Siapakah Tuhan yang Kita Sembah?

“Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.” — Yohanes 4:24

Manusia mempunyai kecenderungan untuk memahami sesuatu berdasarkan pengalaman dan pemikirannya sendiri. Ketika berhadapan dengan sesuatu yang tidak sepenuhnya dapat dipahami, manusia sering menggunakan hal-hal yang sudah dikenalnya sebagai kerangka untuk menjelaskan hal tersebut. Kecenderungan ini juga dapat ditemukan dalam kehidupan beragama, khususnya ketika manusia berusaha memahami siapa Tuhan dan bagaimana seharusnya menyembah-Nya.

Dalam berbagai tradisi keagamaan, kita menemukan praktik persembahan berupa makanan, bunga, dupa, benda-benda tertentu, bahkan korban binatang. Ada yang memandangnya sebagai ungkapan penghormatan, permohonan berkat, penyucian diri, atau usaha untuk mengurangi beban kesalahan dan dosa. Dalam pemikiran tertentu, persembahan bahkan dapat menjadi semacam transaksi: manusia memberikan sesuatu dengan harapan memperoleh kemurahan dari yang ilahi.

Sebenarnya, kecenderungan seperti ini tidak selalu berarti bahwa seseorang menganggap Tuhan sebagai makhluk jasmani. Bahkan ketika suatu agama mengakui bahwa Tuhan adalah Roh, cara berpikir antropologis masih dapat memengaruhi praktik ibadahnya. Manusia tanpa sadar memproyeksikan pola hubungan antarmanusia kepada hubungannya dengan Tuhan. Sebagaimana kita memberikan hadiah untuk menyenangkan seseorang, meminta maaf dengan memberikan sesuatu, atau melakukan kebaikan untuk memperoleh balasan, demikian pula Tuhan terkadang dipahami seolah-olah dapat dipengaruhi oleh pemberian dan tindakan lahiriah manusia.

Namun, Alkitab memperkenalkan Allah dengan cara yang sangat berbeda. Ketika Yesus berbicara kepada perempuan Samaria, Ia menyatakan bahwa Allah adalah Roh dan karena itu penyembahan kepada-Nya harus dilakukan dalam roh dan kebenaran (Yohanes 4:24). Pernyataan ini bukan sekadar penjelasan tentang sifat Allah, melainkan juga koreksi terhadap pemahaman manusia mengenai ibadah yang berkenan kepada-Nya.

Karena Allah adalah Roh, Ia tidak membutuhkan makanan, minuman, tempat tinggal, ataupun benda-benda yang dapat disediakan manusia. Paulus menjelaskan hal ini ketika berbicara kepada orang-orang Atena. Allah yang menjadikan dunia dan segala isinya tidak diam dalam kuil-kuil buatan tangan manusia dan tidak dilayani oleh tangan manusia seolah-olah Ia kekurangan sesuatu. Sebaliknya, Dialah yang memberikan hidup, napas, dan segala sesuatu kepada manusia (Kisah Para Rasul 17:24–25).

Menariknya, dalam Perjanjian Lama, Tuhan sendiri menetapkan berbagai bentuk persembahan, termasuk korban binatang dan hasil bumi. Jadi, Alkitab bukan mengajarkan bahwa semua persembahan lahiriah tidak berguna. Namun, persembahan tersebut tidak pernah dimaksudkan untuk menggantikan hati yang mengasihi dan menaati Tuhan. Ketika bangsa Israel menjalankan ritual keagamaan tetapi hidup dalam ketidakadilan dan pemberontakan, Tuhan menegur mereka melalui para nabi (Yesaya 1:11–17). Samuel bahkan mengingatkan Saul bahwa mendengarkan Tuhan lebih baik daripada korban sembelihan (1 Samuel 15:22).

Di sinilah kita memahami bahwa Tuhan tidak terutama mencari sesuatu yang dapat kita berikan dari luar diri kita, melainkan hati yang sungguh-sungguh mengasihi, percaya, dan taat kepada-Nya. Persembahan materi tetap mempunyai tempat dalam kehidupan orang percaya, misalnya untuk menolong sesama, mendukung pelayanan, dan memenuhi kebutuhan orang yang berkekurangan. Namun, pemberian itu seharusnya merupakan buah dari iman dan kasih, bukan alat untuk membeli kemurahan Tuhan atau memastikan bahwa permohonan kita akan dikabulkan.

Kita juga perlu berhati-hati agar tidak membawa pola pikir transaksional ke dalam kekristenan. Memberi persembahan dengan harapan Tuhan pasti membalas dalam bentuk kekayaan, kesehatan, atau keberhasilan dapat membuat ibadah kehilangan makna yang sesungguhnya. Kita seolah-olah menempatkan Tuhan sebagai pihak yang dapat dipengaruhi oleh besarnya pemberian kita. Padahal, kasih Allah tidak dapat dibeli dengan uang ataupun jasa manusia.

Injil justru memperlihatkan arah yang berlawanan. Bukan manusia yang terlebih dahulu memberikan sesuatu agar Allah mengasihinya. Allah telah lebih dahulu mengasihi manusia dan menyatakan kasih-Nya melalui pengorbanan Yesus Kristus (Roma 5:8). Kristus telah mempersembahkan diri-Nya sekali untuk selama-lamanya sebagai korban penebusan dosa (Ibrani 10:10–14). Karena itu, kita tidak perlu berusaha membeli pengampunan melalui persembahan atau mengumpulkan jasa untuk memperoleh keselamatan. Kita menerimanya sebagai anugerah melalui iman.

Maka, pertanyaan penting bagi kita bukan hanya berapa banyak yang telah kita persembahkan kepada Tuhan, melainkan siapakah Tuhan yang sebenarnya kita sembah? Apakah kita menyembah Allah sebagaimana Ia menyatakan diri-Nya dalam firman-Nya, ataukah kita tanpa sadar membentuk gambaran tentang Tuhan berdasarkan keinginan dan kepentingan kita sendiri?

Marilah kita memeriksa hati dan motivasi kita. Jangan sampai ibadah kita hanya dipenuhi kegiatan lahiriah, sementara hati kita jauh dari Tuhan. Persembahan yang berkenan kepada-Nya dimulai dari hati yang telah disentuh oleh kasih karunia, kemudian dinyatakan melalui kehidupan yang penuh syukur, kasih, dan ketaatan.

Sebab, kita tidak memberi supaya Tuhan mengasihi kita. Kita memberi karena Tuhan telah lebih dahulu mengasihi kita.

Doa Penutup

Tuhan, ajarlah kami mengenal dan menyembah-Mu sesuai dengan kebenaran firman-Mu. Jauhkan kami dari ibadah yang hanya bersifat lahiriah dan motivasi yang transaksional. Bentuklah hati kami agar sungguh-sungguh mengasihi, percaya, dan menaati-Mu. Biarlah seluruh kehidupan kami menjadi persembahan yang berkenan kepada-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Tinggalkan Balasan