Rancangan Tuhan pasti terjadi

“Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan Tuhanlah yang terlaksana.” Amsal 19: 21

Apakah anda mempunyai cita-cita? Pernahkah anda mempunyai rencana untuk melakukan sesuatu? Yakinkah anda bahwa anda bahwa cita-cita atau rencana anda akan tercapai? Mungkin ada yang menjawab bahwa keyakinan kita tentunya bergantung pada besar-kecilnya rencana; jika rencana itu kecil saja tentunya tidak akan sulit untuk dilakukan, tetapi jika rencana itu besar dan kompleks tentunya kita tidak bisa selalu yakin untuk bisa terlaksana. Segala sesuatu ada resikonya dan itu termasuk resiko gagal.

Mengapa rencana kita bisa gagal? Bagi orang Kristen, jawabnya bisa bermacam-macam. Kegagalan bisa karena keterbatasan kita, kekeliruan kita, atau berbagai faktor eksternal. Memang sekalipun kita berusaha keras, dunia tidak selalu menjanjikan hasil yang sepadan. Mereka yang percaya bahwa Tuhan menentukan segala apa yang terjadi di dunia mungkin menganggap kegagalan adalah lumrah – karena Tuhan tidak menghendaki hal itu terjadi. Jika apa yang diperbuat manusia adalah sesuai dengan kehendak Tuhan, tentu itu akan terjadi. Selain itu, ada juga orang yang beranggapan bahwa apa saja yang terjadi di dunia, baik itu berupa kebaikan atau kejahatan, sudah ditentukan oleh Tuhan. Karena itu jugalah ada orang yang percaya bahwa segala masalah yang dialaminya adalah takdir dari Tuhan dan tidak dapat dihindari.

Benarkah bahwa semua masalah, kejahatan dan kegagalan sudah ditentukan Tuhan? Benarkah bahwa Tuhan sudah menentukan nasib kita sepenuhnya? Pertanyaan semacam ini sudah menjadi bahan diskusi dan bahkan perdebatan antar berbagai golongan. Ada orang Kristen yang karena menjunjung tinggi kedaulatan Tuhan, mempunyai keyakinan bahwa Tuhan yang menentukan segala apa yang terjadi, tetapi manusia tetap bertanggung-jawab atas apa yang dilakukan atau dialaminya. Ada juga orang yang percaya bahwa Tuhan sudah menentukan siapa yang akan diselamatkan, tetapi Ia memberi kebebasan kepada manusia untuk memilih apa yang baik dan yang buruk dalam hidupnya. Juga ada orang yang percaya bahwa manusia bisa memilih apapun menurut kehendaknya, sekalipun bimbingan Roh Kudus selalu berusaha untuk membawanya kearah yang benar. Dan tentu saja ada orang percaya bahwa di dunia ini Tuhan tidak ikut campur tangan, Ia hanya melihat apa yang akan terjadi dan membuat rancanganNya  yang disesuaikan dengan apa yang ada. Bagaimana kata Alkitab?

Jika Tuhan mahakuasa dan mahakasih, sudah tentu Ia tidak hanya merencanakan hasil akhir rancanganNya. Tuhan tentunya ikut bekerja diantara manusia setiap hari untuk mewujudkan rencanaNya. Ayat diatas berkata bahwa jika manusia bisa membuat banyak rencana, keputusan Tuhanlah yang terlaksana. Itu berarti bahwa Tuhan bekerja pada setiap saat. Masalahnya, bagaimana Tuhan bekerja dalam dinamika kehidupan manusia? Apakah Ia memaksa setiap manusia untuk berbuat ini dan itu agar rencananya terjadi? Jika demikian bukankah manusia menjadi sepeti robot yang hanya bisa melakukan apa yang diperintahkan pemiliknya? Bukankah dengan demikian si robot tidak dapat dipersalahkan jika ia membuat kekeliruan?

Ada banyak ayat dalam Alkitab yang menunjukkan bahwa manusia bertanggungjawab atas apa yang dilakukannya, bukan atas apa yang ditentukan Tuhan. Adam dan Hawa jatuh kedalam dosa bukan karena rencana Tuhan, tetapi Tuhan mempunyai rencana keselamatan karena Ia tahu bahwa manusia akan jatuh kedalam dosa. Sejak kejatuhan manusia kedalam dosa, manusia bertambah jahat dan Tuhan membiarkan hal itu terjadi sesuai dengan rencanaNya, sampai Ia mengambil keputusan untuk melenyapkan semua manusia kecuali Nuh dan keluarganya. Manusia dalam kebebasannya tidak bisa menghilangkan Tuhan dan kuasaNya. God is always in control.

Sekalipun Tuhan selalu memegang kemudi kehidupan di dunia, itu tidak berarti Ia selalu membatasi gerakan dan tingkah laku manusia. Jika manusia jatuh kedalam dosa, ia tidak dapat mempersalahkan Tuhan yang membiarkan hal itu terjadi. Dunia yang sudah jatuh dalam dosa ini memang sangat besar pengaruhnya kepada orang yang jauh dari Tuhan.

“Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia.” 1 Yohanes 2: 16

Jika manusia mempunyai kebebasan untuk memilih apa yang baik dan yang buruk,  apapun yang terjadi tidaklah mempengaruhi rencana Tuhan. Dalam hal ini, Tuhan dapat dibayangkan sebagai pemain catur yang hebat. Chess Grandmaster. Setiap gerakan manusia yang bagaimanapun tidak akan membuatNya bingung, karena Ia tahu kemana manusia akan pergi. Tuhan bisa mengambil keputusan untuk membiarkan manusia untuk terus maju, tetapi Ia pada saat itu juga membuat hal-hal lain yang tidak diketahui manusia – dan itu memungkinkan rencanaNya untuk tetap terjadi. Dilain pihak, Tuhan juga bisa mengambil keputusan untuk melakukan tindakan yang mengejutkan manusia, juga untuk mewujudkan rencana agungNya. RencanaNya tidak dapat dihentikan oleh tindakan manusia. Rencananya tidak tergantung pada manusia. Tetapi rencanaNya adalah untuk manusia.

Pagi ini, jika kita merenungi hidup kita, mungkin kita teringat akan kesulitan, kegagalan, dosa dan penderitaan yang pernah atau sedang kita alami. Mungkin kita menyesali bahwa Tuhan nampaknya tidak peduli atas hidup kita. Tetapi, sebagai manusia kita tetap harus bertanggung-jawab atas kehidupan dan tingkah laku kita. Apa yang kita alami mungkin saja adalah bagian kehidupan di dunia yang sudah cacat. Walaupun demikian, sebagai orang beriman kita harus yakin bahwa sekalipun Tuhan tidak menyukai semua hal yang buruk itu, Ia bisa memakai semuanya dengan caraNya sendiri untuk mendatangkan kebaikan bagi setiap orang yang beriman kepadaNya.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28

Apa yang anda lihat sekarang?

“Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.” 2 Korintus 4: 18

Dalam bidang teknologi komputer, baik perangkat keras maupun perangkat lunak adalah penting. Sehubungan dengan perangkat lunak, istilah WYSIWYG dikenal sebagai singkatan dari What You See Is What You Get (yang berarti  Apa Yang Anda Lihat Adalah Apa Yang Anda Dapatkan). Istilah ini dipakai untuk suatu sistem di mana konten yang sedang disunting akan terlihat sama persis dengan output atau hasil akhir, yang mungkin berupa dokumen cetak, halaman web, slide presentasi, atau bahkan pencahayaan yang dipakai untuk acara teater.

Istilah “Apa Yang Anda Lihat Adalah Apa Yang Anda Dapatkan” sekarang dipakai bukan hanya dalam teknologi komputer, tetapi juga dalam bidang-bidang lain, termasuk sosial, ekonomi dan budaya. Istilah ini menjanjikan bahwa apa yang terlihat saat ini akan serupa dengan apa yang akan diperoleh di masa depan. Ada kalanya memang janji ini terwujud, tetapi sering juga terjadi bahwa apa yang akhirnya didapat tidaklah sama dengan apa yang sudah dilihat sebelumnya.

Ayat diatas menulis bahwa Paulus tidak memperhatikan apa yang sekarang kelihatan, melainkan apa yang tak kelihatan, karena apa yang kelihatan saat ini adalah sementara, sedangkan apa yang tak kelihatan adalah kekal. Apa yang kita lihat sekarang, bukanlah apa yang akan kita dapat di masa depan. Jelas bukan WYSIWYG. Apa maksudnya?

Paulus berusaha menjelaskan bahwa apapun yang kita lihat selama kita hidup, baik itu penderitaan ataupun kebahagiaan, bukanlah sesuatu yang abadi. Selama hidup di dunia, orang Kristen  harus menjalankan tugas kewajiban mereka, tetapi apapun yang mereka rasakan atau lihat tidak perlu membuat hidup mereka terpengaruh. Hidup orang Kristen adalah untuk memuliakan Tuhan yang tidak kelihatan dan untuk itu mereka cukup bermodalkan iman yang sudah diberikan Tuhan kepada mereka. Dengan iman mereka bisa berharap akan masa depan dan yakin akan keselamatan yang sudah diberikan sekalipun mereka masih belum berjumpa dengan Tuhan muka dengan muka.

Kata Yesus kepadanya: “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” Yohanes 20: 29

Memang manusia cenderung berpikir bahwa apa yang mereka alami atau rasakan adalah faktor yang menentukan kehidupan mereka di dunia.  Karena itu mereka  merasa bangga dan puas jika mereka berhasil memperoleh kesuksesan, atau merasa tertekan jika mereka mengalami apa yang tidak diharapkan. Bahkan banyak orang Kristen yang percaya bahwa hidup di dunia  sebagai orang diberkati Tuhan seharusnya ditandai dengan kemakmuran. Banyak orang mungkin lupa bahwa jika mereka meninggalkan dunia ini, semua harta miliknya tidak akan berguna lagi. Begitu juga, dalam penderitaan orang mungkin lupa bahwa itu adalah sementara. Karena itu kita seharusnya memusatkan pikiran kepada apa yang abadi, yaitu hidup sesudah hidup di dunia. Kebahagiaan di surga adalah hal yang harus kita perhatikan agar selama kita hidup di dunia kita tidak terpikat oleh apa yang bisa dilihat mata saja dan apa yang ditawarkan oleh dunia.

