Untung rugi menjadi pengikut Kristus

“Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus” Filipi 3: 8

Bagi penduduk Australia, memiliki sebuah rumah adalah sebuah cita-cita. Karena itu, kebanyakan orang meminjam uang dari bank untuk bisa membeli rumah. Pinjaman uang untuk membayar harga rumah biasanya bisa dilunasi setelah jangka waktu yang cukup lama, sekitar 30 tahun. Dengan demikian, peminjam yang tidak bisa melunasi hutang dalam jangka waktu yang lebih singkat akan membayar bunga yang sangat besar. Resiko bukan hanya itu saja; jika rumah itu akhirnya dijual, ada kemungkinan bahwa pemiliknya mengalami kerugian.

Di negara lain seperti Swiss, Hong Kong dan Jerman, penduduknya mungkin mempunyai pandangan yang berbeda. Mereka lebih suka menyewa rumah karena tidak mau memikirkan hutang selama 30 tahunan. Apalagi memikirkan biaya pemeliharaan rumah dan kemungkinan rugi. Dengan menyewa, mereka lebih bisa menikmati hidup karena mereka tidak harus hidup pas-pasan untuk membayar uang cicilan. Dalam hal ini, manakah filsafat hidup yang benar? Mana yang lebih menguntungkan?

Pertanyaan yang serupa bisa saja dikemukakan mengenai hal mengikut Tuhan. Ada orang yang berpendapat bahwa hidup sebagai orang percaya itu membutuhkan komitmen yang besar. Mereka lebih senang untuk hidup nyaman tanpa batasan selagi masih bisa. Untuk menjadi orang Kristen yang sepenuhnya barangkali bisa dilakukan jika usia sudah tua. Mereka mungkin merasa bahwa hidup yang sekarang adalah kesempatan untuk mencari kesuksesan dan kekayaan, selagi masih bisa. Bukankah hal kerajaan surga itu bisa dilupakan untuk sementara waktu?

Paulus dalam ayat diatas mengutarakan filsafat hidupnya. Ia menganggap segala sesuatu yang ada di dunia ini membawa kerugian, karena pengenalan akan Kristus Yesus adalah lebih baik dari pada semuanya. Karena apa yang ada di dunia ini cenderung menjauhkan Paulus dari Tuhan, ia telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sebagai barang yang tidak berharga, supaya ia memusatkan hidupnya kepada Kristus. Hidup dalam Kristus, dalam kedamaian dengan Tuhan, bagi Paulus adalah hal yang bisa membawa kebahagiaan yang sejati.

Adalah mengherankan bahwa banyak orang Kristen yang justru hidup untuk mengejar kebahagiaan diluar Yesus. Memang sebagai manusia kita tidak dapat mengabaikan kepentingan pribadi, keluarga, pekerjaan, gereja dan negara. Tetapi, jika kita mengutamakan hal-hal itu diatas kebutuhan untuk lebih dekat dengan Yesus Kristus, hidup kita mungkin tidak akan mengalami perubahan. Hari demi hari kita akan mengalami kerugian, karena hidup kita akan makin jauh dari Dia.

Pagi ini, jika kita bersiap untuk pergi ke gereja, apakah yang ada dalam pikiran kita? Mungkinkah ke gereja hanyalah suatu kewajiban dua jam saja? Ataukah kita mempunyai kerinduan kepada Yesus setiap hari? Apakah kita mengerti bahwa hidup dekat kepadaNya adalah lebih berharga dari hal-hal lain yang sekarang selalu kita lakukan dan idamkan?

“Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri?” Lukas 9: 25

Hidup itu singkat, jadikan itu manis

“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” Filipi 4: 8

Life is short, make it sweet. Hidup itu singkat, jadikan itu manis. Itulah salah satu semboyan hidup yang terkenal. Hidup ini singkat, karena itu isilah dengan hal-hal yang menyenangkan. Semboyan ini pernah juga muncul dalam sebuah lagu country yang muncul baru-baru ini.

Hidup yang manis, yang penuh madu, tentunya adalah idaman semua orang. Dari kecil sampai tua, semua orang mendambakan kebahagiaan. Bagi sebagian orang yang pernah merasakan saat-saat dimana mereka mengalami kegembiraan, tentunya tidak mudah melupakan hal itu. Walaupun demikian, karena banyaknya pergumulan hidup, orang sering cenderung merasa bahwa hidup ini pahit. Semboyan diatas mengatakan bahwa adalah pilihan kita untuk mengisi hidup kita dengan pikiran dan harapan yang positif agar kita dapat merasakan manisnya hidup ini.

Memang ada benarnya bahwa manis-pahitnya hidup ini tergantung kepada diri kita sendiri. Mereka yang berkelimpahan, belum tentu bisa merasakan kebahagiaan. Sebaliknya, mereka yang berkekurangan belum tentu tidak mempunyai kebahagiaan dalam hidup. Rasul Paulus sendiri pernah menulis bahwa ia berusaha untuk mencukupkan diri dalam setiap keadaan (Filipi 4: 11).

Hidup itu singkat, jadikan itu manis. Ini lebih mudah dikatakan daripada dilakukan. Bagaimana orang bisa menjadikan apa yang pahit untuk menjadi manis? Hanya keajaiban yang bisa membuat itu terjadi! Kita tahu bahwa hanya keajaiban yang bisa membuat air tawar menjadi anggur yang terbaik, dan itu karena Yesus (Yohanes 2: 1 – 11). Karena itu, kita harus bergantung kepada Dia untuk mendapatkan kemampuan untuk membuat hidup yang hambar dan bahkan pahit, untuk menjadi hidup yang terasa manis.

