Perubahan apa yang dikehendaki Tuhan atas diriku?

“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Roma 12:2

Banyak orang yang setelah menjadi orang percaya kemudian mengalami perubahan karakter dan cara hidup. Sebagai contoh, Paulus (Saulus dari Tarsus) adalah seorang Farisi yang dididik di bawah bimbingan Gamaliel, seorang guru Farisi terkemuka. Sebagai Farisi, ia menganggap ajaran Kristen sesat dan karena itu ia memimpin penganiayaan terhadap umat Kristen, termasuk Stefanus yang dirajam sampai mati. Pengalamannya di jalan Damsyik mengubahnya secara radikal, membuatnya menjadi Paulus, yang mengabarkan kasih karunia Kristus dan kebenaran yang berasal dari iman.

Pada pihak lain, banyak orang yang tidak mengalami pengalaman yang berarti setelah bertobat. Bahkan, setelah bertahun-tahun menjadi orabg Kristen, segala apa yang dikerjakan mereka, cara hidup mereka dan tingkah laku mereka tidak banyak berubah. Mereka mungkin tidak sadar bahwa seharusnya setiap orang Kristen sehatusnya mengalami perubahan karena melalui belas kasihan Allah mereka sudah disembuhkan dari sakit rohani mereka. Yesus pernah berkata: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” (Markus 2:17). Apakah orang-orang itu belum benar-benar disembuhkan?

Setiap orang yang percaya sudah menerima pengampunan, dan itu adalah kesembuhan Ilahi. Tetapi, tidak semua orang sadar akan implikasi dan tanggung jawab mereka sesudah sembuh. Ini seperti orang yang sudah sembuh dari sakit perut, tetapi tidak pernah mengubah apa yang dimakannya.

Roma 12:1-2 menjawab pertanyaan, “Bagaimana seharusnya kita menanggapi belas kasihan Allah yang besar kepada kita?” Jawabannya adalah menjadi korban yang hidup dan bernapas, menggunakan hidup kita untuk melayani Allah sebagai tindakan penyembahan yang berkelanjutan. Itulah yang masuk akal. Ini bukanlah cara untuk mendapatkan keselamatan, tetapi respons alami yang seharusnya kita miliki setelah diselamatkan.

Untuk melakukan ini, kita perlu melepaskan diri dari pola mementingkan diri sendiri yang ada di dunia dan mengubah pikiran kita agar dapat memahami apa yang Allah inginkan. Kemudian kita akan tahu apa hidup itu dan bagaimana harus hidup.

Surat Paulus kepada jemaat di Roma mencapai satu titik balik yang penting pada pasal 12. Setelah sebelas pasal penuh dengan penjelasan tentang dosa manusia, anugerah Allah, pembenaran oleh iman, dan karya keselamatan yang sepenuhnya berasal dari belas kasihan Tuhan, Paulus kini beralih dari doktrin keselamatan ke respons manusia. Ia tidak memulai dengan tuntutan moral, melainkan dengan dasar yang kokoh: “demi kemurahan Allah.”

Seluruh panggilan hidup Kristen berakar pada apa yang telah Allah lakukan terlebih dahulu, bukan pada apa yang manusia mampu capai.

Dalam Roma 12, Paulus menggambarkan penyembahan kepada Allah kita sebagai menjadi korban yang hidup bagi Allah kita, melepaskan pencarian apa yang kita inginkan dari hidup dan belajar untuk mengetahui dan melayani apa yang Allah inginkan. Itu dimulai dengan menggunakan karunia rohani kita untuk melayani satu sama lain di gereja. Daftar perintah Paulus menggambarkan gaya hidup yang mengesampingkan diri sendiri.

Salah satu dari tujuan hidup kita sebagai orang Kristen adalah untuk saling mengasihi dan mengangkat satu sama lain.

Paulus mendesak orang percaya untuk menanggapi anugerah Allah dengan mempersembahkan seluruh hidup—tubuh, pikiran, kehendak, dan arah hidup—sebagai korban yang hidup. Ini bukan pengorbanan yang mati dan berakhir di altar, melainkan pengorbanan yang terus bernapas, berjalan, bekerja, dan berelasi setiap hari.

Hidup Kristen bukan sekadar perubahan perilaku sesekali, melainkan penyerahan diri yang utuh dan berkelanjutan.

Langkah pertama dari penyerahan itu bersifat negatif sekaligus radikal: “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini.” Dunia yang dimaksud Paulus adalah sistem nilai yang terbentuk dari manusia yang hidup tanpa Allah. Inilah pola hidup “default” manusia berdosa—cara hidup manusia yang asli dalam berpikir, menilai, dan menginginkan sesuatu tanpa mempertimbangkan kehendak Sang Pencipta.

Rasul Yohanes merangkum pola hidup duniawi ini sebagai “keinginan daging, keinginan mata, dan keangkuhan hidup.” Dengan naluri alamiah, kita semua tertarik pada kenikmatan, kepemilikan, dan pengakuan. Kita mengejar kenyamanan, prestasi, status, dan rasa unggul atas orang lain—sering kali bukan karena itu sungguh dibutuhkan, melainkan karena itulah ukuran keberhasilan yang dunia ajarkan. Tanpa disadari, kita mulai menilai hidup berdasarkan apa yang kita miliki, seberapa dihormati kita, dan seberapa besar kendali yang kita rasakan.

Namun Paulus tidak berhenti pada larangan untuk menjadi orang duniawi. Ia melanjutkan dengan panggilan yang jauh lebih dalam: “berubahlah oleh pembaharuan budimu.” Perubahan yang Tuhan kehendaki bukan sekadar kosmetik rohani, bukan hanya perilaku yang diperhalus atau kebiasaan yang dipoles. Perubahan sejati dimulai dari pusat kendali hidup manusia: cara berpikir. Pikiran yang diperbarui bukan pikiran yang lebih religius, melainkan pikiran yang terus menerus ditundukkan kepada kebenaran Allah.

Pembaharuan budi berarti belajar melihat realitas dengan kacamata Allah. Nilai-nilai lama ditantang, asumsi lama diuji, dan tujuan hidup lama dipertanyakan. Dunia bertanya, “Apa yang membuatku bahagia?” Injil bertanya, “Apa yang memuliakan Tuhan?” Dunia bertanya, “Apa keuntunganku?” Injil bertanya, “Apa kehendak Allah?” Inilah perubahan arah yang halus namun menentukan.

Tujuan dari pembaharuan ini bukan kebingungan rohani, melainkan kepekaan rohani. Paulus berkata bahwa dengan pikiran yang diperbarui, kita dapat membedakan kehendak Allah—apa yang baik, berkenan, dan sempurna.

Kehendak Tuhan bukanlah teka-teki mistis yang hanya bisa dipecahkan oleh segelintir orang rohani. Ia dikenali melalui hidup yang melalui Roh Kudus diselaraskan dengan kebenaran-Nya, melalui hati yang rela dibentuk, dan melalui pikiran yang terus diperbarui oleh firman-Nya.

Tuhan tidak selalu memanggil kita keluar dari “dunia” secara fisik. Ia mungkin tetap mempercayakan kesenangan, harta, atau posisi tertentu. Namun Ia mengubah cara kita memandang semuanya itu. Seperti apa yang terjadi pada pemungut cukai Zakheus (Lukas 19:8), pertanyaan hidup kita bergeser: bukan lagi “apa yang bisa saya dapatkan dari hidup ini?”, melainkan “apa yang Tuhan ingin kerjakan melalui hidup saya?” Bukan lagi “apa yang paling menguntungkan saya?”, melainkan “apa yang baik, berkenan, dan sempurna di mata Allah?”

Perubahan yang dikehendaki Tuhan belum tentu berupa perubahan kegiatan hidup, melainkan perubahan pandangan hidup.

Hidup yang dipersembahkan kepada Allah adalah hidup yang terus belajar berkata: “Bukan kehendakku, melainkan kehendak-Mu yang jadi.” Dan di situlah, justru, manusia menemukan makna yang sejati. Hidup baru yang makin lama makin dipakai untuk memuliakan Dia, dan bukan untuk diri sendiri.