Pagi hari ini, apakah yang anda lihat dengan mata anda? Apakah yang terjadi dalam hidup anda? Apakah yang dialami oleh keluarga anda? Adakah orang-orang yang anda kasihi yang saat ini mengalami sakit atau kesusahan? Adakah rasa tertekan dan rasa sedih dalam diri anda karena adanya hal-hal yang tidak anda harapkan? Firman Tuhan berkata melalui Paulus bahwa kita tidak perlu tawar hati sekalipun apa yang kita lihat dengan mata jasmani kita menunjukkan adanya hal yang tidak baik. Sebagai orang beriman, kita bisa memakai mata rohani kita untuk melihat bahwa Tuhan yang mahakasih selalu menyertai kita hingga kita bertemu dengan Dia dalam kebahagiaan yang kekal.

 “Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari. Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami” 2 Korintus 4: 16 – 17

Hal mengisi hati

“Sesungguhnya, orang bodoh dibunuh oleh sakit hati, dan orang bebal dimatikan oleh iri hati.” Ayub 5: 2

Apakah arti kata hati dalam Alkitab? Kata ini pada umumnya dipakai untuk menyatakan pusat kehidupan manusia. Hati dipandang sebagai tempat kemauan, kebijaksanaan dan perasaan manusia. Karakter, sifat dan pikiran adalah kata-kata yang mungkin bisa dipakai sekarang sebagai ganti kata hati. Hati dengan demikian sudah ada dalam diri manusia sejak lahirnya tetapi bertumbuh sesuai dengan cara hidup dan lingkungan. Setiap orang sudah dilahirkan dengan hati yang cacat karena dosa, tetapi melalui pertobatan hati mereka bisa diperbaharui oleh Roh Kudus sehingga hidup mereka berubah secara bertahap bisa menjadi semakin dewasa, dan dengan demikian hati mereka pun menjadi semakin baik.

Hidup manusia memang dipengaruhi keadaan hatinya. “Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang”, kata Solaiman dalam Amsal 17: 22. Mereka yang mengisi hatinya dengan kegembiraan akan tenang hidupnya – ini serupa dengan apa yang dikatakan para motivator yang sering mengajarkan orang untuk berpikir positif untuk mencapai kesuksesan dalam hidup. Walaupun demikian, Alkitab mengajarkan bahwa kegembiraan apapun yang diperoleh manusia adalah kegembiraan yang semu, jika tidak datang dari Tuhan. Manusia bisa berusaha untuk mengubah isi hatinya, tetapi jika perubahan itu  tidak datang dari Tuhan, itu tidak akan mempunyai akibat yang abadi karena manusia selalu mempunyai tendensi untuk memilih apa yang jahat.

“Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat.” Roma 7: 15

Memang manusia sejak awalnya sering melakukan apa yang tidak baik, sekalipun Tuhan sudah memberikan peringatan. Ketika Kain melihat bahwa Tuhan menerima persembahan adiknya, Habel, ia menjadi sangat panas dan mukanya muram (Kejadian 4: 5 – 7). Tuhan kemudian berkata kepada Kain: “Mengapa hatimu panas dan mukamu muram? Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya.” Kain seharusnya tahu bahwa ia sudah berbuat apa yang tidak baik, tetapi ia tidak menghentikannya karena kebodohannya.

Apa yang terjadi pada Kain, bisa terjadi pada diri kita juga. Sekalipun kita sudah menjadi umat Allah, itu tidak berarti bahwa kita tidak bisa jatuh dalam dosa sakit hati dan iri hati. Apalagi dalam masyarakat yang cenderung bersifat materialistik dan kapitalistik, semboyan “greed is good” atau “keserakahan itu baik” seringkali mendorong untuk orang seakan berlomba untuk mencari berkat Tuhan. Akibatnya, banyak orang Kristen yang menjadi bodoh karena membiarkan hidupnya secara sadar atau tidak dikuasai dengan sakit hati dan iri hati karena orang lain yang nampaknya lebih sukses hidupnya. Hidup mereka kemudian kehilangan rasa syukur dan kebahagiaan, dan bahkan seolah terasa mati.

Pagi ini, ayat pembukaan dari Ayub 5: 2 mengatakan bahwa orang bodoh dibunuh oleh sakit hati, dan orang bebal dimatikan oleh iri hati. Ayub bisa mengatakan hal ini berdasarkan apa yang dialaminya. Karena jika ia hanya melihat keberuntungan orang lain dan menimbang penderitaan yang dialaminya, wajarlah ia menjadi sakit hati dan iri. Mengapa Tuhan membiarkan malapetaka datang kepadanya, padahal ia hidup dengan ketaatan kepada Tuhan?

Apa yang kita bisa simpulkan dari Ayub adalah bahwa ia bukanlah orang yang bodoh yang merasa dirinya lebih pandai dari Tuhan. Ayub tahu bahwa Tuhan yang mahakuasa adalah Tuhan yang mahakasih dan mahabijaksana. Ayub menghindari rasa iri dan sakit hati karena keduanya akan meracuni hatinya. Ayub tahu bahwa untuk tetap bisa mengasihi Tuhan dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa dan dengan segenap akal budi, ia harus tetap memakai kebijaksanaan yang diperolehnya dari Tuhan. Ayub mengisi hatinya dengan rasa syukur, untuk menerima apa yang dikehendaki Tuhan, untuk percaya akan kasih pemeliharaanNya setiap hari, dan untuk berharap bahwa segala yang indah akan datang pada waktunya.