Yesus tidak hanya membuat keajaiban selama Ia hidup di dunia. Ia yang sekarang di surga, tetap bisa menolong kita seperti Ia sudah menolong tuan rumah perjamuan kawin di Kana dengan mengubah air menjadi anggur. Dengan Roh Kudus yang telah dikaruniakanNya, banyak orang Kristen yang dianiaya tetap bisa bertahan dalam hidup mereka dengan keteguhan iman. Dengan bimbingan Roh juga, kita yang mengalami kepahitan hidup dapat melihat kepada kasih kemurahan Tuhan yang sudah memberikan keselamatan kekal kepada kita yang sebenarnya tidak layak menerimanya.

Roh Kudus memang ada dalam hidup kita dan membimbing kita untuk memilih cara hidup yang benar. Tetapi Roh Kudus tidak membuat kita menjadi robot-robot yang hanya bisa menurut perintah Tuhan. Setiap orang sudah diberi Tuhan kebijaksanaan dan kesadaran akan apa yang baik dan yang buruk. Karena itu, apa yang kita pilih bisa menentukan apakah kita akan bisa merasakan manisnya hidup ini. Ayat diatas ditulis oleh Paulus dan Timotius kepada jemaat di Filipi untuk menguatkan hidup mereka. Apa yang diajarkan? Jemaat di Filipi dianjurkan untuk memikirkan semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji. Ini bukan cara berpikir positif, positive thinking, tetapi adalah cara hidup positif, positive action.

“Dan apa yang telah kamu pelajari dan apa yang telah kamu terima, dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaku, lakukanlah itu. Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu.” Filipi 4: 9

Hal mengaku dosa

“Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita.” 1 Yohanes 1: 8

Siapakah manusia yang tidak berdosa? Agaknya semua orang, dari segala bangsa dan segala agama, akan mengaku sebagai orang yang berdosa jika ditanya.  Semua orang, bagaimanapun baiknya umumnya mengaku bahwa mereka adalah orang-orang yang tidak sempurna. Walaupun demikian, jika ditanya apa yang sudah mereka lakukan untuk dosa-dosa mereka, mungkin tidak banyak yang bisa mereka katakan. Mungkin saja ada yang sudah bertobat dari dosa tertentu, tetapi tentunya banyak dosa-dosa lain yang tersisa.  Mungkin jika dosa-dosa itu tidak terasa sebagai dosa besar, mereka dengan mudah melupakannya atau mungkin saja tidak menyadarinya.

Sebagian yang dianggap dosa, mungkin bertalian dengan etika kehidupan. Memang etika bisa menjadi pedoman praktis tentang apa yang baik dan yang buruk dalam hidup sehari-hari. Tetapi, setiap manusia, keluarga, suku atau bangsa tentunya mempunyai etika yang berbeda-beda. Apa yang bisa diterima oleh orang yang satu, belum tentu bisa diterima oleh orang yang lain.Tidaklah mengherankan jika kita melihat bahwa ada orang -orang yang dengan enaknya melakukan sesuatu yang dianggap tabu oleh orang lain. Apalagi mereka yang berkuasa dan ternama biasanya tidak lagi mempunyai rasa segan atau malu untuk melakukan hal yang salah.

Bagi orang Kristen pun ada berbagai faktor yang  bisa menyebabkan perbedaan pendapat tentang apa yang baik dan apa yang buruk, antara lain pendidikan, kebiasaan, tekanan ekonomi, situasi politik dan sebagainya. Semua itu bisa membuat orang tidak peduli atau kurang peka dengan dosa-dosa yang ada pada dirinya, atau yang ada dalam masyarakat. Apa yang kelihatan sebagai dosa kemudian diterima sebagai sesuatu yang tidak bisa dihindari, dan bahkan mungkin sebagai kehendak Tuhan. Mereka lupa bahwa jika firman Tuhan bisa ditafsirkan seenaknya atau ada yang bisa diabaikan, hidup manusia akan perlahan-lahan jatuh kedalam kehancuran.

Sebagai orang yang sudah diselamatkan, kita percaya bahwa Roh Kudus diam dalam hidup kita. Roh Kudus yang pada mulanya membuat kita sadar bahwa kita perlu menerima Yesus Kristus agar kita bisa diselamatkan, adalah Roh yang tinggal dalam hati kita dan membimbing kita agar hidup kita makin lama makin baik. Tetapi, jika kita kerapkali mengabaikan suara Roh Kudus dan lebih sering mengikuti kehendak kita sendiri, lambat laun kita akan makin sulit untuk mendengarkan suaraNya karena kita sudah mendukakan Roh itu (Efesus 4: 30). Secara perlahan-lahan kita menjadi orang yang tidak peduli akan dosa kita dan dosa orang-orang di sekitar kita. Kita tidak juga peduli dengan keadaan bangsa, negara dan dunia.

Ketidakpedulian akan keadaan diri kita dan diri orang lain yang melakukan berbagai dosa, adalah sama dengan tidak mengakui dosa kita. Kita mungkin tidak lagi merasa perlu untuk berdoa memohon pengampunan dan meminta kekuatan untuk menghilangkan dosa-dosa itu dari diri kita, dari keluarga dan dari bangsa kita, karena hal-hal itu sudah kita terima sebagai kenyataan yang tidak bisa kita hindari. Mungkin saja kita berusaha melupakan hal-hal itu karena adanya keraguan bahwa Tuhan akan bertindak, dan mungkin juga karena adanya kekuatiran bahwa orang lain akan tersinggung atau marah. Dengan demikian kita berbuat dosa dengan mengabaikan kuasa Tuhan dan kebenaran hukum dan firmanNya.

Pagi ini, adakah kesadaran yang muncul dalam hati kita bahwa ada banyak dosa yang terjadi dalam hidup kita, dalam keluarga, pekerjaan, sekolah, masyarakat dan negara kita? Apakah kita masih bisa merasakan teguran Roh Kudus yang menyatakan kepada kita bahwa ada hal-hal yang tidak sepantasnya dilakukan oleh umatNya? Apakah kita masih bisa mendengar bahwa kita juga terpanggil untuk memerangi dosa yang ada dalam masyarakat di sekitar kita? Adakah rasa sesal dalam hati kita bahwa selama ini kita tidak mempunyai keberanian untuk menyatakan firman Tuhan dalam masyarakat? Biarlah  pengakuan dosa atas ketidakpedulian kita selama ini boleh membawa perubahan sikap hidup kita pada hari-hari mendatang.

