Takut akan Tuhan yang Membawa Hikmat

“Keangkuhan hanya menimbulkan pertengkaran, tetapi mereka yang mendengarkan nasihat mempunyai hikmat.”
— Amsal 13:10

Mengapa orang bisa bertengkar begitu hebat hanya karena perbedaan pendapat? Bukankah tidak ada manusia yang selalu benar? Namun, dalam kenyataannya, banyak perselisihan bukan terjadi karena masalahnya terlalu besar, melainkan karena tidak ada yang mau mengalah. Masing-masing ingin mempertahankan pendapatnya, membela harga dirinya, dan keluar sebagai pemenang.

Amsal 13:10 mengungkap akar persoalan itu dengan sangat sederhana: keangkuhan. Salomo bahkan berkata bahwa keangkuhan hanya menimbulkan pertengkaran. Ketika ego menjadi pusat perhatian, tujuan pembicaraan bukan lagi mencari kebenaran, melainkan memenangkan perdebatan.

Yang menarik, kesombongan tidak selalu muncul dalam bentuk rasa superior. Kadang-kadang justru lahir dari rasa rendah diri. Seseorang yang takut dianggap salah akan terus membela dirinya. Ia merasa mengakui kesalahan berarti kehilangan harga diri. Karena itu, setiap kritik dianggap sebagai serangan pribadi dan setiap perbedaan pendapat dipandang sebagai ancaman.

Sebaliknya, orang yang memiliki hati yang rendah tidak takut berkata, “Saya mungkin keliru,” atau “Saya akan mempertimbangkan pendapat itu.” Ia sadar bahwa dirinya terbatas. Tidak ada manusia yang mengetahui segala sesuatu.

Inilah sebabnya bagian kedua ayat ini berkata, “Mereka yang mendengarkan nasihat mempunyai hikmat.” Hikmat bukan hanya kemampuan memberikan jawaban yang benar, tetapi juga kerendahan hati untuk menerima koreksi. Orang yang berhikmat memiliki hati yang mau diajar.

Mengapa demikian? Karena hikmat sejati berawal dari takut akan Tuhan. Alkitab berkali-kali menegaskan bahwa “takut akan TUHAN adalah permulaan hikmat.” Takut akan Tuhan berarti mengakui bahwa Allah jauh lebih bijaksana daripada kita. Jika demikian, mengapa kita harus bersikeras seolah-olah pendapat kita selalu benar?

Orang yang takut akan Tuhan percaya bahwa Tuhan berdaulat atas seluruh hidupnya. Ia dapat memakai Firman-Nya, Roh Kudus, pengalaman hidup, bahkan orang lain untuk membentuk dirinya. Karena itu, ketika menerima nasihat, ia tidak langsung bertanya, “Siapa yang mengatakan ini?” tetapi lebih dahulu bertanya, “Apakah Tuhan sedang mengajar saya melalui hal ini?”

Alkitab memberikan banyak contoh. Tuhan memakai Samuel yang masih muda untuk berbicara kepada Eli yang sudah tua. Tuhan bahkan memakai seekor keledai untuk menegur Bileam. Semua itu menunjukkan bahwa Allah tidak pernah kekurangan alat untuk menyampaikan kehendak-Nya.

Tentu tidak semua nasihat benar. Setiap nasihat harus diuji berdasarkan Firman Tuhan. Namun, hati yang takut akan Tuhan tidak menolak nasihat hanya karena datang dari orang yang lebih muda, lebih sederhana, atau berbeda pendapat. Ia bersedia mendengar, mempertimbangkan, lalu menilai semuanya di bawah terang Firman.

Di sinilah letak perbedaan antara orang sombong dan orang berhikmat. Orang sombong merasa dirinya sudah cukup tahu sehingga sulit diajar. Orang berhikmat justru semakin sadar bahwa pengetahuannya masih terbatas. Semakin dekat seseorang kepada Tuhan, semakin ia menyadari betapa luas hikmat Allah dan betapa kecil pengertiannya sendiri.

Prinsip ini sangat menentukan kualitas setiap hubungan. Di dalam keluarga, suami, istri, orang tua, dan anak akan lebih mudah hidup dalam damai apabila masing-masing memiliki kerendahan hati untuk saling mendengarkan. Demikian pula di tempat kerja, dalam pergaulan, maupun di tengah masyarakat, banyak konflik dapat dicegah ketika orang lebih mengutamakan mencari kebenaran daripada mempertahankan gengsi. Tidak seorang pun selalu benar, dan Tuhan sering kali memakai sudut pandang orang lain untuk melengkapi pemahaman kita.

Hal yang sama berlaku di dalam gereja. Perbedaan pendapat mengenai cara melayani, pengambilan keputusan, atau hal-hal yang tidak menyangkut inti Injil tidak seharusnya menjadi ajang mempertahankan ego. Ketika setiap anggota, pelayan, maupun pemimpin gereja memiliki hati yang takut akan Tuhan, mereka akan lebih siap mendengar sebelum berbicara, lebih siap belajar daripada menghakimi, dan lebih siap mengutamakan kemuliaan Kristus daripada kemenangan pribadi. Gereja yang dipenuhi orang-orang seperti ini akan menjadi tempat di mana kasih, damai sejahtera, dan hikmat Allah nyata di tengah perbedaan.

Injil juga membebaskan kita dari kebutuhan untuk selalu membenarkan diri. Di dalam Kristus, identitas kita tidak ditentukan oleh apakah kita selalu benar, tetapi oleh kasih karunia Allah yang telah membenarkan kita. Karena itu, kita tidak perlu takut mengakui kesalahan. Mengakui kekeliruan tidak mengurangi nilai kita di hadapan Tuhan. Sebaliknya, itulah tanda bahwa Roh Kudus sedang membentuk kita menjadi semakin serupa dengan Kristus.

Kiranya setiap kali kita berbeda pendapat dengan orang lain, kita tidak segera mempertahankan ego kita, melainkan bertanya dalam hati, “Tuhan, adakah sesuatu yang ingin Engkau ajarkan melalui percakapan ini?” Pertanyaan seperti itulah yang lahir dari hati yang takut akan Tuhan, dan hati seperti itulah yang akan bertumbuh dalam hikmat.

Semoga Tuhan menolong kita untuk memiliki hati yang rendah, yang lebih rindu menemukan kebenaran daripada memenangkan perdebatan.

Doa Penutup

Bapa di surga, ajarlah kami memiliki hati yang takut akan Engkau dan mau diajar. Jauhkan kami dari kesombongan yang menimbulkan pertengkaran. Berilah kami kerendahan hati untuk menerima nasihat, menguji segala sesuatu dengan Firman-Mu, dan terus bertumbuh dalam hikmat. Bentuklah kami semakin serupa dengan Kristus, yang lemah lembut dan rendah hati. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.

Tinggalkan komentar