“Lalu datanglah TUHAN, berdiri di sana dan memanggil seperti yang sudah-sudah: ‘Samuel! Samuel!’ Dan Samuel menjawab: ‘Berbicaralah, sebab hamba-Mu ini mendengar.’”
— 1 Samuel 3:10

Pernahkah kita bertanya mengapa kita terkadang merasa Tuhan tidak berbicara kepada kita? Kita berdoa, membaca Alkitab, dan mengikuti ibadah, tetapi seolah-olah tidak mendengar apa-apa dari Tuhan. Mungkin kita berharap mendapatkan jawaban yang jelas ketika menghadapi persoalan, tetapi tidak menyadari bahwa kita juga perlu mendengarkan firman-Nya ketika kehidupan berjalan dengan baik.
Dalam kisah Samuel, Tuhan memanggilnya ketika ia masih muda dan sedang melayani di rumah Tuhan. Pada awalnya, Samuel tidak mengenali suara Tuhan dan mengira Eli yang memanggilnya. Setelah beberapa kali terjadi, Eli memahami bahwa Tuhanlah yang memanggil Samuel. Ia kemudian mengajarkan bagaimana Samuel harus menjawab. Ketika Tuhan kembali memanggil, Samuel menjawab, “Berbicaralah, sebab hamba-Mu ini mendengar.”
Kisah ini mengingatkan kita bahwa mendengar panggilan Tuhan memerlukan kepekaan. Namun, ada sesuatu yang perlu kita periksa dalam kehidupan sendiri: apakah kita sungguh-sungguh ingin mendengar apa yang Tuhan kehendaki?
Kata “mendengar” dalam bahasa Ibrani asli (Shama) tidak sekadar mendengarkan suara secara pasif (auditif). Shama mengandung arti mendengar yang disertai dengan ketaatan untuk melakukannya.
Ketika keadaan sedang sulit, kita biasanya lebih tekun berdoa. Kita memohon pertolongan, mencari petunjuk, dan berharap Tuhan menunjukkan jalan keluar. Sebaliknya, ketika kesehatan baik, keluarga harmonis, keuangan cukup, dan segala sesuatu berjalan sesuai rencana, kita mungkin merasa tidak terlalu membutuhkan tuntunan-Nya. Tanpa disadari, kenyamanan dapat membuat kita mengandalkan kemampuan sendiri dan melupakan Tuhan yang telah memelihara kehidupan kita.
Musa pernah memperingatkan bangsa Israel agar tidak melupakan Tuhan ketika mereka menikmati kelimpahan (Ulangan 8:11–14). Mereka diperingatkan bukan karena kekayaan dan kenyamanan itu sendiri merupakan dosa, melainkan karena hati manusia mudah menjadi sombong ketika merasa tidak kekurangan apa pun. Kita dapat menikmati berkat Tuhan, tetapi lupa mencari kehendak-Nya.
Ada pula alasan lain mengapa kita terkadang enggan mendengarkan Tuhan: kita takut Dia meminta sesuatu yang tidak kita sukai. Kita senang mendengar janji penghiburan dan pertolongan, tetapi bagaimana jika firman-Nya menegur kesombongan kita, meminta kita mengampuni seseorang, mengakui kesalahan, atau mengubah kebiasaan yang sudah lama kita pertahankan? Bagaimana jika ketaatan menuntut kita melepaskan keuntungan atau kenyamanan tertentu?
Kisah Samuel di atas bisa menjadi teguran keras bagi ego kita yang sering kali menolak nasihat orang lain hanya karena merasa lebih tua, lebih berpengalaman, atau memiliki status yang lebih tinggi.
Dalam keadaan seperti itu, kita mungkin lebih suka mendengar apa yang sesuai dengan keinginan sendiri daripada menerima kebenaran yang mengoreksi kita.
Melalui peristiwa ini, Tuhan membongkar sekat-sekat keangkuhan manusia dengan memilih berbicara kepada seorang Imam Besar yang senior melalui Samuel, seorang anak kecil yang masih sangat muda. Hal ini mengingatkan kita bahwa otoritas firman Tuhan tidak pernah dibatasi oleh usia atau jabatan pembawanya, sehingga kedewasaan rohani yang sejati diuji dari kesiapan hati kita untuk tetap tunduk dan mendengarkan kebenaran, bahkan ketika teguran itu datang dari orang yang paling tidak kita duga.
Tentu saja, tidak setiap dorongan hati atau pendapat orang lain merupakan suara Tuhan. Karena itu, kita perlu menguji segala sesuatu berdasarkan firman-Nya, mempertimbangkan konteks, dan menggunakan hikmat yang bertanggung jawab.
Mendengarkan Tuhan bukan sekadar menantikan jawaban ketika menghadapi masalah. Mendengarkan berarti membuka hati untuk mengenal kehendak-Nya melalui firman, menerima teguran-Nya, dan bersedia melakukan apa yang benar. Kita tidak selalu mengetahui seluruh konsekuensi ketaatan, tetapi kita dapat belajar mempercayai Tuhan tanpa menjadikan kenyamanan sebagai syarat untuk menaati-Nya.
Jadi, ketika kita berkata, “Berbicaralah, Tuhan, aku mendengar,” apakah kita sungguh-sungguh bersedia menerima apa yang hendak Dia ajarkan? Jangan-jangan kita bukan tidak mendengar, melainkan takut mendengar karena khawatir harus mengubah sesuatu dalam hidup kita.
Tuhan tidak hanya ingin kita mencari-Nya ketika membutuhkan pertolongan, tetapi juga hidup dalam ketaatan kepada firman-Nya ketika keadaan sedang baik maupun ketika ketaatan terasa berat.
Doa Penutup
Tuhan, ajarlah kami untuk peka terhadap firman-Mu, bukan hanya ketika kami menghadapi kesulitan, tetapi juga ketika kehidupan terasa nyaman. Berikanlah kami hati yang rendah hati untuk menerima teguran dan keberanian untuk menaati kehendak-Mu, sekalipun tidak sesuai dengan keinginan kami. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.