Berterima kasih kepada siapa?

“Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran.”
— Yakobus 1:17

Pernahkah kita menerima pertolongan seseorang dan dengan spontan berkata, “Terima kasih”? Tentu saja. Ketika seseorang membantu kita, memberikan sesuatu, atau hadir pada saat kita membutuhkan, ucapan terima kasih adalah respons yang wajar. Kita harus menghargai orang yang telah berbuat baik kepada kita. Dan setiap orang tua selalu mengajarkan anak-anak mereka untuk bersikap demikian.

Tetapi pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya: “Sesungguhnya, kepada siapa saya harus berterima kasih?”

Pertanyaan ini membawa kita lebih dalam daripada sekadar sopan santun. Ada perbedaan antara mengetahui siapa yang menjadi perantara kebaikan dan mengetahui dari mana kebaikan itu pada akhirnya berasal.

Bayangkan seseorang sedang sakit. Kemudian seorang dokter memberikan pengobatan yang tepat dan akhirnya ia sembuh. Tentu kita harus berterima kasih kepada dokter. Dokter telah belajar bertahun-tahun, menggunakan pengetahuan dan keterampilannya, lalu memberikan pertolongan. Mengabaikan jasa dokter dengan berkata, “Bukan dokter yang menyembuhkan saya, tetapi Tuhan,” bukanlah sikap yang tepat.

Namun iman membawa kita melihat lebih jauh.

Siapa yang memberikan dokter itu kecerdasan? Siapa yang memberikan kemampuan untuk belajar? Siapa yang memungkinkan obat ditemukan? Siapa yang memberikan kesempatan, sumber daya, bahkan kehidupan itu sendiri?

Di sinilah kita melihat perbedaan antara secondary cause, penyebab sekunder, dan Primary Cause, Penyebab Utama. Manusia dapat menjadi alat yang dipakai Allah untuk mendatangkan kebaikan dalam hidup kita. Kita melihat tangan manusia, tetapi iman mengajak kita melihat tangan Allah di baliknya.

Mungkin jarang orang tua yang mengajarkan hal ini kepada anak-anak mereka. Mungkin itulah sebabnya manusia sering kurang bersyukur kepada Tuhan. Kita cenderung melihat apa yang langsung ada di depan mata. Kita melihat orang tua yang berkorban, pasangan yang setia, anak yang membantu, sahabat yang datang, dokter yang merawat, atau seseorang yang memberikan pekerjaan. Kita mengucapkan, “Terima kasih,” lalu berhenti di sana.

Padahal Yakobus berkata, “Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas.”

Ini bukan berarti kita tidak perlu berterima kasih kepada manusia. Justru kita harus melakukannya. Alkitab tidak mengajarkan kita menjadi orang yang tidak tahu berterima kasih kepada sesama. Paulus sendiri berkali-kali menghargai orang-orang yang telah menolong dan melayani dirinya.

Tetapi orang percaya tidak berhenti pada alatnya. Ia melihat kepada Sang Pemberi.

Kita dapat berkata kepada seorang sahabat, “Terima kasih karena telah menolong saya.” Tetapi dalam hati kita berkata kepada Tuhan, “Bapa, terima kasih karena Engkau menggerakkan hati sahabat saya untuk menolong saya.”

Kita berterima kasih kepada dokter, tetapi bersyukur kepada Tuhan yang memberikan hikmat dan kemampuan kepadanya.

Kita berterima kasih kepada anak-anak kita yang memperhatikan kita, tetapi bersyukur kepada Tuhan yang menumbuhkan kasih dalam hati mereka.

Kita berterima kasih kepada seseorang yang memberikan kesempatan, tetapi memuliakan Tuhan yang membuka pintu tersebut.

Inilah salah satu keindahan Soli Deo Gloria—kemuliaan hanya bagi Allah. Kita menghargai manusia, tetapi kita tidak berhenti pada manusia. Kita menikmati pemberian, tetapi kita mencari Sang Pemberi. Kita menghormati alat yang dipakai Allah, tetapi kemuliaan terakhir kita kembalikan kepada Allah.

Karena itu, mungkin kalimat yang paling tepat bukanlah, “Berterima kasih kepada Tuhan atau kepada manusia?”

Melainkan:

“Berterima kasih kepada manusia, tetapi bersyukur kepada Tuhan.”

Manusia adalah perantara. Allah adalah sumber.

Dan semakin kita menyadari hal ini, semakin banyak alasan yang kita temukan untuk bersyukur. Bahkan pertolongan yang tampaknya sangat biasa—sebuah telepon, sebuah senyuman, sebuah nasihat, sebuah tangan yang terulur—dapat menjadi pengingat bahwa Bapa kita tetap bekerja melalui orang-orang yang ditempatkan-Nya di sekitar kita.

Hari ini, jangan hanya melihat berkatnya. Jangan hanya melihat orang yang menjadi perantaranya. Lihatlah tangan Allah di balik semuanya.

Sebab setiap pemberian yang baik datangnya dari atas.

Doa Penutup

Bapa di surga, kami bersyukur untuk setiap kebaikan yang kami terima. Ampunilah kami apabila sering hanya melihat manusia sebagai sumber pertolongan dan lupa melihat tangan-Mu di balik semuanya. Ajarlah kami menghargai setiap orang yang Engkau pakai sebagai alat kebaikan-Mu, sambil tetap mengembalikan segala kemuliaan kepada-Mu. Kiranya dalam setiap berkat kami melihat kasih-Mu, dan dalam setiap pertolongan kami berkata, “Terima kasih, Tuhan.” Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.

Tinggalkan komentar