“Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin.” Matius 24: 12
Bulan Maret adalah permulaan musim gugur di Australia. Di kota saya, suhu siang hari masih bisa mencapai 30 derajat Celsius, tetapi pada waktu malam bisa turun sampai dibawah 20 derajat. Karena udara yang makin dingin, perlengkapan musim dingin mulai keluar dari lemari, dan itu termasuk jaket dan selimut. Musim dingin baru akan datang di bulan Juni, tetapi hari sudah semakin singkat karena sinar matahari yang makin pendek. Kebanyakan orang kurang menyenangi musim dingin karena kesempatan untuk bekerja maupun menikmati udara terbuka menjadi berkurang. Tidaklah mengherankan bahwa di daerah tertentu orang biasanya terlihat kurang gembira pada musim dingin, jika dibandingkan dengan keadaan di musim semi atau musim panas.
Ayat diatas merupakan apa yang dikatakan Yesus kepada murid-muridNya mengenai keadaan yang akan datang. Sebagian orang menafsirkan bahwa apa yang dikatakan Yesus adalah mengenai keadaan pada zaman itu saja, tetapi banyak juga yang menghubungkan itu dengan keadaan dunia menjelang akhir zaman. Apapun tafsirannya, intisari pesan Yesus itu jelas terlihat: bahwa karena manusia bertambah jahat, kasih akan menjadi padam.
Mungkin sebagian orang tidak setuju dengan pernyataan bahwa manusia di zaman ini lebih jahat dari manusia di zaman Yesus. Bukankah etika, hukum dan cara hidup manusia di zaman ini adalah jauh lebih beradab dari zaman dulu? Bukankah hak azasi dan keadilan sosial lebih terjamin jika dibandingkan dengan zaman dulu? Tidakkah manusia sekarang lebih bisa menghargai sesamanya, dan lebih bisa menerima mereka yang berasal dari tempat lain dan berbahasa asing?
Memang tidak dapat disangkal bahwa hidup manusia sudah mengalami perubahan besar jika dibandingkan dengan hidup di zaman sebelum Renaissance (abad 14-17). Manusia dengan kemajuan filsafat, sastra dan seni, berubah perlahan-lahan menjadi manusia yang nampaknya hebat dan pandai, sophisticated. Walaupun demikian, satu hal yang bisa terlihat ialah bahwa manusia pada umumnya makin yakin akan kemampuan dirinya sendiri. Manusia pada umumnya tidak lagi takut akan Tuhan yang tidak terlihat dan yang tidak bisa dibayangkan. Hidup manusia menjadi hidup yang individualistik yang tidak lagi bisa menyatakan kasih kepada Tuhan dan sesama. Bagaimana pula dengan hidup orang Kristen?
Pada zaman rasul-rasul, hidup orang Kristen jelas berbeda dengan apa yang kita lihat sekarang. Pada zaman itu mereka selalu berkumpul untuk makan dan berdoa bersama. Mereka menghadapi tantangan hidup secara bersama dan bisa merasakan kebutuhan dan penderitaan orang lain.
“Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing. Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.” Kisah Para Rasul 2: 44 – 47
Sebaliknya, di zaman ini banyak orang Kristen yang menginginkan kesuksesan hidup demi kepentingan pribadi dan dengan itu, gereja seolah menjadi tempat untuk memenuhi kebutuhan spritual pribadi. Manusia menjadi dingin hati dan tidak peka dengan segi kemanusiaan yang dibutuhkan oleh masyarakat dan bahkan seluruh umat manusia di dunia.
Kemajuan teknologi memungkinkan umat Kristen untuk melihat dan mendengar keadaan orang lain. Kemajuan teknologi juga memungkinkan orang Kristen untuk ikut merasakan penderitaan orang lain dan berusaha untuk menolong dan menguatkan mereka yang tertimpa kemalangan. Walaupun demikian, jika kasih sudah mendingin, kepekaan kita akan penderitaan orang lain menjadi berkurang. Perintah Tuhan agar kita mengasihi sesama manusia dengan tidak memandang asal-usul dan latar belakang mereka, mungkin juga mudah kita abaikan.
Pagi ini, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa karena bertambahnya kedurhakaan, kasih kebanyakan manusia menjadi dingin. Kebanyakan, bukan semua. Diantara manusia, tetap ada mereka yang taat kepada perintahNya. Apakah kita masih tergolong kedalam kelompok yang masih memancarkan kehangatan kasih kepada sesama kita? Semoga.
