Menunggu Godot atau Menunggu Tuhan?

“Peliharalah dirimu demikian dalam kasih Allah sambil menantikan rahmat Tuhan kita, Yesus Kristus, untuk hidup yang kekal.”
— Yudas 1:21

Samuel Beckett, seorang penulis drama Irlandia, pernah menulis sebuah drama terkenal berjudul Waiting for Godot. Dua tokohnya, Vladimir dan Estragon, menghabiskan waktu dengan menunggu seseorang bernama Godot. Mereka tidak benar-benar mengetahui siapa Godot, kapan ia akan datang, atau apa yang akan dilakukannya ketika datang. Hari demi hari mereka menunggu, tetapi Godot tidak kunjung muncul. Mereka hanya menerima pesan bahwa Godot mungkin datang “besok”.

Sejak pertama kali diperkenalkan secara luas di Indonesia melalui pementasan legendaris Bengkel Teater arahan W.S. Rendra di Taman Ismail Marzuki (TIM) pada tahun 1969, naskah “Menunggu Godot” ini telah menjadi cermin kontemplatif bagi dinamika sosial dan politik tanah air.  Berbagai sanggar dan komunitas teater di Indonesia—seperti pementasan oleh Teater Kami (Menunggu Sesuatu Godot yang Telah Pergi), Teater Jerit, hingga adaptasi bernuansa tradisi lokal—kerap menggunakan metafora Godot untuk membaca situasi penantian panjang, ketidakpastian, atau harapan kolektif masyarakat untuk masa depan yang lebih baik.

IBanyak orang yang menafsirkan Godot sebagai lambang Allah. Namun Beckett sendiri menolak mengatakan bahwa Godot memang dimaksudkan sebagai Allah. Ia bahkan pernah mengatakan bahwa kalau yang dimaksudnya adalah Allah, ia akan menulis “God”, bukan “Godot”. Karena itu, kita tidak seharusnya menjadikan drama tersebut sebagai alegori Kristen. Namun justru dari sini kita dapat melihat sebuah perbedaan yang sangat penting: ada perbedaan besar antara menunggu sesuatu yang tidak pasti dan menunggu Tuhan yang telah menyatakan diri-Nya kepada kita.

Menunggu Tuhan bukanlah menunggu seseorang atau suatu keadaan yang keberadaannya kita ragukan. Orang Kristen menunggu Kristus yang telah datang ke dunia, mati dan bangkit, dan menjanjikan kedatangan-Nya kembali. Kita memang tidak mengetahui kapan Ia akan datang. Kita juga tidak mengetahui dengan tepat bagaimana perjalanan hidup kita akan berlangsung. Tetapi kita mengetahui siapa yang kita nantikan. Kita menunggu Pribadi yang telah membuktikan kasih-Nya kepada kita.

Karena itu, penantian Kristen bukanlah kekosongan. Yudas berkata, “Peliharalah dirimu demikian dalam kasih Allah sambil menantikan rahmat Tuhan kita, Yesus Kristus.” Perhatikan bahwa sambil menunggu, kita tidak diperintahkan untuk berhenti hidup. Kita justru dipanggil untuk tetap berada dalam kasih Allah.

Inilah perbedaan antara menunggu Godot dan menunggu Tuhan. Vladimir dan Estragon tampaknya terjebak dalam lingkaran penantian yang tidak menghasilkan perubahan berarti. Tetapi orang Kristen menunggu sambil hidup. Kita bekerja, mengasihi keluarga, mengampuni, melayani, berdoa, melakukan kebaikan, dan memelihara iman. Kita tidak menunda ketaatan sampai Tuhan datang.

Kadang-kadang kita juga menjalani masa seperti “menunggu Godot”. Kita berdoa untuk kesembuhan, menunggu persoalan keluarga selesai, menantikan perubahan keadaan, mengharapkan kemajuan negara, menunggu jawaban Tuhan, atau berharap agar sesuatu yang sudah lama kita rindukan akhirnya terjadi. Hari berganti hari, tetapi keadaan tampaknya tetap sama. Dalam keadaan seperti itu, kita mudah bertanya, “Tuhan, sampai kapan?”

Alkitab tidak melarang pertanyaan seperti itu. Mazmur penuh dengan seruan, “Berapa lama lagi, TUHAN?” Menunggu Tuhan bukan berarti kita harus berpura-pura tidak kecewa, tidak takut, atau tidak lelah. Iman justru membawa semua pergumulan itu kepada Tuhan.

Namun ada satu hal yang membedakan penantian Kristen: kita tidak hanya menantikan apa yang Tuhan berikan; kita menantikan Tuhan sendiri. Kita mungkin tidak memperoleh semua yang kita minta dalam kehidupan ini. Kesembuhan tidak selalu datang seperti yang kita harapkan. Rekonsiliasi tidak selalu terjadi. Rencana kita tidak selalu terwujud. Harapan kita tidak terjadi. Tetapi kasih Allah tidak berubah dan janji keselamatan di dalam Kristus tidak gagal.

Karena itu, ketika kita tidak mengetahui apa yang akan terjadi besok, kita tetap dapat menjalani hari ini dengan setia. Kita tidak tahu kapan Tuhan akan datang, tetapi kita tahu bahwa Dia telah datang. Kita tidak tahu bagaimana seluruh perjalanan hidup kita akan berakhir, tetapi kita tahu kepada siapa hidup kita akan berakhir.

Menunggu Tuhan bukanlah menunggu tanpa kepastian. Kita menunggu dengan pengharapan karena Dia yang berjanji adalah setia. Dan selama menunggu, kita dipanggil untuk tetap tinggal dalam kasih-Nya.

Mungkin pertanyaan terpenting bukanlah, “Kapan Tuhan akan datang?” melainkan, “Bagaimana saya hidup sementara saya menunggu?”

Kiranya ketika hari terakhir hidup kita tiba, kita bukan ditemukan sedang menunggu dengan sia-sia, melainkan sedang hidup dalam kasih Allah, setia kepada Kristus, dan melakukan apa yang telah dipercayakan-Nya kepada kita.

Doa Penutup

Tuhan Yesus, ajarlah kami menunggu-Mu dengan iman dan pengharapan. Ketika jawaban doa belum datang dan keadaan belum berubah, jangan biarkan kami kehilangan kepercayaan kepada-Mu. Tolong kami tetap hidup dalam kasih-Mu, setia dalam tanggung jawab kami, dan tekun melakukan kebaikan. Kami tidak mengetahui waktu dan cara-Mu bekerja, tetapi kami percaya bahwa Engkau setia. Biarlah pengharapan kami bukan terutama pada apa yang kami inginkan, melainkan pada diri-Mu dan rahmat-Mu yang membawa kami kepada hidup yang kekal. Amin.

Tinggalkan komentar