Siapakah Yesus itu bagi anda?

“Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah.” Yesaya 53: 4

Siapakah Yesus itu? Pertanyaan yang serupa pernah diajukan Yesus kepada murid-muridNya. Jika orang lain ada yang mengatakan bahwa Yesus adalah Yohanes Pembaptis, dan ada yang mengatakan bahwa Ia adalah Elia, ada pula mereka yang menjawab Yeremia atau salah seorang dari para nabi. Tetapi Simon Petrus menjawab bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup (Matius 16: 14 – 16). Petrus bukan saja mengakui dengan mulutnya, tetapi Alkitab dan sejarah menyebutkan bahwa ia setia kepada Yesus sampai akhir hayatnya.

Siapakah Yesus itu bagi anda? Apakah jawaban anda seperti jawaban Petrus? Sebagai orang percaya dan dengan memakai Alkitab sebagai panduan, mungkin tidak terlalu sulit bagi kita untuk mengakui dengan mulut kita bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah. Tetapi, yang sangat sulit adalah untuk mempercayakan hidup kita dengan sepenuhnya kepada Yesus seperti Petrus.

Banyak orang yang tidak mau percaya kepada Yesus karena mereka tidak dapat mengerti bagaimana Anak Allah mau turun ke dunia untuk menebus dosa manusia. Mereka mungkin bisa menerima bahwa Yesus adalah orang yang baik dan bahkan pantas untuk menjadi rasul, tetapi tidak bisa mengerti bagaimana Allah bisa dilahirkan sebagai manusia yang lemah, dan yang kemudian disiksa dan dibunuh di kayu salib di sebelah dua penjahat. Pikiran mereka tidak bisa menjangkau bagaimana selama hidup di dunia Yesus adalah Tuhan yang berupa manusia tetapi tidak berdosa.

“Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.” Ibrani 4: 15

Menjadi seperti manusia adalah suatu aspek yang sangat penting dalam misi Yesus, karena dengan itu, Ia bukannya tidak bisa merasakan segala penderitaan kita. Ia pernah dicobai, dihina, diludahi, dipukuli serta merasa lapar dan haus seperti kita, dan karena itu kita tidak perlu menyangsikan kasih dan kepedulianNya atas penderitaan kita. Berbeda dengan pengertian orang lain mengenai Tuhan yang “nun jauh disana”, Yesus adalah Tuhan yang pernah hidup seperi manusia dan karena itu seharusnya bisa terasa dekat di hati kita.

Pada hari Minggu ini, mungkin ada kemasygulan dalam hidup kita karena adanya berbagai hal yang terasa berat. Hari demi hari kita mungkin mengalami pergumulan, kesulitan, penderitaan, kekurangan atau rasa sakit. Karena itu, jika sekarang ada pertanyaan siapakah Yesus itu bagi kita, mungkin kita sulit untuk menjawabnya dengan keyakinan seperti Petrus.

Apa yang ditulis dalam kitab Yesaya diatas, jauh sebelum Yesus dilahirkan di dunia, mengingatkan kita bahwa sesungguhnya Yesus adalah Tuhan yang datang ke dunia untuk membawa kedamaian dalam hidup kita. Selama hidup di dunia, Ia peduli atas segala penderitaan dan kesengsaraan orang-orang disekitarnya, baik itu secara lahir maupun batin. Dengan demikian, Yesus sekarang ini bukan saja peduli akan keselanatan kita, tetapi Ia juga mau menolong kita selama kita masih hidup di dunia agar kita tetap bertahan dalam iman kita. Apa yang harus kita lakukan adalah bertekun dalam doa permohonan, dengan mengingat bahwa anugerah yang terbesar, yaitu keselamatan, sudah diberikanNya kepada kita. Semoga Ia menumbuhkan dan menguatkan iman kita!

“Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.” Yesaya 53: 5

Mencapai kesuksesan yang benar

“Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.” 1 Timotius 6: 10

Seringkali, jika saya bertemu teman-teman lama, pembicaraan “ngalor-ngidul” akhirnya menjurus kearah kenangan masa lalu. Dengan mengingat-ingat saat-saat dimana kami masih berkuliah, kemudian percakapan melantur ke soal si A dan si B yang sudah lama tidak pernah berjumpa. Biasanya, seusia ini kemudian muncul komentar bahwa si A adalah orang yang sukses hidupnya, atau si B yang menderita suatu penyakit. Dalam hal ini, pembicaraan biasanya jarang menyinggung hal kebahagiaan, karena tidak ada orang yang tahu apakah orang lain berbahagia atau tidak.

Apa tanda bahwa seseorang mempunyai hidup yang sukses? Apakah karena mempunyai banyak mobil Ferrari? Mungkin saja, karena di negara tertentu mobil ini adalah simbol kekayaan. Di negara lain yang mempunyai sistem pemerintahan yang transparan, orang yang sukses sering dilaporkan sebagai orang yang mempunyai harta pribadi atau yang membayar pajak dalam jumlah besar. Kekayaan memang bisa menjadi ukuran dunia untuk kesuksesan seseorang, dan itu juga sering ditafsirkan oleh beberapa orang Kristen sebagai ukuran berkat Tuhan dan ukuran iman seseorang. Karena Tuhan itu mahakaya, umat Tuhan seharusnya kaya juga.