Teringat saya akan masa lalu, sewaktu masih kecil dan tinggal di Surabaya. Pada waktu itu teknologi elektronik belumlah maju dan komputer pun belum ada. TV hitam putih dan radio transistor baru saja muncul di toko; dan dengan harga yang cukup mahal, benda-benda semacam itu hanya bisa dimiliki oleh orang berada. Tetapi saya melewati masa kecil saya dengan cukup bahagia, karena saya dapat menikmati kesempatan yang ada pada waktu itu, seperti bermain sepakbola tanpa memakai sepatu, membuat mobil-mobilan dari karton bekas bungkus barang dan sebagainya. Hidup saya memang sederhana untuk tidak dikatakan miskin, tetapi saya tidak merasa malu karena kebanyakan teman saya juga mengalami hal yang sama.
Alkisah, ketika Yesus memasuki suatu desa datanglah sepuluh orang kusta menemui Dia. Mereka tinggal berdiri agak jauh dan berteriak: “Yesus, Guru, kasihanilah kami!”. Yesus memandang mereka dan berkata: “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam.” Dan sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi sembuh. Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, dan kemudian tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Lalu Yesus berkata: “Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?”. Lalu Ia berkata kepada orang itu: “Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau.”
Mazmur 25 adalah salah satu mazmur Daud yang terkenal. Ada 21 ayat dalam Mazmur 25, dan semuanya bisa dinyanyikan sebagai bait-bait lagu himne “To Thee I lift my soul” atau “Kepada Tuhan kuangkat jiwaku” yang diciptakan pada abad ke 18. Mazmur 25 memang adalah sebuah doa permintaan ampun dan perlindungan yang disampaikan Daud kepada Tuhan pada saat ia berusia lanjut, mungkin ketika ia mengalami pemberontakan putranya, Absalom. Dalam kesedihan dan kegundahannya, Daud teringat bahwa ia adalah manusia yang mempunyai berbagai cacat-cela dan dosa (ayat 7) dan sudah sepantasnya kalau Tuhan menghukum dia. Tetapi raja Daud juga percaya bahwa Tuhan adalah mahakasih, dan karena itu ia memohon agar Tuhan tetap mau menolong dia.
Kejadian menarik terjadi ketika Paus Francis melakukan tour Asia pada tahun 2015, dimana ia mengunjungi negara Filipina. Pada waktu itu ia menjumpai seorang anak yang bertanya mengapa hal-hal yang menyedihkan terjadi pada anak-anak. Bukannya menjawab pertanyaan itu dengan jawaban teologis, Paus berkata kepada orang disekitarnya: “Kalau engkau tidak belajar menangis dengan orang yang menderita, kamu bukanlah orang Kristen yang baik”. Mengapa begitu?
Ayat diatas adalah ayat yang sangat terkenal, yang dipakai oleh banyak orang Kristen sebagai landasan iman mereka. Melalui ayat diatas, kepercayaan mereka diperkuat karena adanya keyakinan bahwa:
Di zaman ini iklan bermunculan dimana-mana; bukan saja di koran dan TV, tetapi juga di telepon genggam selagi anda mencari informasi atau menggunakan media sosial melalui internet. Memang dengan kemajuan teknologi, orang bisa memasarkan produk-produk yang saat ini menjadi perhatian anda, karena adanya informasi yang pernah anda kirimkan atau cari melalui internet. Dengan memakai teknik artificial intelligence atau kecerdasan buatan, perusahaan-perusahaan di dunia memasarkan produk mereka melalui digital marketing atau pemasaran digital.
Menurut kamus bahasa Indonesia kata arif berarti bijaksana, cerdik dan pandai, atau berilmu. Kata bijaksana sendiri berarti selalu menggunakan akal budi (pengalaman dan pengetahuan), arif atau tajam pikiran. Dengan demikian kata arif bijaksana agaknya menggabungkan pengetahuan (knowledge) dan kebijaksanaan (wisdom). Memang kedua hal ini adalah penting untuk dimiliki dalam hidup ini. Banyak orang yang berpengetahuan (knowledgeable) tetapi kurang bijak, dan banyak orang yang bijaksana (wise) tetapi tidak berilmu. Dengan demikian, arif bijaksana adalah sebuah kemampuan yang penting bagi manusia untuk hidup di dunia yang penuh dengan tantangan.
Jika kita membaca berita dalam surat kabar atau dari media eletronik, pastilah kita bisa melihat bahwa setiap hari selalu ada saja kabar buruk yang terjadi di dunia. Tidak hanya berita tentang adanya kekacauan di bidang sosial, ekonomi dan politik di berbagai tempat, tetapi juga adanya penderitaan yang dialami manusia karena adanya kelaparan, penyakit, penganiayaan, kejahatan, perang atau kecelakaan. Apalagi, ada kejadian-kejadian dimana sejumlah besar manusia yang nampaknya tidak bersalah, menemui kematian pada waktu yang bersamaan akibat suatu bencana, seperti jatuhnya sebuah pesawat udara. Mereka yang mempunyai perasaan tentu merasa sedih bahwa hal-hal yang sedemikian bisa terjadi tanpa adanya peringatan atau tanda-tanda.