Doa Penutup

Tuhan yang penuh belas kasihan, kami bersyukur karena Engkau terlebih dahulu mengasihi kami dan menyelamatkan kami oleh anugerah-Mu. Ajarlah kami untuk tidak hidup menurut pola dunia ini, meskipun godaannya begitu kuat dan tampak wajar. Perbaruilah budi kami oleh kebenaran firman-Mu. Ubah cara kami berpikir, menilai, dan menginginkan sesuatu, agar hidup kami semakin selaras dengan kehendak-Mu. Bimbing kami untuk membedakan apa yang baik, yang berkenan kepada-Mu, dan yang sempurna menurut tujuan-Mu. Kami serahkan hidup kami sebagai korban yang hidup di hadapan-Mu. Pakailah kami bukan untuk kemuliaan diri sendiri, melainkan untuk kemuliaan nama-Mu. Di dalam nama Yesus Kristus kami berdoa. Amin.

Haruskah Kita Mempunyai Moral yang Baik?

“Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu? Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya?” Roma 6:1–2

Pertanyaan Paulus dalam Roma 6 bukanlah pertanyaan yang dangkal atau bersifat spekulatif. Pertanyaan ini muncul secara alami dari Injil yang ia beritakan dengan sangat radikal: bahwa manusia dibenarkan bukan oleh perbuatan, bukan oleh ketaatan hukum, dan bukan oleh keunggulan moral, melainkan semata-mata oleh kasih karunia Allah di dalam Kristus. Ketika Injil diberitakan dengan jujur, pertanyaan seperti ini tidak dapat dihindari.

Jika keselamatan adalah anugerah sepenuhnya, lalu apakah moral orang Kristen masih penting? Jika dosa kita diampuni, bahkan dipakai Allah untuk menyatakan kelimpahan kasih karunia-Nya, apakah kita boleh hidup santai dalam dosa?

Kita bisa membaca bahwa syarat menjadi pendeta, penatua, dan diaken berdasarkan Alkitab (terutama 1 Timotius 3:1-13) mencakup karakter yang saleh, integritas moral, kehidupan keluarga yang baik, penguasaan diri, dan pelayanan yang melayani, dengan fokus pendeta pada firman Tuhan dan diaken pada pelayanan kasih dan kebutuhan jemaat, serta keduanya harus terbukti tidak bercela dan memiliki reputasi baik di dalam maupun di luar gereja.

Lalu bagaimana pula dengan mereka yang tidak menjabat posisi gereja? Bolehkah kita santai dalam hal moral karena kita adalah pedagang, businessman, kontraktor, politikus, pegawai pajak, murid sekolah, pensiunan, atau “orang awam Kristen” lainnya?

Jawaban Paulus datang dengan kekuatan penuh: “Sekali-kali tidak!” Ini bukan sekadar nasihat etis, tetapi penegasan tentang hakikat keselamatan itu sendiri. Menurut Paulus, gagasan bahwa situasi di mana orang percaya terus hidup dalam dosa menunjukkan bahwa Injil belum sungguh-sungguh dipahami.

Alasannya sederhana namun mendalam: orang percaya bukan hanya diampuni, tetapi dipersatukan dengan Kristus. Keselamatan bukan hanya perubahan status hukum—dari bersalah menjadi benar—melainkan juga perubahan arah hidup. Paulus berkata, “Kita telah mati bagi dosa.” Artinya, dosa tidak lagi menjadi kuasa yang menguasai, identitas yang menentukan, atau tujuan yang dicari.

Ini tidak berarti orang percaya tidak lagi berdosa. Alkitab dengan jujur mengakui kelemahan dan kegagalan umat Tuhan. Namun ada perbedaan besar antara jatuh ke dalam dosa dan hidup di dalam dosa. Yang pertama adalah pergumulan orang yang telah ditebus; yang kedua adalah ciri hidup lama yang belum berubah.

Melalui Alkitab kita bisa melihat bahwa hidup yang tidak bermoral tidak perlu dibayangkan sebagai hidup sebagai seorang koruptor, pembunuh bayaran, pemabuk, atau penjudi. Seorang bisa dikatakan hidup amoral jika pikirannya masih penuh dengan hal-hal yang tidak baik seperti yang dinyatakan dalam Alkitab: hawa nafsu, iri hati, dendam, kemarahan, egoisme, apatisme, dan kesombongan.

Perlu kita sadari bahwa Injil tidak memanggil kita untuk menjadi orang baik agar diterima Allah. Injil menyatakan bahwa Allah menerima orang berdosa yang tidak layak, lalu mengubahkan mereka dari dalam. Karena itu, kehidupan moral orang percaya bukanlah alat untuk memperoleh keselamatan, melainkan buah dari keselamatan yang telah diterima.

Yesus sendiri menegaskan hubungan ini ketika Ia berkata, “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti perintah-perintah-Ku.” (Yohanes 14:15). Ketaatan bukan syarat kasih, tetapi wujud kasih. Ketika kasih karunia sungguh dipahami, ketaatan tidak lagi dilihat sebagai beban, melainkan sebagai respons syukur. Itulah sebabnya mengapa Paulus menulis;

“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” Filipi‬ ‭4‬:‭8‬‬

Hukum Tuhan tidak dibuang setelah Injil datang. Yang dibuang adalah upaya manusia menggunakan hukum untuk membenarkan diri. Hukum tetap berfungsi sebagai cermin yang menyadarkan dosa, sebagai batas yang menahan kejahatan, dan sebagai penuntun bagi kehidupan orang yang telah diperbarui. Dalam terang kasih karunia, hukum tidak lagi menghakimi, tetapi membimbing.

Roma 6 juga memperingatkan kita terhadap bahaya kasih karunia yang disalahpahami. Kasih karunia sejati tidak pernah murah. Ia mahal karena Kristus harus mati untuk menebus kita, dan karena itu ia juga mahal bagi kita—sebab kita dipanggil untuk mematikan dosa dan hidup bagi Allah. Bukan untuk memperoleh keselamatan, tetapi karena keselamatan itu telah menjadi milik kita.

Kasih karunia yang menyelamatkan tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu mendorong perubahan hidup. Dan hidup yang diubahkan itulah yang memuliakan Allah.

Ketika kita gagal, kita tidak kembali kepada ketakutan atau usaha membenarkan diri. Kita kembali kepada Injil yang sama—kasih karunia yang mengampuni, memulihkan, dan terus membentuk kita sampai akhir hayat.

Maka, perlukah kita mempunyai moral yang baik? Jawabannya adalah: ya, mutlak perlu, tetapi bukan sebagai dasar keselamatan. Moral yang baik adalah tanda kehidupan baru, bukti pekerjaan Roh Kudus, dan kesaksian nyata bahwa kasih karunia Allah sungguh bekerja dalam diri seseorang.

Doa Penutup

Tuhan yang penuh kasih karunia, kami bersyukur karena Engkau menyelamatkan kami bukan karena kebaikan kami, tetapi karena kasih-Mu yang besar di dalam Kristus. Ampuni kami jika kami pernah menyalahgunakan anugerah-Mu untuk membenarkan dosa. Ajarlah kami hidup sesuai dengan identitas baru yang Engkau berikan—mati bagi dosa dan hidup bagi-Mu. Bentuklah hati kami agar ketaatan lahir dari kasih dan syukur, bukan dari ketakutan atau kesombongan. Kiranya hidup kami menjadi kesaksian bagi kemuliaan nama-Mu. Amin.

Menjatuhkan melalui perkataan

“Barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil ini yang percaya kepada-Ku, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya dan ia ditenggelamkan ke dalam laut.” – Matius 18:6

Kita hidup di zaman yang sangat menjunjung tinggi kebebasan berekspresi. Banyak orang merasa bahwa selama yang diucapkan itu benar, maka cara penyampaiannya tidak lagi penting. Ungkapan seperti “Saya hanya jujur” atau “Saya berhak menyampaikan pendapat” sering dipakai untuk membenarkan kata-kata yang tajam, sinis, atau merendahkan.

Alkitab berulang kali menegaskan bahwa perkataan bukanlah hal sepele. Kata-kata memiliki kuasa untuk membangun, tetapi juga kuasa untuk merusak. Tidak sedikit relasi hancur, komunitas gereja terpecah, bahkan iman seseorang terguncang bukan karena kebohongan, melainkan karena cara kebenaran itu disampaikan.

Yesus sendiri memberi peringatan keras tentang hal ini dalam ayat di atas. Kata “menyesatkan” di sini juga dapat diterjemahkan sebagai “menjadi batu sandungan”. Bukan selalu berarti mengajarkan ajaran sesat, tetapi juga mencakup sikap, tindakan, dan perkataan yang membuat orang lain jatuh atau tersandung dalam perjalanan imannya.