“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” 1 Yohanes 1: 9

Antara dusta dan berhala

“Sebab mereka menggantikan kebenaran Allah dengan dusta dan memuja dan menyembah makhluk dengan melupakan Penciptanya yang harus dipuji selama-lamanya, amin.” Roma 1: 25

Jika anda rajin membaca berita media, tentu anda menyadari bahwa media apapun di zaman ini selalu berusaha menampilkan berita-berita yang membuat banyak orang menjadi tertarik untuk membacanya. Bagi pengusaha media, jumlah pembaca umumnya dapat dihubungkan dengan penghasilan uang. Makin banyak pembaca atau pemirsa, makin banyak pemasukan uang dari langganan dan iklan.

Media resmi di Australia adalah ABC (Australian Broadcasting Corporation) yang dibiayai pemerintah Australia. ABC memiliki siaran TV, radio dan koran internet yang sama sekali tidak menampilkan iklan. Jika dibandingkan dengan media-media lain di Australia, ABC adalah media yang paling bisa dipercaya karena tidak berpihak kepada partai politik tertentu dan tidak bisa dipengaruhi pemerintah. Sekalipun demikian, kadang-kadang berita yang disampaikan ABC juga bernada “miring”, mungkin karena adanya usaha untuk menarik perhatian pembaca atau pemirsa.

Mengapa manusia sering membuat berita-berita yang tidak benar, tentunya banyak sebabnya. Mungkin sekadar untuk ingin menarik perhatian, atau mungkin juga untuk mencari uang. Tetapi kebohongan juga bisa dipakai untuk menjelekkan orang lain atau menutupi kesalahan sendiri. Selain itu, tentu ada orang yang mengarang berita untuk menimbulkan kekuatiran orang lain dan maksud-maksud jahat tertentu.Karena itu, mereka yang senang mengikuti berita-berita setiap hari harus sadar bahwa berita apapun seharusnya tidak langsung bisa dianggap benar.

Ada banyak kebohongan di dunia ini. Bohong kecil, bohong besar. Ada juga bohong kecil untuk sopan santun, white lies. Mereka yang menganggap bohong kecil sebagai suatu yang bisa diterima karena tidak berdampak negatif, mungkin tidak sadar bahwa bagi Tuhan yang mahasuci, semua kebohongan adalah dosa. Allah tidak menyenangi kebohongan apapun – sekalipun  itu tidak berbahaya, dianggap lumrah, bisa dimengerti,  lucu, ataupun bertujuan baik. Memang semua kebohongan haruslah dihindari karena kebohongan besar bisa  tumbuh dari kebiasaan, kebudayaan atau sistem yang menerima kebohongan kecil.

Kebohongan dalam kenyataannya, bisa menjadi kebiasaan yang tidak lagi menjadi masalah dalam hidup manusia. Ada bohong yang dilakukan individu, ada juga bohong yang dilakukan banyak orang secara kolektif. Ada yang muncul dalam rumah tangga, di kantor, dalam pemerintahan dan dimana saja. Malahan, khotbah-khotbah di gereja pun sering diselingi dengan hal-hal yang tidak nyata kebenarannya. Orang memang senang mendengarkan ilustrasi-ilustrasi yang lucu, yang bisa menghilangkan rasa bosan atau kantuk. Selain itu, kesaksian-kesaksian yang tidak jelas kebenarannya sering juga dipakai untuk menarik perhatian masyarakat.

Sekalipun mungkin tidak disadari, semua kebohongan pada akhirnya berakhir dengan penistaan. Mungkin ada orang lain yang ternista, ataupun kelompok lain. Tetapi yang jelas ternista adalah Tuhan yang membenci apa yang tidak benar. Tuhan dengan kesucianNya melarang semua manusia untuk berdusta. Dusta apapun adalah pelanggaran akan hukumNya dan karena itu adalah tindakan yang mengabaikan Dia. Lebih-lebih lagi, dengan dusta banyak orang berusaha untuk mencapai kesuksesan dan kemasyhuran. Dengan dusta, banyak orang ingin dipandang sebagai orang baik yang patut dihargai dan dihormati dalam lingkungan hidupnya. Dengan membuat dan mempercayai dusta, orang bisa terjebak dalam pemujaan sesama manusia. Pemujaan berhala memang sering terjadi jika kebenaran Tuhan diganti dengan kebohongan manusia. Idolatry begins when truth about God is exchanged for a lie.

Pagi ini, ayat diatas mengingatkan kita untuk hidup dalam kebenaran Tuhan dengan menghindari dusta, dan dengan mengingat bahwa hidup kita adalah untuk kebesaranNya. Kita harus awas bahwa dusta-dusta kecil  dan besar bisa saja muncul dari mulut kita atau orang lain. Kita harus sadar bahwa semua manusia sering tergoda dan jatuh kedalam dosa ini. Berbagai dusta bisa saja muncul dari orang-orang yang kita hormati dan segani; dan jika kita tidak berhati-hati dengan memegang kebenaran Tuhan, kita bisa tertipu dan terjebak dalam dosa pemujaan berhala. Marilah kita selalu berdoa agar Roh Kudus selalu membimbing kita dalam hidup ini, sehingga kita bisa menghindari dusta dan bisa selalu hidup dalam kebenaran Tuhan demi kebesaranNya.

