Haruskah kita peduli?

“Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin.” Matius 24: 12

Bulan Maret adalah permulaan musim gugur di Australia. Di kota saya, suhu siang hari masih bisa mencapai 30 derajat Celsius, tetapi pada waktu malam bisa turun sampai dibawah 20 derajat. Karena udara yang makin dingin, perlengkapan musim dingin mulai keluar dari lemari, dan itu termasuk jaket dan selimut. Musim dingin baru akan datang di bulan Juni, tetapi hari sudah semakin singkat karena sinar matahari yang makin pendek. Kebanyakan orang kurang menyenangi musim dingin karena kesempatan untuk bekerja maupun menikmati udara terbuka menjadi berkurang. Tidaklah mengherankan bahwa di daerah tertentu  orang biasanya terlihat kurang gembira pada musim dingin, jika dibandingkan dengan keadaan di musim semi atau musim panas.

Ayat diatas merupakan apa yang dikatakan Yesus kepada murid-muridNya mengenai keadaan yang akan datang. Sebagian orang menafsirkan bahwa apa yang dikatakan Yesus adalah mengenai keadaan pada zaman itu saja, tetapi banyak juga yang menghubungkan itu dengan keadaan dunia menjelang akhir zaman. Apapun tafsirannya, intisari pesan Yesus itu jelas terlihat: bahwa karena manusia bertambah jahat, kasih akan menjadi padam.

Mungkin sebagian orang tidak setuju dengan pernyataan bahwa manusia di zaman ini lebih jahat dari manusia di zaman Yesus. Bukankah etika, hukum dan cara hidup manusia di zaman ini adalah jauh lebih beradab dari zaman dulu? Bukankah hak azasi dan keadilan sosial lebih terjamin jika dibandingkan dengan zaman dulu? Tidakkah manusia sekarang lebih bisa menghargai sesamanya, dan lebih bisa menerima mereka yang berasal dari tempat lain dan berbahasa asing?

Memang tidak dapat disangkal bahwa hidup manusia sudah mengalami perubahan besar jika dibandingkan dengan hidup di zaman sebelum Renaissance (abad 14-17). Manusia dengan kemajuan filsafat, sastra dan seni, berubah perlahan-lahan menjadi manusia yang nampaknya hebat dan pandai, sophisticated. Walaupun demikian, satu hal yang bisa terlihat ialah bahwa manusia pada umumnya makin yakin akan kemampuan dirinya sendiri. Manusia pada umumnya tidak lagi takut akan Tuhan yang tidak terlihat dan yang tidak bisa dibayangkan. Hidup manusia menjadi hidup yang individualistik yang tidak lagi bisa menyatakan kasih kepada Tuhan dan sesama. Bagaimana pula dengan hidup orang Kristen?

Pada zaman rasul-rasul, hidup orang Kristen jelas berbeda dengan apa yang kita lihat sekarang. Pada zaman itu mereka selalu berkumpul untuk makan dan berdoa bersama. Mereka menghadapi tantangan hidup secara bersama dan bisa merasakan kebutuhan dan penderitaan orang lain.

“Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing. Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.” Kisah Para Rasul 2: 44 – 47

Sebaliknya, di zaman ini banyak orang Kristen yang menginginkan kesuksesan hidup demi kepentingan pribadi dan dengan itu, gereja seolah menjadi tempat untuk memenuhi kebutuhan spritual pribadi. Manusia menjadi dingin hati dan tidak peka dengan segi kemanusiaan yang dibutuhkan oleh masyarakat dan bahkan seluruh umat manusia di dunia.

Kemajuan teknologi memungkinkan umat Kristen untuk melihat dan mendengar keadaan orang lain. Kemajuan teknologi juga memungkinkan orang Kristen untuk ikut merasakan penderitaan orang lain dan berusaha untuk menolong dan menguatkan mereka yang tertimpa kemalangan. Walaupun demikian, jika kasih sudah mendingin, kepekaan kita akan penderitaan orang lain menjadi berkurang. Perintah Tuhan agar kita  mengasihi sesama manusia dengan tidak memandang asal-usul dan latar belakang mereka, mungkin juga mudah kita abaikan.

Pagi ini, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa karena bertambahnya kedurhakaan, kasih kebanyakan manusia menjadi dingin. Kebanyakan, bukan semua. Diantara manusia, tetap ada mereka yang taat kepada perintahNya. Apakah kita masih tergolong kedalam kelompok yang masih memancarkan kehangatan kasih kepada sesama kita? Semoga.

Sehati sepikir dalam kesederhanaan

“Hendaklah kamu sehati sepikir dalam hidupmu bersama; janganlah kamu memikirkan perkara-perkara yang tinggi, tetapi arahkanlah dirimu kepada perkara-perkara yang sederhana. Janganlah menganggap dirimu pandai!” Roma 12: 16

Teringat saya akan masa lalu, sewaktu masih kecil dan tinggal di Surabaya. Pada waktu itu teknologi elektronik belumlah maju dan komputer pun belum ada. TV hitam putih dan radio transistor baru saja muncul di toko; dan dengan harga yang cukup mahal, benda-benda semacam itu hanya bisa dimiliki oleh orang berada. Tetapi saya melewati masa kecil saya dengan cukup bahagia, karena saya dapat menikmati kesempatan yang ada pada waktu itu, seperti bermain sepakbola tanpa memakai sepatu, membuat mobil-mobilan dari karton bekas bungkus barang dan sebagainya. Hidup saya memang sederhana untuk tidak dikatakan miskin, tetapi saya tidak merasa malu karena kebanyakan teman saya juga mengalami hal yang sama.