Tidak dapat disangkal bahwa keyakinan bahwa Tuhan ada untuk membuat umatNya sukses adalah daya tarik kuat yang membuat banyak orang mau ke gereja. Itu sebenarnya tidak ada salahnya. Tuhan memang berjanji untuk menyertai umatNya dan memberkati mereka. Yang sering dipermasalahkan adalah ukuran kesuksesan dunia yang sangat berbeda dengan ukuran kesuksesan Tuhan. Dalam kitab Ayub misalnya, dikatakan bahwa kesuksesan dan kebahagiaan tidak dapat dipisahkan dengan rasa takut akan Tuhan. Dengan demikian Ayub membaktikan hidupnya untuk Tuhan, bukan untuk kekayaannya. Ia lebih mencintai Tuhan daripada semua hartanya.

Lalu bertanyalah TUHAN kepada Iblis: “Apakah engkau memperhatikan hamba-Ku Ayub? Sebab tiada seorangpun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan.” Ayub 1: 8

Dalam ayat pembukaan dari kitab Timotius diatas dikatakan bahwa mereka yang mengutamakan uang dan bukannya Tuhan, adalah orang yang telah menyimpang dari iman dan karena itu mengalami berbagai-bagai masalah. Itu karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Seperti itu jugalah, mereka yang mengejar kebahagiaan duniawi akan jatuh kedalam berbagai dosa; termasuk dosa mengilahkan kesuksesannya.

Kesuksesan bagi umat Tuhan sebenarnya tidak bisa diukur dengan segala bentuk kenyamanan duniawi. Ayub yang dulunya jaya, pada suatu saat kehilangan apapun yang dimilikinya. Tetapi ia tidak pernah kehilangan Tuhannya. Ia tidak memberontak dan melawan Tuhan; sebaliknya ia makin tunduk kepadaNya.

Pagi ini, jika kita berangan-angan betapa berbahagianya jika kita sukses dalam segala bidang kehidupan, kita harus sadar bahwa kebahagiaan tidak datang dari benda-benda yang bisa hilang dalam sekejap mata. Kebahagiaan sebaliknya datang dari rasa cukup karena adanya hubungan yang erat dengan Tuhan yang mahakuasa. Dengan demikian, kesuksesan bagi umat Tuhan ialah jika mereka bisa bersyukur kepada Tuhan dengan selalu hidup dalam keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan.

“Tetapi engkau hai manusia Allah, jauhilah semuanya itu, kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan.” 1 Timotius 6: 11

Kenalilah gembalamu

“Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku – sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa, dan Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku.” Yohanes 10: 14 – 15

Di banyak negara, domba diternakkan secara besar-besaran. Menurut data dari tahun 1993 – 2013, jumlah domba rata-rata per tahun yang dihasilkan China berada di urutan pertama (146.5 juta), Australia (101.1 juta), India (62.1 juta), Iran (51.7 juta), and Sudan (46.2 juta). Di zaman ini, peternakan domba memang merupakan bisnis besar dan karena itu  dijalankan secara intensif dengan memakai sarana dan teknik modern, sehingga jumlah domba yang dimiliki seorang peternak bisa berjumlah ratusan atau ribuan. Pada zaman Yesus masih di dunia, seorang gembala tidaklah mempunyai banyak domba, dan karena itu ia tentunya mengenal dombanya satu persatu.

Ayat diatas adalah ayat yang sangat terkenal, yang menggambarkan hubungan antara Yesus dan umatNya. Dalam ayat itu Yesus menggambarkan diriNya seperti seorang gembala yang baik, yang melindungi dan mencukupi kebutuhan domba-dombaNya. Sebagai gembala, Yesus mengenal setiap dombaNya dan begitu juga semua dombaNya mengenal Dia. Lebih dari itu, sebagai gembala yang baik, Yesus bersedia untuk mengurbankan nyawaNya untuk membela domba-dombanya dari serangan serigala-serigala yang jahat (Yohanes 10: 11-12). Memang, Yesus sudah mengurbankan diriNya di kayu salib untuk menebus dosa-dosa kita sehingga keselamatan kita tidak dapat diambil oleh iblis. Bagi semua umat Kristen, seharusnya tidak perlu diragukan bahwa Yesus adalah gembala yang baik.

Yesus gembala yang baik, dalam kenyataannya mungkin lebih mudah untuk dibayangkan daripada diamini. Jika rumput hijau terbentang luas di depan mata, memang tidaklah sulit untuk meyakini kasih Yesus yang sudah membawa kita ke padang yang subur. Tetapi, jika hanya kekeringan demi kekeringan yang terlihat sepanjang hidup, hati kita mungkin meragukan kasih dan pemeliharaanNya. Dalam keadaan sedemikian, adalah sulit bagi kita untuk bisa tetap bersyukur atas segala apa yang kita alami. 

Pada zaman Yesus di dunia, banyak orang  Yahudi yang mengharapkan Yesus bertindak sebagai seorang raja yang  bisa mengalahkan penjajahan Romawi. Pada zaman sekarang, banyak orang yang mengharapkan bahwa Yesus bisa bertindak sebagai Tuhan yang bisa membawa kebahagiaan lahir dan batin. Tetapi jika hidup mereka tidaklah seperti yang diharapkan, keraguan akan timbul.

