Berlatih untuk mendengarkan suara Tuhan

Lalu datanglah TUHAN, berdiri di sana dan memanggil seperti yang sudah-sudah: “Samuel! Samuel!” Dan Samuel menjawab: “Berbicaralah, sebab hamba-Mu ini mendengar.” 1 Samuel 3: 10

Beberapa bulan yang lalu, saya dan beberapa sanak saya pergi ke sebuah cafe di daerah Southbank, Brisbane, untuk makan pagi. Hari Sabtu dan masih pagi, dan kami pun menjadi langganan pertama yang datang. Ketika kami baru mulai makan, dari seberang jalan terdengar suara berisik yang berasal dari mesin penghancur beton yang dijalankan beberapa pekerja kotamadya. Suara berisik itu terasa sangat mengganggu, tetapi kami tidak bisa berbuat apa-apa. Saya kemudian hanya bisa makan tanpa bisa berbincang-bincang karena adanya kebisingan yang membuat saya tidak bisa mendengar suara orang lain.

Memang tingkat kebisingan yang ada di latar belakang bisa menimbulkan rasa tidak nyaman. Sebuah konser rock band tidak jarang mencapai tingkat kebisingan sekitar 90-100 desibel, dan itu bisa mengakibatkan ketulian, paling tidak untuk sementara. Untuk menghindari kebisingan kota, ada gedung perpustakaan bisa dibangun di bawah tanah, seperti yang ada di Green Square, Sydney. Tetapi, ditempat yang sedemikian sepi orang mungkin mudah mengantuk.

Dalam Alkitab, sering digambarkan bahwa perjumpaan manusia dengan Tuhan terjadi di tempat yang sepi. Tetapi, ada juga banyak kejadian dimana Tuhan berkomunikasi dengan manusia ketika mereka berada dalam keadaan terancam, dalam situasi yang kacau dan tegang. Memang, berkomunikasi dengan Tuhan tidak selalu harus menggunakan pendengaran; malahan, pada zaman ini Tuhan lebih sering menyatakan kehendakNya melalui hati dan pikiran kita. Sekalipun demikian, manusia membutuhkan kemauan, latihan dan kebiasaan untuk dapat mendengar suara Tuhan dalam keadaan apapun.

Alkisah, pada waktu itu Samuel masih berumur sekitar 11 tahun. Pada masa itu firman Tuhan jarang disampaikan oleh hamba-hambaNya dan penglihatan-penglihatanpun tidak sering. Samuel yang masih kecil, belum mengenal Tuhan secara pribadi; dan firmanNya belum pernah dinyatakan kepadanya. Ketika Tuhan memanggil Samuel untuk pertama kalinya, Samuel tidak menyadarinya. Sampai tiga kali Tuhan memanggil, dan dengan nasihat nabi Eli, Samuel akhirnya menjawab panggilan Tuhan: “Berbicaralah, sebab hambaMu ini mendengar.” Sejak saat itu Samuel mengenal Tuhan secara pribadi.

Pernahkan anda berkomunikasi secara pribadi dengan Tuhan? Bukan anda yang secara sepihak menyampaikan doa permohonan kepadaNya, tetapi Ia yang mengajak anda untuk berbincang-bincang? Berapa kali Tuhan memanggil anda sebelum anda menyadari panggilanNya? Mungkin bagi kita lebih mudah untuk memanggil Tuhan, agar Ia mau mendengarkan keluh-kesah dan permohonan kita, tetapi agaknya sulit bagi kita untuk mengenali suara panggilanNya, jika kita belum mengenalNya secara pribadi.

Tuhan mungkin sudah sering memanggil kita melalui apa yang kita rasakan dalam hati dan pikiran (akal budi), tetapi karena hidup kita yang penuh dengan hingar-bingar kesibukan sehari-hari, kita mungkin tidak pernah mempunyai kemauan untuk memusatkan perhatian kita kepadaNya, tidak sempat berlatih untuk mengenali suaraNya, dan tidak mempunyai kebiasaan mendengar panggilanNya. Mungkin saja kita lebih mengenali dan menggemari ucapan dan suara pemimpin atau tokoh populer tertentu, tetapi kurang bisa memahami apa yang difirmankan Tuhan kepada kita secara pribadi.

Pagi ini, firman Tuhan berkata bahwa seperti Samuel mungkin kita harus belajar untuk memusatkan hati dan pikiran kita kepada Tuhan. Terlalu sering kita hanya bisa mendengar kebisingan suara dan pendapat manusia dan bukannya menangkap suara Tuhan. Kita harus sadar bahwa sebagai domba-domba Yesus, kita harus mengenal suaraNya. Kita harus mempunyai kemauan, mau berlatih dan mengembangkan kebiasaan untuk mendengarkan suara Tuhan dalam setiap keadaan.

“Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku” Yohanes 10: 27

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s