Hidup dalam pengharapan

“Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan. Tetapi pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi; sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa yang dilihatnya?” Roma 8: 24

Tetangga saya yang cukup berada mempunyai dua orang anak remaja, putra dan putri, yang baru lulus SMA. Kedua anak itu terlihat cukup baik karakternya dan sekarang membantu orang tuanya dalam menjalankan bisnis konstruksi mereka. Memang di Australia, tidak semua lulusan SMA akan melanjutkan ke universitas. Mereka yang lebih menyukai pertukangan misalnya, akan memilih untuk magang dan mencari pengalaman, untuk kemudian bisa mempunyai bisnis sendiri. Orang tua anak-anak itu tentunya berharap agar kedua anak itu akan sukses di hari depan, tetapi masa depan mereka tentunya tidak ada yang bisa memastikan.

Beberapa minggu yang lalu, saya melihat munculnya seorang pemuda lain dalam keluarga itu. Mulanya saya menyangka bahwa pemuda itu adalah salah satu pekerja mereka, yang ikut membantu membangun gudang dibelakang rumah. Namun ternyata pemuda itu adalah teman dari putra tetangga yang tidak mempunyai rumah. Ia pernah hidup dalam mobilnya dan berpindah-pindah dari tempat ke tempat untuk mencari pekerjaan. Ia tidak mempunyai ayah, dan ibunya adalah seorang pemabuk. Bagi anak muda itu  masa depan adalah suram, sampai saat dimana  ia diajak untuk tinggal di rumah tetangga saya. Jika dulu pemuda itu tidak mempunyai orang tua yang bisa memberi harapan apapun, sekarang pemuda itu setidaknya mempunyai sedikit harapan untuk masa depan.

Apa harapan anda untuk masa depan? Apa juga harapan anda untuk sanak saudara anda? Semua orang tentu mengharapkan apa yang baik, untuk dirinya sendiri dan untuk semua orang yang dikasihinya. Apa yang diharapkan selagi hidup di dunia, tentunya berkisar pada kebahagiaan, kesehatan, kesuksesan dan sejenisnya. Itu adalah wajar. Tidak ada orang yang mengharapkan sesuatu yang buruk bagi dirinya atau kerabatnya. Walaupun demikian, hal-hal yang buruk bisa saja terjadi pada diri siapa saja sekalipun itu bukan karena kesalahan orang yang bersangkutan. Harapan yang bagaimanapun baiknya, belum tentu terjadi dalam hidup kita.

Apa yang diharapkan manusia pada umumnya adalah hal yang bisa dilihat, karena apa yang bisa dilihat adalah mudah untuk dimengerti dan dinikmati. Tetapi apa yang bisa dilihat juga merupakan sesuatu yang mudah untuk membawa kekecewaan. Apa saja yang kita inginkan dan miliki di dunia ini, mungkin terlihat baik pada hari ini, tetapi bisa berubah rupa esok hari dan bahkan lenyap tidak berbekas. Apa yang bisa dilihat manusia adalah hal yang fana, yang tidak kekal adanya.

Ayat diatas menyebutkan pengharapan yang berbeda, karena pengharapan ini adalah untuk sesuatu yang tidak bisa kita lihat. Sesuatu yang hanya bisa dirasakan dalam hati selama kita ada di dunia. Tidak semua orang bisa mempunyai pengharapan akan apa yang tidak terlihat, tetapi itu adalah pengharapan yang benar. Apa yang tidak terlihat saat ini adalah keselamatan yang sudah dijanjikan Allah kepada setiap orang yang percaya kepadaNya. Allah adalah Bapa kita yang bukan seperti orang tua yang hanya bisa mengharapkan agar sesuatu yang baik terjadi pada diri anak-anaknya, tetapi Ia adalah Allah yang sanggup memberikan masa depan yang terbaik untuk mereka.

“Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.” Roma 8: 17

Pagi ini, jika kita bangun tidur dan memikirkan masa depan kita dan juga masa depan sanak keluarga kita, adakah harapan bahwa kita bisa mencapai apa yang kita idamkan? Ataukah kita merasa bahwa hidup ini adalah sebuah perjalanan tanpa tujuan dan harapan? Mungkin pikiran kita hanya terpaku pada hal-hal yang dapat terlihat oleh mata kita, segala penderitaan, kekecewaan dan kegagalan. Kita mungkin lupa bahwa apa yang tidak terlihat sekarang ini sebetulnya adalah pengharapan yang benar dan terbesar. Kita mungkin tidak sadar bahwa apa yang tidak terlihat itu sebenarnya adalah rencana Bapa kita yang di surga. Ialah yang membimbing kita selama hidup di dunia dan memberi ketekunan dan kekuatan agar kita tetap bisa berharap dan berdoa untuk masa depan yang cemerlang bersama Dia. Sekalipun hidup di dunia ini penuh tantangan dan penderitaan, kita harus yakin bahwa Tuhan bisa dan mau menguatkan kita yang menantikan saat itu dengan tekun.

“Tetapi jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun. Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.” Roma 8: 25 – 26

Terang Kristus menghilangkan kegelapan dosa manusia

Maka Yesus berkata pula kepada orang banyak, kata-Nya: “Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.” Yohanes 8: 12

Di Australia, lampu bertenaga surya sekarang sangat populer. Dengan harga yang tidak terlalu mahal, lampu ini bisa menyala tanpa memerlukan tenaga listrik PLN. Dengan memakai lampu jenis LED yang bertenaga rendah, pemakaian solar power ini menjadi atraktif di beberapa negara bagian karena membutuhkan biaya yang lebih rendah dari lampu-lampu tradisional lainnya.

Dengan kemajuan teknologi, tenaga sinar matahari pada siang hari bisa disimpan dalam baterai untuk digunakan pada malam hari. Memang sinar matahari di Australia cukup konsisten. Lama sinar matahari dalam sehari berfluktuasi dengan musim, berkisar sekitar 7- 8 jam sehari di Brisbane (sebelah utara Australia), sedang di Melbourne yang berada di selatan berkisar antara 3-8 jam.