Apakah Yesus gembala yang baik, yang bisa membawa damai sejahtera dalam hidup kita? Tentu saja! Yesus datang ke dunia untuk menyatakan  bahwa sebagai Tuhan ia mengasihi semua manusia. Bagi yang percaya kepadaNya, Ia memimpin mereka ke jalan yang benar, yang menuju keselamatan. Tidak hanya itu, Yesus juga memimpin mereka dalam hidup sehingga mereka bisa kuat dan tabah dalam menghadapi perjalanan hidup mereka. Baik ditempat dimana rumput hijau ada, ataupun pada waktu kekeringan datang melanda, Yesus sebagai gembala yang baik akan memimpin mereka yang mau menyadari bahwa mereka adalah domba-domba yang tidak bisa berjalan sendiri.

Yesus mengenal semua dombaNya, Ia mengenal kita satu persatu dengan segala keunikan kita. Ia mengerti apa yang kita butuhkan dan mendengarkan keluh-kesah kita. Lebih dari itu, Yesus juga mengasihi domba-domba lain sekalipun mereka belum mengenal suaraNya. Sayang sekali bahwa dalam kesulitan hidup, memang sulit bagi kita untuk bisa mendengarkan suaraNya. Kesibukan dan perjuangan hidup seringkali membuat kita seolah lupa siapakah Dia. Kita mungkin tidak lagi mengenal Dia, gembala yang baik, yang dengan setia memanggil mereka yang lelah dan menderita.

Pagi ini, apapun yang ada dalam kehidupan kita, marilah kita mau membuka hati kita. Suara Yesus gembala kita selalu memanggil dombaNya dan domba-domba lain, untuk mau datang kepadaNya dan mengikuti langkahNya. Gembala kita tidak penah menjanjikan bahwa rumput selalu hijau, tetapi Ia berjanji untuk menyertai kita dalam keadaan apapun untuk selama-lamanya.

“TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya. Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.” Mazmur 23: 1 – 4

Pikiran yang bisa menambah penderitaan

“Karena yang kutakutkan, itulah yang menimpa aku, dan yang kucemaskan, itulah yang mendatangi aku.” Ayub 3: 25

Teringat saya akan masa dimana saya bekerja sebagai konsultan teknik di Melbourne. Saya mempunyai seorang rekan kerja yang mengeluh bahwa mesin fotokopi di kantor “membenci dia” karena sering macet pada saat ia sangat harus menyerahkan laporan penting kepada kliennya. Ia bertanya: “Mengapa apa yang buruk justru terjadi pada saat yang tidak diharapkan?” Pernahkah anda mengalami kejadian serupa? Mengalami sesuatu yang tidak menyenangkan selagi anda berada dalam kesulitan? Itu adalah kesulitan berganda alias double trouble.

Macetnya mesin fotokopi ketika kita perlu memakainya tidak dapat dibandingkan dengan apa yang dialami Ayub. Mungkin dalam hidup ini, kita jarang melihat orang yang kehilangan harta, keluarga dan kesehatan secara berurutan secara cepat seperti yang terjadi dalam hidup Ayub, yang diakibatkan oleh pekerjaan iblis. Walaupun begitu, di dunia ini banyak juga orang yang kehilangan semua yang dimilikinya akibat perbuatan orang lain, bencana alam atau kecelakaan. Kita yang membaca pengalaman Ayub dan mendengar tentang penderitaan orang lain mungkin juga pernah mengalami hal yang serupa sekalipun tak sama. Tidaklah mengherankan jika kita bertanya-tanya. Mengapa semua ini harus terjadi? Mengapa Tuhan membiarkan semuanya?  Seiring dengan itu, hati kita menjadi sangat sedih.

Hal yang jelek bisa terjadi di dunia yang rusak karena kejatuhan manusia kedalam dosa. Malapetaka bisa juga terjadi karena pekerjaan iblis, seperti apa yang terjadi pada Ayub. Selain itu, seperti apa yang terjadi pada Ayub, terkadang Tuhan memperbolehkan penderitaan datang kepada umatNya. Tetapi Ayub yang mengalami berbagai malapetaka, tetap dilindungi Tuhan sampai akhir.

Sebagai orang Kristen kita harus sadar bahwa Tuhan tidak membuat malapetaka untuk umatNya. Tuhan justru ingin menyelamatkan semua orang yang percaya kepadaNya. Dengan pengurbanan Yesus di kayu salib, kita bisa menyadari betapa besar kasihNya. Karena itu, tidak boleh ada keraguan bahwa Tuhan selalu mempunyai rencana yang baik bagi kita, sekalipun hidup saat ini terasa berat.

Kesedihan atas apa yang menimpa kehidupan kita adalah normal tetapi tidak boleh mematikan hati. Kita terkadang boleh merasa sedih tetapi tidak terus hidup dalam kesedihan. Mengapa begitu? Karena kita tidak mau menghancurkan hidup kita sendiri. Kita tidak ingin untuk hidup dalam penderitaan karena merasa malang, karena merasa bahwa kita adalah orang yang termalang. Itu adalah sikap mengasihani diri sendiri atau self pity.

