Sesudah Yohanes ditangkap datanglah Yesus ke Galilea memberitakan Injil Allah, kata-Nya: ”Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” Markus 1:14-15
Iman dan pertobatan adalah respon yang diperlukan terhadap Injil. Iman adalah alat yang dengannya Allah mempersatukan orang-orang pilihan dengan Yesus Kristus dan menjadikan mereka penerima berkat-berkat penyelamatan yang Dia dapatkan melalui kematian dan kebangkitan-Nya. Sehubungan dengan pembenaran orang percaya, iman perlu bersandar pada Kristus dan menerima pribadi-Nya dan bekerja sendiri untuk keselamatan. Dalam pengudusan, iman menghasilkan buah yang aktif saat kita menjalani kehidupan Kristiani.
Seluruh kehidupan orang Kristen dihayati oleh iman. Kehidupan Kristen dijalani oleh iman yang bekerja melalui kasih. Dengan cara yang sama, seluruh hidup orang percaya dijalani dengan pertobatan. Pertobatan juga merupakan anugrah keselamatan. Tidak seperti iman yang membenarkan, pertobatan bersifat aktif. Dalam pertobatan, orang percaya berpaling dari dosa-dosa mereka dan kepada Allah dalam penyesalan dan kehancuran – berharap dalam belas kasihan yang Dia berikan kepada orang-orang berdosa di dalam Kristus.
Allah menganugerahkan kedua karunia ini kepada orang percaya melalui karya Roh Kudus. Meskipun iman dan pertobatan adalah tindakan yang tidak dapat dipisahkan, namun keduanya adalah tindakan yang berbeda. Saat orang percaya hidup dengan iman dan pertobatan, mereka tetap berada di jalan sempit yang menuntun pada kehidupan. Ketekunan mereka dalam iman Kristen ditopang oleh anugerah Allah yang memelihara, yang membekali mereka dengan pembaharuan Roh Kudus untuk iman dan pertobatan yang Allah tuntut.
Ketika Injil diberitakan, tampaknya ada dua panggilan yang berbeda, yang disuarakan. Terkadang panggilannya adalah, “Bertobatlah!” Jadi, “Yohanes Pembaptis datang berkhotbah di padang gurun Yudea, dan bersero: “Bertobatlah karena kerajaan surga sudah dekat” (Matius 3:1–2). Juga, Petrus mendesak para pendengar yang hati nuraninya telah tercabik-cabik pada hari Pentakosta, “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus” (Kisah Para Rasul 2:38). Belakangan, Paulus mendesak orang Athena untuk “bertobat” sebagai tanggapan atas pesan Kristus yang bangkit (Kisah Para Rasul 17:30).
Namun, pada kesempatan lain, tanggapan yang tepat terhadap Injil adalah, “Percaya!” Ketika sipir Filipi bertanya kepada Paulus apa yang harus dia lakukan untuk diselamatkan, Rasul mengatakan kepadanya, “Percayalah kepada Tuhan Yesus dan engkau akan diselamatkan” (Kisah Para Rasul 16:31). Selanjutnya dalam Kisah Para Rasul 17, kita menemukan bahwa justru di mana pertobatan diperlukan, mereka yang bertobat digambarkan sebagai percaya (Kisah Para Rasul 17:30, 34).
Iman dan pertobatan, mana yang lebih penting? Ini pasti bisa dijawab oleh fakta bahwa ketika Yesus memberitakan “Injil Allah” di Galilea, Dia mendesak para pendengar-Nya, “Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” (Markus 1:14–15). Di sini pertobatan dan iman menjadi satu. Itu menunjukkan dua aspek yang sama pentingnya. Jadi, salah satu kata menyiratkan kehadiran yang lain karena setiap realitas (pertobatan atau iman) adalah satu yang mutlak diperlukan oleh yang lain. Maka, dalam istilah tata bahasa, kata bertobat dan percaya keduanya berfungsi sebagai sinekdok, kiasan di mana sebagian digunakan untuk keseluruhan. Jadi, pertobatan menyiratkan iman dan iman menyiratkan pertobatan. Satu tidak bisa ada tanpa yang lainnya.
Tapi mana yang lebih dulu, secara logis? Apakah itu pertobatan? Apakah itu iman? Atau tidak ada yang memiliki prioritas mutlak? Telah terjadi perdebatan yang berkepanjangan dalam pemikiran teolog mengenai hal ini. Saya percaya, iman seharusnya mendahului pertobatan. Iman adalah keyakinan akan adanya Tuhan yang mahasuci dan mahaksih. Karena adanya iman, manusia bertobat untuk bisa diampuni oleh Tuhan. Jika pertobatan terjadi lebih dahulu, apa maksud dari pertobatan itu jika Tuhan tidak dikenal dan tidak ada yang dijadikan ukuran kesucian? Sekalipun pertobatan dan iman adalah karunia Tuhan, pertobatan seharusnya menjadi buah iman.
Apa yang tertulis di atas belumlah menyatakan semua yang perlu dikatakan. Dalam teologi pertobatan apa pun ada suatu psikologi pertobatan. Pada individu tertentu mana pun, pada tingkat kesadaran, rasa pertobatan atau kepercayaan dapat mendominasi. Apa yang bersatu secara teologis mungkin berbeda secara psikologis. Dengan demikian, seorang individu yang sangat diinsafkan akan kesalahan dan belenggu dosa dapat mengalami pembalikan dari dosanya sebagai nada dominan dalam pertobatannya. Orang lain (yang pengalaman imannya semakin dalam setelah pertobatan mereka) mungkin memiliki rasa yang dominan akan keajaiban kasih Kristus, dengan penderitaan jiwa yang lebih sedikit pada tingkat psikologis. Di sini individu lebih sadar untuk percaya kepada Kristus daripada pertobatan dari dosa. Namun dalam pertobatan sejati, tidak ada yang bisa ada tanpa yang lain. Pengaruh psikologis dari pertobatan dengan demikian bervariasi, kadang-kadang tergantung pada penekanan Injil mana yang disampaikan oleh gereja kepada orang berdosa (kerusakan dosa atau kebesaran karunia).
Di sepanjang Kitab Suci, Allah memanggil orang berdosa untuk bertobat dan percaya (Markus 1:15). Pertobatan dan iman adalah tanggapan yang diperlukan terhadap janji-janji Allah dan pesan Injil. Iman adalah memercayai Allah yang dijanjikan dan merangkul Tuhan Yesus Kristus sebagaimana Ia ditawarkan secara cuma-cuma kepada orang berdosa dalam Injil. Dari catatan paling awal tentang karya Allah dalam sejarah penebusan, kita menemukan bahwa iman adalah pusat kehidupan umat Allah.
Pagi ini kita belajat bahwa orang diperdamaikan dengan Allah (dibenarkan) hanya karena iman, bukan karena iman ditambah perbuatan. Namun, iman tanpa pertobatan bukanlah iman yang menyelamatkan. Iman sejati didasarkan pada karya Kristus saja, bukan pada apa pun yang kita lakukan. Namun, perlu dicatat bahwa tidak ada pengampunan dosa tanpa pertobatan (Lukas 13:3; Kisah Para Rasul 17:30). Pertobatan berasal dari iman; itu tidak mendahului iman. Penyebab pengampunan kita adalah Kristus melalui iman.
“Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.” Ibrani 11:6
Jawab Yesus kepadanya: ”Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” Matius 22:37-40
Ayat di atas adalah ayat yang sangat terkenal, yang merupakan jawaban Yesus kepada pertanyaan orang Farisi. Ketika itu orang-orang Farisi mendengar, bahwa Yesus telah membuat orang-orang Saduki bungkam. Lalu berkumpullah mereka dan seorang dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya untuk mencobai Dia: ”Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?”. Lalu Yesus menjawab mereka dengan mengemukakan dua hukum yang paling utama itu.
Untuk apa hukum Tuhan diberikan kepada manusia? Kita tahu bahwa hukum Taurat diberikan kepada umat Israel agar mereka bisa hidup sesuai dengan kehendak-Nya. Tetapi, mereka tidak dapat melaksanakan hukum itu dengan baik, dan malahan sering melanggarnya. Hukum Taurat, jika kita harus jalankan seperti umat Israel dulu, tentu akan membawa kegagalan bagi kita seperti apa yang dialami mereka. Kalau begitu, apa guna hukum itu dan mengapa Tuhan memberikannya kepada umat Israel?
Pernah terjadi, ada seorang yang kaya datang kepada Yesus, dan berkata: ”Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Jawab Yesus: ”Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik? Hanya Satu yang baik. Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah.” (Matius 16: 17-17). Orang itu dengan yakin mengatakan bahwa ia sudah menjalankan semua hukum Taurat. Tetapi, ketika Yesus menyuruhnya untuk menjual segala hartanya dan memberikan hasilnya kepada orang miskin, orang itu mundur dan pergi dengan sedih hati. Mengapa? Ia mengasihi hartanya lebih dari Tuhannya!
Mungkin kita berpikir bahwa Yesus memberikan perintah yang terlalu berat untuk membuat orang itu tidak bisa melaksanakannya. Memang, jika kita menempatkan diri pada kedudukan orang itu, kita juga akan gagal. Siapakah yang dapat mengurbankan segala yang ada untuk mengikut Yesus? Tetapi, sebenarnya Yesus bukan sengaja membuat orang itu gagal. Orang itu gagal karena memang ia sangat mencintai hartanya, dan Yesus bisa melihat itu sekalipun orang lain tidak tahu. Orang lain mungkin melihat orang itu sebagai orang yang saleh, tetapi Yesus tahu bahwa bagi orang itu hartalah yang selalu mendapat perhatian utama.
Kedua hukum yang utama di atas adalah apa yang harus kita laksanakan sekarang. Tetapi, seperti jawaban Yesus kepada orang kaya di atas, kita diperintahkan untuk mengasihi Allah dengan segenap hati kita dan dengan segenap jiwa kita dan dengan segenap akal budi kita, dan itu berarti kita harus selalu memuliakan Dia di setiap saat dengan menaati perintah dan hukum-Nya. Ini tentu saja sangat sulit untuk dilakukan, untuk tidak dikatakan mustahil.
Memuliakan Allah juga berarti mencerminkan citra Yesus, yaitu mengasihi, dan mengasihi dengan murah hati, seperti yang dilakukan-Nya. Percaya kepada Yesus berarti percaya bukan hanya pada apa yang Dia lakukan untuk kita tetapi juga pada hikmat hidup yang Dia contohkan bagi kita. Tidak seorang pun dapat memuliakan Allah sesempurna Kristus, itulah sebabnya kita membutuhkan belas kasihan Allah.
Menjalankan hukum Allah secara sempurna sudah tentu tidak dapat dilakukan oleh siapa saja, Allah tahu akan hal itu, tetapi tetap memberikannya dengan maksud bahwa setiap orang sadar akan kelemahan mereka dan hanya bergantung kepada Dia untuk kemurahan-Nya. Tuhan melihat apa yang kita lakukan bagi-Nya dengan melihat apa yang ada dalam pikiran dan hari kita, yaitu apakah kita mempunyai maksud yang tulus untuk menaati perintah-Nya – tanpa membiarkan keseganan kita dan keraguan akan kebijaksanaan-Nya menguasai hidup kita.
Banyak orang Kristen yang tidak mau berusaha untuk menaati hukum Tuhan dengan berbagai alasan, tetapi dua alasan yang paling sering dikemukakan di kalangan gereja Protestan adalah: (1) Mereka diselamatkan karena karunia dan bukan karena ketaatan akan hukum Tuhan, dan (2) Mereka tidak mampu untuk menaati hukum Tuhan dengan sempurna. Orang-orang ini lupa bahwa tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini, tetapi yang ada adalah orang beriman yang makin lama makin dewasa, makin sempurna dan makin lama makin mau menaati perintah Tuhan.
