Mengubah cara berpikir

“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Roma 12: 2

Sistim pendidikan di berbagai negara adalah berlain-lainan, tetapi semua tentunya bertujuan untuk memberi murid pengetahuan yang cukup untuk nantinya bisa digunakan untuk mencari nafkah. Di Australia, pendidikan SD, SMP dan SMA negeri adalah serupa dengan apa yang di Indonesia dan secara umum bebas biaya.

Pendidikan universitas tidaklah gratis, tetapi bisa dibayar dengan angsuran setelah lulus dan mendapat pekerjaan. Dengan demikian, orang tua umumnya tidak terlalu terbebani secara ekonomi untuk menyekolahkan anak-anak mereka, sekalipun apa yang dipilih mungkin jurusan mahal seperti kedokteran.

Pendidikan yang sekarang diberikan di Australia bukan hanya mencakup ilmu pengetahuan saja (hard skills), tetapi juga mengenai cara hidup bermasyarakat (soft skills). Malahan, sekarang orang mulai sadar bahwa soft skills sama pentingnya dan bahkan bisa lebih penting dari hard skills untuk mendukung karir.

Masalahnya, sekalipun soft skills bisa diajarkan dan dipelajari, kemampuan tiap orang juga dipengaruhi oleh sifat dan sikap hidup perorangan. Dengan demikian, pendidikan tidak menjamin semua lulusan bisa menjadi orang-orang yang komplit dan siap terjun ke masyarakat.

Berbeda dengan Indonesia, pendidikan agama tidaklah ditekankan di Australia, kecuali di sekolah atau universitas yang didukung organisasi agama tertentu. Apa yang diajarkan pada umumnya adalah bersifat sekuler dan tidak ada hubungannya dengan iman kepercayaan.

Mereka yang makin pandai dalam pengetahuan duniawi, belum tentu tumbuh dalam hal rohani. Ini adalah hal yang biasa di negara manapun – tingginya pendidikan dan umur seseorang tidaklah menjamin bahwa ia adalah orang yang taat kepada Tuhan. Memang di dunia ini agaknya banyak orang yang sadar akan adanya Tuhan, tetapi tidak takut atau taat kepada Tuhan.

Paulus pada zamannya agaknya melihat hal yang serupa dalam masyarakat di sekelilingnya. Ayat yang ditulisnya untuk jemaat di Roma menyerukan agar pengikut Kristus tidak menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi agar berubah dengan pembaharuan akal budi, sehingga mereka dapat mengerti apa kehendak Allah. Supaya mereka tahu apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. Tetapi, bagaimana orang bisa mengalami pembaharuan pikiran seperti itu, jika pendidikan apapun tidak bisa membuat orang takut dan hormat kepada Tuhan?

Mereka yang tidak pernah memikirkan Tuhan tentunya tidak sadar bahwa kehendak Tuhan bukan saja bisa muncul sebagai apa yang diluar kontrol manusia, tetapi juga apa yang difirmankanNya dan apa yang baik yang muncul dalam pikiran atau hati kita. Mereka yang tidak tahu apa yang dikehendaki Tuhan dan mereka yang tidak mau menuruti atau melaksanakan perintahNya, belumlah mengalami perubahan akal budi. Mereka adalah orang-orang yang bodoh, yang tidak bijaksana, sekalipun sudah berpendidkan tinggi.

Memang dengan bertambah tingginya pendidikan kita, hidup kita biasanya makin sibuk. Kita juga makin pandai membuat alasan praktis pragmatis bahwa kita boleh melakukan hal ini dan itu. Dengan bertambahnya umur, kita juga cenderung percaya bahwa kita adalah orang yang cukup bijaksana dan bisa membedakan apa yang baik dari apa yang jahat. Tidaklah mengherankan bahwa ada orang-orang yang berstatus pemimpin dalam masyarakat karena mempunyai hard skills dan soft skills, tetapi tidak mempunyai pengertian tentang kehendak Allah: apa yang benar-benar baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

Pagi ini kita harus sadar bahwa perubahan akal budi yang membuat orang bijaksana dalam pandangan Tuhan, hanya bisa terjadi dengan pertolongan Roh Kudus yang bekerja dalam diri orang percaya. Transformasi untuk menjadi orang yang bijaksana tidaklah terjadi dalam sehari, tetapi seumur hidup, selama kita dekat dengan Tuhan.

2 pemikiran pada “Mengubah cara berpikir

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s