Di zaman ini teknologi begitu maju, sehingga hidup manusia menjadi sangat bergantung pada apa yang canggih dan yang mahal. Setiap manusia seakan berlomba untuk bisa membeli barang yang paling modern dan yang paling bagus. Seiring dengan kemajuan teknologi, konsumerisme bertambah tinggi; dan orang menjadi makin ingin untuk memperoleh apa saja yang mempunyai “wow factor“, yaitu apa yang terlihat hebat. Itu mencakup segala segi kehidupan, bukan saja segi jasmani, tetapi juga segi rohani. Banyak orang Kristen sekarang ini merasa bahwa orang tidak cukup untuk mempunyai iman yang kuat, tetapi harus juga memiliki pengetahuan teologis yang mendalam. Bagi mereka yang sederhana dan  kurang bisa menyesuaikan diri dengan tuntutan ini, perasaan kurang mampu mungkin muncul.

Ayat diatas ditulis oleh Paulus kepada jemaat di Roma agar mereka menjadi orang-orang yang saling mengasihi dan dapat hidup dalam kesederhanaan dan kerendahan hati. Dalam terjemahan bahasa asing, ayat itu berbunyi: “Hendaklah kamu hidup harmonis dengan orang lain, jangan sombong, tetapi mau bergaul dengan orang yang sederhana, yang kurang mampu. Janganlah menganggap dirimu lebih unggul”. Ini agaknya mengherankan karena Paulus sendiri adalah orang yang berpendidikan tinggi untuk zamannya. Mengapa hidup sebagai orang yang sederhana itu dianjurkannya? Apakah itu sesuai dengan keadaan masa kini?

Tidak dapat disangkal bahwa dengan perubahan yang terjadi dalam kehidupan manusia modern, umat Kristen tidak dapat berdiam diri. Orang Kristen harus bisa menghadapi serangan iblis yang menggunakan berbagai tipu muslihat untuk mempengaruhi orang Kristen. Karena itulah kita harus selalu mau belajar mendalami firman Tuhan dan aplikasinya agar kita bisa mempertahankan iman kita. Walaupun begitu, ada banyak orang Kristen yang tidak memiliki pengetahuan yang mendalam tetapi selalu hidup dalam iman yang besar, yang sudah diberikan Tuhan.

Paulus menulis bahwa sekalipun setiap umat Tuhan mempunyai karunia yang berbeda, kita bisa hidup bersama dan saling menguatkan jika kita mau hidup dalam kerendahan hati dan mau sehati sepikir dengan mereka yang lebih lemah. Kita harus bisa menolong mereka yang lemah dan memberikan keyakinan bahwa setiap manusia adalah sama dihadapan Tuhan. Kita tahu bahwa memperdalam pengetahuan tentang Tuhan haruslah dengan pertolongan Roh Kudus, yang mengerti keadaan dan kemampuan setiap orang dengan sepenuhnya. Jika manusia merasa tidak sanggup, Rohlah yang bisa yang memberi kekuatan; jika manusia tidak mengerti, Rohlah yang menjelaskan. Itulah yang bisa kita doakan untuk mereka yang lebih lemah.

Pagi ini, kita harus sadar bahwa kemajuan yang kita lihat di dunia  bisa membuat manusia mempunyai keinginan untuk mencari pengetahuan yang lebih dalam dalam segala bidang. Keadaan ini juga membuat kita seakan ingin mengenal Tuhan yang mahabesar melalui pikiran kita.  Kita mungkin ingin agar setiap orang percaya bisa dan mau mempelajari firman Tuhan dengan akal budi mereka. Tetapi firman Tuhan berkata bahwa kasih kepada sesama adalah yang paling penting dalam hidup orang Kristen. Kita tidak perlu memikirkan hal-hal yang tinggi, tetapi mau memikirkan hal-hal dan orang-orang yang sederhana. Tuhan justru lebih bisa kita rasakan kehadiranNya jika kita hidup dalam kesederhanaan di hadapan hadiratNya.

 

Imanmu telah menyelamatkan engkau

“Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka.” 2 Korintus 5: 15

Alkisah, ketika Yesus memasuki suatu desa datanglah sepuluh orang kusta menemui Dia. Mereka tinggal berdiri agak jauh dan berteriak: “Yesus, Guru, kasihanilah kami!”. Yesus memandang mereka dan berkata: “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam.” Dan sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi sembuh.  Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, dan kemudian tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Lalu Yesus berkata: “Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?”. Lalu Ia berkata kepada orang itu: “Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau.”

Kisah nyata yang sangat menarik dan dalam artinya.  Yesus datang ke desa itu untuk menyembuhkan sepuluh orang kusta, bukan hanya satu. Sepuluh orang mendapat kesembuhan, tetapi hanya satu yang diselamatkan. Mengapa Yesus peduli terhadap kesepuluh orang kusta, jika Ia tahu bahwa hanya satu yang nantinya kembali menemui Yesus dan memuji Allah? Kita tidak dapat menerka apa yang ada dalam pikiran Yesus, tetapi sudah tentu Ia menyembuhkan kesepuluh orang kusta itu karena kasihNya. Kesepuluh orang kusta itu mendapat kesempatan yang sama untuk memperoleh kasih Kristus, tetapi hanya satu yang menyambutnya dengan rasa syukur dan hormat.

Jika kisah diatas adalah mengenai kesembuhan jasmani, Yesus sebenarnya datang ke dunia dengan prioritas untuk menyembuhkan orang yang sakit rohaninya. Orang yang sehat tak perlu dokter, kataNya. Karena itu Ia datang ke dunia untuk orang berdosa. Siapakah orang yang berdosa? Tentu saja semua orang yang hidup di dunia. Seperti Kristus datang ke desa itu untuk menyembuhkan semua orang yang sakit kusta, Ia datang ke dunia untuk menyelamatkan seluruh umat manusia, sekalipun tidak semua pada akhirnya akan mau memuliakan Dia. Yesus tidak peduli bahwa Ia harus mati di kayu salib untuk menebus dosa seluruh umat manusia, sekalipun sebagian manusia akan menolak Dia.

