Menabur Kebaikan untuk Masa Depan

“Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah.”
— Galatia 6:9

Ketika memikirkan masa depan, kebanyakan orang memikirkan apa yang harus mereka persiapkan. Kita menabung uang, membeli rumah, menyiapkan dana pensiun, menjaga kesehatan, dan memikirkan berbagai kebutuhan ketika usia semakin lanjut. Semua itu baik dan bijaksana. Namun ada satu bentuk persiapan yang sering terlupakan: menabur kebaikan dalam kehidupan orang lain.

Ada orang yang sejak muda membangun hidup dengan keyakinan bahwa ia tidak membutuhkan siapa pun. Ia mengejar keberhasilan, mengumpulkan harta, dan menjaga kemandirian. Ia mungkin berhasil secara materi, tetapi tanpa disadari, ia tidak membangun hubungan yang mendalam dengan orang lain. Ketika usia semakin tua, ia mungkin memiliki cukup uang untuk hidup, tetapi tidak memiliki banyak orang yang mengenal, memperhatikan, atau bersedia hadir ketika ia membutuhkan pertolongan.

Ada pula orang yang berpikir, “Bukankah Tuhan yang memelihara hidup saya? Kalau nanti saya tua dan membutuhkan pertolongan, Tuhan pasti menyediakan.” Iman seperti ini memang mengandung kebenaran—Tuhan sungguh berdaulat dan memelihara umat-Nya. Tetapi kita perlu berhati-hati agar percaya kepada pemeliharaan Tuhan tidak berubah menjadi alasan untuk tidak membangun hubungan dengan sesama. Sering kali Tuhan justru memelihara kita melalui orang lain.

Sebaliknya, ada orang yang sepanjang hidupnya senang memperhatikan orang lain. Ia menyediakan waktu untuk mendengarkan, mengunjungi teman yang sakit, membantu ketika ada kesulitan, mengingat hari ulang tahun, memberikan dorongan ketika seseorang sedang kecewa, dan hadir bukan hanya ketika dirinya membutuhkan sesuatu. Ia mungkin tidak pernah berpikir bahwa semua itu adalah investasi untuk masa tuanya. Ia hanya sedang menjalani hidup dengan kasih.

Pertolongan yang kita terima suatu hari mungkin datang melalui sahabat, anak, tetangga, saudara seiman, atau bahkan seseorang yang dahulu pernah kita perhatikan.

Karena itu, mempercayakan masa depan kepada Tuhan tidak berarti kita boleh hidup tanpa memedulikan orang lain.

Justru karena kita percaya Tuhan bekerja melalui manusia, kita dipanggil sejak sekarang untuk membangun kasih, perhatian, dan hubungan yang sehat dengan sesama. Tuhan menyediakan masa depan kita, tetapi Ia juga menyediakan kesempatan bagi kita untuk mengambil bagian dalam pemeliharaan-Nya terhadap orang lain.

Alkitab berkata, “Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik.” Berbuat baik memang terkadang melelahkan, terutama ketika kebaikan kita tidak dihargai atau bahkan disalahgunakan. Kita mungkin pernah bertanya, “Untuk apa saya terus berbuat baik kalau tidak ada yang membalas?”

Tetapi Paulus mengingatkan bahwa orang percaya tidak hidup hanya berdasarkan apa yang terlihat sekarang. Ada waktu untuk menabur dan ada waktu untuk menuai. Kita mungkin tidak melihat hasil dari kebaikan kita hari ini. Bahkan, orang yang kita tolong mungkin tidak pernah membalasnya. Tetapi Tuhan melihat setiap perbuatan yang dilakukan dalam kasih.

Karena itu, berbuat baik bukanlah transaksi: “Saya menolong kamu supaya suatu hari kamu menolong saya.” Itu bukan kasih Kristen. Kita berbuat baik bukan untuk membuat orang lain berutang kepada kita. Kita berbuat baik karena Tuhan terlebih dahulu telah berbuat baik kepada kita.

Namun demikian, Tuhan sering memakai kebaikan yang kita taburkan untuk membangun hubungan yang akan menjadi berkat bagi kehidupan kita sendiri. Orang yang sepanjang hidupnya menabur perhatian biasanya tidak hidup dalam keterasingan. Ia memiliki sahabat, keluarga, tetangga, dan saudara seiman yang mengenalnya. Ketika suatu hari ia membutuhkan pertolongan, sering kali ada tangan yang terulur kepadanya.

Itulah sebabnya kita dapat mengatakan: jangan hanya menabung uang untuk masa depan; tabunglah juga perhatian, kasih, kesabaran, kepercayaan, dan persahabatan. Tetapi jangan menabungnya sebagai tuntutan kepada orang lain. Tabunglah dengan cara menaburkannya.

Terlebih lagi, kehidupan kita tidak berhenti pada masa tua. Ada masa ketika kehidupan di dunia berakhir dan kita berdiri di hadapan Tuhan. Keselamatan kita bukanlah hasil dari perbuatan baik kita—keselamatan adalah anugerah Allah. Namun orang yang telah menerima anugerah itu dipanggil untuk menghasilkan buah dalam kehidupannya.

Karena itu, selama kita masih memiliki kesempatan, marilah kita terus berbuat baik. Mungkin hari ini kita masih dapat menelepon seseorang yang kesepian. Kita masih dapat mengampuni. Kita masih dapat menolong. Kita masih dapat memberikan waktu dan perhatian.

Jangan merasa bahwa usia membuat hidup kita tidak lagi berguna. Selama Tuhan memberi kita kesempatan untuk hidup, masih ada kesempatan untuk menabur.

Dan kita boleh menyerahkan hasilnya kepada Tuhan. Kita tidak tahu kapan akan menuai, melalui siapa tuaian itu datang, atau seperti apa bentuknya. Tetapi kita tahu satu hal: Tuhan tidak pernah menyia-nyiakan kebaikan yang dilakukan dalam kasih kepada-Nya.

Maka janganlah jemu-jemu berbuat baik. Teruslah menabur, sekalipun belum melihat hasilnya. Sebab suatu hari nanti, pada waktu yang Tuhan tentukan, kita akan menuai.

“Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.”
— ‭‭Galatia‬ ‭6‬:‭10‬‬

Doa Penutup

Tuhan, terima kasih untuk setiap kesempatan yang Engkau berikan kepada kami untuk berbuat baik. Ajarlah kami menabur kasih, perhatian, waktu, dan pertolongan tanpa menuntut balasan. Tolong kami agar tidak jemu ketika kebaikan kami tidak segera terlihat hasilnya. Biarlah hidup kami menjadi berkat bagi orang lain, dan biarlah semua yang kami lakukan menjadi buah dari anugerah-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Tinggalkan komentar