Apakah Anda Mengharapkan Perubahan?

“karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.”
— Filipi 2:13

Salah satu ciri kehidupan adalah adanya pertumbuhan dan perubahan. Seorang bayi bertumbuh menjadi anak, kemudian menjadi dewasa. Pohon yang hidup akan terus bertumbuh dan pada waktunya menghasilkan buah. Sebaliknya, sesuatu yang tidak pernah berubah atau bertumbuh patut dipertanyakan apakah masih hidup.

Prinsip yang sama berlaku dalam kehidupan rohani. Ketika seseorang percaya kepada Kristus, Allah tidak hanya mengampuni dosanya, tetapi juga mulai mengerjakan pembaruan di dalam dirinya. Itulah yang ditegaskan Paulus dalam Filipi 2:13. Allah sendiri yang bekerja di dalam orang percaya, bukan hanya memberi kemampuan untuk berbuat baik, tetapi juga membangkitkan kemauan untuk melakukannya. Dengan kata lain, perubahan hidup adalah hasil karya Roh Kudus, bukan sekadar usaha manusia.

Karena itu, setiap orang yang mengaku sebagai orang Kristen patut bertanya kepada dirinya sendiri, “Apakah saya mengharapkan adanya perubahan dalam hidup saya?” Bukan perubahan yang spektakuler dalam semalam, melainkan perubahan yang terus-menerus menuju keserupaan dengan Kristus.

Alkitab tidak mengajarkan bahwa orang percaya akan langsung menjadi sempurna. Kita masih bergumul dengan dosa, masih jatuh, masih lemah, dan masih membutuhkan anugerah Tuhan setiap hari. Namun, arah hidup kita seharusnya berubah. Kita semakin membenci dosa, semakin mengasihi firman Tuhan, semakin mudah mengampuni, semakin rendah hati, dan semakin rindu menyenangkan hati Tuhan. Mungkin pertumbuhannya lambat, tetapi tetap ada.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah apabila seseorang merasa bahwa pengakuan iman saja sudah cukup. Ia berkata bahwa dirinya percaya kepada Yesus, tetapi tidak peduli apakah hidupnya berubah atau tidak. Ia tidak merasa perlu bertobat, tidak peduli akan kekudusan, tidak tertarik untuk makin dekat kepada Tuhan, dan menganggap semua itu tidak penting karena merasa sudah “aman”. Sikap seperti ini bertentangan dengan ajaran Alkitab.

Yesus tidak hanya memanggil orang untuk percaya kepada-Nya, tetapi juga menjadi murid yang menaati segala perintah-Nya. Amanat Agung (Matius 28:19-20) bukan sekadar membawa orang lain kepada keputusan percaya, melainkan membentuk mereka sendiri untuk bisa menjadi teladan bagi orang lain – sebagai murid yang hidup dalam ketaatan. Hidup kudus bukanlah syarat memperoleh keselamatan, tetapi merupakan buah dari keselamatan yang telah dianugerahkan Allah.

Karena itu, janganlah kita mendukakan Roh Kudus. Roh Kudus tinggal di dalam diri orang percaya untuk membentuk karakter Kristus dalam hidup kita. Ketika kita dengan sengaja memelihara dosa, mengabaikan firman Tuhan, atau tidak peduli terhadap kekudusan, kita mendukakan Dia yang sedang mengerjakan pembaruan dalam diri kita.

Yesus berkata dengan tegas, “Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku dan siapa tidak mengumpulkan bersama Aku, ia mencerai-beraikan.” (Matius 12:30). Tidak ada wilayah netral dalam mengikut Kristus. Tentu ayat ini bukan berarti setiap kali kita jatuh ke dalam dosa kita langsung menjadi musuh Kristus. Yang dimaksud adalah sikap hati yang terus menerus menolak pemerintahan-Nya dan gaya hidup yang tidak mau tunduk di bawah otoritas-Nya.

Maka, marilah kita menguji diri kita sendiri. Apakah kita masih memiliki kerinduan untuk bertumbuh? Apakah kita masih peka ketika Roh Kudus menegur kita? Apakah kita masih mengharapkan perubahan dalam hidup kita?

Kabar baiknya adalah, perubahan itu tidak bergantung pada kekuatan kita sendiri. Allah tidak hanya memerintahkan kita untuk hidup kudus; Dia sendiri yang bekerja di dalam kita. Ia mengubah hati kita, memperbarui keinginan kita, dan memampukan kita menjalani kehidupan yang semakin berkenan kepada-Nya.

Kiranya setiap hari kita semakin menyerupai Kristus. Bukan supaya Allah lebih mengasihi kita, melainkan karena Dia telah lebih dahulu mengasihi dan menyelamatkan kita oleh anugerah-Nya. Biarlah dunia melihat karya Roh Kudus melalui kehidupan kita yang terus diubahkan, sehingga nama Kristus dimuliakan.

Doa Penutup

Bapa di surga, terima kasih karena Engkau bukan hanya mengampuni dosa kami, tetapi juga terus mengubah kami menjadi semakin serupa dengan Kristus. Tolonglah kami agar tidak berpuas diri dengan sekadar pengakuan iman, tetapi memiliki kerinduan untuk bertumbuh dalam kekudusan setiap hari. Jangan biarkan kami mendukakan Roh Kudus-Mu, melainkan mampukan kami hidup taat, rendah hati, dan menjadi saksi yang memuliakan nama-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Tinggalkan komentar