Perumpamaan tentang talenta (Matius 25:15-30) dapat memberi gambaran akan ketaatan kepada perintah Tuhan. Semua orang Kristen sejati tetap harus menghargai hulum Taurat dan segala hukum dan perintah yang diberikan oleh Yesus dan berusaha menaatinya dengan berjuang keras seperti seorang hamba yang diberi sejumlah uang dan menurut perintah tuannya untuk bekerja dan mendapat laba. Sang tuan menghargai ketaatan hambanya, bukan jumlah laba yang diperolehnya.
“Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.” Matius 25:23
Mengapa kita harus menaati perintah Tuhan? Jawabnya hanya satu: karena itulah yang dikehendaki Tuhan. Tuhan memberikan firman dan hukum-Nya bukan hanya untuk dilihat atau diingat, tetapi untuk ditaati. Ditaati oleh siapa? Ditaati oleh umat-Nya, orang yang sudah diselamatkan. Karena hanya orang yang sudah diselamatkan dapat mengerti bahwa pelaksanaan hukum Tuhan adalah baik, sekalipun tidak membawa keselamatan. Sebaliknya, orang yang belum diselamatkan akan memandang hukum Tuhan adalah suatu kebodohan dan berpikir bahwa usaha untuk menaatinya hanya membuang waktu (pendapat hamba yang mendapat satu talenta).
“Jadi hukum Taurat adalah kudus, dan perintah itu juga adalah kudus, benar dan baik.” Roma 7:12
Kembali kepada hal menaati hukum Tuhan, bagaimana kita bisa melaksanakannya jika umat Israel gagal total? Pertama, ada beda besar antara umat Israel dan umat bukan Israel. Pada zaman umat Israel, hukum Tuhan dimaksudkan agar bangsa Israel, pilihan Tuhan, dibedakan dari bangsa-bangsa lain yang tidak mengenal Tuhan. Mereka diajar untuk hidup menurut disiplin hukum karena mereka masih menantikan kedatangan Yesus. Hubungan mereka dengan Tuhan hanyalah melalui para nabi dan hakim yang menyampaikan kehendak Tuhan satu demi satu agar rencana-Nya terjadi.
Pada zaman sekarang, umat Kristen sudah memiliki hukum Tuhan yang tertulis secara lengkap dalam Alkitab, bersama pedoman pelaksanaannya yang ditulis oleh para rasul. Lebih dari itu, hukum itu sudah tertulus dalam hati kita (Roma 2:15), yang menunjukkan apa yang baik dan apa yang jahat. Karena Yesus sudah datang ke dunia dan menebus dosa kita, Ialah yang akan melengkapi segala kekurangan kita dalam menjalankan hukum. Tidak perlu lagi kita memakai binatang untuk kurban, karena Yesus sudah disalibkan. Dengan demikian, apa yang dituntut dari kita hanyalah iman kepada Yesus, sedangkan adanya hukum masih berguna bagi umat Tuhan sebagai sarana untuk pengudusan. Melalui hukum kita melihat kekurangan kita, mencoba memperbaikinya dengan pertolongan Roh Kudus, dan berusaha sekuat kita untuk menyatakan rasa syukur kita kepada Dia yang sudah menebus kita dan memuliakan nama-Nya.
Pagi ini, masih adakah perasaan ragu atau segan bagi kita untuk menaati perintah dan hukum Tuhan? Adanya hukum Tuhan bukan untuk membuat kita sengsara. Karena kita tidak akan dapat melaksanakannya secara sempurna, usaha menaati hukum Tuhan tidak seharusnya membuat kita sombong. Sebaliknya, hukum Tuhan berguna agar kita makin mengenal Tuhan dan karakter-Nya, untuk menyadari ketergantungan kita kepada-Nya, untuk menyatakan rasa syukur kita, dan juga berguna untuk membuat kita menjadi umat Kristen yang selalu rindu untuk bertumbuh dalam iman; agar makin lama makin sempurna, karena Roh Kudus yang sudah diberikan kepada setiap orang Kristen sejati.
“Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan. Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan. Karena Kitab Suci berkata: ”Barangsiapa yang percaya kepada Dia, tidak akan dipermalukan.” Sebab tidak ada perbedaan antara orang Yahudi dan orang Yunani. Karena, Allah yang satu itu adalah Tuhan dari semua orang, kaya bagi semua orang yang berseru kepada-Nya. Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan.” Roma 10: 9-13
Yesus adalah Tuhan. Itu adalah kebenaran, apakah orang mengakui fakta atau tidak. Dia lebih dari Mesias, lebih dari Juruselamat; Dia adalah Tuhan dari semua. Suatu hari nanti, semua akan tunduk pada kebenaran itu: “Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: ”Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa!” (Filipi 2:9-11 ).
Secara umum, seorang tuan (lord) adalah seseorang yang memiliki wewenang, kendali, atau kekuasaan atas orang lain; mengatakan bahwa seseorang adalah “tuan” berarti menganggap orang itu sebagai boss atau penguasa. Pada zaman Yesus kata tuan sering digunakan sebagai gelar penghormatan terhadap otoritas duniawi; dan ketika penderita kusta memanggil Yesus “Tuhan” atau “Lord” dalam Matius 8:2, dia menunjukkan rasa hormat kepada Yesus sebagai seorang penyembuh dan guru (lihat juga Matius 8:25 dan 15:25).
Fakta bahwa Yesus disebut sebagai Tuhan tidak berarti bahwa orang-orang mengakui Ketuhanan-Nya. Kata Yunani untuk Tuhan, kurios, dapat digunakan untuk nama Tuhan – Jehovah atau Yahweh. Namun kurios juga bisa menjadi cara yang sopan untuk menyapa seseorang. Misalnya, ada orang selain Yesus yang disebut sebagai kurios dalam Perjanjian Baru. Dengan demikian, ada orang-orang yang hanya menghormati Yesus sebagai manusia, dan bukan Tuhan yang berkuasa sepenuhnya atas hidup mereka.
Setelah kebangkitan, gelar “Tuhan”, sebagaimana diterapkan pada Yesus, menjadi lebih dari sekadar gelar kehormatan atau rasa hormat. Mengatakan, “Yesus adalah Tuhan,” menjadi cara untuk menyatakan ketuhanan Yesus. Itu dimulai dengan seruan Tomas ketika Yesus menampakkan diri kepada para murid setelah kebangkitan-Nya: “Tomas berkata kepadanya, ‘Ya Tuhanku dan Allahku!’” (Yohanes 20:28). Sejak saat itu, pesan para rasul adalah bahwa Yesus adalah Tuhan, artinya “Yesus adalah Allah.” Perlu dicatat bahwa tidak semua orang yang mengaku Kristen percaya bawa Yesus itu Tuhan apalagi Allah sekalipun mereka mengakui bahwa Ia adalah Juruselamat manusia. Mengapa demikian?
Dengan mengatakan, “Yesus adalah Tuhan,” kita berkomitmen untuk menaati-Nya. Yesus bertanya, “”Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan?” (Lukas 6:46). Pengakuan akan ketuhanan Yesus secara logis disertai dengan penyerahan diri kepada otoritas Yesus. Jika Yesus adalah Tuhan, maka Dia memiliki kita; Dia memiliki hak untuk memerintahkan kita apa yang harus dilakukan.
Seseorang yang mengatakan, “Yesus adalah Tuhan,” dengan pemahaman penuh tentang apa artinya (Yesus adalah Tuhan dan memiliki otoritas tertinggi atas segala sesuatu) telah dicerahkan secara ilahi: “Tidak seorang pun dapat mengatakan, ‘Yesus adalah Tuhan,’ kecuali dengan Roh Kudus” (1 Korintus 12:3). Iman kepada Tuhan Yesus diperlukan untuk keselamatan (Kisah Para Rasul 16:31). Hanya Roh Kudus yang bisa membuat manusia tunduk kepada Yesus.
Para pengikut kekristenan duniawi seakan menunjukkan bahwa adalah mungkin untuk percaya kepada Kristus sebagai Juruselamat tanpa harus mengakui Kristus sebagai Tuhan. Mengapa begitu? Menurut pendukung posisi ini, seseorang diselamatkan jika mereka mengakui Kristus, bahkan jika mereka tidak pernah berubah dari hidup lama mereka. Mereka yakin bahwa untuk menjadi pengikut Yesus, orang tidak perlu menaati perintah dan ajaran-Nya.
Posisi ini menandai suatu perubahan yang signifikan dalam sejarah teologi Kristen terutama dalam dua abad terakhir, dan sudah membuat kekacauan dalam berbagai gereja. Bagaimana itu bisa terjadi? Para pendukung Kekristenan duniawi menuduh bahwa jika kita masih menegaskan bahwa perbuatan baik diperlukan dalam kehidupan orang percaya, kita sebenarnya menyangkal bahwa pembenaran Tuhan hanya melalui iman. Ini sudah tentu merupakan kekeliruan besar.
Jika kita tidak pernah melihat perbuatan baik dalam diri orang lain, kita harus meragukan apakah mereka benar-benar seorang Kristen, sebab mengasihi Kristus berarti kita menaati-Nya (Yohanes 14:15). Ketaatan kita memang tidak akan sempurna dalam kehidupan ini karena adanya dosa pada setiap orang. Meskipun demikian, karena adanya Roh Kudus iman yang sejati akan menghasilkan ketaatan, betapapun tidak sempurnanya itu.
Pada pihak yang lain, banyak orang yang mengaku Kristen tetapi tidak memiliki iman yang benar (Matius 7:21). Para pendukung kekristenan duniawi ini memberikan jaminan keselamatan palsu ketika mereka mengklaim bahwa adalah mungkin untuk dipilih oleh Tuhan untuk diselamatkan tanpa harus berubah hidupnya. Mereka agaknya percaya kepada Yesus sebagai Juruselamat tetapi bukan sebagai Tuhan karena tidak adanya keharusan untuk taat kepada perintah-Nya.
Klaim ini hanya mengungkapkan bahwa para pendukung kekristenan duniawi sudah keliru dalam memahami posisi alkitabiah tentang keselamatan yang datang dari iman saja (sola fide). Alkitab sangat jelas bahwa kita dibenarkan bukan karena perbuatan, tetapi hanya karena iman (Galatia 2:16). Tetapi Alkitab sama jelasnya dalam mengemukakan bahwa iman yang membenarkan kita tidak pernah bekerja sendirian. Iman yang sejati harus ditunjukkan melalui adanya perbuatan baik dan ketaatan kepada Kristus dalam kehidupan orang percaya (Yakobus 2:17-18).
Orang Kristen sejati menjalani kehidupan yang selalu ditandai dengan peperangan antara Roh Kudus dan daging yang merupakan natur dosa lama kita (Roma 7:13–20; Galatia 5:16–24). Orang Kristen yang tidak merasakan adanya peperangan ini adalah orang yang terlena, atau orang yang belum pernah menerima Roh Kudus. Orang Kristen duniawi belum tentu selalu mengejar kekayaan dan ketenaran, atau selalu hidup dalam kebebasan seks, narkoba, dan pesta pora. Tetapi, mereka adalah orang Kristen yang tidak mempunyai minat atau semangat untuk berubah menjadi dewasa dalam iman. Paulus dalam ayat 1 Korintus 2: 13-14 berusaha untuk menjelaskan pentingnya hidup dalam kerohanian yang baik, dan ia berkata-kata tentang karunia-karunia Allah dengan perkataan yang bukan diajarkan kepadanya oleh hikmat manusia, tetapi oleh Roh. Sayang, orang Kristen duniawi tidak dapat menerima nasihat Paulus.