Alkitab tidak pernah memisahkan kebebasan dari kasih. Rasul Paulus menulis:

“Segala sesuatu diperbolehkan. Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna. Segala sesuatu diperbolehkan. Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun.” (1 Korintus 10:23)

Perkataan yang benar secara isi, bisa menjadi salah secara rohani. Ketepatan teologis tidak otomatis berarti kesetiaan moral. Di sinilah muncul konsep batu sandungan: sesuatu yang sah, tetapi disampaikan tanpa hikmat, sehingga melukai atau menjatuhkan orang lain.

Alkitab dengan jujur mengakui bahwa perkataan kita bisa memicu dosa orang lain:

“Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah.” (Amsal 15:1)

Nada, waktu, dan sikap hati sering lebih menentukan dampak perkataan daripada isi kalimatnya. Kritik yang benar tetapi disampaikan dengan nada merendahkan dapat memicu kemarahan. Teguran yang tepat tetapi diucapkan di depan umum dapat mempermalukan dan mengeraskan hati.

Alkitab, khususnya  dalam Efesus 6:4 dan Kolose 3:21 juga memerintahkan para orang tua (khususnya bapa) untuk tidak membangkitkan amarah di dalam hati anak-anak mereka, tetapi mendidik mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan, yang berarti menghindari perlakuan kasar, tidak adil, atau memprovokasi yang menyebabkan anak sakit hati, benci, atau memberontak. Sebaliknya, membesarkan mereka dengan disiplin dan ajaran yang benar agar mereka bertumbuh dalam kasih dan takut akan Tuhan. 

Dalam konteks ini, setiap orang yang berbicara dipanggil untuk hikmat moral:

  • Apakah perkataanku membangun atau sekadar melampiaskan emosi?
  • Apakah aku berbicara demi kebaikan orang lain atau demi pembenaran diri?
  • Apakah ini waktu yang tepat, tempat yang tepat, dan cara yang tepat?

Pada pihak yang lain, Alkitab juga tidak membebaskan pendengar dari tanggung jawab moral. Bahwa seseorang tersinggung atau marah tidak otomatis berarti pembicara sepenuhnya salah.

Yakobus menasihati:

“Setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah.” (Yakobus 1:19)

Rasa tersinggung, terluka, atau jengkel tidak memberi kita izin untuk bereaksi dengan kemarahan, kata-kata kasar, atau kebencian. Sama seperti godaan tidak membenarkan dosa, adanya provokasi orang lain tidak membenarkan kehilangan penguasaan diri.

Di sinilah tanggung jawab moral pendengar diuji:

  • Apakah aku menjaga hatiku?
  • Apakah aku membalas dengan kasih atau dengan ego?
  • Apakah aku mau mendengar kebenaran meski disampaikan dengan cara yang kurang sempurna?

Adalah kenyataan bahwa dalam komunikasi antar umat Tuhan, terutama dalam keluarga dan gereja, sering kali ada dua kegagalan sekaligus. Yang berbicara gagal dalam kasih, Yang mendengar gagal dalam penguasaan diri. Alkitab memanggil keduanya kepada pertobatan, bukan untuk saling menyalahkan.

Rasul Paulus menasihati jemaat:

“Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun.” (Efesus 4:29)

Dan di saat yang sama:

“Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan… hendaklah dibuang dari antara kamu.” (Efesus 4:31)

Pagi ini kita belayar bahwa cara berbicara, baik secara lisan maupun tertulis, yang membuat orang lain tersandung bukan hanya soal kata-kata kasar, tetapi juga soal kebenaran yang disampaikan tanpa kasih, kritik tanpa empati, dan kebebasan tanpa tanggung jawab.

Kristus tidak pernah mengorbankan kebenaran demi kenyamanan, tetapi Ia juga tidak pernah mengorbankan kasih demi memenangkan perdebatan. Di salib, kebenaran dan kasih bertemu dengan sempurna. Kiranya kita bisa belajar berbicara seperti Kristus:

  • tegas tanpa kejam,
  • jujur tanpa melukai,
  • benar tanpa menjadi batu sandungan.

“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.”
— ‭‭Filipi‬ ‭4‬:‭8‬‬

Doa Penutup

Tuhan yang penuh kasih, ampuni kami bila perkataan kami sering lebih mencerminkan keinginan untuk menang daripada kerinduan untuk mengasihi. Ajarlah kami berbicara dengan hikmat, kepekaan, dan kerendahan hati, agar kata-kata kami tidak menjadi batu sandungan bagi sesama.

Beri kami juga hati yang lembut saat mendengar, agar kami tidak cepat tersinggung, tidak mudah marah, dan tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Bentuklah kami menjadi umat yang mencerminkan karakter Kristus, baik dalam berkata-kata maupun dalam merespons.

Kiranya setiap perkataan yang keluar dari mulut kami berkenan di hadapan-Mu dan membawa kehidupan bagi orang lain. Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Jangan Menjadi Batu Sandungan

“Janganlah kita saling menghakimi lagi! Tetapi lebih baik kamu membuat keputusan ini: jangan kamu menaruh batu sandungan atau batu penghalang di depan saudaramu.” — Roma 14:13

Kemarin kita membaca bahwa Alkitab dengan jelas mengajarkan bahwa setiap orang bertanggung jawab atas dosanya sendiri. Tidak ada seorang pun yang bisa menyalahkan orang atau keadaan atas dosanya. Yakobus menegaskan bahwa pencobaan berasal dari keinginan pribadi yang menyeret dan memikat hati manusia. Namun kebenaran ini tidak boleh dipahami secara terpisah dari tanggung jawab kita terhadap sesama.

Dalam hal relasi antar manusia, Yakobus menulis:

“Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah; sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah.”
— ‭‭Yakobus‬ ‭1‬:‭19‬-‭20‬‬

Ini berarti bahwa cara kita berkomunikasi dan menjaga emosi kita juga penting untuk tidak membuat hubungan antar sesama umat Kristen menjadi buruk dengan adanya kemarahan.

Tanggung jawab pribadi kepada Tuhan tidak membebaskan kita dari kewajiban mengasihi sesama. Justru di sinilah kedewasaan iman diuji: bukan hanya dalam menghindari kemarahan diri sendiri, tetapi juga dalam mencegah timbulnya kemarahan orang lain sekalipun kita berada dalam posisi yang benar. Kita harus memastikan bahwa hidup kita tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain, baik dalam keluarga maupun gereja.

Hari ini kita membaca bahwa Paulus menulis surat Roma kepada jemaat yang sedang bergumul dan berdebat dengan adanya perbedaan pandangan—tentang makanan, hari-hari tertentu, dan praktik keagamaan. Masalahnya bukan semata-mata soal benar atau salah, melainkan soal dampak. Karena itu Paulus tidak berkata, “Kamu bebas melakukan apa saja karena itu urusanmu,” tetapi justru berkata, “Putuskanlah untuk tidak menjadi batu sandungan.” Artinya, ada keputusan sadar dan sengaja untuk membatasi diri demi kebaikan rohani orang lain.

Batu sandungan bukanlah sekadar kesalahan kecil atau ketidaksengajaan. Dalam konteks Alkitab, batu sandungan adalah sesuatu yang membuat orang lain tersandung dalam imannya—jatuh, tawar hati, marah, atau bahkan menjauh dari Tuhan. Ironisnya, batu sandungan sering kali tidak muncul dalam bentuk dosa yang terang-terangan, melainkan dalam hal-hal yang tampak sepele dan dianggap wajar.

Sebagai contoh, perkataan yang keras, kurang sopan, atau bernada meremehkan dapat melukai hati dan memicu reaksi yang tidak membangun, terlebih bagi mereka yang imannya masih rapuh. Demikian pula cara berpakaian yang tidak pantas atau tidak bijaksana dapat membangkitkan pikiran dan dorongan yang tidak sehat pada orang lain. Begitu juga cara bergaul yang tidak pantas dapat membuat orang lain mengabaikan moralitas Kristen.

Meskipun niat kita mungkin tidak salah atau jahat, dampaknya tetap nyata. Dalam hal ini, Alkitab tidak hanya menilai niat, tetapi juga menimbang akibat dari tindakan kita terhadap sesama. Persoalan dan hak pribadi kita sering kali membuat orang lain dan bahkan seisi rumah dan gereja menjadi resah. Itu sebabnya, mengapa menjadi pengikut Kristus itu tidak mudah. Itu menuntut perjuangan dan pengorbanan setiap hari.