“Yesus mendengarnya dan berkata: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” Matius 9: 12 – 13

Kita harus menyadari bahwa kesempatan sudah diberikan kepada semua orang untuk menerima kematian Kristus sebagai pengurbanan Anak Allah untuk menebus dosa-dosa manusia. Kristus ingin agar pengurbananNya diterima oleh manusia sebagai berkat yang harus disyukuri. Karena pengubanan Kristus, kita yang seharusnya mati karena penyakit dosa, memperoleh kesempatan untuk hidup baru didalam Dia. Walaupun kasih Kristus itu sangat besar, tidak semua orang bisa atau mau menghargainya. Mereka yang melihat keajaiban besar yang diperbuat Yesus untuk setiap orang, belum tentu mau untuk kembali ke jalan yang benar, untuk menghormati Dia sebagai Tuhan dengan pengucapan syukur.

Sore ini, kepada mereka yang menerima kasihNya dan kemudian mengikut Dia dan hidup untuk Dia, Yesus berkata: “Imanmu telah menyelamatkan engkau”.  Dengan demikian, kita yang sadar bahwa Kristus telah menyembuhkan dan menyelamatkan kita, tidak lagi hidup untuk diri kita sendiri, tetapi hidup dalam kebenaran untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk kita.

“Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh.” 1Petrus 2: 24

Kepada Tuhan kuangkat jiwaku

“Segala jalan TUHAN adalah kasih setia dan kebenaran bagi orang yang berpegang pada perjanjian-Nya dan peringatan-peringatan-Nya.” Mazmur 25: 10

Mazmur 25 adalah salah satu mazmur Daud yang terkenal. Ada 21 ayat dalam Mazmur 25, dan semuanya bisa dinyanyikan sebagai bait-bait lagu himne “To Thee I lift my soul” atau “Kepada Tuhan kuangkat jiwaku” yang diciptakan pada abad ke 18. Mazmur 25 memang adalah sebuah doa permintaan ampun dan perlindungan yang disampaikan Daud kepada Tuhan pada saat ia berusia lanjut, mungkin ketika ia mengalami pemberontakan putranya, Absalom. Dalam kesedihan dan kegundahannya, Daud teringat bahwa ia adalah manusia yang mempunyai berbagai cacat-cela dan dosa (ayat 7) dan sudah sepantasnya kalau Tuhan menghukum dia. Tetapi raja Daud juga percaya bahwa Tuhan adalah mahakasih, dan karena itu ia memohon agar Tuhan tetap mau menolong dia.

Apa yang dirasakan Daud pada waktu itu, mungkin sering dialami manusia manapun ketika mereka mengalami penderitaan atau persoalan besar. Mengapa ini harus terjadi pada diriku? Itulah pertanyaan yang sering muncul. Tetapi, jika orang sering merasa bahwa apa yang terjadi adalah sesuatu yang tidak adil, Daud tidaklah demikian. Daud merasa  bahwa ia adalah orang yang berdosa, bahkan ia sudah merebut Batsyeba dan menyebabkan kematian suaminya, Uria. Ia sadar bahwa ia pernah sesat dalam hidupnya dan sekarang mempunyai banyak musuh yang ingin menghancurkannya. Dengan kerendahan hati, Daud memohon pertolongan Tuhan.

Sebenarnya, apa yang dialami Daud tidaklah jauh berbeda dengan apa yang kita alami dalam hidup sehari-hari. Kita mungkin mengalami berbagai kesulitan dan ingin agar Tuhan menolong kita. Tetapi, apa yang mungkin berbeda ialah bahwa kita seringkali menganggap bahwa pertolongan Tuhan itu sudah sepantasnya karena kita adalah umatNya. Jika kita baca dengan teliti dalam mazmur ini, Daud, raja yang dipilih Tuhan untuk mengambil bagian dalam rencana penyelamatanNya, tidak menggunakan statusnya untuk menuntut pertolongan Tuhan. Tetapi, ia dengan rendah hati mengakui kesesatannya dan meminta ampun kepada Tuhan. Daud sadar bahwa Tuhan adalah mahakuasa dan karena itu ia takut kepadaNya; tetapi Daud juga percaya bahwa Tuhan adalah mahakasih dan mau membimbing dia (ayat 9 – 12).

Daud lebih lanjut percaya bahwa ia akan menerima kebahagiaan dari Tuhan dalam setiap keadaan, karena Tuhan dekat kepada mereka yang takut akan Dia (ayat 13 – 14). Tuhan memang mengasihi semua orang, tetapi Ia akrab dengan orang-orang yang taat kepadaNya. Karena itu, Daud yang sudah terperangkap dalam kesulitan besar (ayat 15,  kakinya sudah terperosok dalam jaring) tetap bisa berharap kepada Tuhan. Mata Daud hanya tertuju kepada Tuhan, bukan kepada orang-orang ataupun hal-hal yang ada disekitarnya. Ia menjerit kepada Dia saja, yang bisa memberi pertolongan.

“Berpalinglah kepadaku dan kasihanilah aku, sebab aku sebatang kara dan tertindas. Lapangkanlah hatiku yang sesak dan keluarkanlah aku dari kesulitanku!” Mazmur 26: 16 – 17

Pagi ini, apakah anda mengalami kesulitan hidup yang besar? Apakah seperti Daud,  kaki anda terasa seperti sudah terperosok dalam jaring? Adakah pertanyaan mengapa semua ini harus terjadi pada hidup anda?