“Dan karena kami menafsirkan hal-hal rohani kepada mereka yang mempunyai Roh, kami berkata-kata tentang karunia-karunia Allah dengan perkataan yang bukan diajarkan kepada kami oleh hikmat manusia, tetapi oleh Roh. Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani.” 1 Korintus 2: 13-14
Apakah ada orang Kristen yang tidak diselamatkan? Tidak. Tetapi, hanya Tuhan yang tahu mana yang benar-benar gandum dan mana yang ilalang. Pada pihak lain, adanya keinginan untuk taat dan beberapa perbuatan baik akan membuktikan bahwa orang Kristen bertumbuh dalam imannya. Itu berarti bahwa ketika kita tumbuh menjadi dewasa, kemenangan atas dosa yang telah dimenangkan Kristus bagi kita akan semakin nyata dalam hidup kita melalui semakin banyak kemenangan Roh atas kedagingan kita dalam hidup sehari-hari.
Hari ini, biarlah kita sadar bahwa pertumbuhan kedewasaan iman harus dinyatakan dalam hidup dalam ketaatan yang main lama makin besar kepada kehendak Tuhan yang sudah dinyatakan dalam Alkitab. Itulah tanda orang Kristen sejati!
“Saudara-saudaraku yang kekasih, aku menasihati kamu, supaya sebagai pendatang dan perantau, kamu menjauhkan diri dari keinginan-keinginan daging yang berjuang melawan jiwa. Milikilah cara hidup yang baik di tengah-tengah bangsa-bangsa bukan Yahudi, supaya apabila mereka memfitnah kamu sebagai orang durjana, mereka dapat melihatnya dari perbuatan-perbuatanmu yang baik dan memuliakan Allah pada hari Ia melawat mereka. Tunduklah, karena Allah, kepada semua lembaga manusia, baik kepada raja sebagai pemegang kekuasaan yang tertinggi, maupun kepada wali-wali yang diutusnya untuk menghukum orang-orang yang berbuat jahat dan menghormati orang-orang yang berbuat baik. Sebab inilah kehendak Allah, yaitu supaya dengan berbuat baik kamu membungkamkan kepicikan orang-orang yang bodoh. Hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah.” 1 Petrus 2:11-16
Jika kita benar-benar orang percaya, maka kita menyadari bahwa kedudukan kita di dalam Kristus dengan sendirinya memisahkan kita dari dunia. Bagaimanapun, kita memiliki hubungan dengan Tuhan yang hidup! Kemudian, tentunya kita setiap hari harus menjalani kehidupan baik, tidak mencoba untuk “berbaur” dengan dunia, melainkan hidup sesuai dengan firman Tuhan dan bertumbuh dalam pengertian. Ini membutuhkan usaha kita, tidak otomatis. Anda kurang yakin?
Kebijaksanaan, kesabaran, kasih dan apa yang baik lainnya adalah karunia Allah dan Roh. Jadi ketika Petrus memberi tahu kita untuk melakukan segala upaya, dia sama sekali tidak menegaskan bahwa ini [kebajikan] adalah dari kekuatan kita, tetapi hanya menunjukkan apa yang seharusnya kita miliki, dan apa yang harus dilakukan. Sekalipun ini jelas, dalam pelaksanaannya kita bisa mengalami banyak masalah yang dimunculkan oleh sebuah ajaran. Ajaran apa? Ajaran Antinomianisme.
Kata “antinomianisme” berasal dari dua kata Yunani, yaitu anti, yang berarti “melawan”; dan nomos, yang berarti “hukum.” Antinomianisme secara harafiah berarti “melawan hukum.” Secara teologi, antinomianisme adalah doktrin yang menyatakan kalau Allah tidak mengharuskan orang Kristen untuk taat kepada hukum moral apa pun. Antinomianisme memang mengambil ajaran dari Alkitab, namun kesimpulan yang ditarik tidaklah alkitabiah. Ayat di atas adalah salah satu ayat Alkitab yang bertentangan dengan pandangan mereka.
Secara sederhana, kita dapat melihat ciri antinomianisme yang merendahkan pentingnya kekudusan dan fungsi moral dalam kehidupan orang Kristen. Mereka tidak pernah atau jarang membahas ayat Alkitab yang berisi pesan untuk hidup baik.
Sebagai orang Kristen, kita adalah orang-orang yang beruntung. Terlepas dari rasa syukur kita atas kasih karunia dan pengampunan Allah, kita pasti ingin menyenangkan-Nya. Allah telah memberikan kasih karunia-Nya yang tak terhingga dalam keselamatan melalui Yesus (Yohanes 3: 16; Roma 5: 8). Respon kita seharusnya adalah menguduskan hidup kita untuk-Nya, sebagai tanda kasih, penyembahan dan syukur kita atas segala yang telah dilakukan-Nya bagi kita (Roma 12: 1-2). Antinomianisme tidak alkitabiah karena menyalahgunakan makna kasih karunia Allah. Antinomianisme adalah alat iblis untuk menghancurkan hidup orang Kristen dan mempermalukan Allah.
Dari semua klaim yang dibuat oleh kaum antinomian, mungkin yang paling mencolok mata pada saat ini, adalah bahwa mereka mengutamakan pembenaran (justification) di atas manfaat penyelamatan lainnya, khususnya pengudusan (sanctification). Masalah yang sudah ada sejak abad ke-17 di kalangan teolog antinomian adalah sejauh mana mereka memprioritaskan pembenaran dalam teologi mereka. Seperti disebutkan di atas, para antinomian pada dasarnya meletakkan pengudusan di bawah pembenaran. Injil, dalam pandangan mereka, sinonim dengan pembenaran. Tidak lebih, tidak kurang.
Ajaran antinomian menghina Roh Kudus dengan bersikeras bahwa Tuhan sepenuhnya bertanggung jawab atas kemajuan atau kurangnya kekudusan umat Kristen. Jika si pengikut ajaran masih terus hidup dalam dosa, anggapan yang tak terucapkan adalah bahwa Tuhan belum menyelesaikan pekerjaan-Nya atau Dia tidak berkeberatan atas dosa umat-Nya.
Ajaran antinomian yang pasif dan tidak memuaskan di zaman ini adalah lebih populer dari apa yang Anda duga. Ini disebabkan karena munculnya gereja-gereja yang memakai doktrin Reformed tinggi (Hyper-Calvinism). Mereka mengatakan tidak ada yang dapat Anda lakukan untuk memajukan pengudusan Anda. Tuhan yang berdaulat melakukan pekerjaan di dalam diri Anda, jadi Anda harus menunggu dengan tenang dan bersikap pasif dalam prosesnya. Itu karena Anda tidak mampu untuk melakukan apa yang baik di hadapan Tuhan. Saya sendiri sudah menyelidiki kasus antinomianisme di Indoseia sejak dua tahum yang lalu dan menemukan bahwa di gereja-gereja Reformed tertentu, pengajaran sesat ini sudah terjadi dan bahkan disebarkan melalui media.
Kredo orang Kristen semacam ini adalah, “Lepaskan dan biarkan Tuhan” (Let go, let God). Tidak diperlukan perjuangan; tidak diperlukan perlawanan terhadap godaan. Pengudusan adalah pekerjaan Tuhan, dari awal sampai akhir. Bukankah Dia berdaulat sepenuhnya? Bukankah Tuhan memilih aku sebagaimana adanya? Bagaimana aku bisa melawan kehendak-Nya?
Berbeda dengan doktrin Hyper-calvinism, doktrin Hyper-grace menyatakan bahwa Tuhan yang mahakasih mempunyai anugerah keselamatan yang sangat besar, dan yang membuat dosa manusia sangat kecil dan tidak berarti. Dengan demikian, penganut doktrin ini merasa tidak perlu hidup dalam kekudusan karena Tuhan yang mahakasih akan mengampuni mereka atas dosa sebesar apa pun. Golongan ini kemudian menjadi antinomian karena bagi mereka menaati hukum Tuhan tidaklah ada gunanya sebab Tuhan adalah mahakasih. Mereka tidak ragu untuk melakukan perzinahan, korupsi, penipuan dan sebagainya, asal tidak menimbulkan masalah pribadi.
Jika orang Kristen mempraktikkan antinomianisme, maka mereka bisa dengan bebas melakukan dosa apa pun tanpa memandang Tuhan, karena mereka percaya tidak ada hukum moral yang harus diikuti. Ini secara tidak langsung menyatakan bahwa seorang Kristen dapat melakukan banyak dosa tanpa pertobatan apa pun. Adalah penting bagi kita untuk mendidik diri kita sendiri tentang antinomianisme dan maknanya, karena itu adalah ajaran berbahaya yang dapat menyesatkan banyak orang Kristen dan bahkan menghancurkan gereja seperti pada abad-abad yang lalu.
Antinomianisme adalah racun gereja, tetapi dalam bentuk terselubung tidak banyak dikenal orang di zaman modern ini. Sebagaimana dinyatakan, kata antinomianisme memiliki arti “melawan hukum”. Dalam teologi, antinomianisme digunakan dalam arti melawan hukum Tuhan. Dengan kata lain, antinomianisme mengajarkan bahwa orang Kristen tidak berada di bawah hukum moral Tuhan. Keyakinan ini menyebabkan mereka percaya bahwa sebagai orang pilihan, mereka dapat melakukan dosa apapun yang mereka inginkan tanpa adanya hukuman, masalah, atau efek samping. Mereka tidak mengerti bahwa ada dosa-dosa yang bisa membinasakan atau menghancurkan hidup mereka di dunia dan menjadikan diri mereka batu sontohan bagi orang lain, sekalipun anugerah Tuhan adalah cukup untuk keselamatan mereka di surga.
Seperti yang bisa kita bayangkan, antinomianisme tidak alkitabiah dan sesat karena melawan iman Kristen. Seperti Petrus, Paulus juga berbicara menentang antinomianisme dalam tulisannya. Meskipun Paulus tidak menggunakan istilah langsung “antinomianisme”, konsepnya tetap ada. Paulus memberi tahu kita dalam Roma 6:1-2,
“Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu? Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya?“
Melalui ayat ini, kita diberi tahu bahwa kita tidak boleh terus-menerus berbuat dosa karena kita telah diselamatkan oleh Kristus. Denga demikian, jika seseorang percaya bahwa keselamatan adalah surat izin untuk berbuat dosa, maka adalah pantas bagi kita untuk mempertanyakan apakah orang tersebut benar-benar telah mengenal Tuhan.
Jika seseorang telah benar-benar menerima Kristus, mereka tidak ingin terus menyakiti Tuhan dengan berbuat dosa. Mereka juga tidak ingin menolak perintah Tuhan untuk berbuat baik agar nama-Nya dipermuliakan. Sementara kita semua akan terus melakukan dosa dalam hidup kita, kita seharusnya tidak pernah ingin dengan sengaja berbuat dosa terhadap Tuhan, atau berbuat dosa hanya untuk berbuat dosa karena itu adalah tren kesuksean menurut dunia. Roh Kudus di dalam diri kita selalu berusaha menginsafkan kita akan dosa, dan Dia secara aktif memberi kita dorongan dan kekuatan, jika kita tidak mendukakan-Nya.
Jika kita benar-benar telah mengenal Kristus, dan berterima kasih karena pengorbanan-Nya, kita pasti mau mendengarkan suara Roh Kudus. Kita seharusnya tidak mencoba untuk tidak menaati-Nya dengan melakukan tindakan dosa apa pun, atau dengan mengabaikan perintah-Nya. Ya, Tuhan mengampuni kita atas dosa-dosa kita, seperti yang dinyatakan dalam 1 Yohanes 1:9, namun tidaklah alkitabiah untuk berpikir bahwa kita dapat menggunakan kebaikan dan pengampunan Tuhan untuk terus melakukan dosa apa pun karena “Tuhan akan mengampuni saya.” Keyakinan ini tidak alkitabiah, dan bertentangan dengan inti kekristenan.