Yesus sendiri memberikan peringatan yang sangat keras tentang hal ini. Ia berkata bahwa siapa pun yang menyesatkan salah satu dari yang kecil yang percaya kepada-Nya, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya (Lukas 17:2). Pernyataan ini menunjukkan betapa seriusnya Tuhan memandang dampak hidup kita terhadap iman orang lain. Tuhan bukan hanya memperhatikan apa yang kita lakukan, tetapi juga apa pengaruhnya bagi orang di sekitar kita, terutama anak-anak kita dan sesama anggota gereja.

Sering kali kita bersembunyi di balik kalimat, “Itu kan urusan dia dengan Tuhan.” Atau “Ini kan hak pribadi saya.”Kalimat ini mungkin terdengar rohani, tetapi bisa menjadi pembenaran untuk ketidakpedulian. Memang benar, setiap orang akan berdiri sendiri di hadapan Allah. Setiap orang Kristen masih mempunyai pilihan bebas. Namun kasih Kristen tidak berhenti pada prinsip keadilan; kasih bergerak melampaui itu dengan kepedulian terhadap saudara seiman. Paulus bahkan berkata bahwa ia rela tidak makan daging selamanya jika hal itu membuat saudaranya jatuh dalam dosa. Ini bukan kelemahan iman, melainkan kekuatan kasih.

Menjadi batu sandungan juga bisa terjadi melalui teladan hidup yang tidak konsisten, kebebasan yang dipamerkan tanpa hikmat, atau kebenaran yang disampaikan tanpa kelembutan. Orang yang imannya sedang bertumbuh tidak membutuhkan dari orang lain sikap merasa paling benar, melainkan contoh hidup yang rendah hati dan penuh kesabaran. Kebenaran tanpa kasih tidak membangun; justru dapat menjatuhkan. Gereja yang bagus pengajarannya atau hebat pujiannya tapi tidak menyatakan kasih tidak akan bertumbuh.

Renungan ini mengajak kita bercermin, bukan menunjuk. Bukan bertanya, “Siapa yang mudah tersandung?” atau “Siapa yang mudah tersinggung?” melainkan, “Apakah cara hidupku aman untuk dilihat orang lain?”, atau “Apakah cara bicaraku bisa diterima dengan baik oleh orang lain?”. Pertanyaan ini menolong kita hidup dengan kewaspadaan rohani—menyadari bahwa hidup kita diamati dan dapat memengaruhi perjalanan iman orang lain. Cara hidup orang Kristen adalah salah satu cara yang efektif untuk mengabarkan Injil.

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga” Matius 5:16

Pada akhirnya, panggilan untuk tidak menjadi batu sandungan adalah panggilan untuk meniru Kristus. Ia adalah Pribadi yang memiliki segala hak, namun rela melepaskan kemuliaan-Nya demi keselamatan manusia. Ia tidak hidup untuk menyenangkan diri-Nya sendiri, melainkan untuk membangun dan menyelamatkan. Kiranya hidup kita pun demikian: bukan menjadi batu sandungan, melainkan menjadi jalan yang menuntun orang lain kepada Tuhan.

Doa Penutup

Tuhan yang penuh kasih, kami bersyukur atas kebebasan yang Engkau berikan di dalam Kristus. Namun ajarlah kami menggunakan kebebasan itu dengan hikmat dan kasih.

Jauhkan kami dari sikap, perkataan, dan tindakan yang dapat melukai iman sesama. Bentuklah hati kami agar peka terhadap dampak hidup kami bagi orang lain, dan jadikan hidup kami sarana berkat, bukan batu sandungan.

Tolong kami meneladani kerendahan hati Kristus dalam setiap langkah hidup kami. Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Dosa Datang dari Diri Sendiri

“Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya.” — Yakobus 1:14

Salah satu kecenderungan manusia yang paling tua adalah menyalahkan faktor di luar dirinya ketika jatuh dalam dosa. Lingkungan dianggap terlalu rusak, godaan terlalu kuat, keadaan terlalu sulit, atau orang lain terlalu jahat. Sejak awal sejarah manusia, pola ini sudah terlihat jelas. Ketika Adam jatuh, ia menyalahkan Hawa. Ketika Hawa ditanya, ia menunjuk kepada ular. Namun Yakobus dengan sangat tegas dan jujur memotong rantai pembelaan diri itu: dosa tidak berawal dari luar, melainkan dari dalam diri manusia sendiri.

Yakobus 1:14 menegaskan bahwa pencobaan bekerja melalui keinginan pribadi—nafsu yang hidup di dalam hati manusia. Godaan dari luar memang nyata, tetapi ia hanya menjadi efektif ketika menemukan “pintu” yang terbuka di dalam diri kita. Setan tidak menciptakan keinginan itu; ia hanya memanfaatkan apa yang sudah ada. Lingkungan tidak memaksa manusia berdosa; ia hanya memperbesar kecenderungan yang telah bersemayam di hati. Ulah orang lain tidak membuat kita melakukan apa yang jahat, tetapi reaksi kita atas hal itulah yang menimbulkan dosa.

Hal ini sangat jelas terlihat dalam kisah Adam dan Hawa. Ular memang berbicara, tetapi ular tidak memaksa. Buah itu memang terlihat indah, tetapi buah itu tidak melompat ke tangan Hawa. Kejatuhan terjadi ketika hati manusia mulai mempercayai keinginan sendiri lebih daripada firman Allah. Ketika keinginan “menjadi seperti Allah” terasa lebih menarik daripada ketaatan, saat itulah dosa mulai dikandung.

Yakobus melanjutkan gambaran ini dengan sangat tajam: keinginan itu “menyeret dan memikat”. Kata-kata ini menunjukkan bahwa dosa jarang datang dengan ancaman yang menakutkan. Ia datang dengan janji, dengan rasa ingin tahu, dengan pembenaran logis, bahkan dengan bahasa rohani. Dosa jarang berkata, “Lakukan ini atau engkau akan menderita.” Sebaliknya, dosa berkata, “Ini jalan yang terbaik,” Ini tidak apa-apa,” “Ini pantas,” ” Kamu benar,” “Semua orang juga melakukannya,” atau “Kamu layak mendapatkannya.”

Karena itu, kesadaran bahwa dosa berasal dari dalam diri sendiri adalah langkah awal pertobatan yang sejati. Selama manusia masih sibuk menyalahkan keadaan, ia tidak akan pernah sungguh-sungguh berubah. Pertobatan bukan dimulai dengan memperbaiki dunia di luar, tetapi dengan merendahkan hati di hadapan Allah dan mengakui kerusakan hati sendiri. Injil tidak pernah mengajarkan bahwa manusia pada dasarnya baik dan hanya perlu lingkungan yang lebih sehat. Alkitab justru mengajarkan bahwa hati manusia perlu diperbarui.

Kesadaran ini bukan untuk membuat kita putus asa, melainkan untuk membawa kita pada anugerah. Jika dosa hanya masalah lingkungan, maka solusinya adalah kontrol. Tetapi jika dosa berasal dari hati, maka solusinya adalah kelahiran baru. Kristus datang bukan sekadar untuk memberi teladan moral, tetapi untuk memberi hati yang baru. Roh Kudus bekerja bukan hanya menahan dosa dari luar, melainkan membarui keinginan dari dalam.

Di sinilah pertempuran rohani yang sesungguhnya berlangsung. Bukan terutama di ruang publik, media sosial, atau sistem dunia, melainkan di dalam pikiran dan hati manusia. Doa, firman Tuhan, disiplin rohani, dan persekutuan orang percaya bukanlah sekadar aktivitas keagamaan, tetapi sarana Allah membentuk ulang keinginan kita. Ketika keinginan akan kebenaran semakin kuat, daya tarik dosa perlahan kehilangan cengkeramannya.

Namun kita juga harus jujur: selama hidup di dunia ini, pergumulan itu tidak pernah benar-benar berhenti. Orang percaya bukanlah orang yang tidak memiliki keinginan berdosa, melainkan orang yang tidak lagi diperbudak olehnya. Kita belajar berkata “tidak” bukan dengan kekuatan diri sendiri, tetapi dengan bersandar pada kasih karunia Tuhan yang lebih besar daripada kelemahan kita.

Renungan ini mengajak kita bercermin, bukan menunjuk. Setiap kali kita jatuh, pertanyaannya bukan pertama-tama “siapa atau apa yang menggoda?”, melainkan “bagian hati mana yang belum diserahkan sepenuhnya kepada Tuhan?” Dari sanalah pertumbuhan rohani dimulai—dari kejujuran di hadapan Allah yang mengenal hati kita lebih dalam daripada kita mengenal diri sendiri.