Apa yang dialami Daud bisa memberi pelajaran kepada kita bahwa karena dunia ini penuh dosa, siapapun bisa mengalami saat-saat yang berat. Mungkin itu akibat kekeliruan kita sendiri, tetapi bisa juga karena kesalahan orang lain. Mungkin juga, itu adalah pelajaran yang kita terima dari Tuhan. Bagaimana kita bisa tetap kuat bertahan?  Mazmur 25 menyatakan bahwa kunci kemenangan adalah takut kepada Tuhan. Bagi orang yang mau mengakui kesalahan mereka, Tuhan mau mengampuni mereka. Tuhan yang mahakasih juga mau memberi pertolongan kepada mereka yang bergantung sepenuhnya kepada kemurahan dan bimbinganNya. Lebih dari itu, jika kita memohon agar ketulusan dan kejujuran tetap ada selama kita menantikan pertolongan Tuhan (ayat 21), Ia pasti membebaskan kita dari kesesakan kita pada waktunya.

Jangan memagari rasa empati kita

“Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!” Roma 12: 15

Kejadian menarik terjadi ketika Paus Francis melakukan tour Asia pada tahun 2015, dimana ia mengunjungi negara Filipina. Pada waktu itu ia menjumpai seorang anak yang bertanya mengapa hal-hal yang menyedihkan terjadi pada anak-anak. Bukannya menjawab pertanyaan itu dengan jawaban teologis, Paus berkata kepada orang disekitarnya: “Kalau engkau tidak belajar menangis dengan orang yang menderita, kamu bukanlah orang Kristen yang baik”. Mengapa begitu?

Dalam ayat diatas Paulus menulis kepada jemaat di Roma agar mereka mempunyai rasa belas kasihan, compassion, kepada orang lain. Lebih dari itu, orang Kristen seharusnya mempunyai rasa empati untuk bisa menempatkan diri pada keadaan orang lain, sehingga mereka bisa ikut merasakan apa yang dialami oleh orang lain, baik itu suka maupun duka. Mungkin untuk ikut bersukacita bersama orang lain tidaklah terlalu sulit, walaupun orang sering tidak peduli atas apa yang terjadi pada orang lain. Tetapi, untuk bisa menangis dengan orang yang berdukacita tidaklah mudah. Apalagi untuk menolong.

Pentingkah kita belajar untuk bisa mempunyai rasa belas kasihan dan empati? Jawaban pertanyaan ini adalah sebuah kepastian: Ya. Dunia ini penuh dengan orang-orang yang menderita, baik secara jasmani maupun rohani. Jika kita memang mau mengasihi sesama kita seperti apa yang tertulis dalam hukum kasih, kita mau tidak mau harus belajar untuk bisa menangis dengan orang yang menangis. Kemampuan ini bukanlah sesuatu yang mudah diperoleh, jika itu memang didasari rasa kasih yang benar dan bukan hanya untuk berpura-pura.

Bagaimana kita bisa belajar untuk mempunyai rasa belas kasihan dan empati? Kita harus belajar dari Tuhan Yesus yang sudah turun ke dunia sebagai manusia. Yesus bukan saja bisa menangis ketika Lazarus, yaitu orang yang dikasihiNya, meninggal. Yesus juga menangis ketika Ia melihat Yerusalem. karena orang-orang di kota itu tidak menyadari dosa mereka ketika mereka menolak Sang Juruselamat, dan mereka juga tidak tahu malapetaka yang akan terjadi di masa depan (Lukas 19: 41 – 42).

Bagi orang Kristen di zaman ini mungkin tidak sukar untuk mempunyai rasa belas kasihan dan empati jika ada anggota keluarga atau teman segereja yang mengalami musibah. Tetapi, seringkali perwujudan rasa kasih ini menjadi terhambat jika mereka yang tertimpa bencana adalah bukan orang Kristen, bukan orang yang disukai, bukan sanak atau teman, atau mungkin jauh dimata. Dalam hal ini, seakan ada tembok yang membatasi kasih mereka.

Pagi ini, firman Tuhan mengingatkan kita untuk tidak membatasi rasa belas kasihan dan empati kita kepada orang disekitar kita. Tuhan tidak memerintahkan kita untuk mengasihi, menolong dan berdoa bagi teman atau sanak kita saja. Kasih kita tidak hanya untuk orang yang serumah, seagama, segereja, semarga atau senegara. Sebaliknya, kita harus bisa menyalurkan kasih Tuhan yang sudah kita terima kepada siapa saja, termasuk mereka yang membenci kita.

“Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.” Matius 5: 44 – 45

Semua manusia dikasihi Tuhan

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3: 16

Ayat diatas adalah ayat yang sangat terkenal, yang dipakai oleh banyak orang Kristen sebagai landasan iman mereka. Melalui ayat diatas, kepercayaan mereka diperkuat karena adanya keyakinan bahwa:

  • Allah adalah mahakasih.
  • Allah mengasihi seluruh umat manusia.
  • Semua manusia sudah berdosa.
  • Allah mengurbankan Yesus untuk menyelamatkan umat manusia.
  • Siapa saja yang percaya kepada Yesus akan selamat.

Walaupun begitu, dalam hati kita mungkin ada pertanyaan apakah kasih Allah adalah sama kepada semua orang. Bukankah dalam Perjanjian Lama (Maleakhi 1: 2 – 3) kita membaca bahwa Tuhan mengasihi keturunan Yakub lebih dari keturunan Esau? Apakah Tuhan pilih kasih?

Pertanyaan ini sering muncul dan tidak mudah dijawab, terutama jika kita melihat ada orang, suku atau bangsa yang nampaknya lebih kaya, lebih jaya atau lebih berbahagia daripada yang lain. Apakah penderitaan, bencana dan malapetaka yang terjadi pada orang-orang tertentu adalah tanda kebencian Tuhan?

Ayat Yohanes 3: 16 diatas menunjukkan bahwa Tuhan mengasihi seisi dunia tanpa syarat (unconditional), tanpa membeda-bedakan manusia, baik suku bangsa, status sosial ekonomi ataupun apa saja. Tuhan Yesus datang ke dunia agar siapa saja yang percaya kepadaNya akan diselamatkan. Dengan demikian, dalam hal keselamatan, semua manusia sudah menerima kasih yang sama.

“Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.” Yohanes 3: 17

Selain itu, Tuhan dengan kasihNya juga memelihara seisi dunia ini sehingga segala sesuatu berjalan menurut rencanaNya. Walaupun demikian, Tuhan tidak membiarkan seluruh umat manusia untuk mengalami hal-hal yang sama selama hidup. Alkitab jelas menunjukkan adanya bangsa Israel dan orang-orang pilihan Tuhan yang menerima perlakuan yang berbeda dari Tuhan. Mereka yang dipakai Tuhan untuk maksud dan rencanaNya bisa mengalami hal-hal yang baik maupun yang buruk, sesuai dengan rencanaNya. Perlakuan khusus yang dialami orang-orang tertentu terjadi karena Ia mempunyai rencana tertentu, bukan karena karena keistimewaan orang-orang itu.

Alkitab juga dengan jelas menyatakan bahwa kasih Tuhan kepada umat manusia dalam menghadapi perjuangan hidup adalah lebih besar kepada domba-dombaNya daripada kepada orang-orang yang menolak Dia. Mereka yang mau menerima uluran tanganNya, diberiNya hak untuk memanggil “Bapa” dan kepada mereka diberiNya Roh Kudus yang menyertai mereka dalam setiap keadaan.

Pagi ini, jika kita bangun tidur dan bisa menghirup udara segar, biarlah kita bisa bersyukur bahwa Tuhan mencintai segala bangsa dan seluruh umat manusia tanpa perkecualian. Dengan itu, kita yang sudah menjadi umatNya juga terpanggil untuk menyatakan kasih Tuhan kepada mereka yang belum menerima Kristus. Kita yang sudah menerima perlakuan istimewa karena kasih Tuhan yang memberi kita keselamatan, mempunyai kewajiban untuk memancarkan kasih Tuhan itu kepada semua orang, agar mereka juga mau menjadi pengikut Tuhan seperti kita.

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5: 16

Takutlah kepada Tuhan

“Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.” Matius 10: 28

Apa yang bisa kita baca dalam media setiap hari seringkali membuat kita merenung. Mengapa setiap hari ada saja orang berbuat jahat kepada sesamanya? Mengapa setiap hari selalu ada saja orang yang mengalami penderitaan dan bahkan kematian karena perbuatan jahat orang lain? Mengapa ada orang-orang yang harus mengalami kekejaman dari orang lain sekalipun tidak berbuat salah kepada orang itu? Mengapa orang harus mati pada saat dan tempat yang tidak terduga?

Memang jika kita melihat semua yang terjadi, hati kita bisa menjadi kecil. Hidup manusia dimana saja tidak dapat menghindari adanya kecelakaan, malapetaka atau kekejian. Bagi sebagian orang, hal ini bisa membuat mereka selalu hidup dalam ketakutan. Kekuatiran dan ketakutan yang sangat besar sudah tentu bisa membuat orang seakan lumpuh, tidak dapat lagi menikmati hidupnya dan tidak lagi sanggup untuk menghadapi esok hari. Dimanakah Tuhan ketika hal-hal jahat ini terjadi? Tidak dapatkah Tuhan berbuat sesuatu untuk menghentikan kejahatan di dunia ini?

Banyak orang yang berpikir bahwa sebagai Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih, Ia seharusnya berbuat sesuatu jika ada hal-hal yang jahat yang akan mencelakai manusia. Lebih-lebih lagi, Tuhan seharusnya  bisa melindungi umatNya sehingga tidak ada hal-hal yang buruk yang bisa menimpa mereka. Tetapi, dalam kenyataannya semua orang, baik yang mengikut Kristus ataupun yang tidak mengenalNya, bisa mengalami malapetaka. Dengan demikian, tentunya itu menunjukkan bahwa hal-hal yang buruk tidak selalu merupakan hukuman Tuhan atau sesuatu yang dikehendakiNya.

Tuhan pada hakikatnya bukanlah oknum yang suka membawa bencana ke dunia. Tuhan menciptakan manusia tidak dengan tujuan untuk membuat mereka menderita. Sebaliknya, Ia menempatkan mereka di sebuah tempat yang indah yang dapat mereka nikmati. Adalah manusia sendiri yang kemudian memilih untuk memberontak  dari Tuhan, dan memilih cara hidupnya sendiri. Dengan demikian seluruh umat manusia sudah berdosa dan harus hidup di dunia yang penuh dengan kejahatan dan kekejian.

Bagi kita yang sudah bertobat dari dosa-dosa lama kita,  hidup di dunia ini tidaklah secara otomatis berubah menjadi hidup yang indah. Dunia yang kita tinggali adalah dunia yang juga dihuni oleh orang-orang durhaka, yang  tidak mau menurut firman Tuhan. Mereka yang jahat seringkali berusaha menindas dan mencelakai sesamanya untuk kepentingan diri sendiri, dan sebagai orang Kristen kita malahan bisa mengalami hal-hal yang lebih buruk dari orang yang lain. Jika demikian, apa keuntungan menjadi umat Tuhan?

Memang dunia ini dihuni bersama oleh anak-anak iblis dan anak-anak Tuhan. Dengan demikian matahari bersinar untuk semua orang, dan kenikmatan duniawi bisa dinikmati oleh siapa saja. Karena itu jugalah apa yang buruk bisa terjadi kepada siapa saja, termasuk orang percaya. Tetapi, sekalipun hal yang sama bisa terjadi pada siapapun, apa yang diperoleh manusia setelah itu adalah berbeda. Bagi mereka yang tidak percaya kepada Tuhan, hal-hal yang jahat pada akhirnya  akan menuju kepada kehancuran jasmani maupun rohani. Lebih-lebih lagi, bagi mereka tidak ada Tuhan yang bisa menyelamatkan jiwa mereka. Mereka boleh luput dari kesulitan jasmani di dunia untuk sementara waktu, tetapi Tuhan yang yang berkuasa membinasakan baik tubuh maupun jiwa akan menuntut pertanggung-jawaban mereka pada saatnya.