Sinar matahari adalah berkat Tuhan yang memungkinkan semua makhluk di dunia untuk hidup. Tanpa matahari yang diciptakan Tuhan, sebagian besar dari dunia akan mengalami musim dingin dan kegelapan sepanjang masa. Tuhan memang menciptakan matahari untuk mengusir kegelapan sehingga semua ciptaanNya bisa hidup menurut ritme kehidupan yang teratur. Dengan adanya terang, kegelapan bisa dihilangkan.

Bahwa terang adalah baik dan Tuhan adalah sumber terang, itu sudah dimengerti sejak zaman dulu. Pemazmur dalam Mazmur 27:1 memuji Tuhan sebagai terang dan keselamatannya. Dengan demikian orang Israel tentunya faham dengan konsep Tuhan sebagai terang dalam hidup mereka.

“…TUHAN adalah terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut? TUHAN adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gemetar?”

Dengan demikian, ketika Yesus berkata dihadapan orang Farisi bahwa Ia adalah terang dunia, orang Farisi tentu mengerti bahwa Yesus mengklaim bahwa Ia adalah sumber kehidupan manusia. Tetapi mereka tidak dapat menerima pernyataan Yesus itu, karena bagi mereka Yesus adalah orang biasa, anak tukang kayu. Mereka tidak mengerti bahwa Yesus datang ke dunia sesuai dengan kehendak Allah Bapa. Ia datang sebagai terang untuk menyelamatkan manusia dari kegelapan dosa. Jika Allah menciptakan terang untuk mengusir kegelapan, Ia mengaruniakan AnakNya untuk mengusir dosa manusia agar manusia bisa memperoleh kehidupan yang kekal.

Sayang sekali, dalam hidup ini seringkali manusia tidak sadar bahwa mereka hidup dalam kegelapan. Sebagian manusia malahan lebih menyukai kegelapan karena perbuatan-perbuatan mereka jahat (Yohanes 3: 19). Sekalipun mereka mungkin tahu bahwa ada banyak hal-hal yang tidak baik yang mereka lakukan, mereka akan tetap hidup dalam dosa jika mereka dengan sengaja mengabaikan suara Roh Kudus yang mengingatkan mereka akan dosa-dosa yang mereka perbuat.

Dengan dorongan Roh Kudus, manusia bisa menyadari bahwa mereka akan binasa karena tidak ada apapun yang bisa mereka lakukan untuk menyelamatkan diri mereka dari hukuman Tuhan. Hanya karena Yesus sudah datang sebagai terang dunia, kegelapan dosa bisa dihilangkan melalui pengampunan total dari Allah yang terjadi karena darah Kristus sudah tercurah bagi mereka yang mau percaya kepadaNya. Mereka yang sudah diselamatkan akan memakai terang Kristus untuk menjalani hidup baru yang senantiasa mengalami pembaharuan, hari demi hari dengan pertolongan Roh Kudus yang sudah diberikan kepada umatNya. Mereka melakukan apa yang benar, supaya menjadi nyata bahwa hidup mereka ada dalam Allah (Yohanes 3: 21).

Pagi ini, ayat diatas adalah panggilan untuk kita menyadari bahwa tanpa Yesus hidup kita akan tetap dalam kegelapan. Mungkin saja kita tidak merasa bahwa sudah lama kita mengabaikan terang Kristus yang dulu pernah datang ke dalam hidup kita ketika kita pertama kali menyatakan iman percaya kita. Mungkin sejak itu, terang api Roh Kudus mulai perlahan-lahan menjadi padam karena kita sering mengabaikanNya. Pagi ini kita diingatkan bahwa jika terang hidup itu tidak bertambah besat dalam hidup kita, besar kemungkinan bahwa terang itu akan mengecil dan kegelapan dalam hidup kita akan bertambah besar.  Saat ini adalah saat yang penting untuk kita sadari bahwa kita perlu untuk makin bisa mengikut Yesus dalam terangNya. Dengan memakai terang Kristus, kita akan bisa menghindari kegelapan dosa; dan dengan memancarkan terang Kristus, orang lain akan dapat ikut memuiliakan Dia yang sudah mengubah hidup kita.

“Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku, jangan tinggal di dalam kegelapan.” Yohanes 12: 46

 

 

 

Keberanian menghadapi kenyataan

“Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.” Mazmur 23: 4

Ayat diatas adalah ayat yang sangat terkenal dan bisa dipakai untuk menguatkan hati mereka yang mengalami kesulitan hidup. Malahan, ada orang-orang yang menghafalkannya agar mereka dapat langsung menyebutkannya ketika ada ancaman yang datang.

Dalam terjemahan bahasa Indonesia, memang ayat itu seolah menggambarkan bagaimana pemazmur merasa terhibur ketika ia “berjalan dalam lembah kekelaman” atau “berjalan dalam lembah kegelapan”. Sekalipun tidak sukar untuk mengartikan kata-kata itu sebagai “mengalami kesulitan besar”, dalam beberapa terjemahan berbahasa Inggris bunyi ayat ini agak berbeda:

“Even though I walk through the valley of the shadow of death, I will fear no evil, for you are with me; your rod and your staff, they comfort me.”

Memang kata Ibrani untuk “bayang-bayang maut” adalah sal-ma-wet, yang artinya “kegelapan” atau “bayang-bayang kekelaman”. Kata itu serupa dengan kata Ibrani yang dipakai untuk “kematian” atau ma-wet. Karena itu tidaklah mengherankan bahwa ada terjemahan yang menghubungan kata kegelapan dengan kata kematian atau maut. Sayang sekali, karena pemakaian kata-kata “the valley of the shadow of death” yaitu “lembah bayang-bayang maut”, orang lebih sering memakai ayat ini dalam upacara penguburan orang Kristen. Ini tentunya kurang tepat. Bagi orang Kristen, kematian tidaklah menakutkan karena itu adalah perjumpaan dengan Kristus.

