Hal Kehilangan Keselamatan

“Waspadalah, supaya kamu jangan kehilangan apa yang telah kami kerjakan itu, tetapi supaya kamu mendapat upahmu sepenuhnya. Setiap orang yang tidak tinggal di dalam ajaran Kristus, tetapi yang melangkah keluar dari situ, tidak memiliki Allah. Barangsiapa tinggal di dalam ajaran itu, ia memiliki Bapa maupun Anak.”
— ‭‭2 Yohanes‬ ‭1‬:‭8‬-‭9‬‬

“Dapatkah saya kehilangan keselamatan saya?” Pertanyaan ini mungkin pernah muncul dalam hati banyak orang Kristen. Jawabannya tampaknya hanya dua: ya atau tidak. Namun, ketika kita membaca Alkitab secara keseluruhan, kita menemukan sesuatu yang lebih dalam. Di satu sisi, keselamatan adalah anugerah Tuhan yang tidak mungkin kita peroleh dengan usaha sendiri. Di sisi lain, Alkitab berkali-kali memperingatkan kita agar tidak meninggalkan Kristus dan agar tetap bertekun sampai akhir.

Karena itu, saya melihat keselamatan seperti sebuah perjalanan yang berada di antara dua kebenaran: Tuhan berdaulat memelihara umat-Nya, dan manusia tetap bertanggung jawab untuk merespons kasih karunia itu dengan iman dan ketaatan. Keduanya bukan alasan untuk berdebat dan menyombongkan pemahaman teologis kita, melainkan panggilan untuk hidup dengan rendah hati dan waspada.

Saya pribadi sulit membayangkan keselamatan sebagai sesuatu yang dapat “hilang” secara tidak sengaja, seperti kehilangan kunci mobil. Keselamatan bukan milik yang kita ciptakan sendiri. Keselamatan adalah karya Tuhan, berakar pada pengorbanan Kristus di kayu salib. Paulus bahkan berkata bahwa tidak ada sesuatu pun—baik maut maupun hidup, baik yang sekarang maupun yang akan datang—yang dapat memisahkan kita dari kasih Allah dalam Kristus Yesus (Roma 8:38–39).

Namun, jaminan itu bukan izin untuk hidup sembarangan. Yesus memperingatkan tentang hamba yang berkata dalam hatinya bahwa tuannya masih lama datang, lalu mulai hidup tidak setia (Matius 24:48–51). Yohanes juga memperingatkan agar kita tetap tinggal dalam ajaran Kristus. Paulus berkata, “Kerjakanlah keselamatanmu dengan takut dan gentar” (Filipi 2:12).

Apakah ini berarti keselamatan bergantung pada kekuatan kita? Tidak. Ketaatan bukan harga yang kita bayar untuk memperoleh keselamatan. Ketaatan adalah buah dari iman yang hidup. Kita tidak diselamatkan karena kita bertekun; tetapi orang yang telah menerima kasih karunia dipanggil untuk bertekun.

Saya pernah memikirkan hal ini dalam konteks yang sangat manusiawi. Bagaimana jika seseorang yang sungguh-sungguh percaya kepada Kristus kemudian mengalami Alzheimer atau penyakit lain yang merusak ingatan dan kemampuan berpikirnya? Jika keselamatan bergantung pada kemampuan kita untuk terus mengingat, memahami, dan mengucapkan iman kita, bukankah keselamatan menjadi sangat rapuh?

Tetapi Tuhan tidak menyelamatkan kita berdasarkan kekuatan ingatan kita. Ketika pikiran kita melemah, kasih karunia Tuhan tidak ikut melemah. Tangan kita mungkin tidak lagi kuat menggenggam Tuhan, tetapi tangan Tuhan tetap kuat memegang kita.

Karena itu, ketika kita melihat seseorang yang dahulu mengaku percaya tetapi kemudian meninggalkan iman, kita perlu berhati-hati untuk menghakimi. Kita tidak mengetahui seluruh isi hati manusia. Kita dapat melihat pengakuan dan buah kehidupannya, tetapi Tuhanlah yang mengetahui jiwa seseorang dengan sempurna.

Yang dapat kita lakukan adalah berdoa, mengasihi, menasihati dengan lemah lembut bila diperlukan, dan menyerahkan hasil akhirnya kepada Tuhan. Mungkin suatu hari kita akan terkejut ketika melihat siapa yang ternyata ada di hadapan takhta Allah. Kita tidak pernah menjadi hakim terakhir atas keselamatan seseorang.

Maka pertanyaan yang mungkin lebih penting bukanlah, “Apakah saya dapat kehilangan keselamatan?” melainkan, “Bagaimana saya hidup sebagai orang yang telah menerima keselamatan?”

Apakah saya masih tinggal di dalam Kristus? Apakah kasih karunia membuat saya semakin mengasihi Tuhan? Apakah iman saya menghasilkan ketaatan? Apakah saya tetap bertekun ketika kehidupan menjadi sulit?

Paulus berkata, “Aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak” (1 Korintus 9:27). Ia tidak sedang menyombongkan kekuatannya. Ia sedang menunjukkan keseriusan menjalani kehidupan iman.

Keselamatan adalah anugerah. Kita tidak membelinya, tidak menghasilkannya, dan tidak dapat membanggakannya. Tetapi anugerah yang menyelamatkan bukanlah anugerah yang membuat kita acuh tak acuh. Anugerah itu mengajar kita untuk berusaha hidup dalam kasih, iman, pertobatan, dan ketaatan. Itulah tanda-tanda orang yang sudah diselamatkan.

Pada akhirnya, mungkin kita tidak mampu menjelaskan seluruh misteri antara kedaulatan Tuhan dan tanggung jawab manusia. Tetapi kita tidak perlu memahami seluruh misteri itu sebelum menjalani kehidupan iman. Kita dipanggil untuk percaya kepada Kristus, tinggal di dalam-Nya, dan bertekun sampai akhir.

Kita diselamatkan oleh kasih karunia saja, tetapi bukan oleh kasih karunia yang dibiarkan sendirian tanpa buah. Tangan kita dipanggil untuk tetap menggenggam Tuhan, tetapi keselamatan kita pada akhirnya bergantung pada tangan Tuhan yang menggenggam kita.

Doa Penutup

Tuhan, terima kasih karena keselamatan bukan hasil kekuatan dan kebaikan kami, melainkan anugerah-Mu melalui karya Kristus. Tolong kami untuk tidak hidup dalam kesombongan maupun ketakutan, tetapi dalam iman, kerendahan hati, kewaspadaan, dan ketaatan. Ketika iman kami kuat, jagalah kami agar tidak sombong; ketika kami lemah, kuatkan kami agar tidak menyerah. Ajarlah kami untuk tetap tinggal di dalam Kristus dan bertekun sampai akhir. Amin.

Tinggalkan komentar