanda bahwa Ia mengabaikan dosa atau kehilangan kendali atas dunia. Sebaliknya, kesabaran itu merupakan bagian dari rencana-Nya yang sempurna untuk menyatakan baik keadilan maupun belas kasihan-Nya.
Kita harus memahami bagian ini sebagai pengajaran bahwa Allah memerintah secara mutlak atas seluruh sejarah. Tidak ada satu peristiwa pun yang terjadi di luar kedaulatan-Nya. Namun, ini tidak berarti Allah adalah penyebab dosa. Manusia tetap berdosa karena keinginannya sendiri dan bertanggung jawab penuh atas setiap perbuatannya. Allah begitu berdaulat sehingga bahkan pemberontakan manusia tidak dapat menggagalkan rencana-Nya, melainkan justru dipakai-Nya untuk menggenapkan maksud-Nya yang kudus.
Kita melihat prinsip ini dalam kehidupan Firaun. Ia berulang kali mengeraskan hatinya terhadap perintah Allah. Alkitab juga menyatakan bahwa Allah mengeraskan hati Firaun. Kedua pernyataan itu bukan bertentangan, melainkan berjalan berdampingan. Firaun bertindak sesuai dengan keinginannya sendiri dan tetap bertanggung jawab atas dosanya, sementara Allah memakai pemberontakan itu untuk menyatakan kuasa dan kemuliaan-Nya kepada bangsa-bangsa.
Peristiwa penyaliban Yesus Kristus bahkan lebih jelas lagi. Tidak pernah ada kejahatan yang lebih besar daripada membunuh Anak Allah yang tidak berdosa. Namun justru melalui kejahatan manusia itulah Allah menggenapkan rencana keselamatan-Nya bagi dunia. Apa yang dimaksudkan manusia untuk kejahatan dipakai Allah untuk mendatangkan keselamatan bagi umat pilihan-Nya.
Lalu, mengapa Allah masih bersabar terhadap orang jahat? Sebagian dipanggil Allah keluar dari kegelapan menuju terang semata-mata karena belas kasihan-Nya. Dahulu Saulus adalah penganiaya jemaat, tetapi Allah mengubahnya menjadi Rasul Paulus. Itu bukan karena Saulus lebih layak daripada orang lain, melainkan semata-mata karena anugerah Allah.
Sebagian lagi Allah biarkan tetap dalam pemberontakan yang mereka pilih sendiri, sehingga pada akhirnya mereka menerima hukuman yang adil atas dosa-dosa mereka. Allah tidak perlu menciptakan kejahatan dalam hati manusia. Semua manusia telah jatuh ke dalam dosa. Ketika Allah menyelamatkan seseorang, itu adalah anugerah yang tidak layak diterima. Ketika Allah menghukum orang berdosa, itu adalah keadilan yang sempurna. Dengan demikian, keselamatan menyatakan belas kasihan Allah, sedangkan penghukuman menyatakan keadilan-Nya.
Kebenaran ini seharusnya memenuhi hati kita dengan kerendahan hati, bukan kesombongan. Jika hari ini kita percaya kepada Kristus, itu bukan karena kita lebih bijaksana atau lebih baik daripada orang lain. Kita percaya karena Allah telah lebih dahulu berbelaskasihan kepada kita. Tidak ada seorang pun yang dapat memegahkan diri di hadapan-Nya.
Di sisi lain, pengertian ini juga memberikan penghiburan yang besar bagi kita. Dunia mungkin tampak dikuasai oleh kejahatan, tetapi sesungguhnya tidak ada satu detik pun di luar pemerintahan Allah. Orang jahat mungkin tampak menang untuk sementara, tetapi kemenangan mereka hanya sesaat. Pada waktu yang telah ditetapkan-Nya, Kristus akan datang kembali untuk menghakimi dunia dengan keadilan yang sempurna. Tidak ada dosa yang akan luput dari penghakiman-Nya, dan tidak ada satu pun janji-Nya kepada umat-Nya yang akan gagal digenapi.
Perumpamaan Lazarus dan orang kaya mengingatkan kita bahwa Allah tidak pernah gagal menegakkan keadilan. Apa yang tampak sebagai kemenangan orang fasik hanyalah sementara. Pada akhirnya setiap orang akan berdiri di hadapan takhta Allah. Bagi mereka yang menerima belas kasihan-Nya di dalam Kristus tersedia kemuliaan kekal. Sebaliknya, mereka yang tetap menolak-Nya akan menerima hukuman yang adil. Karena itu, marilah kita hidup bukan berdasarkan apa yang tampak hari ini, melainkan berdasarkan janji Allah yang pasti.
Karena itu, ketika kita bertanya, “Mengapa Tuhan membiarkan orang jahat?”, Roma 9 mengarahkan kita kepada pertanyaan yang jauh lebih mengherankan: “Mengapa Tuhan berkenan menyelamatkan orang berdosa seperti kita?” Jawabannya hanya satu: karena kasih karunia-Nya yang berdaulat di dalam Yesus Kristus. Kesadaran itulah yang membawa kita bukan kepada perdebatan, melainkan kepada penyembahan. Bersama Paulus kita dapat berkata, “O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah!” (Roma 11:33).
Doa Penutup
Bapa di surga, kami bersyukur karena Engkau memerintah dengan hikmat, keadilan, dan kasih yang sempurna. Ketika kami melihat kejahatan seolah-olah menang, tolonglah kami tetap percaya kepada kedaulatan-Mu. Jauhkan kami dari kesombongan, sebab keselamatan kami hanyalah oleh anugerah-Mu. Mampukan kami hidup setia, rendah hati, dan penuh syukur sampai Kristus datang kembali dalam kemuliaan-Nya. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.