Sebagaimana dinyatakan, antinomianisme tidak percaya bahwa umat Kristiani diharuskan menaati hukum moral karena umat Kristiani tidak berada di bawah hukum tetapi di bawah kasih karunia. Mereka yang mengikuti antinomianisme menyalahgunakan ayat Alkitab dari Roma 6:14 dan memanipulasi bagian ini serta bagian lain dari Kitab Suci untuk tujuan mereka sendiri. Allah mengharapkan kita untuk mengikuti hukum moral. Meskipun kita tidak berada langsung di bawah Hukum Musa, kita tetap berada di bawah hukum moralnya. Itulah fungsi ketiga dari hukum Musa, yang membimbing kita ke arah kekudusan.
Sayang, walaupun tokoh gereja seperti Martin Luther menentangnya, antinomianisme masih ada sampai sekarang di dunia. Dalam hal ini, mungkin masih bisa diperdebatkan apakah beberapa pendeta di Indonesia memang mengajarkan antinomianisme atau tidak. Sementara beberapa orang menuduh pendeta-pendeata itu antinomianisme, yang lain menuduhnya sebagai orang yang hanya memiliki pemahaman yang buruk tentang hubungan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Mungkin juga, mereka tidak mempunyai pengalaman pribadi yang cukup untuk mengenal karakter Yesus (Christology).
Mereka yang mengajarkan antinomianisme dapat dengan mudah terlihat, karena mereka akan berkhotbah melawan hukum moral, tidak menekankan perlunya perbuatan baik, atau menghindari ayat-ayat tertentu dalam upaya untuk memutarbalikkan pesan Alkitab.
Perlu ditekankan bahwa pendeta yang antinomian tidak mengajar jemaat agar berbuat dosa, tetapi berusaha meyakinkan mereka bahwa tidak ada manusia yang sempurna, dan karena itu berbuat dosa adalah lumrah.
Jika Anda berada di gereja yang mengajarkan antinomianisme, tindakan yang terbaik adalah pindah ke gereja lain sebelum terpengaruh. Siapa pun yang menyuarakan antinomianisme sedang mengajarkan kepercayaan yang tidak alkitabiah. Sangat berbahaya bagi seorang Kristen yang tidak sadar, untuk percaya pada antinomianisme dan kemudian hidup menurutnya. Tidak ada pendeta Kristen sejati yang mempraktikkan kepercayaan ini, apalagi mengajarkannya kepada orang lain. Segala sesuatu yang diajarkan dalam antinomianisme bertentangan langsung dengan kebenaran Firman Tuhan. Alkitab tidak pernah memberi tahu kita bahwa “tidak apa-apa” untuk terus berbuat dosa karena kita adalah orang terpilih.
Faktanya, Alkitab memberi tahu kita secara langsung, “Hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah.” (1 Petrus 2:16). Ayat Kitab Suci ini memberi tahu kita secara khusus untuk tidak menggunakan kebebasan kita di dalam Kristus sebagai penutup kejahatan. Lebih lanjut, ayat ini memberitahu kita untuk hidup sebagai hamba Tuhan. Sebagai hamba Kristus, kita harus berusaha untuk memuliakan Dia, menaati Dia, dan melayani Dia dengan kemampuan terbaik kita. Jika kita bukan hamba Allah, maka kita adalah hamba daging yang berdosa. Itulah perbedaan antara hitam dan putih, di mata Tuhan tidak ada warna abu-abu yang boleh dipilih umat-Nya.
Yesus mati di kayu salib agar kita tidak menjadi budak sifat dosa kita lagi. Karena Tuhan mati untuk dosa-dosa kita, agar kita menerima pengampunan dosa dan kehidupan kekal, kita berutang segalanya kepada-Nya. Kita berutang hidup kita, hati kita, dan kepatuhan kita kepada-Nya. Yesus Kristus tidak ingin kita menggunakan kebebasan kita sebagai orang percaya untuk terlibat dalam antinomianisme. Antinomianisme bertentangan dengan semua yang diajarkan Alkitab.
Untuk percaya pada antinomianisme, Anda harus mengeluarkan Alkitab dari konteksnya dan mengubahnya untuk membuatnya mengatakan apa yang Anda inginkan karena antinomianisme tidak alkitabiah. Kita dapat menunjukkan kasih dan rasa syukur kita atas pengorbanan Yesus dengan menaati perintah-perintah-Nya. Dengan menaati Allah dengan mengikuti perintah-perintah-Nya, kita benar-benar menunjukkan bahwa kita mengenal Allah dan bahwa kita mengasihi Dia (1 Yohanes 2:3-6). Bagaimana kita hidup, apa yang kita lakukan, dan bagaimana kita bertindak membuktikan siapa yang benar-benar kita patuhi: Yesus atau pendeta kita.
Pagi ini, apakah kita mengikuti antinomianisme dan menaati natur dosa kita sendiri, atau apakah kita benar-benar mengikuti Allah dan menaati-Nya? Ingatlah, antinomianisme tidak boleh dipraktikkan, diajarkan, atau didukung oleh orang Kristen sejati. Jika Anda mempunyai rasa simpati kepada antinomianisme dalam berbagai bentuknya, berdoalah kepada Tuhan untuk memohoh pertolongan dan kekuatan dari Roh Kudus selagi belum terlambat.
“Sebab mereka yang pernah diterangi hatinya, yang pernah mengecap karunia sorgawi, dan yang pernah mendapat bagian dalam Roh Kudus, dan yang mengecap firman yang baik dari Allah dan karunia-karunia dunia yang akan datang, namun yang murtad lagi, tidak mungkin dibaharui sekali lagi sedemikian, hingga mereka bertobat, sebab mereka menyalibkan lagi Anak Allah bagi diri mereka dan menghina-Nya di muka umum.” Ibrani 6:4-6
Kemurtadan secara ringkas berarti berpaling dari iman. Seorang murtad adalah orang yang pernah mengaku sebagai orang Kristen, tetapi telah meninggalkan Kekristenan secara permanen. Istilah murtad atau apostasi tidak dipakai untuk orang yang tidak pernah mengakui Yesus sebagai Tuhan, karena mereka jelas bukan orang Kristen. Tetapi, orang yang murtad adalah orang yang mengaku Kristen, tetapi pada akhirnya tidak dapat membuktikan bahwa mereka memiliki iman yang hidup (Yakobus 2:26).
Di satu sisi, Alkitab memperingatkan orang-orang yang mengaku sebagai pengikut Kristus: Allah pada akhirnya tidak akan menyelamatkan mereka jika mereka tidak bertekun dalam iman dan kesalehan. Di sisi lain, Alkitab menghibur para pengikut Kristus yang sejati: Allah memelihara semua orang Kristen sejati sebagai jaminan abadi (dengan pemeliharaan) dan semua orang Kristen sejati melanjutkan iman (dengan ketekunan). Ini ibarat sebuat koin yang mempunyai dua sisi, yang harus diberitakan oleh semua orang Kristen dalam menginjil; namun, dalam kenyataannya ada orang Kristen yang terlalu menekankan pentingnya satu sisi saja dan melupakan yang lain.
Apa yang terjadi jika pemberitaan gereja hanya menekankan pentingnya jaminan abadi Allah (dengan pemeliharaan-Nya)? Kalau ini terjadi, ada bahaya bahwa jemaat tidak akan mengerti perlunya orang Kristen sejati melanjutkan iman (dengan ketekunan) sampai mati. Lau bagaimana jika pemberitaan gereja terlalu mementingkan pentingnya orang Kristen sejati untuk melanjutkan iman dengan ketekunan? Ada risiko bahwa jemaat gereja akan berlomba-lomba dalam ketekunan untuk melalukan hal-hal yang dianggap dapat membeli keselamatan. Tetapi, saya rasa kemungkinan kedua ini tentunya lebih baik dari yang pertama jika kita benar-benar orang pilihan; karena dengan ketekunan kita nama Tuhan bisa dipermuliakan, apalagi jika kita tahu bahwa dari buah-buah yang kita hasilkan kita akan dikenal Yesus sebagai umat-Nya (Matius 7:23).
Kemurtadan secara tegas merupakan perbuatan serong yang berlawanan dengan iman yang menuntut kesetiaan orang Kristen kepada Yesus. Seorang murtad adalah orang yang pernah mengaku sebagai seorang pengantin Kristus, tetapi telah menanggalkan dan meninggalkan ikatan suci itu secara permanen. Jadi, kemurtadan bukannya tidak mungkin terjadi pada orang yang rajin ke gereja. Malahan, banyak orang yang ke gereja tetapi di luar gereja mereka hidup sebagai orang yang tidak mengenal Allah.
Mengenai kemungkinan murtad, ada semacam kontras di seluruh Perjanjian Baru antara perlunya pesan Alkitab yang berisi peringatan dan penghiburan. Di satu sisi, Allah memperingatkan orang-orang yang mengaku beriman, bahwa pada akhirnya Ia tidak akan menyelamatkan mereka jika mereka tidak bertekun dalam iman dan tunduk kepada firman-Nya. Di sisi lain, Tuhan menghibur orang Kristen sejati, bahwa Dia akan memelihara mereka sampai akhir, sekalipun mereka bukan orang yang sempurna. Mengambil kedudukan yang seimbang antara kedua fungsi ayat Alkitab ini terkadang sulit dilakukan bagi mereka yang merasa bahwa Tuhan sudah memberi pengertian yang paling benar. Lebih-lebih lagi ada orang Kristen yang menganggap semua orang yang tidak sefaham adalah orang-orang yang tidak terpilih.
Kemurtadan, pelestarian, ketekunan, dan kepastian adalah empat konsep teologis berbeda yang saling berhubungan. Sulit untuk membicarakan salah satu dari mereka tanpa membicarakan tiga lainnya. tapi marilah kita untuk sementara, berfokus pada kemurtadan.
Poin 1: Tuhan akhirnya tidak akan menyelamatkan Anda jika Anda tidak bertekun dalam iman dan ketaatan
Martin Luther pernah berkata bahwa manusia diselamatkan hanya oleh iman saja, tetapi bukan oleh iman yang tidak menghasilkan perbuatan baik. Tidak semua orang yang mengaku sebagai pengikut Kristus sebenarnya adalah pengikut Kristus (Matius 7:21–23). Apa yang tampak sebagai iman yang sejati bisa jadi sebenarnya palsu (Matius 13:1–23). Itulah sebabnya Alkitab berulang kali memperingatkan mereka yang mengaku Kristen untuk berhati-hati terhadap bahaya kemurtadan (misalnya, Yohanes 15:1–8; 1Korintus 15:1–2).
Roma 8:13: “Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup..” Mereka yang secara khas hidup sesuai dengan natur dosa mereka akan mengalami kematian kekal.
Roma 11:20b–22: “Baiklah! Mereka dipatahkan karena ketidakpercayaan mereka, dan kamu tegak tercacak karena iman. Janganlah kamu sombong, tetapi takutlah! Sebab kalau Allah tidak menyayangkan cabang-cabang asli, Ia juga tidak akan menyayangkan kamu. Sebab itu perhatikanlah kemurahan Allah dan juga kekerasan-Nya, yaitu kekerasan atas orang-orang yang telah jatuh, tetapi atas kamu kemurahan-Nya, yaitu jika kamu tetap dalam kemurahan-Nya; jika tidak, kamu pun akan dipotong juga.” Dalam ayat ini, Paulus memperingatkan orang Kristen non-Yahudi bahwa mereka akan tetap menjadi bagian dari umat Allah hanya jika mereka bertekun dalam iman.
1Timotius 4:1: “Tetapi Roh dengan tegas mengatakan bahwa di waktu-waktu kemudian, ada orang yang akan murtad lalu mengikuti roh-roh penyesat dan ajaran setan-setan.” Mengikuti ajaran sesat, misalnya ajaran yang menolak keilahian Yesus adalah kemurtadan.