Doa Penutup

Tuhan yang Mahakudus, kami mengakui bahwa sering kali kami lebih mudah menyalahkan keadaan daripada mengakui kelemahan hati kami sendiri.

Ampunilah kami ketika kami membenarkan dosa dan menutup mata terhadap keinginan yang tidak berkenan kepada-Mu.

Perbaruilah hati kami oleh Roh-Mu, agar keinginan kami semakin selaras dengan kehendak-Mu.

Ajarlah kami berjaga-jaga atas hati kami, rendah hati dalam pertobatan, dan setia berjalan dalam terang kasih karunia-Mu.

Di dalam nama Tuhan Yesus Kristus kami berdoa. Amin.

Hindari Perdebatan yang Bodoh

“Hindarilah soal-soal yang dicari-cari, yang bodoh dan tidak layak. Engkau tahu bahwa soal-soal itu menimbulkan pertengkaran, sedangkan seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang. Ia harus cakap mengajar, sabar — ‭‭2 Timotius‬ ‭2‬:‭23-24‬‬

Pernahkah Anda menonton perdebatan antar calon pemimpin negara di TV? Banyak orang mengira bahwa berdebat adalah tanda kecerdasan dan keberanian. Siapa yang paling lantang, paling tajam, dan paling mampu mematahkan argumen lawan sering dianggap sebagai pemenang. Itu adalah pandangan manusia.

Alkitab mengajarkan hikmat yang berbeda. Rasul Paulus dengan tegas menasihati Timotius agar berhati-hati dalam berdebat, untuk menghindari argumen yang bodoh. Nasihat ini tidak lahir dari sikap anti-intelektual atau ketakutan terhadap diskusi, melainkan dari pemahaman rohani tentang dampak perdebatan yang tidak sehat dalam gereja-Nya.

Dalam dua ayat sebelumnya, Paulus memberi Timotius perintah tentang apa yang harus “dihindari” dan “dikejar.” Di sini, Paulus sekali lagi mengingatkan Timotius untuk menghindari pertengkaran dangkal dan tidak berarti yang telah diperingatkannya dalam ayat 16.

“Tetapi hindarilah omongan yang kosong dan yang tak suci yang hanya menambah kefasikan.”
— ‭‭2 Timotius‬ ‭2‬:‭16‬‬

Percakapan yang tidak berharga ini menyebabkan argumen-argumen yang muncul mengarah pada lebih banyak pertengkaran. Itu hanya membuat saudara-saudara seiman saling bertentangan tanpa alasan yang baik.

Perdebatan tentang masalah yang tidak penting bisa dengan cepat berubah menjadi permusuhan, meracuni tubuh Kristus seperti halnya gangren menyerang tubuh fisik manusia.

Mengingat betapa seriusnya akibat perdebatan yang tidak sehat, dalam ‭‭2 Timotius‬ ‭2‬:‭24‬‬ Paulus mengingatkan Timotius bahwa kelembutan dan kesabaran adalah obatnya.

Sebenarnya, dalam 1 Timotius, Paulus sudah menyerukan para pemimpin di gereja untuk berdoa tanpa bertengkar (1 Timotius 2:8), mengajarkan bahwa para penatua tidak boleh bertengkar (1 Timotius 3:3), dan mengajarkan bahwa tanda guru palsu adalah seringnya mereka bertengkar mengenai kata-kata:

“ia adalah seorang yang berlagak tahu padahal tidak tahu apa-apa. Penyakitnya ialah mencari-cari soal dan bersilat kata, yang menyebabkan dengki, cidera, fitnah, curiga,” — ‭‭1 Timotius‬ ‭6‬:‭4‬‬

Selain itu, Paulus telah memanggil Timotius untuk menjadi “pelayan Kristus Yesus yang baik” (1 Timotius 4:6). Paulus sendiri menggambarkan dirinya sebagai “hamba Allah” (Titus 1:1). Kata yang diterjemahkan sebagai “hamba” atau “pelayan” di sini adalah doulos, yang secara harfiah berarti budak. Timotius harus memandang dirinya sebagai hamba Tuhan, dan tidak bertengkar dalam bekerja. Tuhan, Sang Majikan, tidak menghendaki kekacauan dalam kerajaan-Nya.

Soal-soal (argumen) yang bodoh dalam ‭‭2 Timotius‬ ‭2‬:‭23 bukan berarti pertanyaan yang sederhana atau orang yang kurang pengetahuan. Tetapi itu adalah perdebatan yang tidak membangun, tidak menghasilkan pertobatan, dan tidak membawa orang lebih dekat kepada kebenaran.

Paulus menegaskan bahwa membicarakan hal-hal seperti ini hanya menimbulkan pertengkaran. Tidak ada buah rohani di dalamnya—yang ada hanya rasa panas, emosi, dan luka hati—yang makin lama makin parah.

Dalam Titus 3:9, Paulus kembali mengulang peringatan yang sama: hindarilah perdebatan yang tidak berguna dan sia-sia. Pengulangan ini menunjukkan betapa seriusnya masalah ini dalam kehidupan orang Kristen. Gereja dan keluarga bisa hancur dari dalam karena pertengkaran yang terus menerus yang dipelihara dengan ego besar.

Mengapa argumen bodoh begitu berbahaya?

Pertama, karena argumen seperti ini meningkatkan konflik, bukan pemahaman. Tujuan diam-diamnya sering kali bukan mencari kebenaran, melainkan pemuasan ego: memenangkan perdebatan. Ketika itu terjadi, relasi menjadi korban. Suara orang lain tidak lagi perlu didengar, hanya perlu dilawan. Hati setiap orang menjadi keras, bukan terbuka. Kasih menjadi padam, dan kebencian makin tumbuh.

Kedua, argumen bodoh mengalihkan fokus dari panggilan yang lebih penting. Waktu, energi, dan perhatian yang seharusnya dipakai untuk mengasihi, melayani, dan bertumbuh dalam kesalehan, justru habis dalam perdebatan yang tidak produktif. Kita bisa benar secara intelektual, tetapi gagal total secara rohani. Dalam kelarga Kristen dan gereja yang mengalami hal ini akan timbul kekacauan yang membuat orang lain enggan untuk menjadi orang percaya.

Paulus dalam suratnya kepada Timotius, tidak hanya menyatakan apa yang harus dihindari, tetapi juga menunjukkan apa yang harus dilakukan sebagai gantinya. Dalam ayat-ayat setelahnya, ia menasihati agar hamba Tuhan bersikap ramah, sabar, cakap mengajar, dan dengan lemah lembut menuntun mereka yang menentang kebenaran. Artinya, kebenaran tetap penting, tetapi cara menyampaikannya sama pentingnya.

Yesus sendiri menjadi teladan utama. Ia tidak menjawab setiap jebakan yang dilontarkan kepada-Nya. Kadang Ia diam, kadang Ia bertanya balik, dan kadang Ia menjawab dengan perumpamaan. Yesus tidak pernah terjebak dalam argumen bodoh, karena tujuan-Nya bukan memenangkan perdebatan, melainkan menyelamatkan manusia.

Di zaman sekarang, godaan untuk terlibat dalam argumen bodoh semakin besar. Media sosial memberi panggung bagi siapa saja untuk mengeluarkan pendapat tanpa konteks dan tanpa relasi. Banyak perdebatan antar tokoh Kristen berlangsung tanpa niat untuk saling mendengar dan saling belajar. Kata-kata menjadi senjata, bukan sarana untuk membangun kerajaan Tuhan. Di sinilah nasihat Paulus menjadi sangat relevan.

Menghindari argumen bodoh bukan berarti lari dari kebenaran. Ini berarti memilih pertempuran yang benar dengan cara yang benar: melaksanakan hukum kasih. Karena tujuan tidak menghalalkan cara, keputusan harus diambil dengan kesadaran untuk mengutamakan damai sejahtera, pertumbuhan rohani, dan kesaksian hidup.

Pada akhirnya, pertanyaannya bukan, apakah kita boleh berdebat, tetapi apakah perdebatan ini memuliakan Tuhan dan membangun sesama orang beriman. Hikmat sejati tidak selalu terdengar keras. Sering kali, hikmat berbicara melalui keheningan, kesabaran, dan penguasaan diri, demi kemuliaan Tuhan.