Dalam ayat ini, dapat dirasakan bahwa pemazmur menempatkan dirinya sebagai seekor domba yang merasa aman karena sang gembala yang mempunyai gada dan tongkat yang bisa dipakai untuk mengusir binatang-binatang buas yang mengancamnya.  Memang, sebagai orang percaya, kita adalah domba-domba Kristus yang mengenal Dia dan mengikut Dia. Yesus adalah gembala yang baik, yang ingin untuk membaringkan kita di padang yang berumput hijau dan membimbing kita ke air yang tenang (Mazmur 23: 2). Tetapi, adalah kenyataan hidup bahwa setiap orang bisa mengalami berbagai masalah kehidupan. Kesulitan, kekurangan, penyakit, kecelakaan dan berbagai musibah bisa terjadi pada setiap orang termasuk orang Kristen. Semua itu seperti bayang-bayang kegelapan yang menakutkan.

Pemazmur menggambarkan bagaimana kita berjalan bersama gembala kita, Yesus. Perjalanan hidup memang tidak mudah dan bahkan penuh resiko, karena jika medan berubah menjadi berat dan gelap, hati kita mudah menjadi kecil dan kitapun menjadi takut. Hidup yang penuh ketakutan dan kekuatiran sudah tentu bukanlah hidup yang mudah dijalani. Jika kita bayangkan, domba yang mengalami ketakutan yang luar biasa bisa saja berusaha melarikan diri sekalipun ia tidak tahu kemana ia harus pergi. Ia mungkin saja lari menjauh dan akhirnya justru menjadi mangsa binatang buas.

Pagi ini, kesulitan dan bahaya apakah yang sedang anda hadapi? Dalam keadaan bahaya, sebenarnya lebih baik agar setiap domba untuk tetap dekat dengan domba-domba yang lain yang dilindungi sang gembala. Demikian juga, dalam keadaan sulit, tidaklah bijaksana bagi kita untuk menghindari persekutuan kita dengan saudara-saudara seiman. Selain itu, untuk ketenteraman hidup kita, kita harus selalu ingat bahwa Yesus gembala yang baik selalu menyertai dan menguatkan domba-dombaNya. Begitulah, sebagai domba yang mempunyai keyakinan akan kasih dan kuasa Gembala kita, marilah kita menghadapi masa depan kita dengan keberanian dan rasa damai karena Ia selalu beserta kita.

Berlatih untuk mendengarkan suara Tuhan

Lalu datanglah TUHAN, berdiri di sana dan memanggil seperti yang sudah-sudah: “Samuel! Samuel!” Dan Samuel menjawab: “Berbicaralah, sebab hamba-Mu ini mendengar.” 1 Samuel 3: 10

Beberapa bulan yang lalu, saya dan beberapa sanak saya pergi ke sebuah cafe di daerah Southbank, Brisbane, untuk makan pagi. Hari Sabtu dan masih pagi, dan kami pun menjadi langganan pertama yang datang. Ketika kami baru mulai makan, dari seberang jalan terdengar suara berisik yang berasal dari mesin penghancur beton yang dijalankan beberapa pekerja kotamadya. Suara berisik itu terasa sangat mengganggu, tetapi kami tidak bisa berbuat apa-apa. Saya kemudian hanya bisa makan tanpa bisa berbincang-bincang karena adanya kebisingan yang membuat saya tidak bisa mendengar suara orang lain.

Memang tingkat kebisingan yang ada di latar belakang bisa menimbulkan rasa tidak nyaman. Sebuah konser rock band tidak jarang mencapai tingkat kebisingan sekitar 90-100 desibel, dan itu bisa mengakibatkan ketulian, paling tidak untuk sementara. Untuk menghindari kebisingan kota, ada gedung perpustakaan bisa dibangun di bawah tanah, seperti yang ada di Green Square, Sydney. Tetapi, ditempat yang sedemikian sepi orang mungkin mudah mengantuk.

Dalam Alkitab, sering digambarkan bahwa perjumpaan manusia dengan Tuhan terjadi di tempat yang sepi. Tetapi, ada juga banyak kejadian dimana Tuhan berkomunikasi dengan manusia ketika mereka berada dalam keadaan terancam, dalam situasi yang kacau dan tegang. Memang, berkomunikasi dengan Tuhan tidak selalu harus menggunakan pendengaran; malahan, pada zaman ini Tuhan lebih sering menyatakan kehendakNya melalui hati dan pikiran kita. Sekalipun demikian, manusia membutuhkan kemauan, latihan dan kebiasaan untuk dapat mendengar suara Tuhan dalam keadaan apapun.

Alkisah, pada waktu itu Samuel masih berumur sekitar 11 tahun. Pada masa itu firman Tuhan jarang disampaikan oleh hamba-hambaNya dan penglihatan-penglihatanpun tidak sering. Samuel yang masih kecil, belum mengenal Tuhan secara pribadi; dan firmanNya belum pernah dinyatakan kepadanya. Ketika Tuhan memanggil Samuel untuk pertama kalinya, Samuel tidak menyadarinya. Sampai tiga kali Tuhan memanggil, dan dengan nasihat nabi Eli, Samuel akhirnya menjawab panggilan Tuhan: “Berbicaralah, sebab hambaMu ini mendengar.” Sejak saat itu Samuel mengenal Tuhan secara pribadi.

Pernahkan anda berkomunikasi secara pribadi dengan Tuhan? Bukan anda yang secara sepihak menyampaikan doa permohonan kepadaNya, tetapi Ia yang mengajak anda untuk berbincang-bincang? Berapa kali Tuhan memanggil anda sebelum anda menyadari panggilanNya? Mungkin bagi kita lebih mudah untuk memanggil Tuhan, agar Ia mau mendengarkan keluh-kesah dan permohonan kita, tetapi agaknya sulit bagi kita untuk mengenali suara panggilanNya, jika kita belum mengenalNya secara pribadi.