Ayat-ayat Alkitab yang berupa peringatan adalah sarana yang ditetapkan Allah untuk mencapai tujuan yang ditetapkan Allah. Yaitu, mereka adalah salah satu cara Tuhan memastikan bahwa semua orang percaya sejati akan bertahan. Tetapi, peringatan-peringatan ini juga memberi gambaran bagaimana orang yang tidak benar-benar beriman akan gagal menghasilkan buah-buah yang baik selama hidupnya.
Poin 2: Tuhan akan menjaga orang Kristen sejati sampai akhir
Seseorang yang pernah mengaku Kristen bisa menjadi murtad. Tetapi seorang Kristen sejati tidak bisa menjadi murtad. Mereka yang murtad dan meninggalkan persekutuan orang beriman, menunjukkan bahwa mereka tidak pernah menjadi orang Kristen sejati: “Memang mereka berasal dari antara kita, tetapi mereka tidak sungguh-sungguh termasuk pada kita; sebab jika mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita, niscaya mereka tetap bersama-sama dengan kita. Tetapi hal itu terjadi, supaya menjadi nyata, bahwa tidak semua mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita.”” (1Yohanes 2:19).
Allah memelihara semua orang Kristen sejati melalui pelestarian. Pelestarian (atau pengamanan kekal) adalah karya berdaulat Allah untuk memelihara semua orang Kristen sejati melalui iman sebagai jaminan keselamatan kekal. Jika pelestarian adalah tindakan Tuhan, ketekunan adalah diharapkan dari setiap orang percaya. Itu berarti bahwa orang Kristen sejati tidak dapat sepenuhnya murtad dari iman tetapi pasti akan terus dalam iman sampai akhir dan diselamatkan selama-lamanya (Kolose 1:22-23; Ibrani 3:14). Hal-hal yang harus ditekuni orang percaya mencakup iman pribadi mereka (Yohanes 8:31; 1Yohanes 4:15), ajaran yang sehat (Yohanes 7 :17; Kolose 1:22–23), dan perbuatan baik (Yohanes 10:27; Efesus 2:10).
Semua orang Kristen sejati bertekun dalam iman. Ini dimungkinkan oleh Tuhan yang memberi kekuatan. “Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku. Bapa-Ku, yang memberikan mereka kepada-Ku, lebih besar dari pada siapa pun, dan seorang pun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa. Aku dan Bapa adalah satu.” (Yohanes 10:28). Itu tidak berarti bahwa orang Kristen sejati tidak pernah kehilangan iman mereka untuk sementara waktu, menentang Allah, melupakan ibadah atau berbuat dosa.
Orang Kristen adalah pendosa-pendosa yang bertobat. Dengan demikian, mereka yang mengaku Kristen harus berhati-hati dengan iman palsu. Mengaku Kristen dengan jaminan palsu pasti berakhir di neraka, yang bertentangan dengan harapan mereka (Matius 7:21-23). Maka mereka yang mengaku Kristen harus rajin meneguhkan panggilan dan pilihannya dengan memupuk kualitas iman, kebajikan, pengetahuan, pengendalian diri, ketabahan, kesalehan, kasih persaudaraan, dan kasih (2Petrus 1:5–7, 10) . Orang Kristen harus memupuk “iman yang bekerja oleh kasih” (Galatia 5:6) dan tidak mendukakan Roh Kudus yang pasti bisa memberi kepastian bagi mereka untuk mengalahkan apa yang jahat (Efesus 4:30).
“Bagi Dia, yang berkuasa menjaga supaya jangan kamu tersandung dan yang membawa kamu dengan tak bernoda dan penuh kegembiraan di hadapan kemuliaan-Nya, Allah yang esa, Juruselamat kita oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, bagi Dia adalah kemuliaan, kebesaran, kekuatan dan kuasa sebelum segala abad dan sekarang dan sampai selama-lamanya. Amin.” Yudas 24–25.
” ..akupun tidak berhenti mengucap syukur karena kamu. Dan aku selalu mengingat kamu dalam doaku, dan meminta kepada Allah Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Bapa yang mulia itu, supaya Ia memberikan kepadamu Roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar. Dan supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya: betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus…” Efesus 1:16-18
Efesus 1:15–23 merayakan nilai keselamatan kita di dalam Kristus. Doa Paulus untuk orang percaya di Efesus tidak hanya mencakup pujian atas hidup mereka, tetapi juga seruan untuk pertumbuhan mereka. Bagian ini sangat melibatkan kuasa Kristus. Sebagai orang percaya, kita bukan hanya pengikut Yesus, tetapi juga penerima berkat dan kuasa-Nya. Paulus berusaha untuk mengingatkan gereja Efesus bahwa pemahaman yang lengkap tentang Kristus pasti akan menuntun pada kasih yang lebih besar dan iman yang lebih kuat. Pengenalan akan Kristus (Kristologi) yang benar akan membentuk cara hidup yang benar bagi pengikut-Nya.
Ayat ini menambahkan dua detail pada doa Paulus. Pertama, Paulus menjelaskan dengan tepat kepada siapa dia berdoa: Allah Bapa. Namun, Paulus sekali lagi memasukkan referensi ke ketiga Pribadi Trinitas, Allah Bapa, Tuhan Yesus Kristus, dan kemudian menyebutkan “Roh hikmat”. Kata Roh ini dimulai dengan huruf besar, menunjukkan bahwa Paulus mengacu di sini pada Roh Kudus. Ini adalah salah satu dari selusin penyebutan Roh Kudus dalam surat ini.
Paulus juga memberikan dua poin khusus tentang apa yang dia doakan tentang orang Kristen di Efesus. Paulus telah menyebutkan pentingnya hikmat dalam Efesus 1:8. Kemudian, dia mengacu pada “berbagai hikmat Allah” dalam Efesus 3:10. Di sini, Paulus mengacu pada wahyu dalam arti khusus. Pewahyuan yang dibicarakan di sini berhubungan dengan hikmat, dan mencakup mengetahui rencana Allah bagi hidup setiap umat-Nya. Ini berbeda dengan “wahyu umum”, yaitu Allah menyatakan diri-Nya melalui alam (Mazmur 19). Ini juga tidak sama dengan “wahyu khusus”, yaitu firman Allah yang tertulis dalam Alkitab (2 Timotius 3:16).
Ayat di atas adalah salah satu bagian dari doa rasul untuk orang-orang kudus di Efesus, agar mereka dapat bertambah dalam pengetahuan ilahi; baik dalam pengetahuan tentang Tuhan, sebagai Tuhan Kristus, dan Bapa kemuliaan, dan sebagai Tuhan dan Bapa mereka di dalam Kristus; atau tentang Allah, sebagaimana dianggap dalam Kristus Sang Perantara; atau yang lain tentang Kristus sendiri: dan tidak berupa pengetahuan kira-kira dan spekulatif tentang Kristus, tetapi apa yang nyata dan terasa; dan yang digabungkan dengan kasih, iman, dan kepatuhan pada-Nya; dan meskipun tidak sempurna, namun progresif, tetap berkembang terus.
Untuk perkembangan kerohanian mereka, rasul Paulus berdoa; karena sekalipun orang-orang kudus ini memiliki pengetahuan tentang Kristus, tetapi ini tidak sempurna; dan karena itu ukuran yang lebih besar diinginkannya; dan untuk ini, dia berdoa memohon Roh, sebagai “Roh hikmat”; agar menanamkan hikmat rohani di dalam hati mereka, dan mengajar mereka dalam Injil. Hal ini jelas menyatakan bahwa sekalipun kita yakin akan keselamatan kita, kita masih harus berkembang dalam iman dan pengetahuan akan hal yang baik dan benar.
Hikmat Allah yang tersembunyi, menuntun orang percaya ke dalam semua kebenaran, dan membukakan bagi mereka harta hikmat dan pengetahuan, yang tersembunyi di dalam Kristus, hikmat Allah ; dan sebagai “wahyu”; yang mengungkapkan Kristus dan hal-hal tentang Kristus, pada pertobatan pertama; dan kemudian mengungkapkan Dia dan kebenarannya, dan berkat-berkat lain dari Dia secara lebih besar, dan melalui pertumbuhan iman memberikan pandangan yang lebih jelas tentang tujuan hidup mereka. Melalui ayat ini tampak, bahwa Roh hikmat adalah juga karunia Allah; dan bahwa semua cahaya dan pengetahuan spiritual, dan peningkatannya, adalah milik-Nya.
Bahwa orang Kristen sejati harus selalu tumbuh dalam iman dan hikmat adalah suatu karunia Tuhan selama mereka hidup di dunia. Mereka yang sudah lahir baru tidak akan tetap tinggal dalam bentuk bayi yang hanya bisa minum susu dan tidak bisa berjalan atau bekerja. Banyak orang Kristen yang percaya bahwa Tuhan yang menyelamatkan mereka secara sepihak, adalah Tuhan yang mengubah hidup mereka secara sepihak, tanpa membutuhkan respons manusia. Karena itu mereka tidak mau berusaha untuk menggunakan hikmat dari Tuhan, tetapi hanya mengarapkan Tuhan mengubah hidup merreka. Tetapi itu bukanlah apa yang dinyatakan rasul Paulus dalam ayat ini. Mereka harus bertumbuh dalam iman dan pengertian akan Tuhan, sehingga mereka makin sadar akan harapan Tuhan. Paulus menulis dalam ayat berikutnya:
“Dan supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya: betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus.” Efesus 1:18
Baik keselamatan maupun kekekalan bersama Tuhan adalah karunia yang luar biasa yang dimiliki oleh orang Kristen sejati. Keselamatan adalah oleh kasih karunia melalui iman kepada Kristus (Efesus 2:8-9) dan datang dengan harga kematian Yesus di kayu salib. Kekekalan bersama Tuhan adalah karunia masa depan yang dapat diantisipasi oleh setiap orang percaya dalam kehidupan ini, namun tidak akan dialami sampai setelah kehidupan di dunia berakhir. Pengharapan akan masa depan ini merupakan motivasi yang luar biasa untuk hidup suci, berbagi iman, saling mengasihi, dan untuk merrindukan hidup yang kekal.
Doa Paulus bergerak dari hikmat dan wahyu dalam Efesus 1:17 untuk menambah pencerahan dan pengetahuan dalam ayat ini. Penekanan dalam konteks ini adalah pada pemahaman tentang apa yang telah dilakukan dan disediakan oleh Allah. Ini tidak mengacu pada wawasan baru atau prediksi peristiwa masa depan. Orang percaya ini sudah mengetahui fakta keselamatan dan harapan masa depan orang percaya dengan Tuhan. Namun, Paulus ingin mereka lebih memahami pentingnya berkat-berkat ini selama hidup di dunia. Ini adalah kunci untuk mempertahankan hasrat untuk hidup baik dan saling mengasihi sekalipun itu tidak mudah; dan bukannya menjadi tidak bersemangat untuk melakukan apa yang baik.
“Aku tahu segala pekerjaanmu: baik jerih payahmu maupun ketekunanmu. Aku tahu, bahwa engkau tidak dapat sabar terhadap orang-orang jahat, bahwa engkau telah mencobai mereka yang menyebut dirinya rasul, tetapi yang sebenarnya tidak demikian, bahwa engkau telah mendapati mereka pendusta. Dan engkau tetap sabar dan menderita oleh karena nama-Ku; dan engkau tidak mengenal lelah. Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula.” Wahyu 2:2-4
Pagi ini, apakah Anda merasa jemu untuk berjalan dalam bimbingan wahyu khusus yang tertulis dalam Alkitab? Apakah Anda merasa bahwa setelah menerima karunia keselamatan, Anda tidak perlu berusaha keras setiap hari untuk menaati firman-Nya ? Apakah Anda merasa tidak akan mampu untuk menjadi umat Tuhan yang mempunyai hidup berlandaskan moral yang baik? Berdoalah kepada Tuhan agar Ia memberikan kepada Anda Roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar. Dan supaya Ia menjadikan mata hati Anda terang, agar Anda mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya: betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukan-Nya bagi Anda jika Anda tetap setia!