“Ada orang yang lancang mulutnya seperti tikaman pedang, tetapi lidah orang bijak mendatangkan kesembuhan.” — ‭‭Amsal‬ ‭12‬:‭18

Doa Penutup

Tuhan yang penuh hikmat, Engkau mengenal hati kami yang mudah terseret oleh ego, emosi, dan keinginan untuk merasa benar. Ampuni kami bila kami sering terlibat dalam argumen yang tidak membangun dan melukai hubungan.

Ajarlah kami untuk membedakan kapan harus berbicara dan kapan harus diam. Berikan kami kerendahan hati untuk menghindari perdebatan yang sia-sia, dan hikmat untuk menyatakan kebenaran dengan kasih dan kelembutan dalam keluarga dan gereja.

Tuntunlah lidah dan hati kami, agar hidup kami memancarkan damai sejahtera-Mu. Kiranya melalui sikap dan perkataan kami, nama-Mu dimuliakan.

Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Komunikasi yang Mematikan dan yang Menghidupkan

“Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya.”
— ‭‭Amsal‬ ‭18‬:‭21‬‬

Di zaman digital, komunikasi melalui media sosial menjadi suatu hal yang berbahaya. Kata-kata menyebar tanpa konteks di dunia maya, tanpa wajah, tanpa relasi. Orang merasa bebas melukai karena tidak melihat dampaknya secara langsung. Namun di hadapan Tuhan, setiap kata yang dilontarkan secara apa pin tetap diperhitungkan. Media hanyalah alat; hati manusialah sumbernya.

Komunikasi adalah salah satu anugerah terbesar yang Tuhan berikan kepada manusia. Melalui kata-kata, manusia dapat menghibur, mengajar, membangun, dan menguatkan. Namun, anugerah yang sama juga dapat berubah menjadi alat penghancur. Alkitab tidak pernah meremehkan kuasa komunikasi. Justru sebaliknya, Alkitab dengan jujur menyingkapkan betapa mematikan perkataan manusia ketika terlepas dari kasih dan kebenaran Allah.

Amsal 18:21 berkata, “Hidup dan mati dikuasai lidah.” Ayat ini bukan kiasan yang berlebihan. Banyak orang tidak mati secara fisik, tetapi jiwanya terluka parah—bahkan hancur—oleh kata-kata. Ucapan yang merendahkan, mempermalukan, menghakimi, atau mengancam dapat mematikan harapan, merusak iman, dan mematahkan semangat hidup seseorang.

Komunikasi yang mematikan tidak selalu muncul dalam bentuk perundungan (bullying) yang kasar yang terang-terangan. Ia bisa muncul dalam sindiran halus, kritik yang “dibungkus kebenaran,” atau nasihat yang disampaikan tanpa empati. Bahkan ayat Alkitab pun dapat menjadi alat pemukul jika dipakai tanpa kasih. Ketika kebenaran dilepaskan dari kasih, kebenaran itu tidak lagi menyembuhkan, melainkan melukai.

Yesus berkali-kali berhadapan dengan komunikasi yang mematikan. Ia menerima cemoohan, fitnah, dan penghakiman—bukan hanya dari masyarakat umum, tetapi juga dari pemuka agama. Mereka fasih berbicara tentang hukum Taurat, tetapi miskin kasih. Kata-kata mereka benar secara doktrin, namun mematikan secara rohani. Yesus menegur keras sikap ini karena tidak mencerminkan hati Allah.

Sebaliknya, komunikasi Yesus selalu menghidupkan. Ketika Ia berbicara kepada perempuan Samaria, Ia tidak memulai dengan dosa, tetapi dengan kebutuhan akan air hidup. Ketika Ia berhadapan dengan perempuan yang tertangkap berzina, Ia tidak menyangkal dosanya, tetapi Ia lebih dahulu memulihkan martabatnya. Ketika Ia memanggil Zakheus, Ia tidak menuduh, melainkan mengundang diri-Nya sendiri masuk ke rumah orang berdosa itu. Inilah kabar baik: kebenaran yang disampaikan dengan kasih, dan kasih yang tidak mengorbankan kebenaran.

Komunikasi yang menghidupkan seharusnya meniru kabar baik yang disampaikan oleh Yesus. Injil bukan sekadar informasi teologis; Injil adalah berita yang membangkitkan harapan. Yesus tidak datang membawa ancaman, melainkan undangan. Ia tidak memulai dengan penghakiman, melainkan dengan panggilan untuk bertobat dan hidup baru. Kata-kata-Nya membawa terang, bukan kegelapan; membawa kehidupan, bukan kematian.

Masalahnya, sebagai orang percaya, kita sering tanpa sadar mempraktikkan komunikasi yang mematikan dengan memegang pedang dan merasa sedang membela kebenaran. Kita cepat berbicara, lambat mendengar, dan mudah tersulut emosi. Kita lupa bahwa amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran Allah (Yakobus 1:20). Kita lupa bahwa tujuan komunikasi Kristen bukan memenangkan argumen, melainkan memenangkan hati.

Renungan ini mengajak kita untuk berhenti sejenak dan bertanya:

  • Apakah cara saya berbicara mencerminkan Injil Kristus?
  • Apakah kata-kata saya sudah memberi hidup atau justru mematikan semangat orang lain?
  • Apakah saya lebih dikenal sebagai pembawa kabar baik, atau sebagai pengkritik yang tajam?

Mengikuti Yesus berarti juga belajar berbicara seperti Yesus. Ini bukan perkara teknik komunikasi, melainkan pembaruan hati. Bukan sekadar lip service atau bermanis-manis. Ketika hati sudah dipenuhi oleh Roh Kudus, lidah akan mengalirkan kehidupan. Ketika kita sungguh memahami bahwa kita sendiri hidup hanya oleh anugerah Tuhan, kita tidak akan mematikan orang lain dengan kata-kata, karena kita sadar bahwa mereka adalah milik Tuhan.

Kiranya Tuhan menolong kita untuk menjadi pembawa kabar baik—di rumah, di gereja, di masyarakat, dan di dunia digital. Dunia sudah terlalu penuh dengan komunikasi yang mematikan. Dunia merindukan suara yang menghidupkan.

Doa Penutup

Tuhan Yesus, Engkau adalah Firman yang menjadi manusia, Firman yang membawa hidup dan terang bagi dunia.

Ampuni kami bila kata-kata kami sering melukai, menghakimi, dan mematikan harapan sesama.

Perbaruilah hati kami oleh kasih karunia-Mu, agar ucapan kami mencerminkan Injil yang menghidupkan.

Ajarlah kami berbicara dengan kebenaran dan kelembutan, menyampaikan kasih tanpa mengorbankan kebenaran.

Jadikan kami alat-Mu untuk membangun, bukan merobohkan; menguatkan, bukan melemahkan.

Kiranya melalui setiap kata yang kami ucapkan, nama-Mu dimuliakan dan hidup dinyatakan.

Di dalam nama Yesus Kristus kami berdoa. Amin.

Bukan Asal Omong

“Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah; sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah.”Yakobus 1:19–20

Kita hidup di zaman ketika kata-kata berhamburan tanpa saringan. Media sosial, grup percakapan, dan ruang publik dipenuhi pendapat, kritik, dan reaksi spontan. Banyak orang merasa perlu berbicara cepat agar tidak “ketinggalan suara.” Namun Alkitab justru mengajarkan kebalikan dari naluri zaman ini: bukan asal omong.

Yakobus menulis kepada jemaat yang sedang menghadapi tekanan, konflik, dan ketegangan sosial. Dalam situasi seperti itu, lidah menjadi alat yang paling mudah melukai. Karena itu Yakobus tidak memulai dengan larangan keras, tetapi dengan urutan yang sangat bijaksana: cepat mendengar, lambat berbicara, dan lambat marah. Urutan ini bukan kebetulan. Mendengar lebih dahulu akan menolong kita berbicara dengan benar; berbicara dengan benar akan menolong kita mengendalikan amarah dan dosa.

Cepat mendengar berarti memberi ruang bagi orang lain—bukan hanya telinganya, tetapi juga hatinya. Mendengar di sini bukan sekadar menunggu giliran berbicara, melainkan sungguh-sungguh memahami. Banyak konflik tidak pernah membesar seandainya kita mau mendengar dengan rendah hati. Ketika kita mendengar, kita mengakui bahwa kita tidak selalu memiliki seluruh kebenaran. Sikap ini adalah bentuk kerendahan hati yang sangat berkenan di hadapan Allah.