Pagi ini, jika hati kita gundah karena adanya hal-hal yang jahat yang kita dengar atau saksikan, firman Tuhan berkata bahwa sebagai umatNya kita tidak perlu takut atau kuatir. Memang selama kita hidup di dunia hal-hal yang jahat bisa terjadi dan orang-orang yang kejam bisa mencelakai kita. Tetapi, karena kita mempunyai Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih, kita boleh menyerahkan jiwa dan raga kita kedalam tanganNya. Tanpa seizin Tuhan, apapun yang jahat tidak bisa terjadi kepada kita. Sebagai umat Tuhan kita percaya bahwa rencanaNya harus terjadi baik di bumi maupun di surga.  Sekalipun kita harus menderita di bumi, kita tahu bahwa Tuhanlah yang akan memberi kita hidup yang kekal di surga.

Jangan terombang-ambing dalam hidup

“Sebagaimana nabi-nabi palsu dahulu tampil di tengah-tengah umat Allah, demikian pula di antara kamu akan ada guru-guru palsu. Mereka akan memasukkan pengajaran-pengajaran sesat yang membinasakan, bahkan mereka akan menyangkal Penguasa yang telah menebus mereka dan dengan jalan demikian segera mendatangkan kebinasaan atas diri mereka.” 2 Petrus 2: 1

Di zaman ini iklan bermunculan dimana-mana; bukan saja di koran dan TV,  tetapi juga  di telepon genggam selagi anda mencari informasi atau menggunakan  media sosial melalui internet. Memang dengan kemajuan teknologi, orang bisa memasarkan produk-produk yang saat ini menjadi perhatian anda, karena adanya informasi yang pernah anda kirimkan atau cari melalui internet. Dengan memakai teknik artificial intelligence atau kecerdasan buatan, perusahaan-perusahaan di dunia memasarkan produk mereka melalui digital marketing atau pemasaran digital.

Teknik kecerdasan buatan yang dipakai oleh berbagai perusahaan di masa kini mempunyai kemampuan menerka cara hidup kita dan apa yang kita sukai atau butuhkan. Tidaklah mengherankan, jika anda pernah mencari informasi tentang mobil, berbagai iklan mobil kemudian bisa muncul pada layar telepon genggam anda. Memang melalui internet, secara tersembunyi berbagai informasi pribadi bisa diperoleh oleh mereka yang ingin memanfaatkan keadaan dan kebutuhan kita.

Sebenarnya, apa yang terjadi dengan pengumpulan data pribadi di zaman ini bukanlah barang baru. Dari kitab Kejadian 3, kita tahu bahwa iblis berusaha untuk memperoleh informasi tentang apa yang ada dalam hati dan pikiran Adam dan Hawa. Iblis juga selalu ingin mencari informasi tentang apa yang akan dilakukan oleh Tuhan dan berusaha untuk menggagalkan rencanaNya. Iblis juga ingin untuk mengacaukan kehidupan  di dunia agar nama Tuhan tidak dipermuliakan manusia. Dalam kekacauan di dunia dan kebingungan manusia, iblis akan lebih mudah untuk menguasai manusia.

Apa yang kita lihat di dunia sekarang ini memang seringkali membuat hati kita gundah dan pikiran kita menjadi bingung. Bagaimana tidak? Dimanapun kita berada, selalu ada masalah-masalah yang membuat kita tidak bisa memusatkan hidup kita kepada apa yang dikehendaki Tuhan. Terkadang soal ekonomi yang membuat kita masygul, tetapi suasana politik dan keamanan masyarakat juga bisa membuat kita kuatir. Belum lagi masalah pendidikan, penggunaan obat terlarang, dan sulitnya mencari pekerjaan yang bisa membuat pusing banyak orang tua.

Jika ada yang merasa senang dengan kekacauan yang ada dalam hidup manusia, itu adalah iblis. Dalam kekacauan dunia, biasanya manusia  berusaha untuk mencari pertolongan dan kekuatan dari apa saja yang bisa diraihnya. Bagi sebagian orang Kristen, keadaan ini bisa membuat mereka insaf bahwa mereka harus lebih dekat kepada Tuhan. Tetapi sebagian lagi mungkin berusaha untuk mencari sesuatu yang bisa memberi mereka ketenangan, keyakinan dan keberanian untuk menghadapi hidup. Banyak diantara mereka yang kemudian jatuh kedalam perangkap iblis.

Dalam kesulitan manusia, iblis sering menawarkan solusi yang nampaknya menarik tetapi bisa membawa kehancuran. Yesus setelah berpuasa 40 hari, juga mengalami hal yang serupa (Matius 4: 1 – 11). Dalam kehidupan sehari-hari kita, kita juga bisa menjumpai iblis yang sudah mengamati keadaan kita.  Iblis bisa memakai orang-orang yang terlihat sebagai tokoh, orang pandai, pemimpin agama dan orang yang bijak untuk mengubah cara hidup kita. Tidaklah mengherankan bahwa ada banyak orang yang kemudian memperoleh kesuksesan dalam hal mempengaruhi kehidupan manusia dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan firman Tuhan. Bahkan dalam kehidupan gereja pun seringkali kita melihat adanya guru-guru palsu yang memasukkan pengajaran-pengajaran sesat yang menjauhkan kita dari Yesus Kristus, dan yang hanya membuat kemasyhuran bagi diri mereka sendiri.