Tuhan mungkin sudah sering memanggil kita melalui apa yang kita rasakan dalam hati dan pikiran (akal budi), tetapi karena hidup kita yang penuh dengan hingar-bingar kesibukan sehari-hari, kita mungkin tidak pernah mempunyai kemauan untuk memusatkan perhatian kita kepadaNya, tidak sempat berlatih untuk mengenali suaraNya, dan tidak mempunyai kebiasaan mendengar panggilanNya. Mungkin saja kita lebih mengenali dan menggemari ucapan dan suara pemimpin atau tokoh populer tertentu, tetapi kurang bisa memahami apa yang difirmankan Tuhan kepada kita secara pribadi.

Pagi ini, firman Tuhan berkata bahwa seperti Samuel mungkin kita harus belajar untuk memusatkan hati dan pikiran kita kepada Tuhan. Terlalu sering kita hanya bisa mendengar kebisingan suara dan pendapat manusia dan bukannya menangkap suara Tuhan. Kita harus sadar bahwa sebagai domba-domba Yesus, kita harus mengenal suaraNya. Kita harus mempunyai kemauan, mau berlatih dan mengembangkan kebiasaan untuk mendengarkan suara Tuhan dalam setiap keadaan.

“Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku” Yohanes 10: 27

Mengubah cara berpikir

“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Roma 12: 2

Sistim pendidikan di berbagai negara adalah berlain-lainan, tetapi semua tentunya bertujuan untuk memberi murid pengetahuan yang cukup untuk nantinya bisa digunakan untuk mencari nafkah. Di Australia, pendidikan SD, SMP dan SMA negeri adalah serupa dengan apa yang di Indonesia dan secara umum bebas biaya.

Pendidikan universitas tidaklah gratis, tetapi bisa dibayar dengan angsuran setelah lulus dan mendapat pekerjaan. Dengan demikian, orang tua umumnya tidak terlalu terbebani secara ekonomi untuk menyekolahkan anak-anak mereka, sekalipun apa yang dipilih mungkin jurusan mahal seperti kedokteran.

Pendidikan yang sekarang diberikan di Australia bukan hanya mencakup ilmu pengetahuan saja (hard skills), tetapi juga mengenai cara hidup bermasyarakat (soft skills). Malahan, sekarang orang mulai sadar bahwa soft skills sama pentingnya dan bahkan bisa lebih penting dari hard skills untuk mendukung karir.

Masalahnya, sekalipun soft skills bisa diajarkan dan dipelajari, kemampuan tiap orang juga dipengaruhi oleh sifat dan sikap hidup perorangan. Dengan demikian, pendidikan tidak menjamin semua lulusan bisa menjadi orang-orang yang komplit dan siap terjun ke masyarakat.

Berbeda dengan Indonesia, pendidikan agama tidaklah ditekankan di Australia, kecuali di sekolah atau universitas yang didukung organisasi agama tertentu. Apa yang diajarkan pada umumnya adalah bersifat sekuler dan tidak ada hubungannya dengan iman kepercayaan.

Mereka yang makin pandai dalam pengetahuan duniawi, belum tentu tumbuh dalam hal rohani. Ini adalah hal yang biasa di negara manapun – tingginya pendidikan dan umur seseorang tidaklah menjamin bahwa ia adalah orang yang taat kepada Tuhan. Memang di dunia ini agaknya banyak orang yang sadar akan adanya Tuhan, tetapi tidak takut atau taat kepada Tuhan.

Paulus pada zamannya agaknya melihat hal yang serupa dalam masyarakat di sekelilingnya. Ayat yang ditulisnya untuk jemaat di Roma menyerukan agar pengikut Kristus tidak menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi agar berubah dengan pembaharuan akal budi, sehingga mereka dapat mengerti apa kehendak Allah. Supaya mereka tahu apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. Tetapi, bagaimana orang bisa mengalami pembaharuan pikiran seperti itu, jika pendidikan apapun tidak bisa membuat orang takut dan hormat kepada Tuhan?

Mereka yang tidak pernah memikirkan Tuhan tentunya tidak sadar bahwa kehendak Tuhan bukan saja bisa muncul sebagai apa yang diluar kontrol manusia, tetapi juga apa yang difirmankanNya dan apa yang baik yang muncul dalam pikiran atau hati kita. Mereka yang tidak tahu apa yang dikehendaki Tuhan dan mereka yang tidak mau menuruti atau melaksanakan perintahNya, belumlah mengalami perubahan akal budi. Mereka adalah orang-orang yang bodoh, yang tidak bijaksana, sekalipun sudah berpendidkan tinggi.

Memang dengan bertambah tingginya pendidikan kita, hidup kita biasanya makin sibuk. Kita juga makin pandai membuat alasan praktis pragmatis bahwa kita boleh melakukan hal ini dan itu. Dengan bertambahnya umur, kita juga cenderung percaya bahwa kita adalah orang yang cukup bijaksana dan bisa membedakan apa yang baik dari apa yang jahat. Tidaklah mengherankan bahwa ada orang-orang yang berstatus pemimpin dalam masyarakat karena mempunyai hard skills dan soft skills, tetapi tidak mempunyai pengertian tentang kehendak Allah: apa yang benar-benar baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

Pagi ini kita harus sadar bahwa perubahan akal budi yang membuat orang bijaksana dalam pandangan Tuhan, hanya bisa terjadi dengan pertolongan Roh Kudus yang bekerja dalam diri orang percaya. Transformasi untuk menjadi orang yang bijaksana tidaklah terjadi dalam sehari, tetapi seumur hidup, selama kita dekat dengan Tuhan.