Lambat berbicara tidak berarti bungkam atau pasif. Ini berarti berhati-hati. Kata-kata memiliki kuasa membangun sekaligus menghancurkan. Karena itu Paulus mengingatkan:

“Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun” (Efesus 4:29).

Perkataan “kotor” dalam ayat ini berarti perkataan yang jahat. Dengan demikian, itu bukan hanya “omong kotor”. Bukan hanya apakah yang saya katakan benar secara tata bahasa, tetapi juga apakah yang saya katakan membangun orang lain. Kebenaran yang disampaikan tanpa kasih sering kali berubah menjadi senjata, bukan kasih. Apa yang kita sampaikan bisa mematikan semangat atau membunuh spirit orang lain.

Lebih jauh lagi, Kolose 4:6 menasihatkan agar perkataan kita selalu “ramah, dibumbui dengan garam,” sehingga kita tahu bagaimana menjawab setiap orang, Garam jika dipakai dengan jumlah yang tepat memberi rasa, sehingga makanan tidak hambar. Ini menyiratkan ucapan yang bijaksana, enak didengar, dan tidak membosankan, tapi berisi kebenaran. Ketajaman kata tanpa hikmat bisa melukai, tetapi kelembutan tanpa kebenaran bisa menyesatkan. Hikmat Kristen terletak pada keseimbangan: jujur, tetapi penuh kasih; tegas, tetapi tetap ramah.

Yakobus kemudian mengaitkan lidah dengan amarah. “Amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah.” Ini adalah peringatan keras. Banyak orang merasa amarahnya dibenarkan karena merasa benar. Namun Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa amarah manusia—yang lahir dari ego, luka batin, atau keinginan menguasai—tidak pernah menghasilkan kebenaran Allah. Bahkan ketika isu yang dibela adalah benar, cara yang salah akan merusak kesaksian tentang kasih Tuhan.

Amsal 15:1 berkata, “Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah.” Kelembutan bukan tanda kelemahan, melainkan buah kedewasaan rohani. Dibutuhkan kekuatan batin untuk menahan lidah, menunda reaksi, dan memilih kata yang tepat. Dunia memuji orang yang lantang dan keras, tetapi Tuhan menghargai orang yang mampu mengendalikan diri dan menghindari dosa.

Renungan ini mengajak kita bercermin di tahun yang baru: berapa banyak kata yang kita ucapkan dalam sehari yang sebenarnya tidak perlu? Berapa banyak yang diucapkan karena emosi, bukan karena kasih? Dalam keluarga, gereja, dan masyarakat, sering kali luka terdalam bukan berasal dari tindakan, tetapi dari kata-kata yang diucapkan tanpa pertimbangan.

“Bukan asal omong” berarti membawa setiap kata ke hadapan Tuhan sebelum keluar dari mulut kita. Ini adalah latihan rohani yang terus-menerus. Kita belajar berhenti sejenak, mendengar lebih lama, berdoa dalam hati, lalu berbicara dengan maksud membangun. “Asal omong” memang gampang, tetapi menghindarinya adalah sulit. Tetapi, jika kata-kata kita dipimpin oleh Roh Kudus, lidah yang dulu melukai dapat menjadi alat penyembuhan.

Kiranya kita dikenal bukan sebagai orang yang paling cepat berkomentar, tetapi sebagai orang yang perkataannya memberi hidup, menenangkan jiwa, dan memuliakan Tuhan.

Doa Penutup:

Tuhan yang penuh hikmat, ajarlah kami untuk cepat mendengar, lambat berbicara, dan lambat marah.

Kuduskan lidah kami agar setiap kata yang keluar membangun, bukan melukai; membawa damai, bukan pertengkaran.

Berilah kami kerendahan hati untuk mendengar,dan keberanian untuk berbicara dengan kasih dan kebenaran.

Biarlah hidup kami menjadi kesaksian yang memuliakan nama-Mu.

Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Kasihani dirimu sendiri dengan mengasihani orang lain

“Sebab penghakiman yang tak berbelas kasihan akan berlaku atas orang yang tidak berbelas kasihan. Tetapi belas kasihan akan menang atas penghakiman.” Yakobus 2:13

Ayat ini adalah salah satu pernyataan Yakobus yang tajam, bahkan terasa keras. Ia tidak berbicara dengan bahasa yang lunak atau kompromistis. Namun justru di dalam ketegasannya, Yakobus sedang membawa kita kembali kepada inti iman Kristen: bagaimana relasi kita dengan Allah yang penuh belas kasihan itu harus dinyatakan dalam cara kita memperlakukan sesama.

Yakobus tidak sedang mengajarkan bahwa keselamatan ditentukan oleh seberapa banyak belas kasihan yang kita lakukan. Ia juga tidak mengatakan bahwa seorang Kristen yang pernah gagal mengasihi orang lain akan kehilangan keselamatannya. Demikian pula, ia tidak sedang menyatakan bahwa orang yang tidak mengenal Kristus tetapi bersikap baik kepada sesamanya otomatis akan diselamatkan. Yakobus bukan sedang membandingkan perbuatan baik dengan iman, melainkan menunjukkan buah alami dari iman yang sejati.

Iman yang hidup kepada Allah yang berbelas kasihan akan melahirkan kehidupan yang ditandai oleh belas kasihan. Bukan kesempurnaan, tetapi arah hidup. Bukan tanpa dosa, tetapi dengan kepekaan hati.

Sampai nafas yang penghabisan, orang Kristen tetap orang berdosa. Selama hidup, kita masih bisa bersikap keras, cepat menghakimi, atau kurang empati. Namun perbedaannya terletak pada kebiasaan hidup dan kecenderungan hati. Orang yang ada di dalam Kristus, yang setiap hari hidup dari anugerah, lambat laun akan dibentuk oleh Roh Kudus untuk semakin menyerupai Kristus yang penuh belas kasihan kepada orang lemah, orang berdosa, dan mereka yang terpinggirkan.

Karena itu Yakobus berani berkata: orang yang tidak pernah atau hampir tidak pernah menunjukkan belas kasihan, terutama kepada mereka yang lebih lemah atau menderita, patut mempertanyakan imannya sendiri. Ia mungkin bukan orang Kristen sejati! Bukan karena ia gagal memenuhi standar moral tertentu, melainkan karena hidupnya tidak mencerminkan sifat Allah yang ia akui percaya.

Yesus sendiri mengajarkan hal yang serupa. Dalam perumpamaan tentang hamba yang tidak berbelas kasihan (Matius 18:23-35), Tuhan menegur orang yang telah menerima pengampunan besar tetapi menolak mengampuni sesamanya. Masalahnya bukan pada satu kesalahan, melainkan pada hati yang tidak pernah berubah setelah menerima anugerah. Orang yang sedemikian tidak sadar bahwa ia harus mengasihani orang lain setelah ia dikasihani oleh Tuhan. Karena itu, pantaslah ia kehilangan belas kasihan Tuhan.

‘Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.” Matius 18:35

Di sinilah kita diajak bercermin. Betapa mudahnya kita menghakimi—dengan kata-kata, sikap, atau bahkan dengan kediaman yang dingin. Kita sering merasa benar, rohani, atau lebih bermoral, sementara lupa bahwa kita sendiri hidup sepenuhnya oleh belas kasihan Allah. Kita lupa bahwa tanpa belas kasihan-Nya, tidak seorang pun dapat berdiri di hadapan-Nya.

Yakobus mengingatkan bahwa Allah memang adil, tetapi belas kasihan-Nya jauh lebih unggul dari penghakiman-Nya. Di dalam Kristus, penghakiman yang seharusnya kita terima telah ditanggung. Salib adalah bukti bahwa belas kasihan Allah tidak mengabaikan keadilan, tetapi menggenapinya melalui belas kasihan-Nya dalam pengorbanan Anak-Nya yang tunggal.

Karena itu, hidup dalam belas kasihan bukanlah beban tambahan bagi orang percaya, melainkan respons yang wajar dan sudah seharusnya. Kita mengasihi karena kita telah dikasihi. Kita mengasihani karena sudah dikasihani. Kita mengampuni karena kita telah diampuni. Kita menahan diri untuk tidak cepat menghakimi karena kita sadar betapa seringnya Tuhan bersabar kepada kita.

Di dunia yang keras dan mudah menghakimi, belas kasihan adalah kesaksian yang kuat. Ia menunjukkan bahwa kita hidup dari sumber yang berbeda. Bukan dari rasa benar diri, tetapi dari anugerah. Bukan dari superioritas rohani, tetapi dari kerendahan hati sebagai orang-orang yang telah diselamatkan.

