“Tuhan ALLAH telah membuka telingaku, dan aku tidak memberontak, tidak berpaling ke belakang.”
— Yesaya 50:5

Australia sekarang bukan negara yang dihuni oleh mayoritas orang Kristen. Jumlah orang yang mengaku Kristen sudah jatuh dibawah 50 persen. Estimasi dan analisis demografi terkini menunjukkan bahwa porsi pemeluk Kristen terus mengalami penurunan ke angka sekitar 37%–38%, seiring dengan meningkatnya populasi kelompok yang memilih kategori “tidak beragama” (no religion) yang kini hampir setara atau mulai melampaui angka penganut Kristen di tingkat nasional.
Di sekuruh dunia, sekalipun masih banyak orang yang ke gereja pada hari Minggu, hal mendengar, menaati, dan bertahan dalam kebenaran merupakan tiga hal yang mudah diucapkan, tetapi tidak selalu mudah dilakukan dalam hidup sehari-hari. Kita dapat mendengar firman Tuhan setiap minggu, membaca Alkitab setiap hari, bahkan memahami banyak ajaran Alkitab, tetapi belum tentu bersedia melakukan apa yang Tuhan kehendaki. Ada kalanya kita mengetahui apa yang benar, tetapi memilih jalan yang lebih nyaman bagi diri sendiri. Ada pula saatnya kita ingin menaati Tuhan, tetapi mundur ketika ketaatan itu menuntut pengorbanan.
Yesaya 50:5 menggambarkan Hamba TUHAN yang berkata, “Tuhan ALLAH telah membuka telingaku, dan aku tidak memberontak, tidak berpaling ke belakang.” Ayat ini merupakan bagian dari gambaran tentang Hamba TUHAN yang mendengarkan pengajaran Allah dan tetap setia menjalankan tugas-Nya sekalipun harus menghadapi penderitaan. Gambaran ini menemukan makna yang mendalam dalam kehidupan Yesus Kristus, yang datang bukan untuk melakukan kehendak-Nya sendiri, melainkan kehendak Bapa yang mengutus-Nya.
Yesus berkata, “Sebab Aku telah turun dari sorga bukan untuk melakukan kehendak-Ku, tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku” (Yohanes 6:38). Sepanjang pelayanan-Nya, Yesus menunjukkan ketaatan kepada Bapa. Ia tidak memilih jalan yang paling mudah atau mencari kehormatan bagi diri-Nya. Bahkan ketika menghadapi penderitaan dan kematian di kayu salib, Ia tetap menyerahkan diri kepada kehendak Bapa. Di Taman Getsemani, dalam pergumulan-Nya menghadapi penderitaan yang akan datang, Yesus berdoa, “Tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki” (Matius 26:39).
Dari Yesus, kita belajar bahwa mendengarkan Tuhan bukan sekadar mengetahui firman-Nya, melainkan memiliki hati yang bersedia dibentuk oleh firman tersebut. Kita mungkin membaca bahwa kita harus mengampuni, tetapi masih menyimpan kepahitan. Kita mengetahui bahwa kejujuran adalah kehendak Tuhan, tetapi tergoda untuk mengambil keuntungan melalui cara yang tidak benar. Kita mendengar panggilan untuk mengasihi sesama, tetapi terkadang hanya bersedia menolong orang yang menyenangkan hati kita. Dalam keadaan demikian, kita perlu bertanya: apakah kita sungguh-sungguh mendengarkan firman Tuhan, atau hanya mendengar apa yang ingin kita dengar?
Mendengarkan firman seharusnya membawa kita kepada ketaatan. Namun, ketaatan tidak selalu membuat perjalanan hidup menjadi mudah. Ada kalanya kita harus mengakui kesalahan ketika lebih mudah menyalahkan orang lain. Kita mungkin harus mempertahankan integritas ketika kejujuran merugikan kepentingan pribadi. Kita juga mungkin harus mengampuni ketika hati masih terluka. Ketaatan seperti ini menuntut kerendahan hati dan keberanian untuk mempercayai Tuhan.
Bagaimana jika kita merasa lelah, gagal, atau hampir menyerah? Apakah kita harus terus berjalan dengan mengandalkan kekuatan sendiri? Tentu tidak. Kita bukan Yesus, dan kita tidak pernah dapat menaati Tuhan dengan sempurna. Kita membutuhkan kasih karunia-Nya. Ketika jatuh dalam dosa, kita dipanggil untuk bertobat dan kembali kepada-Nya, bukan bersembunyi dalam rasa bersalah atau menyerah terhadap kelemahan diri sendiri.
Kita juga perlu memahami bahwa tidak berpaling ke belakang bukan berarti mempertahankan setiap keputusan atau menolak mengakui kesalahan. Ketekunan Kristen berarti tetap setia kepada kebenaran Tuhan, sekaligus bersedia dikoreksi ketika kita menyadari bahwa jalan yang kita tempuh ternyata keliru.
Yesus telah menyelesaikan karya keselamatan yang tidak mungkin kita kerjakan sendiri. Karena itu, kita tidak menaati-Nya untuk memperoleh keselamatan, melainkan sebagai tanggapan atas anugerah keselamatan yang telah kita terima. Melalui pertolongan Roh Kudus, kita belajar mendengar firman-Nya, melakukan kehendak-Nya, dan tetap berjalan dalam iman sekalipun menghadapi kesulitan.
Kiranya hidup kita tidak berhenti pada mendengar firman, tetapi terus bertumbuh dalam ketaatan. Sebab iman yang hidup bukanlah iman yang tidak pernah mengalami pergumulan, melainkan iman yang, oleh kasih karunia Allah, terus kembali kepada Kristus dan belajar setia mengikuti-Nya.
Doa Penutup
Bapa di surga, bukalah telinga dan hati kami agar kami sungguh-sungguh mendengar firman-Mu. Tolong kami untuk tidak hanya memahami kehendak-Mu, tetapi juga melakukannya dengan rendah hati. Ketika ketaatan terasa berat dan kami tergoda untuk menyerah, teguhkanlah iman kami. Ampunilah kegagalan kami dan tuntunlah kami kembali kepada Kristus. Kiranya, oleh kasih karunia dan pertolongan Roh Kudus, kami semakin menyerupai Yesus dalam ketaatan, kesetiaan, dan kasih. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.