Keadilan Tuhan adalah pencerminan kuasa dan kasihNya

Sebab Ia berfirman kepada Musa: “Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati.” Roma 9: 15

Dalam hidup ini kita melihat pemerintah manapun berusaha menegakkan keadilan di negaranya. Tidak hanya dalam bidang hukum, tetapi juga dalam bidang sosial, ekonomi, dan lainnya. Prinsip bahwa semua orang harus diberikan hak dan kesempatan yang sama, pernah muncul di Prancis dengan semboyan liberté, égalité, fraternité (bahasa Prancis untuk “kebebasan, keadilan, persaudaraan”). Sekarang, slogan ini adalah moto resmi dari Republik Prancis dan Republik Haiti, dan bahkan sudah menjadi bagian dari artikel pertama dari Deklarasi Universal Hak Azasi Manusia dari PBB pada tahun 1948:

All human beings are born free and equal in dignity and rights. They are endowed with reason and conscience and should act towards one another in a spirit of brotherhood.

Itu dapat diterjemahkan sebagai:

“Semua umat manusia dilahirkan dengan kemerdekaan dan kesamaan derajat serta hak. Mereka diberi pikiran dan kesadaran dan karena itu seharusnya hidup dalam semangat persaudaraan.”

Dalam kenyataannya, bagaimanapun manusia berusaha untuk mewujudkan keadilan di dunia, keadilan nampaknya tidak dapat terjadi sepenuhnya. Memang pemerintah di satu negara bisa berusaha untuk memberikan hak  yang sama untuk semua rakyatnya, tetapi keadilan semacam itu tidaklah menjamin bahwa setiap orang akan hidup dalam kesamaan. Sebagian orang dilahirkan dalam kemiskinan, sebagian lagi lahir sebagai anak orang kaya. Ada orang yang dilahirkan dengan cacat bawaan, tetapi ada pula yang lahir dengan faktor genetika tertentu yang memungkinkan umur panjang. Dalam suatu musibah, ada orang yang mengalami cedera tetapi ada pula orang yang selamat. Siapakah yang sebenarnya bisa untuk menegakkan keadilan di dunia?

Ada orang yang merasa bahwa jika Tuhan itu ada, tentu Ia itu kejam atau tidak peduli dengan penderitaan manusia. Ada pula orang yang percaya bahwa jika seseorang mengalami hal-hal yang kurang baik, itu adalah sehubungan dengan dosa yang dilakukannya. Tetapi dalam banyak hal, manusia tidak dapat memperoleh jawaban yang memuaskan. Apakah Tuhan itu memang kejam? Apakah Ia kadang-kadang terlena? Ataukah Tuhan sudah mati? Apakah ketidakadilan selalu akibat dosa seseorang?

Ayat diatas menulis bahwa Tuhan menaruh belas kasihan kepada siapa  Ia mau menaruh belas kasihan dan Tuhan akan bermurah hati kepada siapa Ia mau bermurah hati. Ayat ini seolah menggambarkan bahwa Tuhan itu semena-mena dan sombong. Tetapi itu sama sekali tidak benar. Ayat ini menunjukkan bahwa Tuhan adalah Tuhan yang mahakuasa dan karena itu Ia berhak melakukan apa saja yang dimauiNya. Tidak ada sesuatupun di jagad raya yang bisa mengubah keputusan dan rancanganNya. Jika tidak demikian, Tuhan bukanlah Tuhan.  Iblis pernah berusaha mengubah jalannya kehidupan di surga dan ia gagal. Iblis kemudian mencoba mengubah jalannya kehidupan manusia di bumi, dan kegagalan juga yang diperolehnya. Jelas bahwa Tuhan adalah mahakuasa. God is sovereign.

Memang banyak orang yang percaya bahwa Tuhan bisa dipengaruhi sehingga Ia mengubah keputusanNya. Dengan doa-doa permohonan dan tindakan-tindakan lain mereka percaya bahwa kehendak Tuhan bisa diipengaruhi. Setidaknya ada dua hal yang tidak cocok dengan anggapan ini. Yang pertama, jika kita bisa mengubah keputusan Tuhan, itu menunjukkan bahwa keputusan Tuhan tidaklah sempurna. Yang kedua, jika keputusan Tuhan bisa diubah manusia, manusia tentunya lebih berkuasa daripada Tuhan. Walaupun begitu, masih banyak orang yang percaya bahwa karena Tuhan itu mahakasih, Ia akan mendengarkan doa permohonan kita dan selalu bersedia untuk memberikan apa yang kita inginkan. Jika demikian, Tuhan bukanlah Tuhan yang mahatahu, yang mengerti apa yang benar-benar kita butuhkan sebelum kita memintanya.

Pagi ini, jika kita merenungkan hidup kita atau hidup orang yang disekitar kita, kita mungkin merasa gundah. Ketidakadilan ada dimana-mana, dan penderitaan manusia seolah terjadi tanpa alasan yang jelas. Apakah Tuhan itu benar mahaadil? Jawabnya adalah “ya”, tetapi keadilanNya harus dihubungkan dengan hakikiNya yang lain: Ia mahakuasa, mahakasih dan mahatahu. Ketidakadilan yang kita lihat bisa merupakan akibat dosa yang membuat dunia ini kacau-balau dan membuat hidup  kita terasa berat. Tetapi karena Tuhan adalah Tuhan yang mahakuasa, Ia dapat melakukan hal apa saja untuk menolong umat manusia seperti yang dikehendakiNya. Karena Tuhan mahakasih dan mahakuasa, Ia mau dan bisa membuat rencana agung untuk menolong manusia. Ia mengasihi seluruh umat manusia dan menawarkan keselamatan bagi mereka yang percaya, itu juga keputusanNya. Tuhan sudah memilih kita untuk diselamatkan karena Ia tahu apa yang ada dalam hati kita, dan itu semata-mata karena kasihNya dan bukan karena usaha kita.  Bukankah Tuhan yang sedemikian berkuasa tetapi penuh kasih adalah Tuhan yang benar dan patut kita sembah?