Pagi ini, firman Tuhan menasihati kita bahwa dalam menghadapi tantangan kehidupan, hati dan pikiran kita tidak boleh terombang ambing. Sekalipun hidup ini begitu berat, hanya Tuhan yang bisa memberi kita jalan keluar. Bukan tokoh-tokoh masyarakat yang sering kita lihat dalam berbagai media. Bukan juga cara-cara mistik atau psikologis yang diajarkan oleh berbagai guru dan orang pandai lainnya. Sebagai orang percaya, kita mempunyai iman hanya kepada Tuhan melalui pengurbanan Kristus di kayu salib. Mereka yang menawarkan solusi-solusi yang tidak sesuai dengan firman Tuhan sudah barang tentu bukanlah utusan Tuhan. Biarlah kita boleh berpegang kepada iman yang benar dan tidak terperangkap dalam tipu daya iblis dan pengikutnya.

“….sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan..” Efesus 4: 14

Menjadi arif bijaksana

“Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. Efesus 5: 15

Bacaan: Efesus 5: 1 – 21

Menurut kamus bahasa Indonesia kata arif berarti bijaksana, cerdik dan pandai, atau berilmu. Kata bijaksana sendiri berarti selalu menggunakan akal budi (pengalaman dan pengetahuan), arif atau tajam pikiran. Dengan demikian kata arif bijaksana agaknya menggabungkan pengetahuan (knowledge) dan kebijaksanaan (wisdom). Memang kedua hal ini adalah penting untuk dimiliki dalam hidup ini. Banyak orang yang berpengetahuan (knowledgeable) tetapi kurang bijak, dan banyak orang yang bijaksana (wise) tetapi tidak berilmu. Dengan demikian, arif bijaksana adalah sebuah kemampuan yang penting bagi manusia untuk hidup di dunia yang penuh dengan tantangan.

Bagaimana caranya untuk menjadi orang yang arif bijaksana? Alkitab menyatakan bahwa takut akan Tuhan adalah sumber kebijaksanaan (Mazmur 111: 10), karena mereka yang menghormati Tuhan akan mempunyai akal budi yang baik. Mereka akan dapat belajar dari pengalaman dan sadar bahwa hidup mereka adalah milik Tuhan dan harus dipelihara dengan baik. Dengan demikian, orang yang bijaksana akan mengerti bahwa dalam hidup ini mereka harus berusaha dan belajar untuk mengerti apa yang dikehendaki Tuhan dan menjauhi apa yang jahat.

“Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan.” Efesus 5: 16

Begitu banyak orang Kristen yang merasa bahwa apa yang diperlukan dalam hidup ini hanyalah iman. Dengan iman mereka mau menyerahkan hidup dan masa depan mereka kepada Tuhan. Itu adalah maksud yang baik, sekalipun mungkin sering disalahartikan. Karena kepercayaan bahwa Tuhan memelihara hidup umatNya dan menentukan segala apa yang terjadi di dunia, banyak orang Kristen yang kemudian menjadi orang yang tidak arif bijaksana. Mereka mungkin bermaksud untuk menjadi pengikut Kristus yang setia, tetapi mereka tidak sadar bahwa dalam hidup di dunia, mereka tetap harus aktif untuk mengisi hidup mereka dengan apa yang baik dan berguna.

Hidup di dunia ini selalu dipenuhi dengan berbagai tantangan, persoalan dan masalah. Bagi banyak orang, hidup ini mungkin terlalu melelahkan atau membosankan. Mereka yang mencoba melarikan diri dari kenyataan seringkali ingin menggunakan hidup mereka untuk hal-hal yang nampaknya lebih menyenangkan. Tidak heran bahwa ada banyak  orang yang kemudian membenamkan diri dalam aktivitas keluarga,  sosial, olahraga, sosial media, agama, politik dan lainnya. Mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk menggunakan waktu yang diberikan Tuhan. Mereka bahkan mengisi hidup mereka dengan hal-hal yang kotor, yang kosong, yang tidak pantas atau yang sembrono. Hidup dalam kegelapan, mereka tidak mau memikirkan apa yang sebenarnya dikehendaki Tuhan dalam hidup mereka.

Ayat-ayat diatas menulis bahwa sebagai orang percaya kita harus memperhatikan dengan saksama cara hidup kita. Kita harus berhati-hati agar kita tidak hidup seperti orang yang bodoh, tetapi seperti orang arif, yang bisa mempergunakan waktu yang ada dengan sebaik-baiknya. Iblis dan pengaruhnya di dunia selalu berusaha menarik kita untuk menjauhi Tuhan, dengan menawarkan segala sesuatu yang nampaknya gemerlapan, nyaman atau nikmat. Jika kita tidak awas, perlahan-lahan hidup kita akan menjauhi Tuhan karena apa yang jahat menguasai hidup kita; seperti kepentingan pribadi, hawa nafsu, dan kesombongan. Selain itu, ada juga kemungkinan bahwa jika kita selalu mengejar apa yang nampaknya nyaman dan nikmat, kita akan hidup dalam kekecewaan jika kita tidak mendapatkannya.

Pagi ini firman Tuhan mengingatkan bahwa hidup kita hendaknya disesuaikan dengan kehendak Tuhan. Tuhan menghendaki agar kita mendapat kepenuhan Roh Kudus, jika kita membiarkan Ia bekerja pada setiap waktu, membimbing dan mendidik kita dalam menjalani hidup kita. Dengan demikian, kita akan bertumbuh menjadi orang Kristen yang arif bijaksana, yang mampu menghadapi segala tantangan dan masalah dalam hidup kita. Jika hidup kita dipenuhi Roh, kita akan bisa selalu hidup didalam terang Kristus dan bisa mengucap syukur kepada Tuhan dalam semua keadaan. Tuhan sudah memanggil kita untuk hidup sebagai anak-anak terang, tetapi keputusan ada ditangan kita untuk mau menuruti firmanNya.

