Mencapai kesuksesan yang benar

“Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.” 1 Timotius 6: 10

Seringkali, jika saya bertemu teman-teman lama, pembicaraan “ngalor-ngidul” akhirnya menjurus kearah kenangan masa lalu. Dengan mengingat-ingat saat-saat dimana kami masih berkuliah, kemudian percakapan melantur ke soal si A dan si B yang sudah lama tidak pernah berjumpa. Biasanya, seusia ini kemudian muncul komentar bahwa si A adalah orang yang sukses hidupnya, atau si B yang menderita suatu penyakit. Dalam hal ini, pembicaraan biasanya jarang menyinggung hal kebahagiaan, karena tidak ada orang yang tahu apakah orang lain berbahagia atau tidak.

Apa tanda bahwa seseorang mempunyai hidup yang sukses? Apakah karena mempunyai banyak mobil Ferrari? Mungkin saja, karena di negara tertentu mobil ini adalah simbol kekayaan. Di negara lain yang mempunyai sistem pemerintahan yang transparan, orang yang sukses sering dilaporkan sebagai orang yang mempunyai harta pribadi atau yang membayar pajak dalam jumlah besar. Kekayaan memang bisa menjadi ukuran dunia untuk kesuksesan seseorang, dan itu juga sering ditafsirkan oleh beberapa orang Kristen sebagai ukuran berkat Tuhan dan ukuran iman seseorang. Karena Tuhan itu mahakaya, umat Tuhan seharusnya kaya juga.

Tidak dapat disangkal bahwa keyakinan bahwa Tuhan ada untuk membuat umatNya sukses adalah daya tarik kuat yang membuat banyak orang mau ke gereja. Itu sebenarnya tidak ada salahnya. Tuhan memang berjanji untuk menyertai umatNya dan memberkati mereka. Yang sering dipermasalahkan adalah ukuran kesuksesan dunia yang sangat berbeda dengan ukuran kesuksesan Tuhan. Dalam kitab Ayub misalnya, dikatakan bahwa kesuksesan dan kebahagiaan tidak dapat dipisahkan dengan rasa takut akan Tuhan. Dengan demikian Ayub membaktikan hidupnya untuk Tuhan, bukan untuk kekayaannya. Ia lebih mencintai Tuhan daripada semua hartanya.

Lalu bertanyalah TUHAN kepada Iblis: “Apakah engkau memperhatikan hamba-Ku Ayub? Sebab tiada seorangpun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan.” Ayub 1: 8

Dalam ayat pembukaan dari kitab Timotius diatas dikatakan bahwa mereka yang mengutamakan uang dan bukannya Tuhan, adalah orang yang telah menyimpang dari iman dan karena itu mengalami berbagai-bagai masalah. Itu karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Seperti itu jugalah, mereka yang mengejar kebahagiaan duniawi akan jatuh kedalam berbagai dosa; termasuk dosa mengilahkan kesuksesannya.

Kesuksesan bagi umat Tuhan sebenarnya tidak bisa diukur dengan segala bentuk kenyamanan duniawi. Ayub yang dulunya jaya, pada suatu saat kehilangan apapun yang dimilikinya. Tetapi ia tidak pernah kehilangan Tuhannya. Ia tidak memberontak dan melawan Tuhan; sebaliknya ia makin tunduk kepadaNya.

Pagi ini, jika kita berangan-angan betapa berbahagianya jika kita sukses dalam segala bidang kehidupan, kita harus sadar bahwa kebahagiaan tidak datang dari benda-benda yang bisa hilang dalam sekejap mata. Kebahagiaan sebaliknya datang dari rasa cukup karena adanya hubungan yang erat dengan Tuhan yang mahakuasa. Dengan demikian, kesuksesan bagi umat Tuhan ialah jika mereka bisa bersyukur kepada Tuhan dengan selalu hidup dalam keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan.

“Tetapi engkau hai manusia Allah, jauhilah semuanya itu, kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan.” 1 Timotius 6: 11

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s