Jika ada perbedaan antara Ayub dan umat Tuhan lainnya, itu adalah dalam hal bagaimana Ayub tetap percaya dan setia kepada Tuhan sekalipun hidupnya dilanda malapetaka yang datang satu persatu. Ayub merasa sedih dan tertekan, tetapi tidak mempertanyakan kebijaksanaan Tuhan. Ayub tidak memberontak dan menghujat Tuhan, karena ia tetap yakin bahwa Tuhan adalah mahabijaksana dan mahakasih. Ayub tahu bahwa Tuhan yang memberi adalah Tuhan yang berhak untuk mengambil kembali (Ayub 1: 21). Ayub menyadari bahwa dengan memikirkan kemalangan hidupnya, penderitaannya tidak akan berhenti, tetapi justru membuatnya lelah dan gelisah. Penderitaan memang bisa bertambah besar karena pikiran negatif manusia.

“Aku tidak mendapat ketenangan dan ketenteraman; aku tidak mendapat istirahat, tetapi kegelisahanlah yang timbul.” Ayub 3: 26

Pagi ini, jika kita mengeluh bahwa apa yang buruk sering terjadi dalam hidup kita tanpa sebab yang jelas, kita mungkin lupa bahwa kita sudah menerima hal yang sangat baik padahal kita tidak pantas untuk memperolehnya. Kita manusia yang berdosa, tanpa sebab yang jelas, sudah memperoleh kasih karunia penebusan Yesus Kristus. Siapakah kita, sehingga Tuhan memilih kita untuk memperoleh pengenalan akan jalan keselamatan? Pikiran negatif memang bisa menghancurkan, tetapi pikiran yang positif akan membawa semangat baru.

“Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang.” Amsal 17: 22

Boleh khawatir tapi jangan takut

“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” Filipi 4: 6

Dalam bahasa Indonesia, rasa khawatir mungkin bisa diganti dengan kata cemas atau takut. Tetapi sebenarnya arti ketiga kata itu berbeda. Orang memang sering menyebutkan rasa khawatir atau kuatir akan sesuatu hal, tetapi belum tentu merasa cemas atau takut. Dalam bahasa Inggris pun ada istilah “worry” yang sering dipakai dalam percakapan sehari-hari – yang menunjuk kepada adanya kemungkinan akan terjadinya sesuatu yang tidak diharapkan – tetapi ini belum sampai menjurus kearah rasa cemas. Orang juga sering mengatakan bahwa keadaan bisa membuat kita was-was tetapi tidak perlu membuat kita cemas. Concerned but not alarmed.

Jika dalam ayat diatas dikatakan bahwa sebagai pengikut Kristus kita seharusnya tidak kuatir tentang apapun juga, agaknya ini bukan sehubungan dengan kekuatiran yang secara normal muncul jika kita melihat adanya sesuatu atau keadaan yang kurang baik, tetapi yang masih bisa kita hindari. Misalnya, kita memilih untuk naik kereta MRT daripada memakai mobil sendiri karena kuatir akan jalan yang macet. Kekuatiran disini adalah kekuatiran yang positif karena membuat kita bisa mengambil keputusan yang bijaksana.

Kekuatiran yang tidak baik adalah kekuatiran yang negatif, yang membuat kita merasa tidak berdaya. Rasa cemas yang membuat tubuh kita menjadi lemah, dan rasa takut yang membuat kita lumpuh. Sebagai umat Tuhan , sebenarnya agak aneh jika kita bisa merasa cemas dan takut karena kita merasa tidak bisa melakukan hal apapun dan tidak ada orang lain yang bisa menolong kita. Itu karena kita seharusnya percaya bahwa Tuhan adalah mahakuasa dan maha kasih: Ia sanggup melakukan hal apapun dan bisa menolong siapapun, terutama umatNya.

Memang suatu masalah yang kita hadapi dalam kekuatiran adalah adanya kemungkinan bahwa kekuatiran yang kecil, perlahan-lahan bisa menjadi besar, menjadi rasa was-was dan rasa cemas, dan kemudian menjadi rasa takut. Dalam penantian akan pertolongan Tuhan, seringkali kita menjadi ragu dan bertanya-tanya apakah Ia akan menolong kita dan jika itu benar, kapan Ia akan menolong kita. Dalam hal ini, ayat diatas mengatakan bahwa kita harus menyatakan keinginan kita dalam doa dan dengan rasa syukur sekalipun Ia belum menjawab doa kita.

Apa perlunya berdoa dan bersyukur? Doa tidak dimaksudkan untuk mengubah rencana Tuhan. Doa kita tidak selalu dikabulkan Tuhan. Tetapi doa berguna untuk kita, karena dengan doa kita membina hubungan yang baik dengan Tuhan, yang mengingatkan kita bahwa Ia adalah mahakuasa, mahakasih dan mahabijaksana. Doa membuat kita bisa berserah kepada Tuhan, suatu pilihan yang jauh lebih baik daripada usaha untuk mencari jalan keluar menurut keinginan kita sendiri. Doa juga membuat kita belajar untuk mengerti apa yang dikehendaki Tuhan dalam hidup kita, sehingga kita lebih bisa bersabar menantikan pertolonganNya. Jika rasa kuatir bisa menjauhkan kita dari Tuhan, doa bisa menghilangkan rasa was-was dan rasa takut. Doa yang disertai dengan rasa syukur bisa membawa kedamaian bagi kita karena adanya kesadaran bahwa Tuhan itu baik. Doa mungkin tidak mengubah keadaan, tetapi doa bisa mengubah reaksi kita terhadap keadaan – doa bisa mengubah hidup kita karena Tuhan bisa memberi rasa damai sejahtera dalam hidup kita.

“Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” Filipi 4: 7

Merenungi roda kehidupan

“Aku, TUHAN, yang menyelidiki hati, yang menguji batin, untuk memberi balasan kepada setiap orang setimpal dengan tingkah langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya.” Yeremia 17: 10

Bacaan: Yeremia 17: 5 – 10.

Sebagian orang di dunia membayangkan bahwa hidup ini berjalan seperti sebuah titik pada sebuah roda yang berputar, spinning wheel, yang bisa naik dan kemudian turun. Oleh sebab itu, bagi mereka, hidup adalah kesempatan untuk mencari keuntungan dan kenyamanan selagi bisa. Selagi roda kehidupan mereka berputar keatas, mereka memanfaatkannya dengan apa saja yang bisa dilakukan supaya hidupnya makin enak.

Memang jika kita lihat dalam hidup ini, manusia selalu berusaha untuk berhasil tanpa memperdulikan siapa yang menggerakkan roda kehidupan ini. Sebagian percaya bahwa mereka harus bisa mempertahankan posisi mereka pada roda kehidupan dengan segala cara.  Mereka lupa bahwa Tuhan yang memegang kontrol atas hidup kita di setiap saat, bahwa roda kehidupan itu tidak selalu berputar seperti apa yang diharapkan. Mereka tidak sadar bahwa dinamika hidup ini adalah sangat kompleks. Roda kehidupan bukanlah seperti roda yang berputar dengan kecepatan dan arah yang tidak pernah berubah.

Adakah yang bisa diharapkan dalam hidup ini? Adakah yang bisa dipastikan jika roda kehidupan selalu berputar? Yeremia 17 berisi peringatan bagi bangsa Israel bahwa mereka tidak dapat mengandalkan kekuatan mereka sendiri. Peringatan ini secara umum juga berlaku untuk setiap orang yang hidup di dunia, dari dulu sampai sekarang.  Tidak ada seorangpun yang bisa memastikan apa yang akan terjadi dalam hidupnya. Mereka yang merasa bahwa hidup dan hasil usaha mereka berada dalam tangan sendiri, pada suatu saat akan kecewa karena apa yang terjadi bisa diluar dugaan mereka. Tuhan melalui Yeremia dengan jelas menyatakan rasa tidak senangNya atas kesombongan manusia.

Beginilah firman TUHAN: “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!” Yeremia 17: 5

Sebagai umat Kristen, kita harus percaya bahwa Tuhan benar-benar  membenci manusia yang sombong, yang merasa bahwa ia dapat mengatur jalannya roda kehidupan dengan berbuat ini dan itu. Kita harus sadar bahwa Tuhanlah yang mempunyai rencana untuk seisi alam semesta, dan itu harus terjadi. Ini bukan berarti bahwa manusia tidak mempunyai kewajiban untuk bekerja sebaik mungkin dalam keadaan apapun yang mereka alami. Sebaliknya, kita harus berusaha untuk mengerti apa yang Tuhan kehendaki dalam hidup kita.

Manusia mungkin berusaha untuk bekerja dan mencapai kesuksesan. Itu adalah baik jika mereka seperti bekerja untuk Tuhan dan tidak lupa untuk memuliakan namaNya. Dalam kenyataannya, terlalu banyak orang yang sukses dalam hidupnya tetapi tidak sukses dalam usaha memuliakan Tuhan. Ada juga yang nampaknya bekerja untuk kemuliaan Tuhan, tetapi segala apa yang dicapainya sebenarnya hanya dipakai untuk kenikmatan diri sendiri. Ayat pembukaan kita berkata bahwa Tuhanlah yang  menyelidiki hati, yang menguji pikiran, untuk memberi balasan kepada setiap orang setimpal dengan tingkah langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya. Ia tahu  apakah orang menyombongkan keberhasilannya; Ia juga tahu jika orang menyalahgunakan berkatNya. Tetapi Ia juga tahu jika orang menyia-nyiakan hidupnya dengan tidak berusaha untuk memuliakan Tuhan dalam setiap keadaan.

Pagi ini, biarlah kita memikirkan roda kehidupan yang kita jalani.  Mungkin roda kehidupan kita sekarang ini memberikan kesempatan untuk menikmati berkatNya. Kepada kita diingatkan bahwa semuanya datang dari Tuhan dan karena itu kita harus makin menaruh harapan kepada Tuhan. Kita harus dengan rendah hati mengakui bahwa hidup kita ada ditanganNya. Sebaliknya, jika kita pada saat ini berada dalam keadaan yang kurang menyenangkan, kita tidak boleh berputus asa karena Tuhan menilik hati dan pikiran kita. Ia tahu apa kebutuhan dan motivasi kita. Mereka yang mengandalkan Tuhan dan yang menaruh harapan mereka kepada Tuhan akan dikuatkan dan diberkati, sehingga dalam keadaan apapun mereka akan tetap berdiri teguh dan bisa merasakan kasihNya.

Puji Tuhan!

Statistik diatas menunjukkan bahwa jumlah mingguan pembaca Renungan Kristen terus meningkat, dan hanpir menyentuh 2000 minggu lalu.

Saya mengucapkan terima kasih atas kesetiaan dan dukungan anda sekalian.

Semoga Tuhan memberkati kita semua.

Salam,

Andreas

18/02/2019