“Demikianlah diselesaikan langit dan bumi dan segala isinya. Ketika Allah pada hari ketujuh telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuat-Nya itu, berhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuat-Nya itu. Lalu Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya, karena pada hari itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya itu. Demikianlah riwayat langit dan bumi pada waktu diciptakan.” Kejadian 2:1-4
Hari ini saya menyempatkan diri untuk mengunjungi museum negara di kota Brisbane. Saya sudah sering mengunjungi museum di berbagai tempat, tetapi baru sekali ini masuk ke museum di negara bagian Queensland ini. Kali ini saya ingin melihat pameran Dinosaurus sebelum itu berakhir. Di museum itu saya melihat berbagai kerangka dinosaurus, kecil maupun besar. Saya takjub bagaimana Tuhan menciptakan hewan yang aneh dan berbagai jenis, yang secara umum dinamakan dinosaurus. Hewan yang semuanya sudah menjadi fosil itu diperkirakan ada di bumi sejak 270 juta tahun yang lalu.
Ada banyak diskusi bagaimana orang Kristen harus menanggapi berapa usia bumi ini dan segala isinya. Sebagian besar orang Kristen percaya bahwa berdasarkan Alkitab, bumi ini paling lama berumur sekitar 6 ribu tahun dan karena itu tidak mungkin dinosaurus berumur jutaan tahun. Adanya dinosaurus kemudian menjadi persoalan bagi orang yang percaya kebenaran sains, yang kemudian menyatakan bahwa Alkitab bukanlah berisi kebenaran sejati. Untuk sebagian orang Kristen, apa yang diajarkan di sekolah mengenai dinosaurus seakan memusuhi Tuhan.
Apa yang ditulis dalam Alkitab mengenai penciptaan bumi dan isinya?
Hari 1 : Langit dan bumi diciptakan dan “Jadilah terang”.
Hari 2 : Allah menciptakan cakrawala
Hari 3 : Daratan dipisahkan dengan lautan; tumbuh2an diciptakan
Hari 4 : Matahari, bulan dan bintang diciptakan
Hari 5: Binatang di lautan dan burung di udara
Hari 6 : Binatang dibumi, ternak dan binatang melata, manusia pertama diciptakan (Adam dan Hawa)
Sebagai orang Kristen, haruskah kita menyambut baik penemuan-penemuan ilmiah yang tidak sesuai dengan pernyataan Alkitab? Ataukah kita harus menganggap bahwa mereka menyerang prinsip dasar iman kita? Artikel 2 dari Pengakuan Iman Belgia dengan indah menggambarkan wahyu umum Allah (alam semesta) dan wahyu khusus (Alkitab) sebagai dua buku yang ditulis oleh penulis yang sama. Sebagai orang Kristen, kita mengakui bahwa Allah sempurna dalam kedua wahyu dan bahwa Allah tidak bertentangan dengan dirinya sendiri.
Kita mengenal Dia melalui dua sarana. Pertama, melalui penciptaan, pemeliharaan, dan pemerintahan seluruh alam. Sebab di depan mata kita alam itu bagaikan buku yang indah, yang di dalamnya segala ciptaan Allah, yang besar maupun kecil, menjadi seperti huruf-huruf yang menyatakan kepada kita apa yang tidak tampak dari Allah, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, menurut perkataan Rasul Paulus dalam Rom 1:20. Semua itu cukup untuk membuktikan kesalahan manusia sehingga mereka tidak dapat berdalih.
Kedua, Dia memperkenalkan diri kepada kita dengan lebih jelas dan sempurna lagi oleh Firman-Nya yang kudus dan ilahi, yaitu sekadar kebutuhan kita dalam hidup ini, demi kemuliaan-Nya dan demi keselamatan orang-orang milik-Nya.
Alkitab adalah Firman Tuhan yang kudus dan ilahi, tetapi itu bukan buku sains. Alkitab penuh dengan keajaiban dan peristiwa supranatural. Sains, di sisi lain, adalah studi hukum alam dengan tujuan memprediksi apa yang harus terjadi dalam percobaan dan kemudian secara empiris menguji hipotesis tersebut. Ranah sains terbatas pada hukum alam semesta dan karena itu tidak termasuk keajaiban.
Menurut definisi, keajaiban adalah pelanggaran terhadap hukum alam semesta yang menghasilkan akibat yang tidak terduga. Dengan demikian, para ilmuwan tidak diperbolehkan memasukkan keajaiban ke dalam solusi mereka. Demikian pula, jika seorang pasien meninggal di meja operasi, ahli bedah tidak akan berharap pasien tersebut akan dibangkitkan beberapa hari kemudian dengan semua lukanya sembuh. Dalam kehidupan Kristiani, sains dan agama tidak dipisahkan – tetapi kita perlu membuat perbedaan yang jelas di antara keduanya.
Lebih dari seratus tahun yang lalu, teori relativitas umum Albert Einstein menyatakan adanya gelombang gravitasi. Kemudian tim ilmuwan di Antartika menemukan bukti bahwa gelombang ini memang terjadi. Patut kita ketahui bahwa para ilmuwan telah mempelajari bukti-bukti selama bertahun-tahun. Setiap tim ilmuwan yang berbeda, dengan peralatan yang berbeda dan dengan hipotesis yang berbeda, akan mencoba membuktikan atau menyangkal penemuan yang sudah ada. Sains harus menjelaskan usia alam semesta tanpa menggunakan keajaiban. Tetapi sebagai orang Kristen, kita tahu bahwa Tuhan hidup di dalam dan di atas ruang-waktu, dan bahwa Dia menggunakan cara alami dan supranatural untuk menciptakan alam semesta.
Orang Kristen percaya bahwa Kristus memiliki kodrat manusia dan kodrat ilahi. Kita tentu saja membedakan antara kedua kodrat ini, tetapi kami tidak dapat memisahkannya. Hal yang sama berlaku untuk sains dan teologi. Para astronom telah menemukan planet seukuran bumi di zona layak huni di sekitar bintang yang sangat jauh dari bumi. Ada kemungkinan bahwa pada suatu saat mereka akan menemukan planet yang mirip bumi, yang mengandung udara dan air yang cukup. Apa arti penemuan bumi kembar bagi iman kita? Apa yang telah kita pelajari dari Galileo? Kita telah belajar bahwa sains tidak mengoreksi Alkitab, tetapi itu mengoreksi pengertian kita tentang isi Alkitab.
Apakah bumi berumur 6000 tahun atau 4,54 miliar tahun? Jawaban yang jujur dan rendah hati adalah bahwa kita tidak bisa menjawabnya berdasarkan isi Alkitab. Alkitab dengan jelas memberi tahu kita usia Adam ketika dia meninggal, tetapi tidak dengan jelas memberi tahu kita tentang usia bumi. Teori ilmiah yang dominan adalah bahwa bumi sudah sangat tua, tetapi beberapa orang Kristen percaya bahwa bumi memang terlihat tua, tetapi sebenarnya jauh lebih muda.
Kita harus percaya bahwa Tuhan tidak mencoba menipu manusia dengan menciptakan cahaya bintang dalam perjalanan atau sisa-sisa fosil di bumi yang terlihat sangat tua umurnya. Allah juga tidak menyembunyikan endapan batu bara, minyak, dan gas alam yang telah diproses sebelumnya dan diiletakkan dalam strata geologis yang tepat. Allah adalah Tuhan langit dan bumi. Dia adalah pencipta alam dan supranatural, dan Dia imanen (immanent) – yaitu, di alam semesta, dan transenden (trancendent) – melampaui ruang dan waktu.
Bagaimana orang Kristen dapat mengembangkan sudut pandang yang ilmiah dan juga alkitabiah? Adanya reformasi telah memberi kita wawasan yang memungkinkan kita untuk membedakan antara teologi yang baik dan teologi yang buruk. Banyak dari wawasan itu juga berfungsi untuk membedakan sains yang baik dari sains yang buruk.
Sains dapat memberikan pengalaman yang luar biasa bagi Anda dan anak-anak Anda. Anda dapat mengunjungi temat fosil dan memegang sendiri fosil berusia 30 juta tahun dengan detail fisik yang menakjubkan. Atau jelajahi kawah yang dibentuk oleh meteor yang jatuh yang berusia 50 ribu tahun, atau kagumi lukisan kangguru yang dibuat oleh penduduk asli Australia yang berusia lebih dari 17 ribu tahun. Dengan mengunjungi pameran sains dan teknik di mana Anda dapat melihat, menyentuh, dan menggunakan teknologi terkini.
Orang tua dan kakek nenek kita hidup di dunia di mana sains masih belum populer atau maju. Sebaliknya, anak-anak kita hidup di dunia di mana sains menjadi arus utama, dan mereka harus hidup dengan memakai pengetahuan sains, teknologi, teknik, dan matematika. Kaum muda Kristiani saat ini membutuhkan keterlibatan sains yang kuat dan positif dalam konteks iman. Jadi mari kita mendukung pendidikan sains anak cucu kita sambil mengajarkan bahwa Alkitab mengajarkan hubungan rohani antara manusia dengan Sang Pencipta, dan bukannya tentang kapan dan bagaimana Ia menciptakan seisi jagad raya secara terperinci. Biarlah kita selalu berdoa agar mereka mendapatkan hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar.
“Dan aku selalu mengingat kamu dalam doaku, dan meminta kepada Allah Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Bapa yang mulia itu, supaya Ia memberikan kepadamu Roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar.” Efesus 1:16-17
“Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.” Yohanes 15: 16
Manusia yang memilih Tuhannya, ataukah Tuhan yang memilih manusia? Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang sering diperdebatkan manusia, terutama dikalangan umat Kristen. Pertanyaan yang serupa, tetapi lebih mudah dijawab adalah: manusia yang memilih agama, atau agama yang memilih pengikutnya? Sudah tentu manusia memilih agamanya, tetapi agama tidak sama dengan Tuhan. Hidup beragama belum tentu membawa pengenalan yang benar akan Tuhan. Tuhan memilih kita untuk diselamatkan, tetapi kita memilih gereja yang mengajarkan kabar keselamatan itu.
Tuhan dengan sifat dan eksistensi-Nya sudah tentu tidak dapat dimengerti manusia. Tidak ada seorang pun yang hidup di dunia ini pernah ke surga dan melihat Tuhan. Segala tindakan Tuhan adalah berdasarkan kebijakan-Nya, yang sudah barang tentu tidak terjangkau oleh pikiran manusia. Karena itu, sangat sulit diterima pendapat sebagian orang yang merasa bahwa mereka sudah “menemukan” Tuhannya. Dalam kenyataannya, banyak orang yang sampai akhir hidupnya tidak bisa percaya adanya Tuhan, dan ada juga orang yang percaya kepada sejenis kuasa ilahi tanpa bisa mengenal siapa dia. Selain itu, ada juga orang-orang yang percaya akan adanya kuasa ajaib yang diyakini bisa memberikan apa saja yang mereka inginkan, seperti seorang jin yang bisa diperhamba.
Bagi umat Kristen, terlepas dari hal bagaimana dan sejak kapan manusia mengenal Tuhannya, mereka menerima pernyataan bahwa Tuhanlah yang memilih manusia untuk diperkenalkan kepada Dia. Mereka yang dipilih Tuhan, diberi kesempatan, jalan dan bimbingan untuk dapat merasakan kuasa, kasih dan eksistensi Tuhan, sekalipun mereka tidak lagi dapat melihat Tuhan dengan mata jasmani. Karena itu mereka bisa percaya.