 

Tuhan tidak menyukai malapetaka

“Ingatlah hal-hal yang dahulu dari sejak purbakala, bahwasanya Akulah Allah dan tidak ada yang lain, Akulah Allah dan tidak ada yang seperti Aku, yang memberitahukan dari mulanya hal yang kemudian dan dari zaman purbakala apa yang belum terlaksana, yang berkata: Keputusan-Ku akan sampai, dan segala kehendak-Ku akan Kulaksanakan” Yesaya 46: 9  – 10

Jika kita membaca berita dalam surat kabar atau dari media eletronik, pastilah kita bisa melihat bahwa setiap hari selalu ada saja kabar buruk yang terjadi di dunia. Tidak hanya berita tentang adanya kekacauan di bidang sosial, ekonomi dan politik di berbagai tempat, tetapi juga adanya penderitaan yang dialami manusia karena adanya kelaparan, penyakit, penganiayaan, kejahatan, perang atau kecelakaan. Apalagi, ada kejadian-kejadian dimana sejumlah besar manusia yang nampaknya tidak bersalah, menemui kematian pada waktu yang bersamaan akibat suatu bencana, seperti jatuhnya sebuah pesawat udara. Mereka yang mempunyai perasaan tentu merasa sedih bahwa hal-hal yang sedemikian bisa terjadi tanpa adanya peringatan atau tanda-tanda.

Memang sebagian manusia mungkin hanya memikirkan penderitaan orang lain secara sepintas lalu saja. Selama hal-hal itu tidak menyangkut hidup mereka atau hidup sanak saudara, mereka tidak merasa terbebani. Tetapi, kebanyakan manusia tentu bisa merasakan kesedihan yang dialami orang lain dan menerima kenyataan bahwa selama hidup di dunia memang penderitaan bisa datang silih berganti.

Apakah Tuhan itu benar ada dan tetap mengatur seisi jagad-raya? Jika Tuhan itu mahakuasa, mahatahu dan mahakasih, adakah yang Ia lakukan ketika Ia melihat bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi pada diri umat manusia? Inilah pertanyaan yang sulit dijawab manusia. Dalam kesulitan dan penderitaan yang besar, adalah normal jika manusia mempertanyakan hal-hal itu.

Dimanakah Tuhan ketika malapetaka terjadi di dunia? Sedihkah Tuhan jika umatNya terkena bencana? Bagi orang Kristen hal ini adalah  pertanyaan yang masih sering timbul. Bahkan adanya bencana dan malapetaka seringkali membuat hati menjadi kecil karena nampaknya malapetaka bisa terjadi pada siapa saja, dimana saja dan kapan saja.

Satu hal yang harus kita sadari ialah sifat Tuhan yang mahakasih tentulah bertentangan dengan pandangan sebagian agama atau pendapat beberapa pemuka agama, bahwa Dialah yang menyebabkan munculnya malapetaka. Dalam Yohanes 3:16 kita tahu bahwa karena Tuhan mencintai seisi dunia, Ia sudah memberikan jalan keselamatan melalui Yesus Kristus. Dengan kasih yang sedemikian besarnya, tidaklah mungkin bahwa Tuhan bermaksud membiarkan orang-orang atau bangsa-bangsa tertentu untuk menderita jika tidak ada sebabnya.

Sebelum kita bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan diatas, kita harus menyadari bahwa karena bumi ini sudah jatuh kedalam dosa, hidup semua makhluk tidak lagi dapat memperoleh ketenteraman. Karena dunia ini adalah dunia yang tidak sempurna, manusia secara perorangan atau kolektif, bisa membuat kesalahan yang bisa mencelakakan orang lain atau dirinya sendiri. Dalam hal ini, kita harus ingat bahwa iblis dengan segala usahanya juga berusaha menghancurkan kehidupan manusia.

Dalam keadaan yang demikian, bagi umat Kristen satu-satunya pegangan hidup adalah kasih Tuhan yang sudah mengurbankan AnakNya yang tunggal untuk menebus dosa manusia. Karena sedemikian besar kasih Tuhan kepada manusia, Ia sebenarnya tidak menginginkan adanya bencana apapun pada diri manusia. Walaupun begitu, karena dosa yang diperbuat manusia, Tuhan bisa memungkinkan terjadinya hal-hal yang menyedihkan sebagai peringatan dan hukuman. Selain itu, dalam berbagai penderitaan, kuasa Tuhan bisa terasa dan membuat orang mau berserah kepadaNya.

Pagi ini, jika kita mendengar adanya sebuah malapetaka, hati kita mungkin bertanya-tanya mengapa Tuhan seakan berdiam diri. Apakah Tuhan benar-benar mahakasih, maha adil dan mahakuasa? Ayat diatas menunjukkan bahwa  keputusanNya akan terjadi dan segala kehendakNya akan terlaksana. Apapun yang terjadi adalah dengan sepengetahuanNya.

Kita seringkali tidak mengerti mengapa Ia mengambil keputusan tertentu atau membiarkan hal-hal yang buruk terjadi di dunia. Tetapi, satu hal yang kita mengerti adalah hidup di dunia ini hanyalah sebagian kecil dari hidup manusia. Orang mungkin hidup di dunia untuk 70-80 tahun dan dalam jangka waktu yang relatif singkat itu berbagai kesukaran dan penderitaan bisa muncul (Mazmur 90: 10). Tetapi apa yang datang sesudah hidup di dunia adalah yang lebih penting; masa yang abadi dimana kita sudah menerima garansi untuk bisa menikmati kebahagiaan yang penuh dengan Tuhan. Hidup yang singkat di dunia, dengan demikian bisa kita gunakan untuk menolong mereka yang menderita, agar mereka bisa mengenal Tuhan yang mahakasih seperti kita. Biarlah nama Tuhan dipermuliakan segala bangsa dalam segala keadaan!