Kita harus sadar bahwa orang yang hidup dalam belas kasihan kepada orang lain sebenarnya sedang hidup di dalam ruang belas kasihan Allah sendiri. Mengasihi sesama bukan hanya demi mereka, tetapi juga demi kesehatan rohani kita sendiri selama hidup di dunia.

Orang yang terus menghakimi biasanya hidup dalam ketegangan, rasa benar diri, dan ketakutan akan penghakiman orang lain. Sebaliknya, orang yang berbelas kasihan memilih untuk “mengasihani dirinya sendiri” karena ia memilih untuk berjalan seirama dengan cara Allah dalam menyatakan belas kasihan-Nya. Orang yang sedemikian akan bisa hidup dalam kedamaian.

“Siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi Tuhan, yang akan membalas perbuatannya itu. Amsal‬ ‭19‬:‭17‬‬

Kiranya hidup kita dalam tahun yang baru ini — di keluarga, gereja, dan masyarakat—lebih dikenal karena belas kasihan daripada penghakiman. Sebab di sanalah iman yang sejati terlihat, dan di sanalah karakter Kristus dinyatakan.

Doa Penutup:

Tuhan yang penuh belas kasihan, kami mengaku bahwa sering kali kami lebih cepat menghakimi daripada mengasihi.

Ampunilah kami, dan lembutkan hati kami oleh anugerah-Mu.

Ajarlah kami hidup sebagai orang-orang yang telah menerima belas kasihan, supaya hidup kami pun memancarkan belas kasihan kepada sesama.

Bentuklah kami semakin serupa dengan Kristus, yang kasih-Nya menang atas segala penghakiman.

Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Memasuki Tahun Baru dengan keyakinan

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8:28

Hari ini adalah hari pertama di tahun 2026. Selamat Tahun Baru! Semoga tahun baru ini diisi dengan segala kebahagiaan dari Tuhan kita Yesus Kristus. Untuk itu, kita pagi ini akan belajar dari Roma 8:28.

Roma 8:18-30 berbicara tentang partisipasi orang Kristen dalam penderitaan sehari-hari yang dialami oleh seluruh ciptaan. Kita semua mengerang bersama seperti seorang wanita yang sedang melahirkan sambil menunggu Tuhan menemui anak-anak-Nya. Sebagai anak-anak-Nya, kita menunggu Bapa untuk menyelesaikan pengadopsian kita dengan menebus tubuh kita sehingga kita dapat bersama-Nya. Roh Allah membantu kita di masa penantian dengan membawa doa-doa kita yang belum sempurna kepada Allah. Kita percaya bahwa Allah menggunakan setiap keadaan dalam hidup kita untuk tujuan-Nya dan bahwa Dia telah memilih kita sejak lama untuk menjadi anak-anak-Nya.

Roma 8:28 adalah salah satu ayat Alkitab yang paling populer, paling sering dikutip, dan sekaligus paling sering disalahpahami. Ayat ini kerap dijadikan penghiburan instan, seolah-olah setiap peristiwa buruk pasti akan segera berubah menjadi sesuatu yang menyenangkan. Tidak jarang ayat ini diucapkan dengan maksud baik, tetapi justru terdengar dingin dan tidak peka bagi mereka yang sedang berada dalam penderitaan yang nyata.

Banyak orang Kristen, tanpa disadari, memiliki hubungan yang canggung dengan Roma 8:28. Ayat ini terdengar indah, tetapi terasa sulit dipercaya ketika hidup dipenuhi kegagalan, kehilangan, sakit penyakit, konflik keluarga, atau doa-doa yang tampaknya tidak dijawab. Di titik inilah Roma 8:28 menjadi bukan hanya ayat penghiburan, tetapi juga ayat yang menguji iman.

Memasuki tahun baru, kita membawa serta berbagai pengalaman dari tahun-tahun sebelumnya. Ada sukacita, ada pencapaian, tetapi juga ada luka yang belum sembuh, kesedihan yang belum terurai, dan pertanyaan yang belum menemukan jawaban. Roma 8:28 tidak menyangkal kenyataan pahit itu. Ayat ini tidak berkata bahwa segala sesuatu itu baik. Ayat ini berkata bahwa Allah bekerja di dalam segala sesuatu. Ini perbedaan yang sangat penting.

Alkitab tidak pernah mengajarkan bahwa penderitaan itu sendiri adalah kebaikan. Kehilangan, ketidakadilan, penyakit, dan kejahatan tetaplah sesuatu yang menyakitkan dan sering kali tidak masuk akal bagi kita. Namun, Roma 8:28 menegaskan bahwa tidak ada satu pun peristiwa yang berada di luar kedaulatan dan pemeliharaan Allah, khususnya bagi mereka yang berada di dalam Kristus.

Paulus menulis ayat ini bukan dari menara gading, yaitu tempat atau kedudukan yg serba mulia, enak, dan menyenangkan. Ia menulisnya sebagai seseorang yang mengenal penderitaan, penganiayaan, penolakan, bahkan ancaman kematian. Karena itu, Roma 8:28 bukanlah slogan optimisme murahan, ajaran teologi kemakmuran, atau sekadar ayat penghibur, melainkan pernyataan iman yang matang: Allah tidak pernah kehilangan kendali, bahkan ketika hidup terasa kacau.

Kunci ayat ini terletak pada frasa “bagi mereka yang mengasihi Dia” dan “terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Janji ini bukan janji universal bagi semua orang, dan bukan pula jaminan hidup tanpa masalah. Ini adalah janji perjanjian—janji bagi mereka yang hidup di dalam relasi dengan Kristus.

Bagi orang percaya, “kebaikan” yang dimaksud Allah tidak selalu identik dengan kenyamanan, keberhasilan, atau kebahagiaan jangka pendek. Kebaikan yang Allah kerjakan sering kali berbentuk pembentukan karakter, pemurnian iman, pendewasaan rohani, dan semakin serupanya kita dengan Kristus. Proses ini sering menyakitkan, tetapi tujuannya mulia.

Roma 8:28 juga menolong kita memasuki tahun baru dengan sikap yang lebih tenang dan realistis. Kita tidak memasuki tahun baru dengan ilusi bahwa semuanya akan berjalan lancar, melainkan dengan keyakinan bahwa apa pun yang terjadi, Allah tidak akan meninggalkan kita. Keyakinan ini tidak menghapus air mata, tetapi memberi makna di tengah air mata.

Iman Kristen bukan iman yang menutup mata terhadap penderitaan, melainkan iman yang berani berjalan di tengah penderitaan dengan pengharapan. Kita boleh berduka, kita boleh kecewa, kita boleh mengeluh kepada Tuhan. Dalam hal ini, kitab Mazmur penuh dengan keluhan yang jujur. Namun di balik semua itu, ada pegangan yang kokoh: Allah tetap bekerja, bahkan ketika kita tidak melihat hasilnya sekarang.

Memasuki tahun baru, mungkin kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Tetapi Roma 8:28 mengingatkan kita bahwa masa depan kita tidak ditentukan oleh kebetulan, nasib, atau kekuatan gelap, melainkan oleh Allah yang setia pada rencana-Nya. Keyakinan inilah yang memberi kita keberanian untuk melangkah, satu hari demi satu hari.

Tahun baru bukan jaminan hidup yang lebih mudah, tetapi undangan untuk mempercayakan hidup lebih dalam kepada Tuhan. Di dalam Kristus, tidak ada penderitaan yang sia-sia, tidak ada air mata yang tidak diperhitungkan, dan tidak ada cerita hidup yang berakhir tanpa makna.

Doa Penutup:

Tuhan Allah kami yang setia, kami memasuki tahun yang baru dengan hati yang beragam—ada harapan, ada ketakutan, ada luka yang masih kami bawa. Kami bersyukur karena Engkau adalah Allah yang bekerja di dalam segala sesuatu, bahkan ketika kami tidak memahaminya.

Ajarlah kami untuk percaya, bukan karena hidup selalu mudah, tetapi karena Engkau selalu setia. Berilah kami iman untuk melangkah hari demi hari, kekuatan saat kami lemah, dan pengharapan saat jalan terasa gelap.

Kami menyerahkan tahun ini ke dalam tangan-Mu. Bentuklah hidup kami sesuai dengan kehendak-Mu, dan pakailah segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan yang Engkau maksudkan bagi kami di dalam Kristus.

Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa.

Amin.