Kata Yesus kepadanya: “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” Yohanes 20: 29
Kepercayaan bahwa Tuhan sudah memilih kita seperti Yesus memilih murid-Nya adalah sebuah hal yang sangat signifikan, karena pikiran manusia tidak bisa membayangkan apa untungnya Tuhan memilih manusia yang penuh dosa, yang selalu ingin berontak dari Tuhan. Mengapa Tuhan begitu ingin untuk memilih umat-Nya? Karena adanya pengurbanan Kristus di kayu salib, barulah kita bisa sadar bahwa itu semua karena kasih-Nya.
“Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” Roma 5: 8.
Dari ayat pembukaan di atas, kita bisa melihat bahwa Tuhan juga menetapkan umat-Nya untuk menghasilkan buah, yaitu berbagai bentuk kasih untuk sesama manusia. Kata “menetapkan” dalam Alkitab sering diartikan sebagai “membuat”, tetapi dalam ayat ini lebih tepat diartikan sebagai “mengutus” (ethēka). Jika “memilih” adalah sesuatu yang dilakukan Tuhan secara sepihak, “mengutus” memerlukan tanggapan positif dari yang diutus, untuk mau melaksanakan tugas yang diberikan.
Jika buah dari pengurbanan Kristus di kayu salib adalah keselamatan kita, buah dari keselamatan kita, yang tumbuh karena Yesus sudah memilih kita, bisa membawa kemuliaan bagi Tuhan. Mereka yang tidak pernah atau tidak berminat untuk berbuah sudah tentu bukanlah orang taat kepada Tuhan, karena ayat di atas menyatakan bahwa barang siapa yang dipilih-Nya, sudah diperrintahkan-Nya untuk berbuah.
“Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.” Galatia 5:22-23
Jika Tuhan sudah memilih kita, tidak ada oknum atau kuasa apa pun yang dapat menggagalkannya, termasuk diri kita sendiri. Tetapi, setiap kali Tuhan menghendaki dan menyuruh manusia untuk berbuat sesuatu, Ia membutuhkan respon mereka atas perintah-Nya. Dengan demikian, jika Tuhan menyuruh kita untuk berbuah, iblis akan mencari kesempatan untuk mencegahnya. Setiap orang Kristen sejati selalu menyambut karunia Roh Kudus untuk bisa berbuah, dan berusaha keras untuk menggunakannya. Walaupun demikian, karena mereka bukanlah orang yang sudah sempurna, terkadang mereka jatuh dalam bujukan iblis.
Pada pihak yang lain, mereka yang dengan sengaja mengabaikan panggilan Roh Kudus adalah orang-orang Kristen yang menolak tugas yang diberikan Tuhan setelah menerima pengampunan-Nya. Mereka adalah orang-orang yang mendukakan Roh Kudus, dan karena itu tidak dapat berbuah, dan itu dapat terlihat dari cara hidup mereka yang sekalipun mengaku Kristen, selalu berpusat pada diri sendiri dan sibuk dengan apa yang membawa kenikmatan dan kemuliaan diri sendiri. Itu bisa disebabkan oleh dua sebab, diri sendiri adan lingkungan. Mereka yang taat kepada firman Tuhan dan hidup dalam lingkungan yang baik akan berbuah banyak (Matius 13:23).
Ada kalanya jika orang Kristen berusaha untuk berbuat baik dan mengasihi sesama, orang lain dan bahkan orang seiman, menuduhnya sebagai orang yang hanya berpura-pura. Itu mungkin benar, karena tidak mudah bagi siapa pun untuk berbuat baik untuk kemuliaan Tuhan. Terkadang, dari diri sendiri ada juga keseganan untuk berbuat baik karena merasa tidak mampu. Dalam hal ini perlu diingat bahwa buah Roh adalah hasil pekerjaan Tuhan dalam hidup orang yang sudah terpilih. Manusia dalam kodrat lamanya adalah makhluk yang tidak dapat memuliakan Tuhan. Tetapi, mereka yang sudah lahir baru akan menerima kodrat baru sebagai orang yang sudah diselamatkan, dan dapat mengerti dan membedakan apa yang baik dan buruk berdasarkan firman Tuhan.
Umat Tuhan yang sudah diselamatkan, telah dimungkinkan oleh Roh Kudus untuk hidup makin lama makin kudus. Itu adalah janji Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya. Dengan demikian, setiap umat-Nya akan dapat melakukan apa yang baik, yang sesuai dengan kehendak Tuhan, sekalipun belum bisa secara sempurna. Mereka akan tetap ingin melaksanakan perintah Tuhan untuk berbuah, sekalipun banyak godaan yang berusaha menghentikannya.
Bagaimana dengan kita? Sanggupkah, dapatkah, manusia yang lemah seperti kita menggunakan hidup kita untuk kemuliaan-Nya? Tuhan yang sudah memilih kita adalah Tuhan yang mahakuasa, dan Ia mendengar doa-doa kita, supaya apa yang kita minta kepada Bapa dalam nama Yesus akan diberikan-Nya kepada kita. Karena itu kita harus yakin dalam iman bahwa jika Tuhan berserta kita, tidaklah ada yang perlu kita kuatirkan dalam hidup kita.
“Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar.” Yohanes 15:5-6
“Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yang harus bertanggung jawab atasnya. Dengan jalan itu mereka akan melakukannya dengan gembira, bukan dengan keluh kesah, sebab hal itu tidak akan membawa keuntungan bagimu.” Ibrani 13:17
Sejak 20an tahun yang lalu saya mengamati perubahan yang terjadi dalam hubungan antara jemaat dan pemimpin gereja di negara Australia. Jika pada masa sebelumnya, hubungan itu terlihat formal, sekarang makin banyak jemaat yang memperlakukan pendeta mereka sebagai teman. Memang di zaman ini banyak pendeta yang masih berusia muda, dan dari penampilan mereka kita mungkin tidak akan menduga bahwa mereka adalah seorang pemimpin gereja. Sebenarnya tidak ada masalah dalam hal ini, karena jika hubungan antara pendeta dan jemaatnya akrab, tentunya akan membawa kebaikan.
Mungkin jarang disadari bahwa sekalipun seorang pendeta menemui banyak orang dalam tugasnya, pelayanan bisa menjadi profesi yang sepi, karena itu adalah tugas berat yang sering harus dilakukan seorang diri. Tentu saja, kesepian merupakan masalah di seluruh masyarakat. Tetapi para pendeta menghadapi dilema yang unik, karena mencari tahu di mana ia bisa menemukan teman bisa sama sulitnya dengan membentuk hubungan itu. Mungkin mereka merasa jemaat tidak bisa berhubungan dengan mereka, dan sebaliknya anggota gereja dapat dengan mudah mengisolasi pendeta secara tidak sengaja.
Satu hal yang mulai berkurang pada zaman modern ini adalah rasa hormat kepada pimpinan gereja, terutama pendeta atau pastornya. Bagi banyak jemaat, mungkin para pimpinan gereja itu hanya orang-orang yang bekerja di gereja, seperti mereka yang bekerja di sebuah badan sosial. Apalagi, mereka sadar bahwa pendapatan pendeta bergantung pada dana gereja yang berasal dari uang persembahan jemaat. Jemaat sering lupa bahwa ada mereka adalah orang-orang yang ditentukan Tuhan sebagai gembala, dan ini tidak berubah sejak terbentuknya gereja pada zaman Perjanjian Baru.
Ayat di atas memberi tahu kita bahwa kita harus menaati dan menghormati pemimpin kita karena “mereka menjaga” jiwa kita. Para pemimpin Kristen yang saleh dan dewasa layak dan wajib kita hormati karena mereka adalah gembala-gembala yang memperhatikan pertumbuhan rohani kita. Kita harus sadar bahwa Yesus, Gembala besar kita yang Ilahi, menggunakan posisi-Nya untuk membantu kita bertumbuh menuju kedewasaan rohani melalui wakil-wakil-Nya yang ada di dunia.
“Sebab dahulu kamu sesat seperti domba, tetapi sekarang kamu telah kembali kepada gembala dan pemelihara jiwamu.” 1 Petrus 2:25
Seperti yang telah kita lihat dalam hidup banyak orang Krisen lainnya, salah satu cara kita menghormati gembala kita adalah dengan menjalani kehidupan ibadah yang tercermin dalam pujian kepada Allah dan pelayanan kepada sesama (Ibrani 13:15-16). Itu karena seorang gembala yang baik tentu mengharapkan jemaatnya untuk sepenuhnya taat kepada firman Tuhan. Ayat di atas menyatakan bahwa kita dipersiapkan oleh Tuhan untuk perjuangan iman dan menjalani kehidupan Kristen yang saleh, dengan menaati para pemimpin kita yang memberi bimbingan dalam pertumbuhan iman dan moral kita.
Sepanjang perjalanan kekristenan kita, kita mungkin sudah menghadapi banyak kesulitan dan pencobaan yang berusaha menjauhkan kita dari Yesus. Jika kita harus percaya pada usaha kita sendiri, tentu kita tidak akan pernah berhasil. Jika tidak karena kasih karunia Allah yang menopang, yang menjadi milik kita melalui kehendak-Nya, kita tidak akan bisa bertahan sampai akhir. Dalam hal ini, kasih karunia Allah bisa dinyatakan dalam berbagai bentuk, antara lain berupa gembala gereja yang melayani jemaatnya.
Allah telah menetapkan bahwa selagi Dia menjamin ketekunan kita, kita dipanggil untuk bergantung kepada Yesus; itu berarti bahwa ketekunan terjadi melalui keputusan-keputusan kita. Ketekunan bukanlah secara otomatis datang kepada setiap orang percaya. Allah memastikan keselamatan akhir bagi semua umat pilihan-Nya, tetapi Ia melakukan ini dengan menetapkan dan kemudian memberikan sarana yang dengannya umat pilihan-Nya membuat keputusan untuk tetap dalam iman yang telah diberikan-Nya kepada mereka. Tuhan berdaulat, tetapi manusia harus bertanggung jawab atas hidupnya. Karena itu, menghormati gembala kita adalah tanggung jawab kita jika kita sadar akan perintah Tuhan. Tuhan memastikan bahwa kita akan membuat keputusan ini dengan memberi kita hati yang mau menuruti nasihat-Nya. Setelah Dia secara berdaulat melahirkan kita kembali, kita menerima keinginan untuk menaati perintah-Nya dan menguatkan diri kita untuk perlombaan yang akan datang (Ibrani 12:12-13).
Jelas bahwa kita harus menaati para pemimpin gereja yang menjaga jiwa kita. Sayangnya, ada banyak orang yang menjadi pemimpin di gereja yang tidak memiliki kepedulian terhadap kawanan domba mereka, dan berada dalam posisi mereka hanya untuk kekuasaan atau untuk ketenaran. Banyak tokoh gereja yang mahir berdebat, tetapi tidak mempunyai hati untuk pertumbuhan kerohanian jemaatnya. John Calvin, dalam komentarnya pada ayat ini, mengingatkan kita bahwa pemimpin yang seperti itu tidak pantas dihormati atau dipercaya. Pemimpin yang patut dihormati adalah orang yang taat kepada ayat ini:
“Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” Markus 10:43-45
Namun, kita tidak boleh membiarkan ayat ini membuat kita berharap bahwa para pemimpin kita sempurna. Selain Yesus, tidak ada hamba Allah yang sempurna. Ketika kita melihat pemimpin gereja yang saleh dan peduli, kita harus mengabaikan kesalahan kecil yang mungkin ada (ini membuktikan bahwa kita adalah manusia) dan tunduk pada bimbingan mereka. Karena dengan tunduk kepada mereka, kita menunjukkan bahwa kita tunduk kepada Kristus.
