“Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi.”
— Kolose 3:2

Pernahkah kita menyadari betapa banyak waktu dan energi kita habis untuk memikirkan hal-hal yang sebenarnya kurang penting? Kita membayangkan sesuatu yang belum terjadi, mengkhawatirkan kemungkinan yang belum tentu menjadi kenyataan, atau berulang kali memikirkan percakapan yang sudah berlalu. Kita bisa merasa gembira membayangkan keberhasilan yang belum diraih, tetapi juga merasa resah karena membayangkan kegagalan yang belum tentu terjadi. Pikiran kita seolah-olah menciptakan dunia sendiri, lengkap dengan kegembiraan dan kesedihannya, padahal semuanya belum tentu sesuai dengan kenyataan. Mungkin juga pikiran kita ada di awang-awang, di antara langit dan bumi.
Masalahnya bukan semata-mata karena kita terlalu banyak berpikir, melainkan karena kita sering memberikan perhatian berlebihan kepada hal-hal yang kurang penting, sementara perkara yang sungguh penting justru terabaikan. Kita sibuk memikirkan pendapat orang lain tentang diri kita, tetapi kurang memikirkan apakah perkataan dan tindakan kita menyenangkan hati Tuhan. Kita mencemaskan apa yang mungkin hilang dari kehidupan ini, tetapi kurang merenungkan betapa berharganya anugerah yang telah kita terima di dalam Kristus.
Mengapa hal itu terjadi? Karena kita cenderung menganggap sesuatu penting ketika hal itu menyentuh keinginan, ketakutan, ambisi, atau harga diri kita. Padahal, sesuatu yang terasa penting belum tentu sungguh penting. Perasaan kita bukan ukuran yang selalu benar untuk menentukan nilai suatu perkara. Kita memerlukan hikmat untuk membedakan apa yang sekadar menyita perhatian dan apa yang benar-benar layak mendapatkan perhatian kita.
Paulus menasihati jemaat di Kolose agar memikirkan perkara yang di atas, bukan yang di bumi. Nasihat ini bukan berarti kita harus mengabaikan tanggung jawab sehari-hari atau berhenti merencanakan masa depan. Dalam konteksnya, Paulus mengingatkan bahwa kita telah dibangkitkan bersama Kristus dan hidup kita tersembunyi bersama Dia di dalam Allah (Kolose 3:1–3). Karena itu, Kristus seharusnya menjadi pusat yang menentukan bagaimana kita menilai dan menjalani kehidupan.
Lalu, bagaimana kita menjaga pikiran agar tidak dikuasai oleh perkara-perkara yang kurang penting? Penulis surat Ibrani memberikan jawaban: “Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan” (Ibrani 12:2).
Perhatikanlah teladan Yesus. Ia memikul salib dengan mengabaikan kehinaan karena sukacita yang disediakan bagi-Nya. Ia tidak membiarkan penderitaan dan penghinaan mengaburkan tujuan yang hendak digenapi-Nya. Ia tetap taat kepada Bapa sampai menyelesaikan karya penebusan-Nya. Kita tidak dapat menyamakan penderitaan kita dengan karya penebusan Kristus, tetapi teladan-Nya mengajar kita untuk tidak menilai kehidupan hanya berdasarkan apa yang terasa menyenangkan atau menyakitkan saat ini. Ada tujuan Allah yang lebih besar daripada kenyamanan dan kepuasan sesaat kita.
Secara konkret, ketika kita terus memikirkan perkataan seseorang yang menyakiti hati, kita dapat bertanya apakah pikiran itu menolong kita menyelesaikan masalah atau justru memelihara kepahitan. Ketika kita membayangkan keberhasilan, kekayaan, atau masa depan yang menyenangkan, kita perlu bertanya apakah kita sedang menyusun rencana yang bijaksana atau sekadar menikmati khayalan. Ketika kita mengkhawatirkan sesuatu yang belum terjadi, kita perlu membedakan antara hal yang memang harus dipersiapkan dan hal yang berada di luar kendali kita.
Mengarahkan mata kepada Yesus bukan berarti melarikan diri dari kenyataan. Kita tetap bekerja, merencanakan masa depan, mengasihi keluarga, dan menghadapi kesulitan. Namun, kita belajar menempatkan semuanya dalam terang kehendak Allah. Kita tidak menjadikan keberhasilan duniawi sebagai tujuan tertinggi, pengakuan manusia sebagai ukuran nilai diri, atau pemenuhan keinginan sebagai syarat kebahagiaan.
Pengharapan Kristen juga berbeda dari khayalan tentang masa depan yang kita inginkan. Khayalan dibangun berdasarkan keinginan kita sendiri, sedangkan pengharapan Kristen berakar pada Kristus yang telah mati, bangkit, dan kini duduk di sebelah kanan takhta Allah. Kita tidak mengetahui segala sesuatu yang akan terjadi, tetapi kita dapat mempercayakan hidup kepada Allah yang setia. Kepastian iman bukanlah bahwa semua keinginan kita akan terpenuhi, melainkan bahwa kita tetap dapat berharap kepada-Nya sekalipun keadaan tidak berjalan sesuai harapan.
Marilah kita memeriksa kembali apa yang memenuhi pikiran kita. Jangan sampai perkara-perkara sementara menyita seluruh perhatian, sedangkan Kristus hanya menerima sisanya. Hidup kita terlalu berharga untuk dihabiskan dengan memikirkan segala sesuatu tanpa membedakan nilainya. Memikirkan perkara yang di atas berarti membiarkan Kristus dan kebenaran-Nya menentukan apa yang sungguh penting bagi kita. Ketika mata kita tertuju kepada Yesus, kita belajar menempatkan segala sesuatu pada tempatnya yang benar dan menjalani kehidupan dengan perspektif kekekalan.
Doa Penutup
Tuhan Yesus, ampunilah kami ketika pikiran kami dikuasai oleh perkara-perkara yang kurang penting. Tolonglah kami membedakan apa yang sementara dan apa yang kekal, mengarahkan mata kepada-Mu, serta menjalani kehidupan dengan setia sesuai kehendak-Mu. Amin.