“Inilah hari yang dijadikan TUHAN, marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita karenanya!”
— Mazmur 118:24

Ayat ini sering kita dengar atau ucapkan pada hari Minggu. Tidak mengherankan, sebab hari Minggu adalah hari ketika umat Kristen berkumpul untuk beribadah dan mengingat kebangkitan Yesus Kristus. Namun, Mazmur 118:24 sebenarnya tidak sedang mengatakan bahwa hari Minggu adalah “hari yang dijadikan Tuhan”. Setiap hari adalah milik Tuhan. Yang dimaksud pemazmur adalah suatu hari ketika Tuhan bertindak dan menyatakan keselamatan-Nya.
Mazmur 118 adalah mazmur pujian dan ucapan syukur atas kasih setia Tuhan. Mazmur ini dimulai dan diakhiri dengan seruan, “Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.” Di antara kedua seruan itu, pemazmur menceritakan bagaimana ia mengalami kesesakan, ancaman, dan penolakan, tetapi kemudian mengalami pertolongan Tuhan.
Ia berseru kepada Tuhan dalam kesesakan, dan Tuhan menjawab dengan memberikan kelegaan. Karena itu, ia belajar bahwa lebih baik berlindung kepada Tuhan daripada mengandalkan manusia. Ia memang menghadapi musuh yang mengepung, tetapi ia dapat berkata bahwa dalam nama TUHAN ia mengalahkan mereka. Sukacitanya bukan karena hidupnya bebas dari masalah, melainkan karena ia mengalami bahwa Tuhan tetap setia dan bertindak menyelamatkan.
Puncaknya terlihat dalam ayat 22–24:
“Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru. Hal itu terjadi dari pihak TUHAN, suatu perbuatan ajaib di mata kita. Inilah hari yang dijadikan TUHAN, marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita karenanya!”
Di sini terdapat hubungan yang sangat indah antara penolakan dan kemenangan. Batu itu dibuang karena dianggap tidak layak. Namun Tuhan justru menjadikannya batu penjuru. Apa yang ditolak manusia dipakai Tuhan untuk sesuatu yang menentukan. Apa yang tampak sebagai kegagalan ternyata tidak menggagalkan maksud Tuhan.
Karena itu, “hari yang dijadikan TUHAN” bukan terutama menunjuk kepada suatu nama hari dalam kalender. Yang membuat hari itu istimewa adalah tindakan Tuhan di dalamnya. Tuhan membalikkan keadaan. Penolakan tidak menjadi kata terakhir. Kemenangan berasal dari Tuhan.
Bagi kita sebagai orang Kristen, hubungan ini menjadi semakin jelas dalam diri Yesus Kristus. Yesus ditolak, dihina, disalibkan, dan dibunuh. Dari sudut pandang manusia, salib tampak sebagai kekalahan. Namun Allah membangkitkan Dia dari antara orang mati. Yang ditolak manusia justru menjadi Batu Penjuru. Yang tampak sebagai kekalahan ternyata menjadi kemenangan. Salib menjadi jalan keselamatan, dan kebangkitan menyatakan kemenangan Kristus atas dosa dan maut.
Tidak mengherankan jika para rasul kemudian menggunakan Mazmur 118:22 untuk menjelaskan karya Kristus. Karena itu, ketika kita membaca ayat 24 dalam terang Injil, kita tidak perlu mengartikannya sebagai “hari Minggu adalah hari yang dijadikan Tuhan.” Hari Minggu memang sangat berarti bagi umat Kristen karena mengingatkan kita kepada kebangkitan Kristus. Namun dasar sukacita kita bukanlah nama harinya. Dasar sukacita kita adalah kemenangan Kristus yang telah dikerjakan Allah.
Lalu apa artinya bagi hari-hari kita sekarang? Setiap hari yang Tuhan berikan adalah kemurahan-Nya. Ketika kita membuka mata pada pagi hari, kita menerima kesempatan baru untuk menyadari kebaikan Tuhan dan mengingat kembali karya keselamatan-Nya.
Tidak semua hari terasa menyenangkan. Ada hari yang dipenuhi sukacita, tetapi ada pula hari yang membawa air mata, kekecewaan, sakit, atau ketidakpastian. Namun keadaan hari ini tidak mengubah kenyataan bahwa Kristus telah menang. Kita tidak selalu tahu bagaimana Tuhan akan bekerja dalam persoalan kita, dan kita tidak boleh menganggap setiap penolakan pasti akan berakhir dengan keberhasilan menurut keinginan kita. Tetapi kita tahu bahwa penolakan manusia tidak dapat menggagalkan rencana keselamatan Tuhan.
Karena itu, setiap hari dapat menjadi kesempatan untuk kembali mengingat kemenangan Kristus. Hari-hari ini mungkin bukan hari yang mudah, tetapi hari ini tetap berada di dalam tangan Tuhan. Kita dapat bersyukur bukan karena semua yang terjadi sesuai dengan keinginan kita, melainkan karena kasih setia Tuhan tetap ada dan kemenangan Kristus telah menjadi dasar pengharapan kita.
“Inilah hari yang dijadikan TUHAN.” Marilah kita menyambut hari yang Tuhan berikan dengan hati yang bersyukur. Bukan hanya pada hari Minggu, tetapi setiap hari, kita dapat berhenti sejenak dan menyadari kemurahan-Nya: Tuhan masih memberi kita hari ini untuk hidup, mengasihi, melayani, dan terutama untuk kembali mengingat bahwa Kristus telah menang bagi kita.
Doa Penutup
Tuhan, terima kasih untuk setiap hari yang Engkau berikan kepada kami. Tolong kami melihat kemurahan-Mu dan tidak kehilangan pengharapan ketika menghadapi penolakan, kesulitan, atau kekecewaan. Ingatkan kami bahwa Kristus telah menang dan kemenangan-Nya menjadi dasar sukacita dan pengharapan kami. Dalam nama Yesus. Amin.