Seperti orang lain, seorang pendeta membutuhkan teman. Dan masuk akal jika ia menemukan teman dalam satu kelompok yang paling sering dijumpainya. Di sisi lain, persahabatan bisa menjadi rumit. Apakah ada risiko dalam berteman dengan orang-orang yang selalu sependapat dengan dia? Haruskah pendeta menjadi teman dekat anggota gerejanya saja?
Salah satu jawaban adalah bahwa pendeta dapat dan harus mencari persahabatan di antara jemaatnya. Yang lainnya adalah bahwa seorang pendeta dapat melayani jemaatnya dengan lebih baik jika ia mau mencari teman dekat di tempat lain dan belajar dari tokoh-tokoh gereja lain sekalipun mereka berbeda pendapat dalam banyak hal. Ini karena tidak ada hal yang sempurna di dunia ini, dan itu termasuk pengertian kita atas firman Tuhan. Pada akhirnya, mungkin tidak ada jawaban yang cocok untuk semua keadaan. Tapi mempertimbangkan pertanyaan ini dapat membantu kita membuat keputusan yang lebih tepat tentang bagaimana kita bisa mendukung pendeta kita dalam pelayanannya.
Sebagai jemaat, kita harus prihatin jika pendeta kita terlihat kurang gembira dalam pelayanannya, dan mempunyai banyak keluh kesah, sebab hal itu tidak akan membawa keuntungan bagi jemaat. Ada kalanya, pendeta mengalami masalah ekonomi, masalah keluarga, masalah dengan organisasi gereja atau masalah dengan gereja atau pendeta lain. Itu akan terlihat dari pelayanannya yang mungkin terasa terpusat pada beberapa hal yang spesifik saja, yang mrngkin merupakan pencetusan pengalaman pribadinya.
Gereja adalah tempat yang tepat bagi orang-orang untuk saling menguatkan, menyemangati, mengasah pikiran dan mendoakan satu sama lain. Karena itu kita harus mau membina hubungan kita satu dengan yang lain untuk bisa mendukung, menasihati, dan menegur berdasarkan firman Tuhan.
“Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” 2 Timotius 3:16
Kita memahami bahwa persahabatan bisa rumit. Tetapi hubungan apa pun bisa menjadi berat dengan masalah dan ketegangan. Pikirkan tentang mereka yang perlu dilayani. Anda sering melihat mereka dalam keadaan terburuk, ketika mereka sangat membutuhkan bantuan kerohanian dari pendeta. Jika seorang pendeta hanya sibuk dengan apa yang ada dalam hidupnya, dan memusatkan pikiran dan tenaga untuk mencetuskan apa yang ada dalam pikirannya saja, ia akan kurang dapat melayani kebutuhan jemaatnya dari hati ke hati. Tingkat kerentanan itu dapat menciptakan kegelisahan dan ketidaknyamanan dalam kehidupan jemaat sehari-hari.
Pagi ini, firman Tuhan menyatakan bawa kita harus menghormati para pemimpin gereja kita. Kita harus mendukung mereka dan menggiatkan hubungan persahbatan yang baik dengan mereka, sehingga kita bisa menyokong, menolong, menasihati dan menegur jika perlu. Kita harus bisa ikut merasakan pergumulan mereka baik secara jasmani maupun rohani. Kita harus peka akan apa yang mungkin menjadi masalah yang mereka hadapi dan bersedia untuk menolong. Hilangnya kesabaran, kelemahlembutan dan munculnya kemarahan dan keluh kesah pada diri mereka, baik di luar gereja maupun didalam gereja, bisa menunjukkan adanya masalah. Sebagai jemaat kita harus mau menolong mereka, agar mereka dapat melakukan tugasnya dengan baik dan memberitakan Injil agar makin banyak orang yang diselamatkan.
“Sebab mereka yang pernah diterangi hatinya, yang pernah mengecap karunia sorgawi, dan yang pernah mendapat bagian dalam Roh Kudus, dan yang mengecap firman yang baik dari Allah dan karunia-karunia dunia yang akan datang, namun yang murtad lagi, tidak mungkin dibaharui sekali lagi sedemikian, hingga mereka bertobat, sebab mereka menyalibkan lagi Anak Allah bagi diri mereka dan menghina-Nya di muka umum. Ibrani 6:4-6
Kemurtadan (apostasi) secara ringkas berarti berpaling dari iman. Istilah Apostasi berasal dari kata Yunani apostasia (“ἀποστασία”) yang berarti pembelotan atau pemberontakan. Seorang yang murtad adalah orang yang pernah mengaku sebagai orang Kristen, tetapi telah meninggalkan Kekristenan secara permanen. Ini bisa dibayangkan seperti seorang anak yang hilang yang sudah kembali ke rumah bapanya, tetapi tidak mau bekerja dengan jujur, dan kemudian pergi menghilang untuk selamanya. Sang bapa sudah memberi segala sesuatu, baik bimbingan, dukungan, dan kesempatan kepada anak itu, tetapi ia memutuskan untuk tidak mau tunduk kepada bapanya.
Kemurtadan secara tegas merupakan perbuatan serong manusia yang berlawanan dengan iman yang menuntut kesetiaan orang Kristen kepada Yesus dalam hidupnya. Seorang murtad adalah orang yang pernah mengaku sebagai seorang pengantin Kristus, tetapi telah menanggalkan dan meninggalkan ikatan suci itu secara permanen.
Alkitab menggambarkan hal murtad seperti sebuah koin yang mempunyai dua sisi; namun, dalam kenyataannya ada orang Kristen yang terlalu menekankan pentingnya satu sisi saja. Di satu sisi, Alkitab memperingatkan orang-orang yang mengaku sebagai pengikut Kristus: Allah pada akhirnya tidak akan menyelamatkan mereka jika mereka tidak bertekun dalam iman dan melakukan perbuatan baik. Di sisi lain, Alkitab menghibur para pengikut Kristus yang sejati dengan kepastian: Allah melestarikan iman semua orang Kristen sejati sebagai jaminan abadi (dengan pemeliharaan-Nya) dan semua orang Kristen sejati akan bisa memakai iman itu (dengan ketekunan).
Kemurtadan, pelestarian, ketekunan, dan kepastianadalah empat konsep teologis berbeda yang saling berhubungan dalam hal iman. Sulit untuk membicarakan salah satu dari mereka tanpa membicarakan tiga lainnya. Tetapi kita perlu untuk menyadari bahaya kemurtadan. Apa yang terjadi jika pemberitaan gereja hanya menekankan pentingnya kepastian keselamatan dari Allah (dengan pelestarian-Nya)? Kalau ini terjadi, ada bahaya bahwa jemaat tidak akan mengerti perlunya orang Kristen sejati melanjutkan iman (dengan ketekunan) sampai mati.
Lalu bagaimana jika pemberitaan gereja terlalu mementingkan pentingnya ketekunan untuk hidup baik? Ada risiko bahwa jemaat gereja akan berlomba-lomba melalukan hal-hal yang dianggap dapat membeli keselamatan. Tetapi, kemungkinan ini secara logis tentunya lebih baik dari yang pertama jika kita benar-benar orang pilihan; karena dengan ketekunan kita nama Tuhan bisa dipermuliakan. Ini adalah satu hal yang harus diingat, terutama karena Yesus menyatakan bahwa moralitas kita harus lebih baik dari orang Farisi.
“Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.” Matius 5:20
Mengenai kemungkinan murtad, ada semacam ketegangan di seluruh Perjanjian Baru antara perlunya pesan Alkitab yang berisi peringatan dan penghiburan. Di satu sisi, Allah memperingatkan orang-orang yang mengaku beriman, bahwa pada akhirnya Ia tidak akan menyelamatkan mereka jika mereka tidak bertekun dalam iman dan perbuatan baik. Di sisi lain, Tuhan menghibur orang Kristen sejati, bahwa Dia akan memelihara mereka sampai akhir. Mengambil kedudukan yang seimbang antara kedua fungsi ayat Alkitab ini terkadang sulit dilakukan oleh mereka yang memilh salah satu dan merasa bahwa Tuhan sudah memberi pengertian yang paling benar.
Sisi 1: Tuhan akhirnya tidak akan menyelamatkan Anda jika Anda tidak bertekun dalam iman dan perbuatan baik
Martin Luther pernah berkata bahwa manusia diselamatkan hanya oleh iman saja, tetapi bukan oleh iman yang tidak menghasilkan perbuatan. Tidak semua orang yang mengaku sebagai pengikut Kristus sebenarnya adalah pengikut Kristus (Matius 7:21–23). Apa yang tampak sebagai iman yang sejati bisa jadi sebenarnya palsu (Matius 13:1–23). Itulah sebabnya Alkitab berulang kali memperingatkan mereka yang mengaku Kristen untuk berhati-hati terhadap bahaya kemurtadan (misalnya, Yohanes 15:1–8; 1Korintus 15:1–2).
Bagian-bagian peringatan adalah sarana yang ditetapkan Allah untuk mencapai tujuan yang ditetapkan Allah. Yaitu, mereka adalah salah satu cara Tuhan memastikan bahwa semua orang percaya sejati akan bertahan. Tetapi, peringatan-peringatan ini juga memberi gambaran bagaimana orang yang tidak benar-benar beriman akan gagal menghasilkan buah-buah yang baik selama hidupnya.
Sisi 2: Tuhan akan menjaga orang Kristen sejati sampai akhir
Seseorang yang pernah mengaku Kristen bisa menjadi murtad. Tetapi seorang Kristen sejati tidak bisa menjadi murtad. Mereka yang murtad dan meninggalkan persekutuan orang beriman, menunjukkan bahwa mereka tidak pernah menjadi orang Kristen sejati: “Mereka keluar dari kita, tetapi mereka bukan dari kita; karena jika mereka adalah dari kita, mereka akan terus bersama kita. Tetapi mereka keluar, agar menjadi jelas bahwa mereka semua bukan dari kita” (1Yohanes 2:19).
Allah memelihara semua orang Kristen sejati melalui pelestarian. Pelestarian (atau pengamanan kekal) adalah karya berdaulat Allah untuk memelihara semua orang Kristen sejati melalui iman sebagai jaminan keselamatan kekal (Yohanes 6:39). Semua orang yang benar-benar percaya memiliki keamanan kekal dan tidak dapat kehilangannya karena Allah itu setia dan mahakuasa. Semua orang Kristen sejati bertekun dalam iman. “Mereka tidak akan binasa sampai selama-lamanya” (Yohanes 10:28).
Itu tidak berarti bahwa orang Kristen sejati tidak pernah kehilangan iman mereka untuk sementara waktu, menentang Allah, atau berbuat dosa. Orang Kristen adalah pendosa~pendosa yang sudah bertobat, tetapi bukan orang yang sudah sempurna. Dalam hal ini, mereka yang mengaku Kristen harus berhati-hati dengan iman palsu. Merasa aman dengan jaminan palsu (bahwa setiap orang yang mengaku Kristen adalah orang pilihan) bisa berakhir dengan neraka, bertentangan dengan harapan mereka (Matius 7:21-23). Maka itu, mereka yang mengaku Kristen harus rajin meneguhkan panggilan dan pilihannya dengan memupuk kualitas iman, kebajikan, pengetahuan, pengendalian diri, ketabahan, kesalehan, kasih persaudaraan, dan kasih (2 Petrus 1:5–7, 10) . Orang Kristen harus memupuk “iman yang bekerja oleh kasih” (Galatia 5:6).
“Bagi Dia, yang berkuasa menjaga supaya jangan kamu tersandung dan yang membawa kamu dengan tak bernoda dan penuh kegembiraan di hadapan kemuliaan-Nya, Allah yang esa, Juruselamat kita oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, bagi Dia adalah kemuliaan, kebesaran, kekuatan dan kuasa sebelum segala abad dan sekarang dan sampai selama-lamanya. Amin.” Yudas 1:24-25